Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Bagaimana Cara Mengakhiri Nikah Mut’ah dengan Seorang Lelaki Syi’ah?

Athirah Mustajab oleh Athirah Mustajab
10 Januari 2014
di Fikih
0
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Fatwa Syaikh Shalih Al-Munajjid
    • Pertanyaan:
    • Jawaban:
  • ุงู„ุณุคุงู„:ย 194866
  • ุงู„ุฌูˆุงุจ

Fatwa Syaikh Shalih Al-Munajjid

Pertanyaan:

Aku telah memeluk agama Islam selama tiga tahun. Tak lama setelah itu, aku menikah mut’ah dengan seorang lelaki Syi’ah di Pengadilan Amerika. Hubungan kami tak harmonis, dan aku ingin berpisah darinya. Akan tetapi, dia bilang kepadaku berkali-berkali, โ€œAllah memurkai talak.โ€

Apakah pernikahan kami itu sah? Jika aku berpisah dengannya, apakah itu dianggap sebagai perceraian? Jika pernikahan itu memang tidak sah, apa yang harus aku lakukan?

Jawaban:

Alhamdulillah. Kita memuji Allah โ€“ Mahasuci Dia โ€“ yang telah memberi Anda hidayah untuk memeluk agama Islam. Itu adalah nikmat yang sangat besar yang diberikan Tuhan semesta alam bagi Anda. Aku mohon kepada Allah โ€“ Dzat yang Mahasuci โ€“ agar Dia menyempurnakan nikmat tersebut dengan mengaruniakan (hidayah bagi) Anda untuk selalu istiqamah. Dia Mahasuci lagi Mahamulia.

Ketahuilah wahai Ibu penanya, bahwa prinsip pernikahan dalam syariat Islam adalah membangun kelestarian dan kelanggengan (rumah tangga). Pernikahan yang sengaja diatur batas waktunya โ€“ yaitu nikah mut’ah โ€“ dulu memang diperbolehkan (mubah) pada masa awal dakwah Islam, kemudian status mubah tersebut telah dihapus sehingga statusnya menjadi haram sampai hari kiamat.

Diriwayatkan dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah dan (mengonsumsi) daging keledai jinak sejak masa perang Khaibar.โ€ โ€“ Dalam riwayat lain, โ€œBeliau melarang nikah mut’ah dengan para wanita pada masa Perang Khaibar dan melarang (makan) daging keledai jinak.โ€ (HR. Bukhari, no. 3979; Muslim, no.1407)

Donasi Muslimah.or.id

Diriwayatkan dari Rabi’ bin Sabrah Al-Juhani, ayahnya menceritakan bahwa dia pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam, lalu beliau bersabda, โ€œWahai sekalian manusia, sungguh aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mutโ€™ah dengan para wanita, dan sesungguhnya Allah (kini) telah mengharamkan hal tersebut hingga hari kiamat. Oleh karena itu, barang siapa yang memiliki istri mut’ah maka dia wajib melepaskannya dan tidak boleh mengambil mahar sedikit pun dari mereka.โ€

Allah Ta’ala telah menjadikan pernikahan sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya yang mengajak manusia untuk berpikir dan merenung. Allah Ta’ala juga telah menciptakan rasa cinta dan kasih sayang di antara dua insan yang terikat pernikahan. Allah jadikan istri sebagai ketenangan bagi suaminya. Allah memotivasi untuk terwujudnya keturunan, dan Allah tetapkan bagi wanita untuk menjalani masa ‘iddah dan berhak mendapatkan warisan. Dan semua itu, tidak ada dalam nikah mutโ€™ah yang haram ini.

Termaktub dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah, 41:335, โ€œKarena pernikahan tidaklah disyariatkan untuk sebatas memuaskan syahwat, namun disyariatkan untuk tujuan dan maksud tertentu, sementara melampiaskan syahwat dengan cara nikah mut’ah bukan sarana untuk mendapatkan tujuan tersebut. Oleh sebab itu, nikah mutโ€™ah tidak disyariatkan.โ€

