fbpx
Donasi Web Donasi Web

Ketika Layar telah Terkembang

Penulis: Ummu ‘Umair dan Abu ‘Umair

Islam telah membimbing kita dalam membangun rumah tangga, dimulai dari memilih pasangan hidup. Islam mengikat suami istri dalam ikatan kokoh, menentukan hak dan kewajiban, serta mewajibkan mereka menjaga buah pernikahan ini. Islam juga mengantisipasi segala problema yang dapat menghadang kehidupan rumah tangga secara tepat. Itulah kesempurnaan islam yang sangat indah.


Pernikahan! Kata itu sangat indah didengar tetapi keindahan di dalamnya harus serta-merta dibarengi dengan persiapan. Pernikahan berarti mempertemukan kepentingan-kepentingan dua individu dan bukan mempertentangkannya.

Ketika biduk rumah tangga telah berlayar, apa saja yang bisa anda lakukan di dalamnya? Hari berlalu, pekan berlalu, bergantilah bulan. Tiba-tiba suatu hari anda merasakan ada sesuatu yang tidak mengenakkan anda. Anda mengamati sifat dan pasangan anda selama beberapa pekan sejak pernikahan, ternyata ada yang tidak anda sukai dan yang tidak anda harapkan. Sejak saat itu, anda menemukan bahwa rumah tangga tidak hanya berisi kegembiraan, namun juga tantangan, bahkan bisa juga ancaman. Seorang suami mungkin bertanya-tanya siapakah gerangan engkau wahai istriku? Demikian ia sering bertanya dalam hatinya. Sekian banyak hal-hal aneh dan asing yang ia temukan pada diri seorang ‘makhluk halus’ bernama istrinya itu. Demikian pula, pertanyaan itu muncul di benak sang istri. Seperti ia sedang dihadapkan pada sebuah laboratorium bernyawa, tengah ada banyak penelitian dan pelajaran yang bisa dieksplorasi di dalamnya. Ia menghadapi hari-hari yang berharga, pengenalan demi pengenalan, pengalaman demi pengalaman dan berbagai pertanyaan yang belum terjawabkan. Dulu waktu masih lajang, seorang muslimah yang belum pernah bersentuhan kulit dengan lawan jenis, kini tiba-tiba dihadapkan pada seorang asing yang nantinya akan mengetahui banyak ‘rahasia’ dirinya. Ia seorang wanita yang ‘clingus’ menurut orang jawa, wanita yang tak berani ngobrol dan bercanda dengan lawan jenisnya, namun tatkala masuk ke jenjang pernikahan ia harus berhadapan dengan ‘dunia’ laki-laki. Kini, ia mencoba menyesuaikan irama kehidupan dirinya dengan sang suami. Ia mulai mengenal dunia laki-laki secara dekat tanpa jarak. Demikian pula hal-nya dengan sang suami.

Sebenarnyalah kesulitan yang dihadapi merupakan sesuatu yang wajar dan manusiawi. Betapa tidak! Pernikahan telah mempertemukan bukan saja dua individu yang berbeda, laki-laki dan perempuan, tetapi dua kepribadian, dua selera, dua latar budaya, dua karakter, dua hati, dua otak dan ruh yang hampir dapat dipastikan banyak ketidaksamaan yang akan ditemui oleh keduanya. Seorang manusia yang terkadang bisa saja tak paham akan suasana hatinya, sekarang malah dituntut untuk memahami hati orang lain?!

