Bersemilah Ramadhan

Sukses dalam beribadah merupakan harapan semua hamba. Karena sukses dalam beribadah, berarti ibadah kita diterima.

1569 0

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sukses dalam beribadah merupakan harapan semua hamba. Karena sukses dalam beribadah, berarti ibadah kita diterima. Dan tidak ada satupun hamba yang tidak ingin ibadahnya tidak diterima.

Ketika anda melakukan sebuah aktivitas, anda disebut sukses ketika anda berhasil mendapatkan tujuan yang anda harapkan. Demikian pula dalam masalah ibadah, anda disebut sukses, ketika anda telah meraih tujuan disyariatkannya ibadah itu. Sehingga dengan memahami tujuan disyariatkannya suatu ibadah, kita bisa mengukur sejauh mana keberhasilan ibadah kita dan di saat yang sama, kita juga bisa melakukan evaluasi, ketika kita tidak berhasil menggapai tujuan itu.

Karena itulah, Allah banyak menjelaskan tujuan disyariatkannya berbagai macam ibadah. Diantara tujuan diwajibkan shalat, karena ini mencegah setiap perbuatan keji dan munkar. Allah berfirman,

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

”Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”.  (QS. al-Ankabut: 45)

Diantara tujuan diwajibkan ibadah dalam bentuk mengeluarkan harta, agar harta tidak hanya hanya berputar di sekitar orang-orang kaya,

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

”Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu.” (QS. al-Hasyr: 7)

Agar harta itu bisa membantu orang solih yang tidak mampu, sehingga dia bisa tetap melakukan aktivitas ibadah, tanpa harus meluangkan banyak waktu untuk mencari dunia.

Dan di antara tujuan Allah wajibkan puasa, agar mereka menjadi hamba yang bertaqwa.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. al-Baqarah: 183)

Ada dua fungsi ketika kita mengetahui tujuan disyariatkannya ibadah,

Pertama, untuk mengetahui apa yang menjadi harapan seseorang dalam ibadah. Sehingga ini akan mengarahkan semangatnya dalam melakukan ibadah itu.

Kedua, sebagai bahan evaluasi ketika dia tidak mendapatkan tujuan itu. Apa sebab dia gagal meraih tujuan itu. Bagian mana yang belum sempurna, sehingga harus dilakukan perbaikan.

Dengan ini, kita bisa menyusuri kualitas ibadah puasa yang kita lakukan.

Mengukur Puasa dengan Taqwa

Kita telah sepakat, tujuan utama Allah mewajibkan kita untuk berpuasa adalah agar kita menjadi pribadi yang bertaqwa. Sebagaimana ditegaskan dalam satu ayat yang sering kita dengar,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagi kalian untuk berpuasa, sebagaimana dulu telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang yang bertaqwa.” (QS. al-Baqarah: 183)

Selanjutnya, ada satu pertanyaan yang selayaknya untuk kita renungkan.

Benarkah ketika kita selesai melaksanakan puasa Ramadhan, kita sudah menjadi orang yang bertaqwa?

Apakah setiap kaum muslimin yang lulus melaksanakan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, secara otomatis menjadi insan yang bertaqwa?

Apakah setiap orang yang menjalankan ibadah selama Ramadhan, ibarat bayi yang baru dilahirkan dari ibunya? Ataukah justru sebaliknya…, banyak diantara kita, atau kaum muslimin yang keluar bulan Ramadhan, tapi masih memiliki sifat yang jauh dari ketaqwaan?

Kita tidak bisa memberikan jawaban yang pasti untuk pertanyaan di atas. Namun, yang jelas realita menunjukkan bahwa kebanyakan kaum muslimin ketika melepas kepergian Ramadhan, mereka kembali pada kebiasaan buruk mereka sebelumnya. Tidak jauh jika kita menyatakan bahwa bisa jadi ini indikator mereka belum mendapatkan predikat taqwa.

Melepas Ramadhan Tanpa Taqwa

Ditegaskan dalam beberapa hadits, ada di antara kaum muslimin, yang seusai melaksanakan puasa Ramadhan, mereka belum mendapatkan ketaqwaan. Mereka masih belum diampuni dan bergelimang dengan dosa maksiat.

Hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar dan beliau membaca “Amin” tiga kali. Para sahabat-pun bertanya, apa gerangan yang menyebabkan beliau membaca “Amin” tiga kali. Kemudian beliau bersabda: “Jibril berdoa di sampingku: (salah satunya):

يا محمد من أدرك رمضان فلم يغفر له فأبعده الله

Wahai Muhammad, orang yang berjumpa bulan Ramadhan, namun dosanya belum diampuni, Allah akan menjauhkannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka aku ucapkan Amiin” (HR. Ibnu Hibban 409 dan dishahihkan Syu’aib al-Arnauth).

