Jadilah Sang Pendidik

Pendidik atau guru adalah orang tua kedua bagi anak didiknya. Mau tidak mau para pendidik juga berperan besar mewarnai seorang anak. Anak laksana kertas putih yang secara fithroh bersih, suci dan orang tua serta gurulah yang berperan besar untuk mewarnai anak menjadi merah, hijau, kuning, atau perpaduan warna lainnya.

2300 23

Pendidik atau guru adalah orang tua kedua bagi anak didiknya. Mau tidak mau para pendidik juga berperan besar mewarnai seorang anak. Anak laksana kertas putih yang secara fithroh bersih, suci dan orang tua serta gurulah yang berperan besar untuk mewarnai anak menjadi merah, hijau, kuning, atau perpaduan warna lainnya. Hal tersebut membuat pendidik memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar, yang tidak dapat diremehkan dan dipandang sebelah mata. Bagi pendidik yang ikhlas dan menjadikan tugas tersebut sebagai ladang amal maka pahala dari Allah telah menanti. Akan tetapi akankah seorang pendidik akan selalu mulus dan tanpa rintangan dalam melaksanakan tugasnya tersebut??? Tentu jawabnya tidak.

Lika-liku sebagai pendidik harus dilalui, karena pendidik tidak hanya menghadapi satu orang saja, namun bisa puluhan orang. Tidak hanya anak didik saja yang harus pendidik hadapi, begitu juga orang tua anak didik. Tidak mudah tentunya. Namun mengingat agung perannya seorang pendidik, dapat menjadikan pemicu semangat untuk tidak gentar menghadapi masalah-masalah yang dihadapi dengan anak didik. Setiap pendidik akan dicoba dengan masalah masing-masing, dan hal tersebut dapat mendewasakan sang pendidik dari waktu ke waktu. Hingga suatu saat ia mampu berdiri setegar karang, yang mampu menghadapi benturan ombak yang kian membesar. Senyum, tangis, guratan kesedihan maupun kekhawatiran menjadi bumbu bagi pendidik. Senyum dan tawa mengiringi langkah keberhasilan anak didik. Guratan kesedihan maupun kekhawatiran tersimpan hingga terkadang teruraikan air mata bila melihat kemunduran atau bahkan kemerosotan ynag dihadapi anak didik baik dari segi akademik maupun akhlak. Harus bagaimana lagi agar dapat menjadi guru yang pengertian terhadap anak-didik. Harus melakukan apa lagi agar anak didik dapat menjadi lebih baik. Satu masalah terurai dan selesai muncullah masalah yang baru yang harus dihadapi lagi. Seakan-akan masalah tak ada henti-hentinya dari hari ke hari.

Wahai para pendidik bersabarlah, hingga waktu dimana kau menuai pahala akan tiba!

Penulis ini juga belum menjadi pendidik yang baik namun baru berusaha menjadi pendidik yang baik bagi anak didiknya. Tentunya banyak belajar baik dari teori maupun pengalaman bagaimana cara mendidik yang benar dan efektif.Untuk itu salah satu cara adalah pendidik harus cerdik mengetahui hal-hal yang penting dalam mendidik. Hal-hal yang penting tersebut antara lain :

Ikhlas

Pendidik harus memiliki niat yang ikhlas dalam mendidik anak-anak didiknya. Hal tersebut agar membedakan antara niat kebiasaan dan niat ibadah. Jadi tatkala pendidik meniatkan mendidik untuk mencari pahala di sisi Allah, maka akan berbeda jika pendidik tanpa ada niat dihati, pergi pagi pulang siang ke sekolah dan hanya menjadikan hal tersebut sebagai rutinitas belaka. Dan niat tersebut harus ikhlas, karena niat yang ikhlas adalah bagian terpenting agar tidak menjadi amalan yang kosong. Sebagaimana Imam Nawawi rahimahullah menempatkan niat di hadist pertama dalam kitab Hadist Arba’in, yang isinya adalah:

