Hubungan bersyukur kepada manusia dan Allah
Kewajiban bersyukur kepada suami bersifat berkelanjutan (kontinu), karena setiap hari seorang istri membutuhkan suaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ
“Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah orang yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Disahihkan oleh Syekh Al-Albani)
Bentuk konkret rasa syukur tersebut adalah membalas kebaikan suami dengan kalimat-kalimat yang tayib, minimal mendoakannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ بِهِ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ
“Barang siapa yang berbuat baik kepadamu, maka balaslah dengan yang setimpal. Jika kalian tidak mendapati sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah dia sampai kalian merasa telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Dawud no. 1672 dan An-Nasa’i no. 2567. Disahihkan oleh Syekh Al-Albani)
Enam sifat wanita yang dibenci
Masyarakat Arab memiliki pepatah agar kaum laki-laki berhati-hati dan tidak menikahi enam karakter wanita berikut karena dapat merusak keharmonisan rumah tangga,
لَا تَنْكِحُوا مِنَ النِّسَاءِ سِتَّةً: لَا أَنَّانَةً، وَلَا مَنَّانَةً، وَلَا حَنَّانَةً، وَلَا حَدَّاقَةً، وَلَا بَرَّاقَةً، وَلَا شَدَّاقَةً
“Janganlah kalian menikahi enam jenis wanita; jangan yang annanah, mannanah, hannanah, haddaqah, barraqah, dan syaddaqah.”
Annanah: Wanita yang selalu mengeluh dan merasa sakit, sehingga bawaannya malas dan mengurangi semangat rumah tangga.
Mannanah: Wanita yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya atau kekayaan keluarganya di hadapan suami (misalnya, “Dulu kamu miskin, kalau bukan karena saya…”).
Hannanah: Wanita yang hatinya selalu rindu pada keluarga masa lalunya atau mantan suaminya, sehingga tidak fokus melayani suami yang sekarang dan sering menuntut pulang kampung tanpa melihat kondisi keuangan.
Haddaqah: Wanita yang matanya selalu lapar melihat kemewahan orang lain. Selalu menuntut suami membelikan barang baru demi mengikuti gaya hidup tetangga atau teman.
Barraqah: Wanita yang sepanjang hari sibuk berhias diri secara berlebihan, namun tujuannya bukan untuk suami melainkan hanya pamer saat keluar rumah atau bertemu teman-temannya.
Syaddaqah: Wanita yang banyak bicara, cerewet, suka meninggikan suara, dan pandai bersilat lidah sehingga tidak mau mendengarkan kata-kata suaminya.
Empat kiat agar menjadi istri yang pandai bersyukur
Agar terhindar dari sifat-sifat buruk di atas, berikut beberapa kiat praktis yang bisa diamalkan:
Sadari bahwa kewajiban nafkah suami sesuai kemampuannya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ
“Hendaklah orang yang mempunyai kelapangan memberi nafkah menurut kelapangannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (QS. At-Talaq: 7)
Jangan membebani suami di luar kemampuannya hingga memaksanya berutang demi gaya hidup yang tidak mendesak.
Selalu melihat ke bawah untuk urusan dunia
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat kepada orang yang berada di atasmu (dalam urusan dunia). Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepadamu.” (HR. Muslim no. 2963)
Hindari pergaulan yang suka pamer kemewahan
Jangan terlalu sering berkumpul dengan lingkaran pertemanan yang orientasinya hanya pamer harta, tas mewah, atau kendaraan baru, karena hal itu bisa mengikis rasa syukur dan memicu penderitaan batin.
Sering membaca kisah hidup Nabi dan istri-istrinya
Ingatlah penuturan Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengenai kesederhanaan rumah tangga Nabi,
إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلَالِ، ثُمَّ الْهِلَالِ، ثُمَّ الْهِلَالِ، ثَلَاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَتْ نَارٌ فِي بُيُوتِ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ… الْأَسْوَدَانِ: التَّمْرُ وَالْمَاءُ
“Sesungguhnya kami melihat hilal, kemudian hilal, kemudian hilal (tiga hilal dalam dua bulan atau 60 hari), dan tidak pernah ada api yang dinyalakan di rumah-rumah Rasulullah (tidak memasak masakan) … Makanan kami hanyalah al-aswadan: kurma dan air putih.” (HR. Bukhari no. 2567 dan Muslim no. 2972)
Saat menghadapi kesulitan ekonomi, ingatlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ
“Ya Allah, tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali kehidupan akhirat.” (HR. Bukhari no. 2834 dan Muslim no. 1805)
Kesimpulan
Ingatlah janji Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an,
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Istri yang pandai mengucapkan “Syukran zauji”, “Jazakallah khairan habibi”, dan tulus mendoakan suaminya akan senantiasa mendapatkan kucuran rahmat dan perhatian khusus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, kufur nikmat akan membuat kebahagiaan dicabut secara perlahan tanpa disadari.
Semoga Allah mengaruniakan kepada para wanita sifat qana’ah, menjadikan mereka istri-istri yang salehah yang pandai bersyukur, serta mengumpulkan para istri bersama suaminya di surga-Nya kelak. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
[Selesai]
***
Penulis: Nurur Rohmah Azzahra
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Disarikan dari faedah kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., MA. hafidzahullah.