Dari penjabaran ini bisa kita ketahui bahwa pernikahan yang telah berlangsung antara Anda dengan lelaki tersebut adalah pernikahan yang batal, dan tidak sah. Pernikahan tersebut wajib dipisahkan (fasakh) baik sebelum terjadi hubungan badan maupun setelahnya. Hanya saja para ahli fikih berbeda pendapat mengenai cara memisahkannya (fasakh-nya), apakah dengan cara talak atau tanpa talak. Al-Kharsyi Al-Maliki menjelaskan dalam Syarah Mukhtashar Khalil, 3:196, โ€œNikah mut’ah dipisahkan setelah terjadi hubungan badan, sebagaimana pernikahan tersebut juga harus dipisahkan sebelumnya (sebelum terjadi hubungan). Pasangan lelaki dan perempuan tersebut dikenai hukuman, namun bukan hukuman had. Anak yang lahir dari โ€œpernikahanโ€ tersebut dinasabkan kepada ayah biologisnya. Cara fasakh-nya adalah tanpa melalui talak, dan ada pula yang berpendapat bahwa fasakh-nya adalah dengannya.โ€

Makna โ€œada pula yang berpendapat bahwa fasakh-nya adalah dengannyaโ€ maksudnya: ada pula yang berpendapat bahwa fasakh-nya adalah dengan cara talak.

Adapun pembahasan tentang mahar, para ulama telah sepakat bahwa si wanita tidak berhak mendapatkan mahar apa pun jika perpisahan terjadi sebelum adanya hubungan badan. Sedangkan jika hubungan badan telah terjadi, para ulama tersebut berbeda pendapat: Apakah si wanita berhak mendapat mahar musamma (mahar yang disepakati suami-istri sebelum atau pada saat akad, pen.), mahar mitsil (mahar standar masyarakat, ed.), atau lebih sedikit dibandingkan mahar mitsil maupun mahar musamma.

Tertulis dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kulliyyah, 41:341,

  • Para ulama fikih sepakat bahwa lelaki yang menikah mut’ah dengan seorang wanita tidak wajib memberikan mahar, hadiah penghibur (secara bahasa, mut’ah berarti โ€œhadiah penghiburโ€, pen.), maupun nafkah, selama si lelaki belum berhubungan badan dengan si wanita.
  • Jika sudah berhubungan badan, si wanita berhak memperoleh mahar mitsil, meskipun ketika akad disebutkan mahar musamma. Ini menurut ulama Mazhab Syafi’i, dan sebuah keterangan dari Imam Ahmad, serta salah satu pendapat dalam Mazhab Maliki. Karena disebutkannya batas waktu pernikahan menyebabkan mahar menjadi berkurang.
  • Ulama Mazhab Hanafi berpendapat lain, bahwa jika telah terjadi hubungan badan โ€“ jika maharnya disebutkan sebelum atau pada saat akad nikah โ€“ maka si wanita berhak mendapat jumlah mahar yang lebih sedikit dari mahar musamma maupun mahar mitsil. Adapun jika maharnya tidak disebutkan sebelum atau pada saat akad nikah maka si wanita berhak memperoleh mahar mitsil. Dia memperoleh sesuatu yang menjadi haknya.
  • Ulama Mazhab Maliki dan madzhab Hanbali berpendapat bahwa si wanita berhak mendapat mahar musamma jika dia telah disetubuhi.

Terkait pembahasan ‘iddah, si wanita wajib menjalani masa ‘iddah setelah berpisah dari suami mut’ah-nya. Salah satu hikmah adanya masa ‘iddah adalah membersihkan rahim. Adanya kewajiban masa iddah — untuk membersihkan rahim — berlaku untuk pernikahan yang sah maupun yang batal.

Ibnu ‘Abdil Bar berkomentar tentang hadits nikah mut’ah, โ€œTidak ada hukuman had (setelah fasakh), anak dinasabkan ke ayahnya, dan si wanita wajib menjalani masa ‘iddah sampai selesai.โ€ (Al-Kafiyah di Fiqhi Ahlil Madinah, 2:533)

Kesimpulannya, Anda tidak boleh terus melanjutkan pernikahan yang batal ini. Bahkan Anda wajib menghentikannya. Kemudian Anda juga wajib menjalani masa ‘iddah (setelah perceraian) sebagaimana yang berlaku pada pernikahan yang sah. Jika masa ‘iddah Anda telah selesai, Anda boleh menikah lagi dengan lelaki lain yang Anda cintai untuk menjadi suami.

Silakan baca hukum menikahi wanita Syi’ah pada fatwa no. 4569 dan fatwa no. 91885.

Wallahu a’lam.