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallohu’anhu, dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijarhnya karena (Ingin mendapat keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijarhnya karena dunia yang dikehendakinya atau kerana wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Bukhari)

Jauhkan sifat riya‘ dari diri Sang Pendidik. Rasa ingin dipuji karena ketinggian ilmu, rasa ingin di sanjung dengan keahlian yang dimiliki. Wahai para pendidik, ingatlah bahwa kau dapat mengajarkan ilmu yang sekarang kau ajarkan karena menang selangkah. Dalam artian kau lebih dahulu menimba ilmu yang kau berikan sebelum anak didikmu. Mungkin jika kau duduk bersama bersanding dengan anak didikmu, belum tentu kau lebih faham dari mereka. Terbukti banyak sekali anak didik yang ilmunya melebihi ilmu sang guru. Dan juga ingatlah ilmu tersebut berasal dari Allah. Allah yang memahamkan kepadamu.

Ilmu yang kau dapatkan jangan sekedar kau gadaikan demi sesuap nasi

Kau menjadi angkuh dan menilai ketinggian ilmumu dengan rupiah. Waliyyadzubillah. Ingatlah bahwa rizqi adalah dari Allah. Kau dapat pendidikan yang tinggi itu juga rizqi-Nya, kau dapat kecerdasan juga karena rizqi-Nya. Kau faham akan ilmu yang kau pelajari juga karena rizqi-Nya. Dan kau mendapat kesempatan menularkan ilmu kepada yang lain juga tak lepas dari Rizqi-Nya. Ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. Kata yang sangat mudah terucap namun sulit dalam mempraktekkannya. Ikhlas dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Cek, cek dan cek lagi hati agar tak lepas dari keikhlasan. Bagaimanapun inilah ladang amal yang besar yang tidak boleh disia-siakan. Maka berjuanglah!!!

Keteladanan

Pendidik tidak hanya mengajar namun juga mendidik. Jika mengajar, setelah bahan ajar disampaikan, sudah lepaslah tanggung jawab, namun jika mendidik adalah lebih menuju ke arah memberikan pemahaman baik segi akademik maupun segi mental anak didiknya. Pendidik akan lebih dihargai dan lebih didengar tatkala ia tidak asal bunyi saja alias asal berbicara (menasehati dan menasehati) namun lebih ke suri teladan. Melihat dengan contoh lebih mudah dipahami oleh anak daripada sekedar mendengar, karena perilaku merupakan cermin berfikirnya. Sebagai contoh yang mudah, tatkala ada kerja bakti kelas, pendidik hanya menyuruh ini itu, sedangkan ia santai melenggang pergi atau hanya mondar-mandir saja, maka akan terjadi protes pada diri anak didik, Karena perintah tersebut tak terwujud dalam tindakan. Mungkin benar bahwa sebagai pendidik adalah yang mengarahkan namun alangkah lebih bagus lagi selagi mengarahkan pendidik juga memberikan contoh. Hal tersebut sepele namun akan benar-benar membekas. Siapa tahu tatkala anak didik menjadi pendidik, ia akan cenderung bersikap sebagaimana pendidik ajarkan dahulu yaitu menjadi jiwa penyuruh tanpa mau meneladani. Bila seorang pendidik benar dalam perkataannya dan dibuktikan dalam perbuatannya anak akan tumbuh dengan semua prinsip-prinsip pendidikan yang tertancap dalam pikirannya.

