Tragedi Dari Sebuah Handphone

Jadikan handphone sebagai media pembelajaran diri menjadi pribadi yang lebih berilmu dan bertaqwa.

25366 0

Seorang ibu rumah tangga menderita sakit perut, dan merasakan kekakuan pada tangannya. Ya dia sering lupa makan gara-gara sibuk bisnis online. Didiagnosa karena interaksinya yang sangat intens dengan handphone. Bahkan terkadang pekerjaan rumah tangga dikerjakannya sambil berinteraksi dengan handphone, apalagi dia memiliki balita yang otomatis sangat butuh perhatian.

Handphone  memang salah satu kemudahan dan merupakan sebuah nikmat ketika dimanfaatkan dengan bijaksana. Sebaliknya tatkala kemudahan itu digunakan secara berlebihan tanpa managemen yang tepat bisa berubah menjadi musibah.

Qodarullah seorang pria dikabarkan meninggal dunia dengan sebab dia membuka SMS yang masuk di handphone –nya tatkala di-recharge. Yang saat itu tengah terjadi petir di angkasa. Dia terpental jauh dan terkena aliran listrik lalu meninggal dunia.

Memang barang mungil ini seolah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita, dan kita perlu waspada jangan sampai kita diperbudak oleh handphone. Dan dengan memiliki handphone bisa menjadi ujian, akankah kita semakin mantab stabilitas imannya atau sebaliknya iman semakin kendor lantaran handphone dipergunakan untuk hal-hal yang tidak penting.

Perbanyak syukur

Pernah mendengar ungkapan kesal, “ handphone kok sering macet, error dan sering rusak ya”. Bisa jadi kita kurang hati-hati . Dalam memanfaatkanya, sering mempergunakan untuk perkara – perkara yang tidak urgent, banyak menulis atau membaca komentar – komentar negatif, tidak sadar sering menshare berita atau info – info yang tidak benar, sibuk ghibah alias ngegosip di medsos dll.

Saatnya kita instropeksi diri semakin bertaqwakah kita dengan adanya handphone, atau sebaliknya rasa syukur kita kian berkurang karena waktu tersita untuk menikmati handphone dengan segala pernak perniknya.

Diantara wujud syukur seorang hamba adalah menjadikan handphone sebagai media tarbiyah dan belajar ilmu agama. Mengisi handphone –nya dengan materi- materi ceramah, kajian dan ilmu yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya.

Handphone memang ladang menjanjikan untuk bisnis, namun perlu ekstra hati – hati dan tetap mengedepankan etika Islam dalam berbisnis. Perkara penipuan dan perampokan sering kali terjadi bukan hanya dari yang bernilai ratusan ribu hingga puluhan juta. Memiliki handphone dengan segala aplikasinya adalah bagian dari nikmat Allah, maka seorang yang bertaqwa akan memperbanyak syukur dengan cara memanfaatkannya dalam hal kebaikan bagi dirinya dan orang lain. Sebagaimana firman Allah dalam QS Ibrahim ayat : 7 (yang artinya): “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“.

Kedepankan rasa malu

Handphone canggih dengan fasilitas internet kerapkali membuat orang yang masih memiliki rasa malu jengah dan merasa tak nyaman dengan adanya gambar vulgar, ungkapan – ungkapan yang menjerumus pada pornografi dan berbagai maksiat yang menyebabkan dosa.

Perangkap syaiton dengan jaring-jaring yang menjeratnya sangat samar namun pasti akan membidik hati manusia yang lalai dari menginggat Allah.

Pesona-pesona indah sosok yang rupawan dan menawan diekspos sedemikian rupa hingga menggiurkan orang yang tidak lagi mengedepankan rasa malu. Hadits masyhur yang maknanya:

Dari Abu Mas’ud, dia berkata, Nabi bersabda: “ Sesungguhnya diantara apa yang ditemui manusia dari perkataan kenabian yang pertama adalah, jika engkau tidak malu maka berbuatlah apa yang engkau kehendaki” (HR. Al Bukhari).

Dengan wasilah internet, betapa banyak kita dengar kisah tragis, seperti seorang istri yang mulai terpikat pria lain, atau seorang suami yang mulai berani bermesra ria dengan wanita lain, maraknya perselingkuhan dan terganggunya keharmonisan pasutri. Mengumbar pemandangan kepada sesuatu yang haram seakan sulit dielakkan ketika kita membuka internet. Disinilah godaan dan bisikan syaiton gencar memprovokasi mata dan hati untuk berkilah, “ah cuma sebentar, tak apa – apa”. Begitulah musuh Allah itu terus mendera hati orang-orang beriman untuk bermudah-mudahan dan menganggap sepele fitnah pandangan.

Namun dengan benteng rasa malu insyaAllah kita tidak mudah goyah dan tetap memiliki komitmen bahwa meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah niscaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Bijak memanfatkan teknologi

Segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan tanpa aturan akan mendatangkan mudhorot. Begitu pula ketika handphone dengan segala aplikasinya, ketika dioperasikan terus menerus tanpa ada kebutuhan hanya sekedar keinginan semata, bisa menimbulkan dampak negatif seperti mempengaruhi otak sehingga terkadang orang yang terlalu sering menggunakan handphone timbul gejala pusing kepala, mata terasa sakit dan berbagai keluhan yang lainya. Ada pula kasus yang terlanjur kecanduan handphone ia akan sulit meninggalkan kebiasaan tersebut, dan cenderung asik dengan dunianya bahkan bisa jadi ia cenderung cuek pada lingkungan sekitar.

Sebuah penelitian menemukan bahwa pancaran EMC terkait dengan kebocoran albumin yang melewati dinding antara otak dan darah, dan terkait kerusakan syaraf yang meningkat sebanding dengan dosis pemberian (pancaran).

Ada beberapa tips agar anda tidak maniak handphone diantaranya dengan menonaktifkannya pada saat- saat tertentu, seperti saat belajar anak-anak, ketika tidur atau bagi pebisnis online memiliki jadwal-jadwal tertentu tidak 24 full time membuka handphone. Dengan managemen waktu yang terencana dengan baik niscaya anda tetap nyaman memanfatkan handphone tanpa merasa diperbudak olehnya. Kita harus bisa mengatur handphone, dan jangan pernah diatur oleh handphone. Jadikan handphone sebagai media pembelajaran diri menjadi pribadi yang lebih berilmu dan bertaqwa, kita bisa menjadi pribadi muslim yang lebih santun, care, smart dan kualitas kebahagiaan hidup akan meningkat bahkan mampu mendekatkan diri pada kesuksesan hidup dunia akhirat.

Referensi:

1). Majalah fatwa V01 – 06 Th II, 1425H

2). Majalah nikah V012 No.8, Nov 2003

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

 

Artikel Muslimah.or.id

 

 

 

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?