Harta Berharga yang Sering Terlalaikan

Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah Azza Jalla, Rabb semesta alam, yang masih memberikan kita berbagai kenikmatan, terutama nikmat dan manisnya iman serta hidayah untuk tetap istiqamah di …

1944 0

Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah Azza Jalla, Rabb semesta alam, yang masih memberikan kita berbagai kenikmatan, terutama nikmat dan manisnya iman serta hidayah untuk tetap istiqamah di jalan-Nya yang haq. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan pada kekasih-Nya, Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta para Ahlul Bait, sahabat dan umat beliau yang istiqamah di atas Sunnahnya.

Alhamdulillah, saat ini kita hidup di zaman yang penuh dengan kemudahan. Berbagai hal dapat diselesaikan dengan cepat dan mudah, sehingga lebih banyak waktu dan energi yang dapat disimpan. Namun, dimanakah dan sedang apakah kita di energi dan waktu yang tersimpan itu? Sudahkah kita memanfaatkannya pula untuk melakukan berbagai hal yang bermanfaat? Sadarkah kita bahwa kelak setiap energi dan waktu yang kita gunakan tersebut juga ditanyakan pemanfaatannya? Maka tak salah bila waktu disebut sebagai harta berharga, karena barangsiapa menggunakan waktunya dengan baik untuk ketaatan, maka ia akan menjadi orang yang beruntung akhirat dan dunia, begitu pula sebalikknya.

Fitnah Era Globalisasi

Era Globalisasi adalah era yang sedang melingkupi kita dewasa ini. Ragam sarana di bidang informasi, komunikasi, transportasi, dan penopang kehidupan lainnya kian hari semakin modern, sehingga dunia serasa hanya selebar daun seledri. Tukar informasi, komunikasi, dan interaksi dapat dilakukan dengan mudah walaupun dari tempat yang berjauhan. Fenomena ini, tentu saja memberikan kemudahan tersendiri bagi manusia dalam menjalankan roda kehidupan ini. Dengan ragam sarana modern itu, berbagai aktivitas mereka dapat berjalan secara lebih baik. Kalau dahulu tukar informasi dengan cara berkirim surat atau telegram, di zaman ini cukup dengan SMS atau email. Kalau dahulu komunikasi dengan orang lain di tempat yang berjauhan dengan menggunakan telepon rumah atau pergi ke wartel, di zaman ini dapat dijalin dengan telepon genggam (HP). Kalau dahulu safar ke pulau seberang membutuhkan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, di zaman ini dengan pesawat terbang dapat ditempuh dalam waktu yang singkat. Kalau dahulu mencuci baju menggunakan tangan sehingga menguras energi dan waktu, kini mencuci baju hanya dengan memencet tombol. Termasuk pula dalam hal penyebaran ilmu dan agama mendapatkan porsi kemudahan tersendiri. Melalui sarana internet, berbagai kajian ilmiah berskala nasional bahkan internasional dapat diakses dengan mudah.

Namun, di balik berbagai kemudahan itu terselip sebuah kesulitan. Sebuah kesulitan yang tidak akan tampak kecuali jika dilihat dengan kacamata takwa dan iman. Tahukah engkau Saudariku, kesulitan apakah itu? Kesulitan itu adalah berkaitan dengan istiqamah (teguh) di atas agama Islam. Keistiqamahan menjaga keimanan itu dikala sendiri maupun bersama orang lain, dikala sibuk maupun luang, karena segala kemudahan itu memberikan kenyamanan yang lebih, sangat rawan akan kelalaian, baik kelalaian untuk mengaji, beramal sholeh , dan berdakwah.  Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم

Demi Allâh ! Bukan kefakiran yang saya khawatirkan atas kalian, namun yang saya khawatirkan adalah kalian diberi kemakmuran dunia sebagaimana pernah diberikan kepada umat sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka. Sehingga akhirnya dunia menyebabkan kalian binasa sebagaimana mereka. [HR. Bukhâri dan Muslim].

Wanita dan Era Globalisasi

Islam menempatkan wanita sebagai makhluk mulia, yang harus dijaga kehormatannya bak mutiara yang mahal harganya. Sehingga wanita dianjurkan untuk lebih banyak terjaga di dalam rumah-rumah mereka, melakukan kewajiban-kewajibannya sebagai bentuk jihad fii sabilillaah, karena di rumah itulah karier wanita dirintis, untuk menghasilkan generasi-generasi Islam yang cerdas, berakhlak dan berkepribadian Islami yang kuat.

