Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Sebab-Sebab Lapang Dada (Bag. 1)

Ummu Syafiq oleh Ummu Syafiq
24 Maret 2026
di Akidah
0
Share on FacebookShare on Twitter

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, selawat dan salam kepada Nabi yang paling mulia, penutup risalah, yaitu Nabi kita Muhammad al-amin, serta kepada keluarganya, dan seluruh sahabatnya, juga bagi siapa saja yang berjalan di atas hidayah hingga hari akhir.

Amma ba’du.

Sesungguhnya, kelapangan dada adalah kebutuhan yang agung, tujuan yang penting, dan anugerah yang besar dari Rabb semesta alam. Dan yang dimaksud dengan kelapangan dada ialah: kelegaan, ketenangan, hilangnya beragam kesulitan serta bermacam kesedihan pada hati, dan selalu merasa bahagia dalam hidup yang indah lagi baik.

Apabila Allah ‘Azza wa Jalla menganugerahkan (kelapangan) bagi hamba-Nya, maka Allah lapangkan dadanya dan Allah mudahkan urusan hamba tersebut: yakni kebaikan-kebaikan agama dan dunia akan dicapai oleh seorang hamba, dan ia akan mendapatkan segala yang ia tuju dan inginkan; ia menjadi mudah dalam beribadah, taat, bisa menjaga kebaikan-kebaikan itu pada dirinya, dan siap mendidik anaknya.

Adapun jika dadanya sempit, maka banyak kebaikan pada diri hamba tersebut yang akan tertunda; ia tidak bisa beramal, tidak bersemangat untuk memasuki berbagai pintu kebaikan, bahkan terus-menerus berpindah dari satu kesedihan menuju kesedihan lainnya, dan dari satu kegundahan menuju kegundahan yang lainnya.

Dada yang lapang adalah penyokong paling utama bagi seorang hamba untuk mencapai tujuannya dan mendapatkan berbagai kebaikan. Oleh sebab itu, ketika Allah perintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam untuk pergi kepada Fir’aun yang telah melampaui batas agar mengajaknya (kepada agama yang benar) dan memberikan peringatan baginya atas akibat dari perilakunya yang melampaui batas, maka Musa pergi kepada Allah dengan berdoa dan mengatakan,

Donasi Muslimah.or.id

رَبِّ ٱشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى  

“Wahai Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah urusanku.” (QS. Thaha: 25-26)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengatakan kepada hamba-Nya, utusan-Nya, pilihan-Nya, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menenangkannya,

اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَۙ

”Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu (wahai Muhammad)?” (QS. Asy-Syarh: 1)

Kelapangan dada adalah anugerah ilahi dan berkat dari Allah yang telah Allah berikan kepadanya (yakni, kepada Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam), “Maka, kelapangan dada adalah salah satu sebab terbesar dari petunjuk, dan sempitnya dada menjadi salah satu sebab kesesatan. Sebagaimana kelapangan dada adalah bagian dari nikmat teragung, sedangkan sempitnya dada ialah bagian paling besar dari kedengkian.” (Penggalan ini diambil dari kitab Syifa Al-‘Alil karya Ibnul Qayyim, hal. 107)

Tujuan yang besar ini (yakni lapangnya dada) tidak mungkin tercapai kecuali dengan memelihara agama dan menjalankannya. Ketika seorang hamba sangat bersemangat untuk istikamah di atas agama ini (Islam) dan berkomitmen dengan segala sesuatu yang datang darinya (syariat), maka kesempatan dan bagian yang ia capai berupa rasa lapang tersebut akan sebanding dengan semangatnya.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semua sebab yang menyampaikan kita kepada dada yang lapang ini bisa dengan dua hal, di mana satu dengan yang lainnya akan berkaitan:

Sebab pertama, bahwasanya kelapangan dada tidak akan didapatkan kecuali dengan taufik dari Allah Ta’ala dan pertolongan Allah bagi hamba-Nya.

Sebab kedua, bahwasanya anugerah dan berkat ini berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak akan sampai kepada seorang hamba kecuali dengan ketaatan dan berkomitmen dengan syariat-Nya.

Kedua hal di atas adalah inti sari dan landasan dari lapangnya dada. Hati berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa saja Allah bolak-balikkan sesuai kehendak-Nya. Hati akan tunduk pada ketetapan dan rencana-Nya. Apapun yang Allah kehendaki, pasti terjadi; sedangkan apa yang tidak Allah kehendaki, tidak akan terjadi. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَـٰمِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُۥ يَجْعَلْ صَدْرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًۭا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجْسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Barang siapa yang Allah inginkan untuk diberi petunjuk, maka Allah (akan) melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa yang Allah kehendaki untuk menjadi sesat, maka Allah jadikan dadanya sempit lagi sesak, seakan-akan ia mendaki ke langit. Seperti itulah Allah timpakan siksaan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am: 125)

Allah juga berfirman,

أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَـٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍۢ مِّن رَّبِّهِۦ ۚ

”Tidakkah bagi siapa saja yang Allah lapangkan hatinya pada Islam, maka ia telah berada pada petunjuk dari Rabbnya” (QS. Az-Zumar: 22)

Lapangnya dada tidaklah didapat kecuali dengan taufik dari Allah satu-satunya. Sudah seyogyanya, permintaan untuk mencapainya ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan cara yang disyariatkan dan diwahyukan Allah. Begitu pula bagi seorang mukmin, ia juga bersemangat untuk berdoa dan menyandarkan dirinya dengan sebenar-benarnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah melapangkan hatinya, memudahkan urusannya, serta Allah tetapkan ia termasuk dari hamba-Nya yang bahagia di dunia dan di akhirat.