Fatawa Sual wa Jawab
Diasuh oleh Syaikh Shalih Al-Munajjid

Sumber: http://islamqa.info/ar/194866

—

Penerjemah: Tim Penerjemah Muslimah.Or.Id
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel Muslimah.Or.Id

—

ุงู„ุณุคุงู„:ย 194866

ุฃุณู„ู…ุช ู‚ุจู„ ุซู„ุงุซ ุณู†ูˆุงุช ุŒ ูˆุจุนุฏู‡ุง ุจู‚ู„ูŠู„ ุชุฒูˆุฌุช ุดูŠุนูŠุง ุฒูˆุงุฌ ู…ุชุนุฉ ููŠ ู…ุญูƒู…ุฉ ุฃู…ุฑูŠูƒูŠุฉ ุŒ ู„ู… ูŠุญุตู„ ุงู„ุงู†ุณุฌุงู… ุจูŠู†ู†ุง ููŠ ุงู„ุณู†ูˆุงุช ุงู„ู…ุงุถูŠุฉ ุŒ ูˆุฃูˆุฏ ู…ูุงุฑู‚ุชู‡ ุŒ ูˆู„ูƒู†ู‡ ูŠู‚ูˆู„ ู…ุฑุงุฑุง : ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ูŠุจุบุถ ุงู„ุทู„ุงู‚

ูู‡ู„ ุฒูˆุงุฌู†ุง ุตุญูŠุญ ุŸ ูˆุฅุฐุง ูุงุฑู‚ุชู‡ ู‡ู„ ุฃุนุชุฏ ุŸ ูุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ุฒูˆุงุฌ ุบูŠุฑ ุตุญูŠุญ ุฃุตู„ุง ูู…ุงุฐุง ุฃูุนู„ ุŸ