Allah juga telah memperingatkan bagi pendidik yang berbuat berlainan dengan ucapannya, Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu perbuat.” (QS. Ash-Shaf: 2-3)

Disiplin

Menegakkan kedisiplinan berbeda dengan pengekangan. Memang sedikit agak sukar dibedakan, karena begitu banyak aturan yang harus ditegakkan saat menerapkan kedisiplinan. Akan tetapi jika diamati lebi cermat terdapat perbedaan mencolok diantara keduanya, Pengekangan akan sangat merugikan anak didiknya yang akan dirasakan sekarang maupun dilain waktu, namun disiplin akan menimbulkan pengekangan anak didik di awal saja, disaat mereka baru beradaptasi dengan bentuk kedisiplinan tersebut, jika sudah berulang kali melaksanakannya dan biasa maka mereka akan merasakan betapa bermanfaat disiplin tersebut bagi dirinya. Hal yang kecil yang dapat dilakukan, misalnya disiplin masuk kelas, disiplin terhadap peraturan yang ada di kelas atau sekolah.
Islampun telah mengajarkan kedisiplinan yaitu tercermin dalam shalat wajib tepat waktu, tidak boleh mengulur-ulur hingga akhir waktu bahkan keluar dari waktu yang telah ditentukan. Juga disunnahkan untuk mengucapkan salam jika bertemu saudara muslim yang lain, dan wajib untuk menjawabnya.

Amanah Ilmiah

Hal tersebut yang sering sekali terlupa oleh sang pendidik, yaitu amanah ilmiah. Amanah Ilmiah tersebut harus dijalankan disaat memberikan pelajaran, sehingga pelajaran yang dibawakan bukan sekedar asal bunyi belaka. Kadang ada pendidik yang kurang menjalankan amanah ilmiah ini, dengan sekedar mengabarkan tanpa memberikan rujukan-rujukan yang terpercaya, atau bahkan pelajaran hanya diisi dengan cerita pengalaman yang mungkin tidak ada hubungannya dengan pelajaran sama sekali.

Dapat mengkondisikan kelas

Terkadang tidak semua pendidik mampu mengkondisikan kelas, tidak mampu dalam mengendalikan anak didik, akhirnya target pelajaran tak terkejar, kelas dalam suasana gaduh dan anak didik bersikap semaunya. Tidak dapat dibiarkan, untuk situasi semacam ini pendidik harus pandai memutar otak agar dapat mengendalikan kelas tanpa harus beradu mulut dengan anak didiknya. Memang sulit apalagi jika dalam satu kelas terdiri dari 20 anak lebih, yang masing-masing dari mereka memiliki pemikiran sendiri. Jangan menyerah insyaallaah akan selalu ada jalan bagi pendidik yang sabar dan berpikiran jernih.

Bertindaklah bak seorang pendidik sedang bermain layang-layang

Ibarat ini memiliki arti bahwa pendidik harus mampu menempatkan diri sebagai pemain layang-layang, dan layang-layang tersebut sebagai anak didik. Pendidik harus dapat menarik-ulur layang-layang tersebut, menarik layang-layang dengan artian tatkala anak didik mulai melanggar peraturan atau anak didik mulai tidak mengindahkan nasehat pendidik maka pendidik bisa bersikap tegas namun bukan mendzalimi. Dan mengulur layang-layang artinya tatkala anak didik mulai disiplin, taat kepada aturan yang ada dan bersemangat untuk menuntut ilmu, pendidik dapat memberikan kelemah-lembutan namun bukan lemah. Kelemah-lembutan misalnya dengan memberi mereka hadiah berupa pujian atau mengadakan kejutan kecil untuk mereka, seperti memberi hadiah buku dsb. Karena Allah pun menyuruh pendidik agar berlemah lembut, dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang tidak diberi sifat kelembutan maka ia tidak memiliki kebaikan sama sekali.” (HR. Muslim 2592)

Jauhilah Mengeluh dan Putus asa

Ingatlah selalu, pahala yang akan diraih. Mengeluh akan membuka pintu setan sehingga pendidik, menyerah sedangkan berputus asa akan dapat memutuskan ladang amalan yang seharusnya pendidik dapatkan. Semangat harus selalu dipupuk tatkala mulai timbul kejenuhan, keruwetan dalam menghadapi lika-liku dalam mendidik.

