Sahabat Terbaik Seorang Muslim

Ibnul Qayyim rahimahullahu menukil dalam kitabnya Raudhatul Muhibbin, dari seorang yang bijak, bahwasanya beliau ditanya, “'Sahabat seperti apakah yang paling baik?'. Ia menjawab, 'Amal shalih.'

1852 0

Berbuat Baik Artikel Ttg Sahabat Muslimah Dalam Islam Tentang 3 Sahabat Muslimah

Bismillah. Washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du.

Saudariku yang dirahmati Allah, pernahkah engkau memiliki teman karib? Sahabat akrab, yang senantiasa berbagi suka dan duka denganmu dalam meniti kehidupan? Siapakah dia? Mungkin engkau akan menjawab, “Ya, ibu dan ayahku.” Atau mungkin, “Ya, dia adalah suamiku.” Atau mungkin juga engkau akan berkata, “Ya, dia adalah fulanah, fulanah dan fulanah”.

Namun, tahukah engkau siapa sesungguhnya sahabatmu yang terbaik? yang akan membawa kebaikan bagimu di dunia ini, bahkan setelah engkau wafat? Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al Badr hafizhahullahu menjelaskan, “Sesungguhnya sahabat dan teman terbaik bagi seseorang adalah amalan shalih yang dia lakukan. Tidak ada yang ikut masuk bersamanya ke dalam kuburnya kecuali sahabat yang satu ini.

Al Bazzar meriwayatkan dalam musnadnya dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَثَلُ ابْنِ آدَمَ وَمَالِهِ وَعَمَلِهِ مَثَلُ رَجُلٍ لَهُ ثَلَاثَةُ أَخِلَّاءَ, قَالَ لَهُ أَحَدُهُمْ: أَنَا مَعَكَ مَا دُمْتَ حَيًّا, فَإِذَا مُتَّ فَلَسْتَ مِنِّي وَلَا أَنَا مِنْكَ, فَذَلِكَ مَالُهُ, وَقَالَ الْآخَرُ: أَنَا مَعَكَ, فَإِذَا بَلَغْتَ إِلَى قَبْرِكَ فَلَسْتَ مِنِّي وَلَسْتُ لَكَ, فَذَلِكَ وَلَدُهُ، وَقَالَ الْآخَرُ: أَنَا مَعَكَ حَيًّا وَمَيِّتًا فَذَلِكَ عَمَلُهُ

Permisalan hubungan antara anak Adam dengan harta dan amalnya sebagaimana seseorang yang memiliki 3 orang kekasih. Salah satunya berkata kepadanya, ‘Aku bersama engkau selama engkau hidup. Maka jika engkau telah wafat, engkau bukan bagian dariku dan akupun bukan bagian darimu; itulah hartanya.’ Dan yang kedua berkata, ‘Aku bersama engkau. Maka jika engkau telah masuk ke dalam kuburmu, engkau bukan bagian dariku dan aku bukanlah milikmu lagi; dan itulah anaknya. Dan yang ketiga berkata, ‘Aku bersama engkau selama engkau hidup dan setelah matimu; itulah amalannya‘”[1]

Ibnul Qayyim rahimahullahu menukil dalam kitabnya Raudhatul Muhibbin, dari seorang yang bijak, bahwasanya beliau ditanya, “’Sahabat seperti apakah yang paling baik?’. Ia menjawab, ‘Amal shalih.’ Amalan shalih selalu berbuat baik kepada pemiliknya. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakan amal shalihnya, dia akan sangat menyesal.” [2]

Dan suatu amalan tidaklah disebut shalih, sampai ia memenuhi dua kriteria; ikhlas dilakukan karena Allah Ta’ala semata dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang agung,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya dalam keadaan hanif, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat; itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ اَمْرُنا فَهُوَ رَدٌ

Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR Muslim).[3]

Dua syarat amal soleh di atas, telah Allah sebutkan dalam firman-Nya,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa diantara kalian yang paling baik amalannya. Dan Ia Maha Agung lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Fudhail bin Iyadh rahimahullahu menerangkan ayat di atas dengan mengatakan, “Arti ‘yang paling baik amalannya’ adalah yang paling ikhlas dan paling sesuai tuntunan. Sesungguhnya jika amalan itu ikhlas namun tidak sesuai tuntunan, maka tidak akan diterima. Dan jika amalan itu benar namun tidak ikhlas, juga tidak akan diterima, sampai amalan tersebut ikhlas dan sesuai tuntunan. Adapun ikhlasnya, yaitu jika amal tersebut dikerjakan hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla semata dan benarnya, jika amal tersebut sesuai dengan sunnah.” [3]

Semoga Allah Ta’ala, Rabb yang Maha Mendengar dan Maha Mampu Mengabulkan do’a setiap hamba-Nya, menjadikan setiap amalan kita adalah amal yang shalih, sehingga jadilah ia sahabat terbaik kita selamanya.

Wabillaahittaufiiq.

Penyusun: Ummu Qonita Ika Kartika

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Maraji’:
[1] http://al-badr.net/muqolat/3382
[2] Matan Al Arba’in An Nawawy minal Ahaaditsi Shohiihah An Nabawiyyah.
[3] Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam fii Syarh Khamsiina Hadiitsan min Jawaami’il Kalim. Ibnu Rajab al Hanbali. Cet. Pertama. Daarul Aqidah: 1422 H.

Artikel muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

Shares