fbpx
Donasi Web Donasi Web

Makna Syahadat “Muhammad Adalah Rasulullah”

Makna Syahadat “Muhammad Adalah Rasulullah”

Pertanyaan:

“Apakah makna dari syahadat ‘Muhammad adalah Utusan Allah’? Dan bagaimana penjelasannya?”

Jawaban:

Al-Imam, Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan:

Makna dari syahadat “Muhammad adalah utusan Allah” adalah:

Menaati apa yang diperintahkannya.

Membenarkan berita yang dikabarkannya.

Menjauhi apa yang beliau larang.

Tidak menyembah Allah kecuali dengan syari’at yang dibawanya.

Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim rahimahullaah berkata:

“Telah jelas wajibnya menaati beliau dengan menjalankan apa yang ada di dalam Kitabullah dan sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaitkan antara ketaatan terhadap-Nya, dengan ketaatan terhadap beliau, di banyak tempat di dalam kitab-Nya. Barangsiapa yang bermaksiat terhadap beliau maka sungguh ia telah bermaksiat terhadap Allah. Barangsiapa yang bermaksiat terhadap Allah, maka balasan baginya adalah neraka jahannam.”

Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam adalah seorang yang benar perkataannya lagi dibenarkan, orang yang Allah Ta’ala serahi kepercayaan atas wahyu-Nya. Maka segala sesuatu yang beliau beritakan, adalah kebenaran dan kejujuran. Tidak ada kebohongan maupun penyelisihan janji.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan apa saja yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukumannya.” (Qs.Al Hasyr: 7)

Demikian pula Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Apa saja yang aku perintahkan kepada kalian maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian. Dan apa saja yang aku larang, maka jauhilah.” [1]

Adapun peribadahan kepada Allah Ta’ala, haruslah dilakukan sesuai dengan syari’at yang dibawa oleh beliau shallallaahu’alaihi wa sallam, bukan dengan hawa nafsu maupun kebid’ahan. Karena sesungguhnya hukum asal dari ibadah adalah dikerjakan berdasarkan syari’at. Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Seluruh bid’ah adalah kesesatan.” [2]

Inilah makna syahadat “Muhammad adalah utusan Allah” dari segi konsekuensinya.Tidak diragukan lagi bahwasanya syahadat tersebut menuntut adanya keimanan terhadap beliau, pembenaran terhadap berita yang beliau bawa, ketaatan terhadap perintahnya, dan berhenti dari perkara-perkara yang beliau larang. Begitu pula pengagungan terhadap perintah dan larangan beliau, dan tidak mendahulukan perkataan seorang pun atas perkataan beliau.

Demikian pula, menjadi kemestian bagi seseorang yang mengucapkan syahadat ini, untuk menyertainya dengan amalan yang ditunjukkan oleh syahadat tersebut.Perkataan dengan lisan tanpa dibarengi pengamalan perkara-perkara yang merupakan konsekuensi syahadat tersebut, menyebabkan orang tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai orang yang telah bersyahadat bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, sebagaimana perkataan seseorang “Laa ilaaha Illallaah”, tanpa dibarengi amalan yang menjadi konsekuensinya, menyebabkan dirinya bukanlah termasuk orang yang bersyahadat bahwasanya tidak ada ilah yang berhak untuk disembah selain Allah dengan sebenar-benarnya.

Oleh karena itu, hal pertama yang merupakan kewajiban bagi seorang manusia adalah mengetahui perkara ini dengan hatinyadengan ilmu yang pasti, mengucapkannya dengan lisannya dengan lafadz syahadatain, dan beramal dengan apa yang menjadi konsekuensinya. ” Selesai kutipan perkataan beliau dari kitab Haasyiah Tsalatsatil Ushuul (hal. 78-79).

—————-

Catatan kaki:

[1]. HR Muslim dalam Shahih Muslim (No. 1337). “Apa yang aku larang kalian darinya maka jauhilah, dan apa yang aku perintahkan kalian dengannya maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian.”

[2]. Dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim (no. 867) dan selainnya. Dan juga dalam hadits al ‘Irbadh bin Saariyah radhiyallahu ‘anhu dalam Sunan Abu Dawud (no. 4607) dan selainnya. Dan ayahku -yakni Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullaah telah menshahihkannya dalam Al Irwa‘ (no. 2455).

***
Muslimah.Or.Id
Tulisan Sukainah bintu Muhammad Nashiruddin al Albani
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Muslimah.Or.Id dari:http://tamammennah.blogspot.com/search/label/البدع

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Donasi masjid al ashri pogung rejo

Donasi Masjid Pogung Dalangan

 

Profil penulis

5 Comments

  1. terimakasih atas informasinya, dan semoga bermanfaat

  2. Syahadat itu adalah puncak keimanan kita, di dalamnya memuat dua hal yang bertolak belakang yakni masalah gaib soal Tuhan, Allah Ta’ala dan makhluk ciptaan-Nya yang gaib seperti malaikat dsb. serta soal nyata yakni manusia hamba pilihan-Nya, Muhammad SAW.

    Penjabaran dari hakikat syahadat ya termuat dalam rukun iman yang kita kenal ada 6 rukunnya. Shalat dan puasa adalah hakikat dari ritual ibadah kita kepada Allah Ta’ala selanjutnya soal zakat dan haji hakikat dari muamalat. Semua in akan bernilai ibadah umum selaku hamba-Nya apa bila kita dasarkan atas prinsip ihsan yakni ikhlas semata karena Allah.

    Jadi dengan kita cukup menyebut ISLAM dengan tanpa perlu menambah istilah iman lagi maka sudah berarti mencakup ketiga unsur tiang agama yakni iman, ibadah dan ihsan.

  3. Saya insya Allah lebih paham setelah membaca artikel ini.

Leave a Reply