Dan yang terpenting adalah DOA

Serahkan semua permasalahan kepada Allah, dan Allah lah tempat mengadu. Bisa jadi anak yang semula buruk akan berubah menjadi baik dengan izin Allah karena wasilah dari doa yang pendidik panjatkan. Allah Subhanahu wa Ta’alla berfirman (yang artinya),
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaKu” (QS. Al-Baqarah : 186)

Bagaimanapun hati manusia ada di antara jari-jari Allah. Sebagaimana hati anak-anak pula yang berada diantara jari-jari Allah, hanya Dia yang dapat membolak-balikkan hati hamba-Nya. Adukan semua kepada-Nya, dan memohonlah agar mendapatkan kemudahan.
Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku dan lunakkanlah lidahku agar manusia dapat memahami perkataanku” (QS. Thaahaa: 25-28)

Bersyukurlah karena dalam garis hidup ini ada waktu untuk memberikan ilmu walau sedikit kepada orang lain. Mungkin itulah salah satu cara agar dapat bermanfaat bagi orang lain. Baik pelajaran syar’i maupun pelajaran umum bila ilmu tersebut untuk kemajuan agama islam, insyallaah bermanfaat. Semua bisa mengaku sebagai guru namun semua guru belum tentu bisa menjadi pendidik sejati.
Wallahu a’lam bishawab

Penulis : Ummu Hamzah Galuh Pramita Sari
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar hafidzahullah

***

Artikel muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

  • samsul arif

    Artikelnya bermanfaat sebagai penyadaran untuk introspeksi bagi semua guru, agar kembali kepada fungsinya sbg pendidik (bukan politikus).Dan yg lbh penting lg tujuan kita sbg pendidik adalah mencari ridho ALLOH.

  • abu daffa

    1. ana guru sd negeri. disd ana banyak murid yg non muslim, kadang ana ingin pindah dari sd tersebut. bagaimana seharusnya tindakan ana?
    2. diuasbn kmaren siswa ana mendapat nilai tertinggi di provinsi ana kami dijanjikan hadiah macam-macam namun blm jg dipenuhi, apakah niat ana tidak ikhlas jika ana merasa kesal dgn janji pemerintah tsbt? gimana solusinya?

  • abu daffa

    1. ana guru sd negeri. disd ana banyak murid yg non muslim, kadang ana ingin pindah dari sd tersebut. bagaimana seharusnya tindakan ana?
    2. diuasbn kmaren siswa ana mendapat nilai tertinggi di provinsi ana kami dijanjikan hadiah macam-macam namun blm jg dipenuhi, apakah niat ana tidak ikhlas jika ana merasa kesal dgn janji pemerintah tsbt? gimana solusinya? jazakillah

  • meli

    assalamulaikum.ana seorg guru sd.saat mengajar ana ingin lemah lembut.tapi anak anak jd bersikap semaunya. bagaimana sebaiknya ana bersikap dan bagaimana caranya agar kita bisa bersabar menghadapi keributan mereka?

  • Assalamualaikum wr wb

    nama saya Aprizal pahlipi. saat ini saya masih kuliah di stit pagaralam jurusan PAI.sekarang sedang nyusun skripsi.saya ingi komentar mengenai topik ini. setelah saya baca topik yang berjudul jadilah sang pendidik isinya sangat berguna sebagai referensi skripsi saya.Judul skripsi saya Peranan Orang Tua Dalam mendidik Akidah anak dalam Keluarga. Kalau bisa muslimah memperbanyak sumber refrensi yang berhubungan dengan pendidik . Atas perhatiannya Terimakasih.

  • suparto wijaya

    saya pikir betul sekali dimana para guru bukan saja hanya menjalankan tuntutan pekerjaan tetapi benar2 karena tuntutan kewajiban dari agama ini(sbg salah satu ladang amal)

  • trimakasih…artikelnya banyak memberi ilmu buat ku….