Kehidupan rumah tangga tak semuanya bisa dirasionalkan begitu saja, terkadang memerlukan proses kontemplasi yang rumit, memahami dunia baru, memahami suasana jiwa, logika, psikologis dan fisiologis yang bergulir bersama di dalam kehidupan rumah tangga. Kuliah S1 ternyata tak cukup membekali teori tentang ‘siapakah laki-laki dan perempuan’ dalam tataran teoritis maupun praktis. Tentunya kita kurang mampu memahami dunia pasangan kita, kecuali menempuh pembelajaran dan saling membantu untuk terbuka kepada pasangannya tentang apa yang dirasakan, kepedihan duka, kegembiraan, kecemburuan, kekecewaan, kebanggaan, keinginan, dan jutaan determinasi perasaan lainnya. Saling mencintai memerlukan proses pembelajaran. Saling membantu mengajarkan tentang diri sendiri, bahwa aku adalah makhluk Allah yang punya keinginan dan mestinya engkau mengerti keinginanku. Akan tetapi bahasan verbal tak senantiasa berhasil mengungkap hakikat perasaan.

Menikah adalah pilihan sadar setiap laki-laki dan perempuan dalam islam. Seorang laki-laki berhak menentukan pasangan hidup sebagaimana perempuan. Jika kemudian sepasang laki-laki dan perempuan memutuskan untuk saling menerima dan sepakat melangsungkan pernikahan, atas alasan apakah satu pihak merasa terpaksa berada di samping pasangan hidupnya setelah resmi berumah tangga??!! Sebelum terjadinya akad nikah, pilihan masih terbuka lebar, akan tetapi setelah adanya akad nikah, adalah sebuah pengkhianatan terhadap makna akad itu sendiri apabila satu pihak senantiasa mencari-cari keburukan dan kesalahan pasangannya dengan merasa benar dan bersih sendiri. Tentunya hal tersebut merupakan salah satu bentuk penyucian diri, terlebih lagi tindakannya tersebut akan menumbuhkan benih-benih kebencian dalam hati terhadap seseorang yang telah menjadi pilihannya. Allah ta’ala berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An Najm: 32).

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, karena walaupun dirinya membenci salah satu perangainya, tentulah akan ada perangai lain yang disukainya.” (HR. Muslim nomor 2672)

Imam An Nawawi mengatakan, “Yang benar, hadits ini merupakan larangan bagi seorang suami agar tidak membenci istrinya, karena apabila istrinya memiliki perangai yang tidak disenanginya, tentulah akan ada perangai lain yang disukainya, misalnya istrinya memiliki akhlak yang jelek, akan tetapi mungkin saja dia komitmen terhadap agama, memiliki paras yang cantik, mampu menjaga diri, lembut atau yang semisalnya.” (Syarh Shahih Muslim, 5/209).

لِأَنَّهُ إِنْ وَجَدَ فِيهَا خُلُقًا يُكْرَه وَجَدَ فِيهَا خُلُقًا مَرْضِيًّا بِأَنْ تَكُون شَرِسَة الْخُلُق لَكِنَّهَا دَيِّنَة أَوْ جَمِيلَة أَوْ عَفِيفَة أَوْ رَفِيقَة بِهِ أَوْ نَحْو ذَلِكَ

Memang ada pilihan lain yang dicontohkan shahabiyah Habibah binti Sahl ketika menemukan kebuntuan dalam rumah tangga sehingga dirinya mengajukan khulu’. Nabi pun memberikan jalan keluar (HR. Malik nomor 1032; Abu Dawud nomor 1900, 1901; An Nasaa’i nomor 3408; Ibnu Majah nomor 2047; Ahmad nomor 26173; dishahihkan oleh Al ‘Allamah Al Albani dalam Al Irwa’, 7/102-103, Shahih Sunan Abu Dawud nomor 1929). Namun, cerai bukanlah jalan pertama yang harus ditempuh, sebab proses belajar menerima dan mencintai harus terjadi dan ditempuh terlebih dahulu. Karena tujuan kita menikah adalah ibadah, mengabdi pada Allah dan mencapai keridhoan-Nya. Sedangkan hasil akhir dari ibadah itu sendiri adalah mencapai tingkat ketakwaan atau pemeliharaan diri dari segala kemaksiatan, yang akan membawa pemiliknya merengkuh ridho Allah. Berbagai upaya akan ditempuh oleh orang yang ingin mencapai derajat ketakwaan, tidak terkecuali melalui pernikahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَن

