Seorang Calon Karyawati

Pekerjaan yang memiliki jam kerja ekstra, yang tidak terdapat dibidang pekerjaan lainnya. Pekerjaan itu adalah pekerjaan seorang wanita sebagai seorang ibu.

116 0

Kita pernah melihat iklan lowongan pekerjaan di media cetak. Beberapa syarat dipaparkan pada iklan tersebut secara terperinci, misalkan tentang pendidikan terakhir, kemampuan bahasa yang dikuasai, pengalaman kerja sebelumnya, dan keadaan penampilan. Itulah sederet spesifikasi yang diharapkan perusahaan terhadap calon pelamar kerja. Siapa yang memenuhi syaratnya ketika mengajukan lamaran akan dapat melanjutkan proses seleksi selanjutnya. Namun dalam kehidupan ini terdapat sebuah pekerjaan yang sangat mulia. Pekerjaan yang memiliki jam kerja ekstra, yang tidak terdapat dibidang pekerjaan lainnya. Pekerjaan itu adalah pekerjaan seorang wanita sebagai seorang ibu.

Pekerjaan ini sekilas tampak remeh, seolah tanpa syarat dan ketentuan. Namun perlu diketahui bahwa dalam pekerjaan ini terkandung amanah yang begitu besar. Amanah besar itu adalah memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya dan menyelamatkan mereka dari adzab Allah. Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah dengan tegas memerintahkan kepada kita dalam ayat-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu…” .(QS.At Tahrim: 6).

Maka saudariku, menjaga anak-anak agar jauh dari berbuat dosa adalah amanah. Mendidiknya agar mereka taat beribadah adalah amanah. Karena hal tersebut merupakan upaya untuk menjaga keluarga dari api neraka. Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa seorang anak terlahir dalam keadaan hatinya yang masih suci, seperti mutiara yang masih polos, tanpa ukiran dan sayatan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak sebenarnya dilahirkan di atas fitrah (Islam). Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (HR. Al-Imam Al-Bukhari ).

Oleh karena itu, seorang anak bagaikan mutiara bersih nan polos. Siap untuk diukir dan akan cenderung pada apa saja yang mempengaruhinya. Maka keshalihan jiwa dan perilaku orang tua mempunyai andil besar dalam membentuk keshalihan seorang anak. Karena yang pertama kali dilihat oleh anak adalah rumah dan lingkungannya. Sungguh lucu jika seseorang mengharapkan anak yang shalih dan bertakwa sedangkan dirinya menjalani maksiat dan kehidupannya penuh kelalaian.

Jiwa seorang anak masih lentur, siap menerima apa saja yang memberikan pengaruh terhadapnya sesuai dengan lingkungan pertamanya. Jika dia dibiasakan dan diajarkan untuk berbuat kebaikan, dia akan tumbuh menjadi anak yang baik, in syaa Allah. Sedangkan jika dia dibiasakan berbuat jahat dan dibiarkan begitu saja, maka sangat memungkinkan ia akan sengsara dan binasa. Dosanya akan dipikul oleh orang yang bertanggung jawab untuk mengurusnya serta walinya.

Seorang ulama bernama Syaikh Muhammad Al-Khadhar Husain, menyatakan bahwa “Jika anda menempatkan tanggungjawab anak ke dalam tempat persemaian yang buruk, saya khawatir kelak anda akan mendapatkan adzab Allah dua kali lipat. Pertama, diadzab dengan adzab yang pedih karena telah mengotori mutiara yang mulia, dan yang kedua karena melakukan tindak kesalahan.”

Begitulah wahai saudariku, jika sebuah perusahan besar memberikan ketentuan spesifikasi dengan standar yang tinggi bagi calon karyawannya, lantas bagaimana dengan pekerjaan agung ini wahai calon ibu? Apakah kita telah memiliki bekal yang cukup? Untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak kita kelak, tidakkah sebaiknya kita mencari pendidikan terbaik untuk diri kita terlebih dahulu?. Maka marilah kita datangi majelis-majelis ilmu yang membahas tentang agama. Karena di sana kita akan mengenal yang haq untuk diamalkan dan mengenal yang bathil untuk kita tinggalkan.

***

 

Sumber:

Mendidik Anak Bersama Nabi. Muhammad Suwaid. 2003. Surakarta: Pustaka Arafah.

Mencetak Generasi Rabbani. Ummu Ihsan dan Abu Ihsan al atsari. 2014. Jakarta: Pustaka Imam Asy Syafi’i, dengan sedikit perubahan.

 

Penyusun: L. Fatiya. S

Murojaah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslimah.Or.Id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

Shares