ุงู„ุฌูˆุงุจ


ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูˆุจุนุฏ

ู†ุญู…ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ุฃู† ู‡ุฏุงูƒ ู„ู„ุฅุณู„ุงู… ุŒ ูˆุชู„ูƒ ู†ุนู…ุฉ ุนุธูŠู…ุฉ ู…ู†ูŽู‘ ุจู‡ุง ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู† ุนู„ูŠูƒ ุŒ ู†ุณุฃู„ ุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ุฃู† ูŠุชู… ุนู„ูŠูƒ ุงู„ู†ุนู…ุฉ ุจุงู„ุงุณุชู‚ุงู…ุฉ ุนู„ู‰ ุฃู…ุฑู‡ ุฅู†ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูƒุฑูŠู…
ูˆุงุนู„ู…ูŠ ุฃูŠุชู‡ุง ุงู„ุณุงุฆู„ุฉ ุฃู† ุงู„ุฃุตู„ ููŠ ุงู„ุฒูˆุงุฌ ููŠ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ู‡ูˆ ุงู„ุงุณุชู…ุฑุงุฑ ูˆุงู„ุฏูˆุงู… ุŒ ูˆุงู„ุฒูˆุงุฌ ุงู„ู…ุคู‚ุช โ€“ ูˆู‡ูˆ ุฒูˆุงุฌ ุงู„ู…ุชุนุฉ โ€“ ูƒุงู† ู…ุจุงุญุงู‹ ููŠ ุฃูˆู„ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุซู… ู†ูุณุฎุช ุงู„ุฅุจุงุญุฉ ุŒ ูˆุตุงุฑ ู…ุญุฑูŽู‘ู…ุงู‹ ุฅู„ู‰ ูŠูˆู… ุงู„ุฏูŠู† , ูุนู† ุนู„ูŠ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ : ” ุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู†ู‡ู‰ ุนู† ู†ูƒุงุญ ุงู„ู…ุชุนุฉ ูˆุนู† ู„ุญูˆู… ุงู„ุญู…ุฑ ุงู„ุฃู‡ู„ูŠุฉ ุฒู…ู† ุฎูŠุจุฑ” ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ : ” ู†ู‡ู‰ ุนู† ู…ุชุนุฉ ุงู„ู†ุณุงุก ูŠูˆู… ุฎูŠุจุฑ ูˆุนู† ู„ุญูˆู… ุงู„ุญู…ุฑ ุงู„ุฅู†ุณูŠุฉ ” ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ( 3979 ) , ูˆู…ุณู„ู… ( 1407 ) ุŒ ูˆุนู† ุงู„ุฑุจูŠุน ุจู† ุณุจุฑุฉ ุงู„ุฌู‡ู†ูŠ ุฃู† ุฃุจุงู‡ ุญุฏุซู‡ ุฃู†ู‡ ูƒุงู† ู…ุน ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูู‚ุงู„ : ” ูŠุง ุฃูŠู‡ุง ุงู„ู†ุงุณ ุฅู†ูŠ ู‚ุฏ ูƒู†ุช ุฃุฐู†ุช ู„ูƒู… ููŠ ุงู„ุงุณุชู…ุชุงุน ู…ู† ุงู„ู†ุณุงุก ูˆุฅู† ุงู„ู„ู‡ ู‚ุฏ ุญุฑู… ุฐู„ูƒ ุฅู„ู‰ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ูู…ู† ูƒุงู† ุนู†ุฏู‡ ู…ู†ู‡ู† ุดูŠุก ูู„ูŠุฎู„ ุณุจูŠู„ู‡ ูˆู„ุง ุชุฃุฎุฐูˆุง ู…ู…ุง ุขุชูŠุชู…ูˆู‡ู† ุดูŠุฆุงู‹ ” ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู… ( 1406 )
ูˆู‚ุฏ ุฌุนู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุงู„ุฒูˆุงุฌ ู…ู† ุขูŠุงุชู‡ ุงู„ุชูŠ ุชุฏุนูˆ ุฅู„ู‰ ุงู„ุชููƒุฑ ูˆุงู„ุชุฃู…ู„ ุŒ ูˆุฌุนู„ ุชุนุงู„ู‰ ุจูŠู† ุงู„ุฒูˆุฌูŠู† ุงู„ู…ูˆุฏุฉ ูˆุงู„ุฑุญู…ุฉ ุŒ ูˆุฌุนู„ ุงู„ุฒูˆุฌุฉ ุณูƒู†ุงู‹ ู„ู„ุฒูˆุฌ ุŒ ูˆุฑุบูŽู‘ุจ ููŠ ุฅู†ุฌุงุจ ุงู„ุฐุฑูŠุฉ ุŒ ูˆุฌุนู„ ู„ู„ู…ุฑุฃุฉ ุนุฏุฉ ูˆู…ูŠุฑุงุซุงู‹ ุŒ ูˆูƒู„ ุฐู„ูƒ ู…ู†ุชูู ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ู†ูƒุงุญ ุงู„ู…ุญุฑูŽู‘ู… , ุฌุงุก ููŠ ุงู„ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ ุงู„ูƒูˆูŠุชูŠุฉ (41 / 335): “ูˆู„ุฃู† ุงู„ู†ูƒุงุญ ู…ุง ุดุฑุน ู„ุงู‚ุชุถุงุก ุงู„ุดู‡ูˆุฉ ุŒ ุจู„ ุดุฑุน ู„ุฃุบุฑุงุถ ูˆู…ู‚ุงุตุฏ ูŠุชูˆุณู„ ุจู‡ ุฅู„ูŠู‡ุงุŒ ูˆุงู‚ุชุถุงุก ุงู„ุดู‡ูˆุฉ ุจุงู„ู…ุชุนุฉ : ู„ุง ูŠู‚ุน ูˆุณูŠู„ุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ู‚ุงุตุฏ ุŒ ูู„ุง ูŠุดุฑุน” ุงู†ุชู‡ู‰.
ู…ู† ู‡ู†ุง ู†ุนู„ู… ุฃู† ู…ุง ุชู… ุจูŠู†ูƒ ูˆุจูŠู† ู‡ุฐุง ุงู„ุดุฎุต ู…ู† ุฒูˆุงุฌ ูƒุงู† ุฒูˆุงุฌุง ุจุงุทู„ุง ู„ุง ุตุญูŠุญุง , ูŠุฌุจ ูุณุฎู‡ ู‚ุจู„ ุงู„ุจู†ุงุก ูˆุจุนุฏู‡ ุŒ ูˆุฅู† ูƒุงู† ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู‚ุฏ ุงุฎุชู„ููˆุง ููŠ ุงู„ูุณุฎ ู‡ู„ ูŠูƒูˆู† ุจุทู„ุงู‚ ุฃูˆ ุจุบูŠุฑ ุทู„ุงู‚ , ู‚ุงู„ ุงู„ุฎุฑุดูŠ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠ ููŠ ” ุดุฑุญ ู…ุฎุชุตุฑ ุฎู„ูŠู„ ” (3 / 196) ” ู†ูƒุงุญ ุงู„ู…ุชุนุฉ ูŠูุณุฎ ุจุนุฏ ุงู„ุจู†ุงุก ุŒ ูƒู…ุง ูŠูุณุฎ ู‚ุจู„ู‡ ุŒ ูˆูŠุนุงู‚ุจ ููŠู‡ ุงู„ุฒูˆุฌุงู† ุŒ ูˆู„ุง ูŠุจู„ุบ ุจู‡ู…ุง ู…ุจู„ุบ ุงู„ุญุฏ ุŒ ูˆุงู„ูˆู„ุฏ ู„ุงุญู‚ ุŒ ูˆูุณุฎู‡ ุจุบูŠุฑ ุทู„ุงู‚ , ูˆู‚ูŠู„ : ุจู‡ ” ุงู†ุชู‡ู‰
