Sebab terbesar wanita masuk neraka
Perlu kita ketahui bersama bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwasanya banyak wanita yang tidak pandai bersyukur terhadap suaminya, kemudian mengingkari kebaikan-kebaikan sang suami. Akhirnya, sikap tersebut menjadi sebab terbesar mereka terjerumus ke dalam neraka Jahanam. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ
“Wahai para wanita, bersedekahlah kalian! Karena sesungguhnya diperlihatkan kepadaku bahwa kalian adalah penghuni neraka yang paling banyak.”
Ada seorang wanita bertanya, “Mengapa bisa demikian, ya Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ
“Kalian suka melaknat (mengeluh/mengumpat) dan kalian kufur (tidak bersyukur) kepada suami.” (HR. Bukhari no. 304 dan Muslim no. 80)
Sebagian ulama menjelaskan bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan perbuatan ini dengan kalimat “kufur” (yaitu kufur kecil/kufrun duna kufrin), hal ini menunjukkan bahwa tidak bersyukur kepada suami termasuk dalam kategori dosa besar. Indikator dosa besar tersebut ada dua hal:
Pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dengan istilah kufur.
Kedua: Perbuatan tersebut diancam menjadi sebab utama wanita masuk ke dalam neraka Jahanam.
Oleh karena itu, seorang wanita yang ingin selamat di dunia dan akhirat harus berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi pribadi yang pandai bersyukur, baik kepada Allah maupun kepada manusia yang telah berbuat baik kepadanya, salah satunya adalah suami.
Ancaman Allah: Tidak memandang dengan pandangan rahmat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى امْرَأَةٍ لَا تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لَا تَسْتَغْنِي عَنْهُ
“Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, padahal dia selalu butuh kepada suaminya.” (HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubra no. 9135; Al-Bazzar no. 8540; dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 2: 181. Dihasankan oleh Syekh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 289)
Makna dari kalimat “Allah tidak melihat” di atas diartikan oleh para ulama sebagai Allah tidak akan memandang wanita tersebut dengan pandangan rahmat (kasih sayang). Sebaliknya, Allah memandangnya dengan pandangan murka.
Bayangkan jika seorang wanita sudah tidak dirahmati oleh Allah sejak di dunia, maka kebaikan apa lagi yang bisa ia harapkan dalam hidupnya? Maka bertakwalah kepada Allah, wahai para istri yang masih meninggikan suara di hadapan suami atau menuntut di luar batas kemampuan suami.
Agungnya hak suami atas istri
Kita semua tahu bahwa tujuan utama kita diciptakan di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesuai dengan firman-Nya,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)
Maka fokus hidup kita adalah menunaikan hak Allah dan Rasul-Nya, kemudian menunaikan hak orang-orang terdekat. Bagi seorang wanita yang sudah menikah, manusia yang paling besar haknya untuk ditaati adalah suaminya. Bahkan para ulama sepakat bahwa hak ketaatan kepada suami jauh lebih utama daripada ketaatan kepada kedua orang tuanya dalam urusan rumah tangga.
Dalil agungnya hak suami ini disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat menasihati Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang baru pulang dari negeri Syam,
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain (sujud penghormatan, bukan ibadah), niscaya aku akan perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi no. 1159 dan Ibnu Majah no. 1853. Disahihkan oleh Syekh Al-Albani)
Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada seorang wanita tentang bagaimana sikapnya kepada suaminya. Wanita itu menjawab bahwa ia selalu berusaha berkhidmat semampunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,
انْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Perhatikanlah bagaimana kedudukanmu di hatinya, karena sesungguhnya suamimu adalah surgamu atau nerakamu.” (HR. Ahmad, 4: 341. Disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1509)
Karakter istri terbaik penghuni surga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan panduan jelas mengenai ciri-ciri wanita terbaik yang dijamin menjadi penghuni surga:
Memiliki sifat al-‘a’ud (selalu kembali mencari keridaan suami)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ: الْوَدُودُ الْوَلُودُ الْعَؤُودُ، الَّتِي إِذَا أُوذِيَتْ أَوْ غَضِبَتْ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا،
تَقُولُ: لَا أَذُوقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى
“Wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni surga adalah yang penuh kasih sayang, subur, dan al-‘a’ud (selalu kembali kepada suaminya). Yaitu yang jika suaminya marah atau ia disakiti, ia segera datang lalu meletakkan tangannya di atas tangan suaminya seraya berkata, ‘Aku tidak bisa memejamkan mata tidur sampai engkau rida kepadaku’.” (HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubra dan At-Thabarani. Disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah As-Shahihah no. 287)
Menyenangkan saat dipandang dan taat
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang wanita yang paling baik, beliau menjawab,
الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
“Yaitu yang menyenangkan suami jika dipandang, menaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya.” (HR. An-Nasa’i no. 3231 dan Ahmad 2/251. Disahihkan oleh Syekh Al-Albani)
[BERSAMBUNG]
***
Penulis: Nurur Rohmah Azzahra
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Disarikan dari faedah kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., MA. hafidzahullah