  • Indonesia akan berubah tanpa memerlukan waktu yang sangat lama, jika kita semua sadar akan peran masing-masing… guru adalah mesin yang akan menjadi ujung tombak berhasil atau tidaknya generasi yang akan datang…

  • ririh wejang ningtyas

    i’m in islamic senior high school
    i have a teacher.maybe i can call him mr.x,i think to be a teacher is not only do their reponsibility to teach their students,but they should think that teach just for give a good and suitable education
    n make their students to be smart and clever
    i really hate with mr.x he never gives me knowledge but just a lot of duties
    so what do u think about some teachers that always do something like thi?please give me your best answer and solution

  • Ummu Maryam

    Ana mau tanya, bagaimana hukumnya jika menjadi pengajar baca al-Qur-an di sekolah formal (SDIT) lalu menerima bayaran (gaji)? Apa termasuk menerima bayaran dari pengajaran al-Qur-an? Jazakumulloh khoyr.

  • Ummu Maryam

    @ririh

    First of all, I have to tell you that no matter you hate him, it won’t help you to understand the lessons. No matter what people advice you about that teacher, you have to rely in yourself.

    You can ask him to gives more lesson rather than gives more duties. There are many good words to tell him, try your best in it. Or maybe the educational system ask the student to be more active, to look for many sources so they can understand the lesson.

    You can also ask your friend to teach you. And try to not blaming your teacher anymore. Trust me, it will be easier to change the way you learn the lesson or any life lesson rather than to change someone or something to fit with what you need.

    Barokallohu fiik…

  • ummu Abdillah

    subhanallah,,,artikelnya sangat bagus sekali,InsyaAllah bermanfaat bagi para pendidik dan calon pendidik.

  • Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuhu

    Jazakumullahu Khairan Katsiran atas artikel diatas. Mohon ijin-nya saya posting di milist temen2 muslimah disini.

    • @ Naning Tri Wahyuni
      Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh
      silahkan untuk disebarluaskan dengan mencantumkan sumber (www.muslimah.or.id). Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat

  • Ummu Maryam

    ‘Afwan tanya lagi. Gimana hukumnya menjelaskan ilmu alam seperti siklus air termasuk membahas terjadinya hujan, bumi berputar, dan sebagainya? Sedangkan kita tahu beberapa hal berbeda dengan apa yang sudah ada di Qur-an dan sunnah? Jazakumullah khayr

  • sri mulyati

    Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuhu

    terima kasih atas artikel diatas. Mohon ijin-nya saya posting di milist temen2 muslimah disini.

  • Syantinur

    Artikel ini bagus banget ijin copas…ana pernah sakit hati n sedih amat sangat karena disekolah anak ana kls 3 seorang guru agama memukul mulut anak ana…apapun alasanya itu tidak dibenarkan. dng kejadian ini ana tidak Ridho lahir bathin semoga Allah membalasnya

  • Fahri

    bismillahir rahmani rahim…
    assalamu alaikum wr. wb.

    artikel diatas sudah lebih dari motivasi dan bimbingan bagi para guru. terimakasih.
    persoalan sekarang dilapangan…(sekolah), khususnya di tempat terpencil jauh dari kesempurnaan dalam menularkan ilmu pada peserta didik.yang paling mendasr kurangnya kesadaran dari dalam diri seorng pendidik yang dibarengi dengan niat yang tdk jelas. ada yang mw ngajar karena kejar gaji, ada juga yg ngjar karena cari titik aman saja (masa bodoh). tolong kalau ada bahan/ artikel teraru langsung aja dikirim ke e-mail. thanks.wassalam

  • ayu aisyah

    assalamu’alaykum.
    ‘afwan, boleh copas ya.

    • @ ayu aisyah

      Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh. Silakan, Ukhti.

  • bagus, mencerahkan. kunjungi juga blog saya di http://isnahrimiati.blogspot.com/ he..he..maaf ngiklan

  • muhammad nur

    assakamuaaikum,wr,wb
    nama ana muhammad nur
    guru d MTS S TAARBIYAH ISLAMIYAH,,MA BUNGO JAMBI
    termikash saya ucap kan kpd saudra/i yg telh menulis artikel in,,dan stlah saya baca,,,hati saya trsa trsentuh,,dan membrikan mytivasi kpda saya,,

Shares