Anak dan Romantika

Apakah semua perilaku sang anak yang negatif sebagai sebuah adzab bagi orang tuanya yang telah mengenal Sunnah ketika dewasa?

6648 0

Dalam sebuah majlis taklim ibu-ibu, salah seorang diantara mereka mengutarakan kegaluan hati tentang perilaku anaknya yang merasa enjoy tanpa beban ketika adzan shalat telah terdengar, bahkan ia merasa enggan untuk segera shalat, padahal sang anak yang menginjak usia remaja ini disekolahkan di pondok yang mengajarkan Islam dan Sunnah.

Apakah semua perilaku sang anak yang negatif ini sebagai sebuah adzab bagi orang tuanya yang telah mengenal Sunnah ketika dewasa? Bukankah telah berupaya mendidiknya sejak kecil untuk menjadi anak yang shalih?

Mendidik anak memang butuh ilmu di samping iman dan do’a yang tiada henti, lebih-lebih ketika mereka remaja dengan berbagai lingkungan pergaulan dan karakter teman yang berbeda-beda. Pesantren memang tak mampu menjamin 100 %  santrinya menjadi anak shalih, plus menjadi ustadz, ibaratnya jam 07.00 pagi pergi ke sekolah sorenya jadi ‘ulama’. Banyak dari pendidikan di pesantren atau sekolah lebih kepada transfer ilmu, bukan pada makna tarbiyah yang lebih berorientasi pada pembentukan karakter kepribadian yang Islami, berakhlak mulia, mencintai kebenaran dan menerapkan dalam hidupnya! Memang, hal itu yang sangatlah sulit.

Mereka sangat tahu pentingnya shalat, paham dalil-dalilnya, namun ruh shalat sebagai manifestasi ibadah yang ikhlas dan meneladani Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam itulah yang belum masuk kedalam hatinya, belum tertancap kuat sehingga akhlak atau karakter positifnya belumlah nampak bagus.

Keshalihan Orang Tua, Modal Utama

Keshalihan kedua orang tua memiliki pengaruh besar dalam mencetak generasi Rabbani. Keduanya adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Orang tua yang memiliki dasar agama Islam yang kuat, ia akan mendidik mereka dengan nilai-nilai Islam yang terangkum dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahihah. Kisah yang diceritakan dalam Al-Qur’an tentang perjalanan spiritual Nabi Musa ‘alaihis salam bersama Nabi Khidr ‘alaihis salam dalam surat Al-Kahfi ayat 82,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayah keduanya seorang yang shalih. Maka Rabbmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Rabbmu…. ”.

Realitanya… terkadang kita terus berpacu untuk menjadi orang tua yang Islami, inspiratif, kreatif, arif, positif dan peduli pada masa depan dunia lebih-lebih akhiratnya. Namun sering pula kita tak berdaya ketika semua impian indah itu tak terwujud pada buah hati kita, apa solusinya ?

Hidayah Dari Allah ‘Azza wa Jalla

Kita dan para orang tua hidup di dunia seperti menanam benih, penuh kerja keras dan perjuangan berat. Dan proses mendidik anak sangat panjang, sepanjang usia kita. Dan sekarang saatnya menanam, insyaallah di akhirat kita akan menuai hasilnya. Sekuat atau sekeras apapun kita berusaha, semua itu hidayah di tangan Allah, itu harus disadari. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki…” ( Q. S. Fathir: 8 ).

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tak bisa memberi petunjuk kepada Abu Thalib agar masuk Islam, Nabi Nuh ‘alaihis salam juga tak mampu memberi hidyah kepada putranya yang sangat dicintainya.

Kita kadang cemas dan khawatir, bisakah anak-anak kita menjawab 3 pertanyaan kubur, siapa Rabbmu, siapa Nabimu dan apa Agamamu??

Dan orang tua selain mendidik dengan metode Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga harus ikhlas Lillah Ta’ala dan selalu mendo’akan mereka. Hal itu termasuk seindah-indah hadiah, dan sebaik-baik ucapan.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّ يَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

“…….Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami, dan keturunan kami sebagai penyejuk hati ( kami ), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. ( Q. S. Al-Furqan: 74).

 

—————————————————————————-

Referensi :

Mencetak Generasi Rabbani, Ustadz Abu Ihsan dan Ummu Ihsan, Pustaka Imam Syafi’i, 2014, dengan sedikit perubahan.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah
Murojaah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

Artikel muslimah.or.id

 

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?