“Bertakwalah kamu dimanapun kamu berada, bila kamu berbuat kejahatan, segera iringi dengan perbuatan baik, sehingga dosamu terhapus, lalu pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Tirmidzi nomor 1910; dihasankan Syaikh Al Albani dalam Al Misykah nomor 5083, Ar Raudlun Nadhir nomor 855, Shahih wadl Dhaif Sunan At Tirmidzi, 4/487)

Setiap pasangan hendaknya merenungkan bahwasanya ketika mereka menikah, mereka tinggal menyempurnakan “setengah ketakwaan”, apakah “setengah ketakwaan” yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka hendak disia-siakan?

Mari kita belajar membentuk bahtera rumah tangga yang mampu berlayar merengkuh keridhoaan-Nya. Bertakwalah kepada Allah dalam setiap mengambil keputusan dan bersabarlah menghadapi kekurangan dan kelemahan pasangan kita, karena tak ada manusia yang sempurna, teruslah bermuhasabah diri. Mudah-mudahan dengan kesabaran kita, Allah akan memudahkan dan memberikan kebahagiaan dalam rumah tangga kita. Teruslah berusaha melaksanakan semua kewajiban yang Allah bebankan pada kita dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada, Allah-lah sumber kekuatan kita, dengan mengharap ridha-Nya dan cinta-Nya. Berjanjilah, mulai hari ini, bahwa keindahan hidup rumah tangga pada mulanya berasal dari kesadaran anda akan janji besar ini! Dengan demikian, semoga kita mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Semoga Allah mengumpulkan kita dengan pasangan beserta anak-anak kita dalam jannah-Nya. Amiin…

***

Artikel www.muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

🔍 Menjadi Ibu Yang Sabar Dalam Mendidik Anak, Mizan Adalah, Ibu Hamil Muslim, Lelaki Sholeh Dambaan Wanita, Sebutkan Contoh Pengamalan Dari Iman Kepada Malaikat, Keputihan Berwarna Coklat Setelah Haid, Ayat Quran Tentang Syukur, Hari Valentine Bagi Umat Islam, Arti Nama Taufiq, Doa Berhubungan Suami Istri

Donasi masjid al ashri pogung rejo

Donasi Masjid Pogung Dalangan

 

Profil penulis

23 Comments

  1. www.muslimah.or.id

    1. Ibnu
    January 27th, 2008 at 1:43 am

    Assalamu’alaykum..
    Saya maw tanya neh..
    Kalo misalnya melakukan proses penjajakan melalui pacaran boleh nggaK?

    Tapi tentunya bukan pacaran seperti kebanyakan loh ..lebih Islami gitu deh.. sekedar menjalin komitmen utk mengenal pribadi lebih dekat.

    Saya tertarik dengan situs:

    http://***.wordpress.com

    Mungkin metode ini cukup efektif menghindari model pacaran yg menyimpang dari tata cara yg Islami.

    2. muslimah.or.id
    January 27th, 2008 at 4:20 am

    Wa’alaikum salam warohmatullah wabarokatuh
    Mas Ibnu, hakekat pacaran yang Anda maksud itu apa? coba Anda defenisikan apa arti “pacaran”? dan apa maksudnya pacaran islami? coba defenisikan mas. Istilah bisa dibikin-bikin mas… akan tetapi “hakekat” sesuatu itu tetap dan tidak berubah, walaupun dikasih embel-embel “Islami” ; “musik Islami”, “nasyid Islami” tapi hakekatnya adalah “musik dan alat-alat musik yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam” dan selamanya musik tetap haram walaupun namanya diberi embel-embel Islami, dan ini satu contoh saja. “Pacaran Islami”, sama saja dan tiada beda… apakah dengan memberi embel-embel “Islami” sudah membuat sesuatu tersebut dari haram menjadi halal?? kenalilah hakekat sesuatu tersebut mas, dan jangan tertipu dengan nama. Pacaran tetap haram ila yaumil qiyamah walaupun namanya sudah berubah menjadi “pacaran Islami” atau nama-nama lainnya. Baarakallahu fiik…

    3. Agus Nurwahyudi
    January 28th, 2008 at 10:56 pm

    Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh.