Di era globalisasi ini berbagai pekerjaan rumah wanita telah banyak yang dipermudah. mencuci, memasak nasi sudah menggunakan mesin, ditambah lagi bagi yang memiliki pembantu, hampir seluruh kesibukan mengurus rumah telah teringankan. Ditengah kemudahan-kemudahan itu pastilah terdapat waktu-waktu luang yang mungkin masih sering terlalaikan, entah terlalaikan karena terlalu asyik dengan gadget di era modern ini atau justru terlalaikan karena terbuai kenyamanan akan berbagai kemudahan yang dirasakan sehingga menjadikan malas. Oleh karena itu perlu adanya kesadaran bahwa setiap waktu kita kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Alhamdulillah, saat ini kita diberi kenikmatan berupa kenyang, sedangkan ditempat lain ada orang yang mati kelaparan. Saat ini kita diberi kesehatan, sedang di rumah sakit banyak sekali orang yang mengeluarkan harta mereka demi sebuah kesembuhan. Saat ini kita diberi anggota tubuh yang lengkap, sedangkan di tempat lain ada orang yang anggota tubuhnya tidak lengkap, dan menginginkan seperti kita. Saat ini kita berada di negeri yang aman, sedangkan saudara kita di Palestina sholat saja harus mempertaruhkan nyawa mereka. Saat ini kita diberi kemudahan rizki, sedang orang lain ada yang menghabiskan seluruh waktunya untuk mencari rizki. Sudahkah kita memanfaatkan kenyang dan sehat kita di jalan Allah? Sudahkan kita memanfaatkan segala kemudahan di era modern ini untuk memperbanyak porsi berdakwah kita? Sudahkah kita beribadah secara tepat waktu dan khusyu’ di negeri yang aman ini? Sudahkah kita memanfaatkan setiap waktu luang kita untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya, baik dalam bentuk berdakwah maupun beramal sholeh? Marilah kita bermuhasabah diri, menengok kembali waktu yang telah kita gunakan, sudahkah kita mempersiapkan jawaban terbaik ketika ditanya Allah atas pemanfaatan waktu dan kenikmatan dari-Nya?

Karena, wanita dirumah bukan berarti bersantai-santai. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengisi waktu luang yang ada, misalnya saat mencuci dengan mesin bisa di iringi dengan berdakwah secara tertulis, memasak dan membersihkan rumah di iringi dengan mendengarkan kajian, mengawasi anak bermain diiringi dengan berdzikir, serta mendidik anak dan melayani suami di niatkan dengan ibadah. Tentunya semua itu dilakukan atas dasar ilmu, agar tidak ada kewajiban-kewajiban wanita yang tak tertunaikan.

Allah berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

Katakanlah (wahai Nabi Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar: 9).

 

Seorang ‘alim berkata : “Tidurnya orang berilmu berbeda dengan tidurnya orang tidak berilmu, karena orang berilmu meniatkan tidurnya untuk mempersiapkan diri beribadah dengan khusyu’ sedangkan orang tidak berilmu tidurnya tanpa niat, hanya sebagai rutinitas saja”. Sehingga dengan ilmu akan membuahkan amalan, dan dengan amalan tersebut kita dapat mengisi waktu luang.

Tips Manajemen Waktu di Era Globalisasi

Di era globalisasi yang penuh syubhat, syahwat dan fitnah ini, kita harus lebih pintar dalam memenejemen waktu. Berikut beberapa tips yang dapat di coba :

– Berdoa kepada Allaah Subhanahu wa Ta’ala agar diberikan kemudahan dalam mengatur waktu, mengendalikan hawa nafsu, dan menata hati, karena semua itu saling terkait

 

– Menjaganya seperti harta kita, bahkan lebih sungguh-sungguh lagi dalam menjaganya, yaitu dengan bersungguh-sungguh mengambil faidah darinya dalam hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akherat. Dan para ulama terdahulu (Salaf Sholeh) adalah orang yang paling semangat dalam menjaga waktu dan mereka adalah orang yang paling tahu tentang nilai waktu. Mereka tidak akan membiarkan waktu berlalu walaupun sekejap, tanpa mengambil bekal darinya dengan ilmu yang bermanfaat, amal, shalih mujahadah, atau memberikan manfaat kepada orang lain supaya tidak habis umur mereka dengan sia-sia dan terbuang dengan percuma. Mereka tidak pernah berpikiran bahwa sekarang kita berbuat sesuka dan semau kita sampai  besok mati dan pena (catatan amal) telah diangkat.

 

–  Memanfaatkannya dengan sesuatu yang paling penting kemudian yang penting, jangan sibuk dengan sesuatu yang rendah dan tidak bermanfaat sementara meninggalkan sesuatu yang bermanfaat. Tentukan skala prioritas dengan menggunakan buku agenda.