Do’a ini diucapkan oleh malaikat terbaik, yaitu Jibril, dan diaminkan oleh manusia terbaik, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa mustajabnya do’a ini. Tentu kita sangat berharap tidak mengalami seperti yang disebutkan dalam do’a itu.

Namun sayangnya, yang sangat menyedihkan, keadaan ini dialami oleh kebanyakan kaum muslimin. Banyak orang yang mungkin bisa dikatakan ‘gagal’ dalam menjalankan ibadah Ramadhan.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, sementara yang dia dapatkan dari puasanya hanyalah rasa haus dan dahaga…” (HR. Ahmad 8856, Ibn Majah 1760, dan dishahihkan Syu’aib al-Arnauth).

Anda bisa renungkan kalimat “yang didapatkan hanya lapar dan dahaga.”

Apa yang bisa anda simpulkan?. Tidak jauh jika kita menyatakan, bisa jadi orang ini tidak mendapatkan pahala. Dan itu dialami oleh kebanyakan mereka yang berpuasa. Mengapa bisa demikian? Bukankah kita telah melakukan banyak ketaatan? Bukankah mereka telah melaksanakan berbagai macam bentuk ibadah?

Ya.., benar. Mereka telah melakukan itu semua…, namun di saat yang sama, mereka juga melakukan perbuatan yang menyebabkan pahala ibadah itu hilang. Ini berarti ada perbuatan yang bisa menyebabkan pahala puasa yang mereka lakukan menjadi gugur, sehingga tidak bernilai sama sekali.

Dua Jenis Pembatal Terkait Puasa

Di sinilah penting bagi kita untuk mengetahui penyebab kegagalan ibadah. Bahwa ternyata, kegagalan yang dialami seseorang ketika ibadah, bukan semata karena dia melakukan pembatalnya. Namun ada pelanggaran lain yang menjadi sebab amal ibadah seseorang menjadi gagal. Bahkan bisa jadi, ini sumber kegagalan terbesar. Sumber kegagalan itu adalah pembatal pahala puasa.

Mari kita pahami, terkait pembatal dalam masalah ibadah, di sana ada dua bentuk,

Pertama, pembatal ibadah itu sendiri.

Itulah segala sesuatu yang jika dilakukan ketika melaksanakan ibadah tersebut, bisa menyebabkan ibadah ini batal dan harus diulangi. Sebagai contoh, dalam ibadah puasa. Pembatal puasa diantaranya adalah makan, minum, hubungan badan yang dilakukan dengan sengaja. Siapa yang melakukan salah satu dari pembatal ini, maka puasanya batal dan dia wajib diganti di bulan yang lainnya.

Untuk pembatal jenis pertama ini, kita tidak perlu terlalu merisaukan. Karena banyak di antara kaum muslimin yang sudah memahaminya. Dan bahkan mereka berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukannya. Sampai yang bukan pembatal sekalipun, terkadang mereka anggap sebagai pembatal.

Kedua, pembatal pahala ibadah. Artinya, ketika pembatal ini dilakukan, amal ibadah kita tetap sah, hanya saja perbuatan ini bisa menggugurkan pahala ibadah yang kita lakukan. Dalam kasus puasa, pembatal pahala puasa adalah semua perbuatan maksiat baik kecil maupun besar dan semua perbuatan sia-sia yang menyibukkan seseorang, sehingga tidak sempat melaksanakan ketaatan.

Pembatal kedua inilah yang selayaknya lebih kita waspadai.

Bahkan sebisa mungkin kita informasikan kepada yang lain. Mengingat masih banyak di antara kita yang belum memahaminya. Inilah yang diingatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi umatnya melalui bebarapa sabdanya, diantaranya hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan semua perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh dengan amalnya (berupa) meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).” (HR. Bukhari 1903, Abu Daud 2364, Ibnu Hibban 3480 dan Turmudzi 711)

Yang dimaksud “qauluz zur” adalah semua ucapan dusta, kebatilan, perkataan haram, dan yang menyimpang dari kebenaran. Sedangkan maksud “al-Amal bihi” adalah semua perbuatan yang dilarang oleh Allah. Demikian keterangan al-Hafidz al-Aini dalam Umdatul Qori (10/276).