    Ana sependapat dengan muslimah.or.id, dan memang demikianlah seharusnya. Akan tetapi disisi lain, masih banyak saudara-saudara kita terutama para syabab-nya yang belum paham dengan cara2 syar’i dalam membangun hubungan baik pra maupun paska pernikahan. Mungkin ini juga yang sedang dialami, oleh saudara kita, Ibnu. Sehingga solusi dari semua itu adalah…Kita harus tholabul ‘ilmi syar’i dan beramal dengan ilmu tersebut. Wallahu’alam.

    4. Sinyoegie
    February 2nd, 2008 at 12:25 am

    Dear

    Sejak masih remaja sinyo sudah tahu tentang perdebatan boleh tidaknya pacaran, bahkan saat internet semakin meluas perdebatan tentang ini semakin mudah ditemukan dan dibaca. Istilah yang digunakan pun mulai bertambah banyak.

    Sinyo awam tentang hukum Islam secara mendalam, namun cukup tahu bahwa ikatan resmi/syah antara dua insan berlainan jenis yang bukan sedarah hanya “pinangan” dan “nikah”.

    Selain itu maka ikatan dalam bentuk dan definisi apapun antara dua orang insan berlainan jenis yang bukan sedarah tidak resmi/syah secara Islam. Tentunya kita semua tahu apa yang dimaksud dengan “mengikatkan diri” tentunya.

    Nah daripada pusing, memikirkan pacaran boleh atau tidak, ayukk segera dipinang dan langsung nikah saja hehehe… ;) , kayak pengalaman sinyo.

    Salam
    Sinyo http://sinyoegie.wordpress.com

    5. lika
    February 4th, 2008 at 9:49 pm

    Assalamu’alaikum wr wb
    Saya mau tanya nih. Sebenarnya ada ketentuan ga tentang jangka waktu untuk taaruf dengan seseorang menuju ke jenjang pernikahan. Misalnya dalam jangka waktu 1 tahun.Jazakumullah.
    Wassalam.

    6. esa
    February 13th, 2008 at 2:31 am

    assalamu’alaykum wr wb
    Jazakumullah khayron katsira atas ilmunya.
    Sy ingin tau juga, klo menikah dengan seorang yang sudah menikah *beristri dan memiliki anak* gmn ya?
    Cara menyiapkan mental utk jd istri kedua gmn?
    Trus, cara meyakinkan ortu dari pihak-pihak terkait gmn?
    Ya pokoknya yg gituh-gituh deh…lg butuh bgt pendapat ttg itu :mrgreen:

    7. Abu Zayd el-Posowy
    February 21st, 2008 at 10:23 am

    assalaamu’alaikum
    artikel yang bagus mbak. semoga muda-mudi bisa mengambil faidah dari artikelnya…
    semoga Allah mejaga kalian dan kita di atas sunnah

    8. muhammad
    February 23rd, 2008 at 2:38 am

    assalamu’alaikum,
    nikah bukan karena muda atau tua, tapi adanya kemampuan; materi- non materi. ikhwah, mudahkanlah, jangan persulit. sungguh fitnah itu mengerumuni kita.
    manakah yang dipilih oleh insan beriman? nikah menambah masalah? nikah meringankan masalah?
    berimanlah, nikah meringankan masalah.
    -hilangnya riya’ saat ada lawan jenis pas lagi ibadah (sholat, ngaji, da’wah, shodaqoh, dll)
    -ada tempat memberikan cinta, curahan hati, cari solusi, dll
    -ada kesempatan dewasa lebih cepat, dengan tahu keadaan sebuah dunia dewasa, rasanya jadi ortu, rasanya jadi suami/istri, rasanya jadi tetangga, dll
    -dll
    ilmuilah masalah, cari solusinya, atau nikmati aja datangnya masalah itu.
    ikhwah, kenapa ‘dilazimkan’ pacaran,tapi nikah ‘diperdebatkan’
    mengapa kita tidak peduli dengan saudara kita lawan jenis? pertaruhan mereka dengan akherat, beban mereka untuk tidak caper -riya’-, beban mereka kurangi pikiran kotor, beban mereka tergesa masuk dunia kerja dengan seadanya -tidak meni’mati ilmu studinya- karena ingin segara nikah, beban mereka menahan gejolak diri, dll.
    bantulah mereka, kasihan mereka.