 

– Menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu mubah (misalnya: tidur), karena hal itu akan menyebabkan kita menyia-nyiakan waktu, kalau kita melakukannya tidak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukankah hal yang mubah (boleh) bisa menjadi ibadah kalau diniatkan karena Allah?

 

– Menggunakan gadget hanya sesuai kebutuhan dan untuk hal-hal yang bermanfaat saja, karena perlu disadari bahwa gadget juga merupakan amanah dari Allah, yang kelak juga dimintai pertanggungjawaban atas pemanfaatannya. Caranya, hapus aplikasi-aplikasi yang kurang bermanfaat seperti game, instagram, twitter, atau fb, kecuali jika dirasa diri mampu untuk mengatur penggunaan media sosial, maka tidak mengapa.

 

–  Menjadikan berlalunya siang dan malam sebagai pelajaran, karena sesungguhnya siang dan malam yang bergantian, keduanya telah melipat umur kita. Maka hendaknya di akhir kegiatan kita dalam sehari, kita melakukan evaluasi diri, sehingga esok manjadi lebih efektif dan efisien lagi dalam memanfaatkan waktu.

 

– Bersungguh-sungguh untuk mendapatkan waktu yang telah Allah istimewakan dengan kekhususan-kekhususan tertentu dari waktu-waktu yang lain, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengistimewakan tempat-tempat tertentu dibandingkan tempat yang lainnya dan mengistimewakan hari tertentu dari hari yang lainnya, bulan tertentu dari  bulan yang lainnya, seperti Ramadhan diistimewakan oleh Allah dari bulan-bulan selainnya. Maka manfaatkanlah bulan atau waktu-waktu itu dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan jangan engkau jadikan bulan atau waktu-waktu yang penuh berkah ini berlalu sebagaimana waktu-waktu atau bulan lain.

 

– Menghindari dan mewaspadai hal-hal yang menjadi perusak waktu, diantara yang paling berbahaya adalah panjang angan-angan di dunia dan tertipu dengan amalan-amalannya (merasa amal shalihnya telah banyak), berprasangka baik dengan dirinya, teman yang buruk, kelalaian dan menunda-nunda amalan baik.

 

– Jika telah bosan melakukan satu kegiatan, maka berganti ke kegiatan lain yang manfaat. Misalnya: bosan menulis maka mendengarkan kajian, bosan membaca maka menghafal, bosan belajar maka sholat sunnah, lelah sholat maka baca Al Qur’an. Sehingga jiwa akan terhibur dan selalu bersemangat untuk melakukan berbagai hal bermanfaat.

 

– Manfaatkan setiap hembusan nafas kita untuk berdzikir, mengingat Allah Azza wa Jalla.

 

-Menghindari sikap menunda-nunda, dengan menyadari bahwa setiap perbuatan yang ditunda akan memperberat kegiatan selanjutnya, dan bisa-bisa ada kegiatan yang lupa tidak terlaksana karena terlalu banyak yang ditunda

 

Seorang penyair berkata:

 

تزود من التـقـوى فإنك لا تـدري ………..إذا جنَّ ليـل هل تعيـش إلى الفـجـر فكم من سـليم مـات من غير عـلة ………..و كم من سقيم عاش حيناً من الدهر و كم من فتى يمسي و يصبح آمناً ………..و قد نسجت أكفانه و هو لا يـدري

 

“Berbekalah dengan ketakwaan karena engkau tidak tahu

Apabila malam telah gelap apakah engkau akan hidup esok hari

Betapa banyak orang yang sehat meningal tanpa didahului sakit

Dan betapa banyak orang yang sakit ternyata hidup lama

Betapa banyak seorang pemuda sore dan pagi harinya dalam kondisi aman

Padahal kain kafannya telah digunting dan dia tidak mengetahuinya”.

 

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:”Keuntungan terbesar di dunia adalah engkau menyibukkan dirimu setiap saat dengan sesuatu yang paling utama dan bermanfaat untuk kehidupan akherat. Bagaimana dikatakan berakal seseorang yang menjual Surga dan kenikmatan di dalamnya dengan syahwat (kesenangan dunia) yang hanya sesaat.”

 

Beliau juga berkata: ”Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari pada kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan akherat, sedangkan kematian memtuskanmu dari dunia dan penghuninya.”

Mari mencoba! Karena waktu adalah harta berharga yang kita miliki, sekaligus akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat.

 

Penulis: Dian Pratiwi

Murojaah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

 

Referensi :

Al Qur’an Al-Karim

Al-Lu’lu’ wal Marjan karya Syaikh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi

 

Artikel  Muslimah.or.id

 

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

Shares