Pertanyaan:
Aku telah memeluk agama Islam selama tiga tahun. Tak lama setelah itu, aku menikah mut’ah dengan seorang lelaki Syi’ah di Pengadilan Amerika. Hubungan kami tak harmonis, dan aku ingin berpisah darinya. Akan tetapi, dia bilang kepadaku berkali-berkali, “Allah memurkai talak.”
Apakah pernikahan kami itu sah? Jika aku berpisah dengannya, apakah itu dianggap sebagai perceraian? Jika pernikahan itu memang tidak sah, apa yang harus aku lakukan?
Jawaban:
Alhamdulillah. Kita memuji Allah – Mahasuci Dia – yang telah memberi Anda hidayah untuk memeluk agama Islam. Itu adalah nikmat yang sangat besar yang diberikan Tuhan semesta alam bagi Anda. Aku mohon kepada Allah – Dzat yang Mahasuci – agar Dia menyempurnakan nikmat tersebut dengan mengaruniakan (hidayah bagi) Anda untuk selalu istiqamah. Dia Mahasuci lagi Mahamulia.
Ketahuilah wahai Ibu penanya, bahwa prinsip pernikahan dalam syariat Islam adalah membangun kelestarian dan kelanggengan (rumah tangga). Pernikahan yang sengaja diatur batas waktunya – yaitu nikah mut’ah – dulu memang diperbolehkan (mubah) pada masa awal dakwah Islam, kemudian status mubah tersebut telah dihapus sehingga statusnya menjadi haram sampai hari kiamat.
Diriwayatkan dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah dan (mengonsumsi) daging keledai jinak sejak masa perang Khaibar.” – Dalam riwayat lain, “Beliau melarang nikah mut’ah dengan para wanita pada masa Perang Khaibar dan melarang (makan) daging keledai jinak.” (HR. Bukhari, no. 3979; Muslim, no.1407)
Diriwayatkan dari Rabi’ bin Sabrah Al-Juhani, ayahnya menceritakan bahwa dia pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam, lalu beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, sungguh aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah dengan para wanita, dan sesungguhnya Allah (kini) telah mengharamkan hal tersebut hingga hari kiamat. Oleh karena itu, barang siapa yang memiliki istri mut’ah maka dia wajib melepaskannya dan tidak boleh mengambil mahar sedikit pun dari mereka.”
Allah Ta’ala telah menjadikan pernikahan sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya yang mengajak manusia untuk berpikir dan merenung. Allah Ta’ala juga telah menciptakan rasa cinta dan kasih sayang di antara dua insan yang terikat pernikahan. Allah jadikan istri sebagai ketenangan bagi suaminya. Allah memotivasi untuk terwujudnya keturunan, dan Allah tetapkan bagi wanita untuk menjalani masa ‘iddah dan berhak mendapatkan warisan. Dan semua itu, tidak ada dalam nikah mut’ah yang haram ini.
Termaktub dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah, 41:335, “Karena pernikahan tidaklah disyariatkan untuk sebatas memuaskan syahwat, namun disyariatkan untuk tujuan dan maksud tertentu, sementara melampiaskan syahwat dengan cara nikah mut’ah bukan sarana untuk mendapatkan tujuan tersebut. Oleh sebab itu, nikah mut’ah tidak disyariatkan.”
Dari penjabaran ini bisa kita ketahui bahwa pernikahan yang telah berlangsung antara Anda dengan lelaki tersebut adalah pernikahan yang batal, dan tidak sah. Pernikahan tersebut wajib dipisahkan (fasakh) baik sebelum terjadi hubungan badan maupun setelahnya. Hanya saja para ahli fikih berbeda pendapat mengenai cara memisahkannya (fasakh-nya), apakah dengan cara talak atau tanpa talak. Al-Kharsyi Al-Maliki menjelaskan dalam Syarah Mukhtashar Khalil, 3:196, “Nikah mut’ah dipisahkan setelah terjadi hubungan badan, sebagaimana pernikahan tersebut juga harus dipisahkan sebelumnya (sebelum terjadi hubungan). Pasangan lelaki dan perempuan tersebut dikenai hukuman, namun bukan hukuman had. Anak yang lahir dari “pernikahan” tersebut dinasabkan kepada ayah biologisnya. Cara fasakh-nya adalah tanpa melalui talak, dan ada pula yang berpendapat bahwa fasakh-nya adalah dengannya.”
Makna “ada pula yang berpendapat bahwa fasakh-nya adalah dengannya” maksudnya: ada pula yang berpendapat bahwa fasakh-nya adalah dengan cara talak.