    jika anda tahu agama, tahu bahaya fitnah- fitnah jomblo bagi akherat, jika iman akan luasnya Rohmat Alloh-ArRozaq-AlQodir, dukunglah nikah muda.

    -ortu, selamatkanlah anak anda dari fitnah!!!
    -akhi, ikhlaslah, berjihad melawan fitnah dunia dan wanita!!! semoga Alloh menyelamatkan kita.
    -ukhti, cintailah khodijah, aisyah, fatimah, ummu salamah, dan para shohabiyah; semoga engkau bersama mereka di surga, karena cintamu yang ikhlas kepada mereka didunia ini.

    dan yang dijadikan indah itu,
    hanya disisi Allohlah tempat kembali yang baik,
    bagi yang beriman, beramal sholeh, dan menasehati ddalam Alhaq dan Ashshobr.

    Alloh, selamatkan kami, dengan sabar dan syukur pada-Mu, dari segala fitnah.
    Alhamdulillah, wassalamu’alaikum.

    9. Deska
    March 3rd, 2008 at 11:03 am

    Assalamualaikum

    benar sekali, saya pun setuju dengan nikah muda bila telah siap (dalam hal materi dsb). tapi ada yang ingin saya tanyakan, benarkah musik itu haram? nasyid juga? kalau shalawat yang di lagukan bagaimana? saya baru tahu…

    syukron,
    wassalam

    10. dhea
    March 6th, 2008 at 9:33 pm

    Asslm wr.wb
    ana mo nanya? pernikahan islam sesuai syareat terkadang susah diterima oleh keluarga dan orang 2x ada disekitar kita, bagaimana menyikapinya? dan jika kita tetap menjalani pernikahan secara islam tapi harus menerima konskuensi dari keluarga(terutama wali dari orang tua perempuan) tidak direstui, bagaimana?

  2. @dhea. saya mau coba jawab. Allah perintahkan kita bertakwa sebatas kemampuan kita, kita tidak dipaksa pada yang kita tak mampu. kalau mencari idealitas soal pernikahan maka lihatlah Rasulullah dan sahabat2nya. Tapi jaman telah berganti, kalau kita tak mampu karena lingkungn keluarga ya ga usah dipaksakan. semampunya saja, teruslah bersabar dan berdo’a. Memohon ampunlah pada Allah. Tentang wali tak mengizinkan menikah perempuan dalam tanggungannya, padahal perempuan telah siap dan menemukan pasangan yang baik agama dan akhlaknya maka hak perwalian bisa berpindah kepada wali hakim. wallahu’alam

  3. ana dan teman ana lagi merasakan sulitnya bersegera menunaikan sunnah ini. para perantara kurang aktif. padahal fitnah selalu mengintai.

    ana juga prihatin, gimana dengan para pemuda yang secara kebiasaan, mereka masih lama menunggu jenjang nikah. fitnah wanita itu berat!

    semoga muslim dan muslimah .or.id dapat memberi solusi masalah2 seperti ini.