Kemudian, ia menyertakan dalam doa dan penyandarannya kepada Allah, dengan memperjuangkan sebab-sebab yang akan menyampaikan dirinya untuk mencapai tujuan dan maksud yang agung ini. Al–‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan, “Sesungguhnya keadaan seorang hamba di dalam kubur seperti keadaan hati dalam dada, (yakni) berada dalam kenikmatan atau azab, apakah ia terbelenggu ataukah bebas.”

Jika hatinya sempit dengan agama dan syariat-syariat di dalamnya, kuburnya pun akan sempit. Adapun jika dadanya lapang dengan agama ini dan hatinya menerimanya, kuburnya pun akan luas, dan di dalamnya, ia akan merasa nikmat lagi bahagia.

Kelapangan dada adalah ciri-ciri dan indikasi yang sudah jelas dan tampak bagi orang mukmin; ia memuji Allah atas balasan (yang ia dapat) di dunia dan di akhirat. Ciri tersebut dapat diringkas dalam tiga poin:

  1. Pertama, menerima alam kekekalan dan keabadian;
  2. Kedua, menjauhi tempat yang fana dan membinasakan;
  3. Ketiga, mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian dan apa-apa yang datang setelahnya.

Apabila ketiga hal tersebut dijumpai pada hati seorang hamba, maka hal tersebut menjadi tanda bagi kelapangan dan ketenangan hati.

Al–‘Allamah Ibnul Qayyim pernah menyampaikan, “Dan cirinya adalah lapangnya dada dengan kedudukan iman, luasnya dada dan tenangnya hati pada ketentuan Allah, kembali kepada Allah dengan mengingat-Nya, cinta dan senang dengan perjumpaan dengan-Nya, serta menjauhi kesombongan, sebagaimana disebutkan dalam perkataan yang masyhur, ‘Jika cahaya masuk ke dalam hati, maka hati akan luas dan lapang.’ Lalu dikatakan, ‘Apa cirinya?’ Ia berkata, ‘Menjauh dari kesombongan (duniawi), beralih ke tempat yang kekal (akhirat), bersiap-siap menyambut kematian sebelum ia datang’.”

Adapun jika hati sudah berlebihan dan lebih memperhatikan hal-hal lainnya (hal-hal duniawi), maka dadanya akan sempit, sesuai dengan kesibukannya terhadap perkara-perkara tersebut.

Setelah penjelasan yang penting ini, dan kebutuhan mendesak manusia pada hal tersebut, kami mulai masuk kepada pembahasan, yaitu menyebutkan sepuluh sebab dicapainya dada yang lapang, maksudnya ialah kumpulan cara untuk mencapai dan menuju tujuan yang mulia ini. Dan sepuluh hal ini adalah ringkasan serta faidah yang diambil dari satu bab agung yang ditulis Ibnul Qayyim rahimahullah pada bab “Zaadul ‘Imaad” dalam buku, “Asbabu Syarhi as-Shudur wa Hushuliha ‘alal Kamali lahu shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Dan hanya  kepada Allah satu-satunya taufik, dan dari-Nya pertolongan didapatkan serta diberikan. Selawat dan salam kepada Nabi kita, Muhamad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta seluruh kerabat dan sahabat-sahabatnya.

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 2

***

Penerjemah: Evi Noor Azizah

Artikel Muslimah.or.id

 

Referensi: Asyratu Asbabi Linsyirahi ash-Shadri, karya Syekh Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr, hal. 5-11.

ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Ummu Syafiq

Ummu Syafiq

- Alumnus Mahad Ali Bin Abi Thalib Yogyakarta - S1 Arabic Language di International Open University

Artikel Terkait

Bagaimana Ruqyah yang Syar’i?

oleh Yulian Purnama
16 Februari 2022
0

Ruqyah itu pada hakekatnya adalah doa. Sebagaimana kita berdoa kepada Allah dianjurkan sesering mungkin, maka demikian juga ruqyah hendaknya dilakukan...

Menyelamatkan Generasi dari Kegelapan Syirik Berupa Jimat

oleh Redaksi Muslimah.Or.Id
3 Maret 2009
59

Anak adalah titipan Illahi. Ia merupakan sebuah amanat Allah yang diberikan kepada setiap orang tua. Oleh karena itu, sudah semestinya...

Sekedar Tercapainya Keinginan, Tidak Berarti Perbuatannya Benar

oleh Yulian Purnama
25 Januari 2021
0

Kaidah yang berharga yang kami dengar langsung dari Syaikh Abdurrazzaq Al-Abbad hafizhahullah, وجود الآثار لا يدل على صحة العمل "Adanya...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.