Adapun pembahasan tentang mahar, para ulama telah sepakat bahwa si wanita tidak berhak mendapatkan mahar apa pun jika perpisahan terjadi sebelum adanya hubungan badan. Sedangkan jika hubungan badan telah terjadi, para ulama tersebut berbeda pendapat: Apakah si wanita berhak mendapat mahar musamma (mahar yang disepakati suami-istri sebelum atau pada saat akad, pen.), mahar mitsil (mahar standar masyarakat, ed.), atau lebih sedikit dibandingkan mahar mitsil maupun mahar musamma.
Tertulis dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kulliyyah, 41:341,
- Para ulama fikih sepakat bahwa lelaki yang menikah mut’ah dengan seorang wanita tidak wajib memberikan mahar, hadiah penghibur (secara bahasa, mut’ah berarti “hadiah penghibur”, pen.), maupun nafkah, selama si lelaki belum berhubungan badan dengan si wanita.
- Jika sudah berhubungan badan, si wanita berhak memperoleh mahar mitsil, meskipun ketika akad disebutkan mahar musamma. Ini menurut ulama Mazhab Syafi’i, dan sebuah keterangan dari Imam Ahmad, serta salah satu pendapat dalam Mazhab Maliki. Karena disebutkannya batas waktu pernikahan menyebabkan mahar menjadi berkurang.
- Ulama Mazhab Hanafi berpendapat lain, bahwa jika telah terjadi hubungan badan – jika maharnya disebutkan sebelum atau pada saat akad nikah – maka si wanita berhak mendapat jumlah mahar yang lebih sedikit dari mahar musamma maupun mahar mitsil. Adapun jika maharnya tidak disebutkan sebelum atau pada saat akad nikah maka si wanita berhak memperoleh mahar mitsil. Dia memperoleh sesuatu yang menjadi haknya.
- Ulama Mazhab Maliki dan madzhab Hanbali berpendapat bahwa si wanita berhak mendapat mahar musamma jika dia telah disetubuhi.
Terkait pembahasan ‘iddah, si wanita wajib menjalani masa ‘iddah setelah berpisah dari suami mut’ah-nya. Salah satu hikmah adanya masa ‘iddah adalah membersihkan rahim. Adanya kewajiban masa iddah — untuk membersihkan rahim — berlaku untuk pernikahan yang sah maupun yang batal.
Ibnu ‘Abdil Bar berkomentar tentang hadits nikah mut’ah, “Tidak ada hukuman had (setelah fasakh), anak dinasabkan ke ayahnya, dan si wanita wajib menjalani masa ‘iddah sampai selesai.” (Al-Kafiyah di Fiqhi Ahlil Madinah, 2:533)
Kesimpulannya, Anda tidak boleh terus melanjutkan pernikahan yang batal ini. Bahkan Anda wajib menghentikannya. Kemudian Anda juga wajib menjalani masa ‘iddah (setelah perceraian) sebagaimana yang berlaku pada pernikahan yang sah. Jika masa ‘iddah Anda telah selesai, Anda boleh menikah lagi dengan lelaki lain yang Anda cintai untuk menjadi suami.
Silakan baca hukum menikahi wanita Syi’ah pada fatwa no. 4569 dan fatwa no. 91885.
Wallahu a’lam.
Fatawa Sual wa Jawab
Diasuh oleh Syaikh Shalih Al-Munajjid
Sumber: http://islamqa.info/ar/194866
—
Penerjemah: Tim Penerjemah Muslimah.Or.Id
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits
Artikel Muslimah.Or.Id
—
تزوجت من شيعي زواج متعة وتريد مفارقته
السؤال :
أسلمت قبل ثلاث سنوات ، وبعدها بقليل تزوجت شيعيا زواج متعة في محكمة أمريكية ، لم يحصل الانسجام بيننا في السنوات الماضية ، وأود مفارقته ، ولكنه يقول مرارا : إن الله يبغض الطلاق .
فهل زواجنا صحيح ؟ وإذا فارقته هل أعتد ؟ فإذا كان الزواج غير صحيح أصلا فماذا أفعل ؟
الجواب :
الحمد لله
نحمد الله سبحانه أن هداك للإسلام ، وتلك نعمة عظيمة منَّ بها رب العالمين عليك ، نسأل الله سبحانه أن يتم عليك النعمة بالاستقامة على أمره إنه سبحانه كريم .