  4. assalamualaikum,
    ana berpesan kepada para akhowat untuk lebih aktif berdawah kepada saudarinya yang lain. lebih dekatlah dengan mereka, tunjukkan akhlak mulia, berikan perhatiannya. coba berikan/ pinjami buletin, majalah, buku, cd kajian, atau artikel- kajian dalam flash disk. kenalkan para wanita tentang tauhid, keutamaan dan pentingnya menuntut ilmu dengan cara tepat, caara ibadah, akhlaq-adab, dan manhaj- yang ini tidak mesti harus menyebut person, bisa jelaskan kesalahan, lalu jelaskan yang benar.

    selain dawah adalah kewajiban antunna, ini juga untuk menolong para ikhwan. betapa banyak fitnah wanita di sekitar kita. ana serukan, berjihadlah, wahai muslimah.

    cerita dikit dari ana, ana punya saudari, aktivis, tapi belum tahu mana syahadat, belum paham bentuk syirik kafir quroisy, bilang Alloh nggak punya wajah, nggak paham kaedah Asma-Sifat, nekad safar tanpa mahrom. lha kayak gitu, dia dah liqo 3 tahun lebih. dah jadi Mr.

    gimana dengan akhowat awam lainnya?? saudari ana itu dah ana kasih cd kajian dll, tapi?

    maka, harap para akhowat yang telah Alloh rahmati, berjuanglah lebih. kenalkan indahnya ilmu. sadarkan kaum hawa akan lalainya mereka. jangan berhenti, segera arahkan dan fasilitasi.

    >>ajak juga para akhowat lain untuk lebih lagi berdawah ya.

    ihris ala maa yanfauk, wastain billah!!!
    wassalamualaikum.

  5. ibnu hasan

    Assalamu’alaikum,wr.wb
    Jazakallahu khoir artikelny!
    Alangkahnya indahnya jika semangat berdakwah itu di dasari dengan ilmu dan d sampaikan dengan baik dan lemah lembut.
    Sebagian masyarakat anti pati kepada salafy karena kesalahan sebagian ikhwah yang bersikap kaku karena menganggap ini dan itu bid’ah,sesat dsb. Karena pernah ana di tanya sama orang awam waktu pulang kampung main ke rumah teman yang mana lingkungan tersebut NU nya kental. Kamu di sana ngaji apa? ana bilang salafy. spontan orang awam itu bilang;salafy itu yang alirannya keras? ga boleh
    tahlilan ya, ga boleh yasinan, ga boleh marhabanan, ga boleh dzikir jama’ah ,ga boleh musik n nyanyi ya?dsb. Dan itu membuat ana kaget,bagaimana bisa menyimpulkan seperti itu? Kemudian dia cerita pernah ada ikhwan di desa tersebut mantan ‘anak nakal’ yang sadar. Mencoba untuk berdakwah namun kurang di dasari dengan ilmu,kurang memperhatikan maslahat dan mafsadat,dan kaidah-kaidah dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Peranan ilmu sangatlah penting dalam beramar ma’ruf dan nahi mungkar alangkah baiknya di jelaskan dengan dalil. Kan ndegerinnya enak seandainya di tanya
    lho kenapa itu di anjurkan atau di larang? Allah berfirman….. dan Rasulullah bersabda….. enak toh? bukan seperti orang awam; kata ustadz saya bgini bgitu,
    ustadze sopo? menjadikan perkataan ustadznya sbgai dalil. Insya Allah Ta’ala bersambung… Wassalamua’alaikum,wr.wb.

  6. Assalamu`alaykum
    Alhamdulillah, subhanallah artikel yang bagus ya ummu wa abu. ana ummahatmuda di padang merasa mendapat air segar sekedar mencerahkan lagi hati saya. menikah muda, Alhamdulillah itu anugerah yang ana dan jawzi dapatkan. tp memang benar, berat sekali langkah yang harus dijalani, tantangan yang dihadapi, dulu saat akan menikah ana yg 18 th, dan suami 21 th, ana masih kuliah.jawzi cm berpesan:tantangan didepan jauh lebih berat dr yg kita hadapi skrg, dan ternyata 100% bnar^_^,Allah kan slalu mnolong…Amiiin

  7. wulandari "ummu husein"

    assalamu’alaikum

    alangkah indahnya pernikahan dimana suami dan istri saling mengingatkan di atas sunnah..
    semoga Allah selalu meneguhkan hatiku di atas agama yang lurus..