Dan seperti inilah yang dipahami para ulama. Kewajiban orang puasa, harus menahan dirinya jangan sampai terjerumus ke dalam maksiat. Ibnu Hibban dalam shahihnya menyatakan,

ذكر الخبر الدال على أن الصوم إنما يتم باجتناب المحظورات لا بمجانبة الطعام والشراب والجماع فقط

Beberapa dalil yang menunjukkan bahwa puasa hanya bisa sempurna jika diiringi dengan menjauhi perbuatan yang terlarang, tidak hanya menjauhi makan, minum, atau hubungan badan semata. (Shahih Ibnu Hibban).

Juga disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Hakekat puasa bukanlah menahan makan dan minum, namun puasa yang sejatinya adalah menahan diri dari perbuatan al-Laghwu dan rafats. Jika ada orang yang mencelamu atau bertindak bodoh kepadamu maka katakanlah: Saya sedang puasa.” (HR. Hakim , Ibn Khuzaimah, dan dishahihkan al-Albani)

Dan yang dimaksud “al-laghwu” adalah segala perbuatan sia-sia, yang bisa melalaikan seseorang untuk melakukan ketaatan. Sedangkan yang dimaksud ar-rafats” adalah semua ucapan dan perbuatan jorok.

Berwibawa Ketia Puasa

Orang yang berpuasa, sejatinya tidak hanya puasa perut dan di bawah perut, namun juga puasa indera dan semua yang berpotensi menjadi sumber dosa. Sehingga seorang mukmin sejati akan nampak sangat berbeda antara kondisi dia berpuasa dan ketika sedang tidak berpuasa. Seorang mukmin yang sedang berpuasa, dia akan menjadi orang yang sangat berwibawa, karena upayanya untuk menjaga diri dari setiap maksiat dan perbuatan yang menurunkan martabat. Sebagaimana yang pernah dinasehatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma,

“Apabila kalian berpuasa maka jadikan telinga kalian, penglihatan kalian, dan lisan kalian juga berpuasa. Berpuasa dari bicara dusta dan perbuatan haram lainnya. Jauhi tindakan mengganggu tetangga. Jadikan diri kalian orang yang berwibawa dan tenang ketika sedang berpuasa. Jangan jadikan hari puasa kalian sama dengan hari ketika kalian tidak berpuasa.” (Ceramah Syaikh Sulthan Al-‘Id)

Seperti itulah sejatinya puasa seorang mukmin. Puasa yang dia lakukan mampu mengubah kepribadiannya, sehingga berbeda antara keadaannya ketika berpuasa dan di luar puasa. Dia memiliki hasmah ilahiyah (rasa malu yang besar, karena dorongan taqwa), selalu merasa diawasi dan waspada terhadap setiap gerakan yang dia lakukan.

Jadilah dia orang yang qana’ah dan tidak ambisius terhadap dunia, penyabar dan mampu menahan emosi, pemurah dan tidak kikir, rendah hati dan tidak sombong. Berusaha memperbaiki diri dan tidak malas, berusaha mencari kebenaran dan tidak bersikap keras kepala, berusaha meniti sunnah dan meninggalkan bid’ah. Dia seperti bertapa namun tetap beraktivitas kesehariannya.

Kondisi seperti inilah yang digambarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa puasa bisa menjadi perisai. Perisai dari perbuatan tercela di dunia dan perisai dari neraka di akhirat. Agar puasa yang dia lakukan menjadi perisai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umatnya untuk menghindari segala yang bisa menjatuhkan wibawanya, di hadapan Allah maupun di hadapan makhluk. Beliau bersabda,

“Puasa adalah perisai. Apabila kalian sedang berpuasa, janganlah melakukan tindakan jorok, dan jangan bertindak bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengajaknya berkelahi, hendaknya dia sampaikan: ‘Saya sedang puasa…’ ‘Saya sedang puasa…’.” (HR. Bukhari 1894, Abu Daud 2363 dan yang lainnya).

Anda perhatikan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita melakukan tindakan jorok, atau tindakan yang umumnya dilakukan orang bodoh, seperti teriak-teriak, main mercon, ganggu orang, dst. Karena perbuatan semacam ini bisa mengurangi kualitas puasa kita. Bahkan, ketika kita diajak berkelahi atau dihina orang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan agar tidak dilayani dan untuk meredam emosi, kita sampaikan bahwa kita sedang puasa. Karena tindakan semacam ini akan menjatuhkan wibawa seorang muslim.

Sebagai hamba Allah yang baik, tentunya kita sangat menginginkan agar amal kita mendapatkan pahala yang sempurna, pahala terbaik yang Allah janjikan kepada hamba-Nya. Sangat disayangkan, ketika amal yang kita lakukan di bulan yang penuh berkah ini, harus hilang gara-gara sikap kita yang kurang menjaga adab dalam berpuasa.

Allahu a’lam   

————————————————————————-

Penulis Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

Shares