واعلمي أيتها السائلة أن الأصل في الزواج في الشريعة الإسلامية هو الاستمرار والدوام ، والزواج المؤقت – وهو زواج المتعة – كان مباحاً في أول الإسلام ثم نُسخت الإباحة ، وصار محرَّماً إلى يوم الدين , فعن علي رضي الله عنه : ” أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن نكاح المتعة وعن لحوم الحمر الأهلية زمن خيبر” وفي رواية : ” نهى عن متعة النساء يوم خيبر وعن لحوم الحمر الإنسية ” رواه البخاري ( 3979 ) , ومسلم ( 1407 )
وعن الربيع بن سبرة الجهني أن أباه حدثه أنه كان مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : ” يا أيها الناس إني قد كنت أذنت لكم في الاستمتاع من النساء وإن الله قد حرم ذلك إلى يوم القيامة فمن كان عنده منهن شيء فليخل سبيله ولا تأخذوا مما آتيتموهن شيئاً ” رواه مسلم ( 1406 ) .
وقد جعل الله تعالى الزواج من آياته التي تدعو إلى التفكر والتأمل ، وجعل تعالى بين الزوجين المودة والرحمة ، وجعل الزوجة سكناً للزوج ، ورغَّب في إنجاب الذرية ، وجعل للمرأة عدة وميراثاً ، وكل ذلك منتفٍ في هذا النكاح المحرَّم , جاء في الموسوعة الفقهية الكويتية (41 / 335): “ولأن النكاح ما شرع لاقتضاء الشهوة ، بل شرع لأغراض ومقاصد يتوسل به إليها، واقتضاء الشهوة بالمتعة : لا يقع وسيلة إلى المقاصد ، فلا يشرع” انتهى.
من هنا نعلم أن ما تم بينك وبين هذا الشخص من زواج كان زواجا باطلا لا صحيحا , يجب فسخه قبل البناء وبعده ، وإن كان الفقهاء قد اختلفوا في الفسخ هل يكون بطلاق أو بغير طلاق , قال الخرشي المالكي في ” شرح مختصر خليل ” (3 / 196) ” نكاح المتعة يفسخ بعد البناء ، كما يفسخ قبله ، ويعاقب فيه الزوجان ، ولا يبلغ بهما مبلغ الحد ، والولد لاحق ، وفسخه بغير طلاق , وقيل : به ” انتهى.
ومعنى : وقيل : به ؛ أي : وقيل إن فسخه يكون بطلاق .
أما بالنسبة للمهر فقد اتفق أهل العلم على أنه لا شيء للمرأة إذا وقعت الفرقة قبل الدخول .
أما إذا وقعت بعد الدخول فقد اختلفوا : هل تستحق المرأة المسمى , أو مهر المثل , أو الأقل من مهر المثل والمسمى .
جاء في الموسوعة الفقهية الكويتية (41 / 341) ” اتفق الفقهاء على أنه لا شيء على الرجل في نكاح المتعة من المهر والمتعة والنفقة ما لم يدخل بالمرأة .
فإن دخل بها : فلها مهر المثل ، وإن كان فيه مسمى ، عند الشافعية ورواية عن أحمد وقول عند المالكية ؛ لأن ذكر الأجل أثَّر خللا في الصداق . وذهب الحنفية إلى أنه إن دخل بها : فلها الأقل مما سمى لها ، ومن مهر مثلها ، إن كان ثمة مسمى ، فإن لم يكن ثمة مسمى فلها مهر المثل ، بالغا ما بلغ .
وذهب المالكية والحنابلة في المذهب إلى أنه يجب لها بالدخول : المسمى ..” انتهى.
أما بالنسبة للعدة فإنها تجب بعد الفرقة من هذا النكاح ، لأن من حكمة العدة استبراء الرحم وهذا معنى لا يختلف بصحة النكاح أو بفساده , قال ابن عبد البر عند الحديث عن نكاح المتعة “ويسقط فيه الحد , ويلحق الولد , وعليها العدة كاملة ” انتهى من ” الكافي في فقه أهل المدينة ” (2 / 533) .
والحاصل :
أنه لا يجوز لك البقاء في هذا النكاح الباطل ، بل يجب عليك مفارقته ، ثم تعتدين منه ، كما لو كان نكاحا صحيحا ؛ فإذا انتهت عدتك ، حل لك أن تتزوجي بعدها زواجا شرعيا ممن ترضينه زوجا .
ويراجع حكم الزواج من الشيعة في الفتاوى رقم: (4569) , (91885) .
والله أعلم .
موقع الإسلام سؤال وجواب