  8. abu salman

    KETIKA BADAI MENERPA KAPAL,
    Pesimist berucap: celaka, kapal pasti akan tenggelam
    Optimist berucap: tenang aja, badai pasti berlalu
    Mosleem berbuat: menyetel layar dan kemudi kapal, menyesuaikan haluan seraya bersandar kepada-NYA.

  9. Assalamu’alaikum
    Nikah,
    semoga Allah menyegerakannya….
    Aamiin……….

  10. …Assalamu’alaikum?menikah….sangatlah indah…..,tapi saya masih bingung….”…saya mau bertanya kepada teman-teman…apa saya bisa…..mencapai kebahagiaan,…saya menyukai perempuan….dia sholeh menurut saya, dia juga mempunyai rasa sayang kepada saya,sampai sekarang hubungan saya denganya masih berjalan walaupun hubungan kami berjauhan, tapi rasa sayang dia kpd saya mungkin memudar,,karena dia masih belum bisa melupakan mantanya,,,orang tua dan keluarganya dia sangatlah menginginkan bersama saya, yang jadi pertanyaan,apakah tindakan saya kepada dia….apakah saya harus berhenti atau berjalan dengan dia..?misalkan saya suatu saat menikahi dia …apakah saya mendapatkan kebahagiaan bersama dia..?mohon teman-teman kasih solusinya……? atau lewat E-mail ….terimakasih……!

  11. Akhi Sutarjaya
    Akhi, cinta itu fitrah. Namun rasa cinta itu bisa membawa kita ke tangga kebahagiaan dan bisa juga menjerumuskan kita ke lubah kemaksiatan. Bagaimana agar cinta dapat meniti tangga kebahagiaan? MENIKAHLAH! Jika belum mempu menikah, bertaqwalah kepada Allah dan lindungi dirimu dari fitnah wanita. Perhatikan wasiat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:
    Tidak ada fitnah (bencana) yang aku tinggalkan setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita” (HR. Bukhori-Muslim).
    Maka jauhilah khalwat, ikhtilat, jauhilah pacaran (baik jarak jauh maupun jarak dekat), takutlah pada Allah.
    Solusinya, jika antum merasa mampu, lamarlah ia. Jika belum mampu, lupakanlah ia sejenak, sibukkan dirimu dengan belajar agama, meningkatkan kualitas diri, banyak berpuasa dan berdoalah kepada Allah agar dipertemukan dengan pasangan yang terbaik dan dengan cara yang baik (bukan dengan jalan pacaran).
    Wallahu’alam.

  12. Assalamu’alaikum…?terimakasih atas saranya…ingsya’Allah sedikit demi sedikit saya akan jalani dengan saran tersebut…

  13. Assalamu’alaykum,artikel yg bagus,nikah tu 1%nya enak…99%nya uenak banget……..emang pasti akan slalu banyak masalah dlm rumah tangga namanya juga dua orang yang beda pendapat beda kemauan beda pemikiran, tapi itulah seni dlm berumah tangga tergantung bagaimana qt menyikapinya harus banyak pengertian dan kesabaran terutama dari para istri harus banyak mengalah.
    ok…bagi para jombloers….sapa yg dah siap nikah????…..semangat!!!!!chayo….!!!!!semoga Alloh memberi kemudahan dalam mencari jodoh

  14. Near Rai...

    Siapapun yang tahu dalil naqli dan aqli dalam hukum khusus perkawinan bagi syarifah dan habaib (keturunan Rasul saw.) Please…. tell me!!!

  15. insan_greenz

    Assalamu’alaikum wr. wb..

    afwan..
    ane mau tnya nh,,
    kLo kita udah dJodohin ma orang tua sdangkan kita sndri bLun mau dan orang tua hnya inginkan kita untuk menikahi pria itu..

    trus harus m’ambil skap yg sperti apa ya..

    syukron..