ูˆู…ุนู†ู‰ : ูˆู‚ูŠู„ : ุจู‡ ุ› ุฃูŠ : ูˆู‚ูŠู„ ุฅู† ูุณุฎู‡ ูŠูƒูˆู† ุจุทู„ุงู‚
ุฃู…ุง ุจุงู„ู†ุณุจุฉ ู„ู„ู…ู‡ุฑ ูู‚ุฏ ุงุชูู‚ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ุดูŠุก ู„ู„ู…ุฑุฃุฉ ุฅุฐุง ูˆู‚ุนุช ุงู„ูุฑู‚ุฉ ู‚ุจู„ ุงู„ุฏุฎูˆู„
ุฃู…ุง ุฅุฐุง ูˆู‚ุนุช ุจุนุฏ ุงู„ุฏุฎูˆู„ ูู‚ุฏ ุงุฎุชู„ููˆุง : ู‡ู„ ุชุณุชุญู‚ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุงู„ู…ุณู…ู‰ , ุฃูˆ ู…ู‡ุฑ ุงู„ู…ุซู„ , ุฃูˆ ุงู„ุฃู‚ู„ ู…ู† ู…ู‡ุฑ ุงู„ู…ุซู„ ูˆุงู„ู…ุณู…ู‰
ุฌุงุก ููŠ ุงู„ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ ุงู„ูƒูˆูŠุชูŠุฉ (41 / 341) ” ุงุชูู‚ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ุดูŠุก ุนู„ู‰ ุงู„ุฑุฌู„ ููŠ ู†ูƒุงุญ ุงู„ู…ุชุนุฉ ู…ู† ุงู„ู…ู‡ุฑ ูˆุงู„ู…ุชุนุฉ ูˆุงู„ู†ูู‚ุฉ ู…ุง ู„ู… ูŠุฏุฎู„ ุจุงู„ู…ุฑุฃุฉ
ูุฅู† ุฏุฎู„ ุจู‡ุง : ูู„ู‡ุง ู…ู‡ุฑ ุงู„ู…ุซู„ ุŒ ูˆุฅู† ูƒุงู† ููŠู‡ ู…ุณู…ู‰ ุŒ ุนู†ุฏ ุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ูˆุฑูˆุงูŠุฉ ุนู† ุฃุญู…ุฏ ูˆู‚ูˆู„ ุนู†ุฏ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ุ› ู„ุฃู† ุฐูƒุฑ ุงู„ุฃุฌู„ ุฃุซูŽู‘ุฑ ุฎู„ู„ุง ููŠ ุงู„ุตุฏุงู‚
ูˆุฐู‡ุจ ุงู„ุญู†ููŠุฉ ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ุฅู† ุฏุฎู„ ุจู‡ุง : ูู„ู‡ุง ุงู„ุฃู‚ู„ ู…ู…ุง ุณู…ู‰ ู„ู‡ุง ุŒ ูˆู…ู† ู…ู‡ุฑ ู…ุซู„ู‡ุง ุŒ ุฅู† ูƒุงู† ุซู…ุฉ ู…ุณู…ู‰ ุŒ ูุฅู† ู„ู… ูŠูƒู† ุซู…ุฉ ู…ุณู…ู‰ ูู„ู‡ุง ู…ู‡ุฑ ุงู„ู…ุซู„ ุŒ ุจุงู„ุบุง ู…ุง ุจู„ุบ
ูˆุฐู‡ุจ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ูˆุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ ููŠ ุงู„ู…ุฐู‡ุจ ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ูŠุฌุจ ู„ู‡ุง ุจุงู„ุฏุฎูˆู„ : ุงู„ู…ุณู…ู‰ ..” ุงู†ุชู‡ู‰
ุฃู…ุง ุจุงู„ู†ุณุจุฉ ู„ู„ุนุฏุฉ ูุฅู†ู‡ุง ุชุฌุจ ุจุนุฏ ุงู„ูุฑู‚ุฉ ู…ู† ู‡ุฐุง ุงู„ู†ูƒุงุญ ุŒ ู„ุฃู† ู…ู† ุญูƒู…ุฉ ุงู„ุนุฏุฉ ุงุณุชุจุฑุงุก ุงู„ุฑุญู… ูˆู‡ุฐุง ู…ุนู†ู‰ ู„ุง ูŠุฎุชู„ู ุจุตุญุฉ ุงู„ู†ูƒุงุญ ุฃูˆ ุจูุณุงุฏู‡ , ู‚ุงู„ ุงุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุจุฑ ุนู†ุฏ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุนู† ู†ูƒุงุญ ุงู„ู…ุชุนุฉ “ูˆูŠุณู‚ุท ููŠู‡ ุงู„ุญุฏ , ูˆูŠู„ุญู‚ ุงู„ูˆู„ุฏ , ูˆุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ุนุฏุฉ ูƒุงู…ู„ุฉ ” ุงู†ุชู‡ู‰ ู…ู† ” ุงู„ูƒุงููŠ ููŠ ูู‚ู‡ ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ุฏูŠู†ุฉ ” (2 / 533)
ูˆุงู„ุญุงุตู„
ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู„ูƒ ุงู„ุจู‚ุงุก ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ู†ูƒุงุญ ุงู„ุจุงุทู„ ุŒ ุจู„ ูŠุฌุจ ุนู„ูŠูƒ ู…ูุงุฑู‚ุชู‡ ุŒ ุซู… ุชุนุชุฏูŠู† ู…ู†ู‡ ุŒ ูƒู…ุง ู„ูˆ ูƒุงู† ู†ูƒุงุญุง ุตุญูŠุญุง ุ› ูุฅุฐุง ุงู†ุชู‡ุช ุนุฏุชูƒ ุŒ ุญู„ ู„ูƒ ุฃู† ุชุชุฒูˆุฌูŠ ุจุนุฏู‡ุง ุฒูˆุงุฌุง ุดุฑุนูŠุง ู…ู…ู† ุชุฑุถูŠู†ู‡ ุฒูˆุฌุง
ูˆูŠุฑุงุฌุน ุญูƒู… ุงู„ุฒูˆุงุฌ ู…ู† ุงู„ุดูŠุนุฉ ููŠ ุงู„ูุชุงูˆู‰ ุฑู‚ู…: (4569) , (91885)
ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…

ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Athirah Mustajab

Athirah Mustajab

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, editor Pustaka Muslim, penulis di WanitaShalihah.com

Artikel Terkait

Apakah Wajib Mandi Setelah Melahirkan

Apakah Wajib Mandi Setelah Melahirkan?

oleh Triani Pradinaputri
13 Mei 2024
0

Di dalam kitab-kitab ulama Syafiโ€™iyyah, disebutkan ada enam hal yang mewajibkan seseorang untuk mandi, yaitu: Masuknya kepala kemaluan laki-laki ke...

Hukum Wanita Haid Memasuki Masjid Untuk Menghadiri Majelis Ilmu Atau Halaqah Tahfidzul Quran

oleh Ammi Nur Baits, ST., BA.
9 November 2013
16

Pertanyaan: Seorang wanita yang sedang haid ingin memasuki masjid untuk menghadiri majelis ilmu atau halaqah tahfidz Al Qurโ€™an dengan alasan...

Wanita Muslimah Menampakkan Auratnya di Depan Wanita Nonmuslim

Bolehkah Wanita Muslimah Menampakkan Auratnya di Depan Wanita Nonmuslim?

oleh Atma Beauty Muslimawati
16 November 2024
0

Sebagaimana syariat yang mulia ini melarang wanita menampakkan zinah atau kecantikan fisiknya di depan laki-laki ajnabi (lelaki yang bukan suami...

Artikel Selanjutnya

Nasihat kepada Saudari Muslimah: Perbaikilah Hubunganmu dengan Allah (Bag. 3)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

ยฉ 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

ยฉ 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.