  16. Abu hanif,andi

    Syukran kastiran atas artikel yang bagus ini..
    ana pengen sekali menjalankan sunnah rasul yang satu ini[menikah] lebih2 jaman kita sekarang fitnahnya keras banget..
    Tapi ana masih bingung kira2 kalo ana nikah nanti bagaimana dengan kulia ana?
    Kira2 menikah itu mengganggu konstrasi belajar ga?
    Ana jga bingung kalo ana ninggalin istri belajar diluar negeri kira2 dianya ridho dan sanggup ga..
    Mohon nasihat antm semua bagaimana solusinya..
    Ana minta jga do’a antum mudah2an ana mendapatkan jodoh yang shalehah yang bisa membantu dalam berbuat keta’atan kpd Allah dan mendukung dalam thalabul ‘ilmi.

  17. mohon dijelaskan dalil mengenai istri yang minta digauli sedangkan suami tidak menyegerakannya

  18. Ternyata, penerjemahan doa nikah banyak yang salah (atau kurang tepat). Ana baru saja baca penjelasan tentang rahasia huruf laam dan ‘alaa dalam doa walimah di http://alashree.wordpress.com/2009/04/26/rahasia-%D8%A7%D9%84%D9%84%D8%A7%D9%85-dan-%D8%B9%D9%84%D9%89-dalam-doa-pernikahan/

  19. Assalamualaikum..
    jazakumulloh .
    untuk taushiyahnya..semoga bermanfaatAmin…
    Menikah…
    semoga Allah segera menyempurnakan setengah ketaqwaan kita denagn menikah. Dengan jalan yang diridhoi Alloh SWT ..amin

    Mohon ijin untuk menyuplik sebagian artikel untuk kado temen yang akan menikah.

  20. Artikel yang bagus , cz biasanya saya alergi dengan arikel2 , tulisan2 ttg menikah .tapi kali ini emang bagus kok !

    Jadi menikah tidak langsung otomatis menyempurnakan ketaqwaan kita ya ? tapi seberapa kita mampu menjadikan pernikahan atau menjalani pernikahan itu sehingga bisa menyempurnakan ketaqwaan kita . begitukah ?

    Pasti perjuangan yang melelahkan dan tidak mudah.
    so tidak semua pernikahan berarti menyempurnakan ketaqwaan ………………………

  21. ana ijin share ustzd. jazakumulloh…

  22. assalamua’laikum wr.wb
    kalau boleh minta nasihat nya ni ustad…,saya berumur 28 th,saya berniat ingin menikah,tapi saya bingung harus kemana dan minta bantuan siapa untuk mendapatkan pasangan hidup,saya ingin sekali mendapatkan pendamping yang faham dan taat beragama…dan saya juga bingung d samping penghasilan saya pas-pasan saya juga banyak utang…bagusnya ustad saya harus gimana…?apa yang harus saya lakukan? sebelumnya saya ucapkan jazakALLOHulkhoir ustadz

  23. arfian moeslim

    assalamu’alaikum wr.wb
    sblmys saya mngucapkan terimakasih atas artikel yg sangat bermanfaat ini, tapi ad yg mo saya tanyakan kpd pa ustd mengenai bgmna caranya mengatasi seorang istri yg selalu bertolak belakang pndapat dgn suaminya.
    ini mengenai pribadi saya yg menjalani rumah tangga yg hmpir 10th. namun pernikahaan itu harus berakhir dikarenakan pola fikir kita yg berbeda, saya sering bertengkar di karenakan saya sering menyuruh istri saya sholat. dan itu menurut saya wajar untuk mengingatkan dan sekalian memberi contoh pd anak2 kami. tapi apa yg terjadi saya memaksakan kehendak sya, malah pertengkaran yg terjadi. kalo saya biarkn takut dosa. dan banyak lagi hal yg serupa khususnya dlm masalah agama.
    dgn sangat, saya mohon ilmunya bgmana cara mendidik istri seperti itu trmksh wasalam…..

Leave a Reply