Sebab pertama: Mentauhidkan Allah Ta’ala dan mengikhlaskan agama untuk Allah Ta’ala
Mentauhidkan Allah ‘Azza Wa Jalla, dan mengikhlaskan agama hanya untuk Allah Ta’ala, dianggap sebagai sebab terbesar dari kelapangan hati. Ia adalah ghayah (tujuan tertinggi), Allah Ta’ala menciptakan manusia untuk meraih tujuan ini, -yakni, tauhid-. Hal itu sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada–Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)
Allah Jalla wa ‘Ala, hanya menciptakan makhluk untuk mentauhidkan-Nya, dan mengikhlaskan agama ini hanya untuk-Nya pula; tunduk, menyerahkan diri, taat, patuh, untuk menjalankan perintah-perintah-Nya, serta mengesakan Allah dalam setiap ibadah. Hal itu seperti firman Allah Ta’ala,
وَّاَنَّ الْمَسٰجِدَ لِلّٰهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللّٰهِ اَحَدًاۖ
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah. Maka, janganlah menyembah apa pun bersamaan dengan (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jin: 18)
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Setiap kali seorang hamba memiliki perwujudan yang agung dalam perkara tauhid, memiliki perhatian yang besar terhadapnya, menjaga hak-hak serta kewajiban-kewajiban dalam bertauhid, dan menjauhi pembatal-pembatal serta hal-hal yang bisa mengurangi (kemurnian) tauhid; itulah yang akan menyempurnakan kelapangan dadanya, kenyamanan pada hatinya, ketenangan dalam dirinya, dan kebahagiaannya di dunia serta akhirat.
Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan, “Maka, di antara sebab-sebab lapangnya dada, yaitu tauhid, serta bergantung dengan kesempurnaan tauhidnya, kekuatannya, dan bertambahnya tauhid tersebut akan berpengaruh pada kelapangan dada orang tersebut.”
Allah Ta’ala berfirman,
اَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ فَهُوَ عَلٰى نُوْرٍ مِّنْ رَّبِّهٖۗ فَوَيْلٌ لِّلْقٰسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللّٰهِۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
“Maka siapakah orang yang Allah lapangkan dadanya kepada Islam, dialah yang berada di atas cahaya dari Rabb-nya (sama dengan hati mereka yang membatu)? Maka celakalah bagi mereka yang hatinya membatu untuk mengingat Allah, itulah mereka yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22)
فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاۤءِۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ
“Maka siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat, Dia akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am: 125)
Hidayah dan tauhid adalah sebab paling besar bagi seseorang untuk mendapatkan kelapangan dada. Adapun syirik dan kesesatan adalah sebab paling besar pada sempitnya dada.
Dan sesungguhnya hati yang ada di dada seseorang, hanya diciptakan untuk mentauhidkan Allah Ta’ala, dan merendahkan diri pada-Nya Jalla wa ‘Ala. Sehingga apabila ia jauh dari tujuan ini, padahal ia diciptakan untuk tujuan tersebut, maka ia akan kacau. Lalu masuklah rasa sedih, duka, dan gundah karena jauhnya ia dari tauhid dan mengikhlaskan agama ini hanya untuk Allah Ta’ala.
Sebab kedua: Cahaya yang diberikan Allah Jalla wa ‘Ala kepada hati hamba-Nya
Allah Ta’ala berfirman,
اَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ فَهُوَ عَلٰى نُوْرٍ مِّنْ رَّبِّهٖۗ فَوَيْلٌ لِّلْقٰسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللّٰهِۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
“Siapakah orang yang Allah lapangkan dadanya kepada Islam, dialah yang berada di atas cahaya dari Rabb-Nya (sama dengan mereka yang hatinya membatu)? Maka celakalah bagi mereka yang hatinya membatu untuk mengingat Allah, itulah mereka yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22)
Maksudnya: ia berada di atas cahaya yang Allah Ta’ala bentangkan untuknya; anugerah dan karunia (dari Allah), dan ini adalah cahaya iman, “Sesungguhnya Allah melapangkan dada dan meluaskannya, sehingga hati merasa senang. Dan apabila cahaya ini hilang dari hati seorang hamba, ia akan hilang dan tersesat, serta menjadi berada di sijn (neraka) yang paling sempit dan paling sulit… Maka, bagian dari kelapangan hati pada seorang hamba, tergantung seberapa besar cahaya ini baginya.”
Jahizh rahimahullah pernah berkata, “Hati yang di dalamnya masuk cahaya iman, dan kelapangannya beserta keluasannya; ia akan merasa tenang dengan sebuah kebenaran, merasa nyaman dengan hal tersebut, serta menerima, (namun) ia akan lari dari kebatilan, membencinya, dan tidak menerimanya.”
Oleh karena itu, seorang hamba harus benar-benar tamak akan cahaya ini, dan berharap agar Allah Ta’ala menjadikan cahaya tersebut bagi mereka yang Allah muliakan dengan cahaya iman, karena karunia dan anugerah (dari Allah). Hal ini sebagaimana firman-Nya,
وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الرّٰشِدُوْنَۙ. فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَنِعْمَةًۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ
“Ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Seandainya dia menuruti (kemauan)-mu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Akan tetapi, Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikanmu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan kebenaran. (Itu) sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hujurat: 7-8)
Hendaknya seorang hamba meminta kepada Rabb-nya agar Dia memperbarui keimanan dalam hatinya; agar bertambah bagiannya dari cahaya dan sinar ini (maksudnya cahaya iman,-pent). Al-Hakim bin ‘Abdullah bin ‘Amru bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya iman di dalam hati kalian sungguh akan menjadi pudar sebagaimana baju yang menjadi usang; maka mintalah kalian kepada Allah agar Dia memperbarui iman yang ada di dalam hati kalian.””
Imam Muhamad bin Aslam ath-Thusi rahimahullah pernah berkata, “Permulaan iman kepada Allah berasal dari karunia dan rahmat-Nya, yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-Nya. Allah menanamkan di hatinya cahaya dan hati akan bersinar dengannya. Serta Dia akan lapangkan dadanya, menambah iman di dalam hatinya, dan Dia juga mencintainya, hingga hatinya merasa percaya (beriman) kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya, hari akhir, dan takdir yang baik ataupun yang buruk.
Hamba tersebut juga beriman kepada hari kebangkitan dan hisab, juga dengan surga dan neraka, sampai seakan-akan ia bisa melihatnya. Hal ini dikarenakan cahaya yang Allah tanamkan kepada hatinya. Jika hatinya beriman, maka lisannya akan mengucapkannya dengan jujur, sama seperti apa yang hatinya imani. Ia juga meyakini dan bersaksi bahwa tidak ada Ilah (sesembahan) yang patut disembah kecuali Allah, dan bahwasanya Nabi Muhamad adalah utusan Allah, serta meyakini bahwa hal-hal yang ia imani ini adalah kebenaran. Apabila hatinya beriman dan lisannya bersaksi, anggota tubuhnya akan melakukan (hal serupa) dan tunduk kepada perintah Allah. Anggota tubuh itu juga akan melakukan amal-amal yang berkaitan dengan iman dan menunaikan hak Allah dengan melakukan kewajiban-kewajiban-Nya, serta berhenti melakukan hal-hal yang diharamkan Allah; karena ia beriman dan membenarkan apa yang ada dalam hati dan yang diucapkan lewat lisan. Jika seorang hamba melakukan hal tersebut, maka ia adalah orang yang beriman.”
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3
***
Penerjemah: Evi Noor Azizah
Artikel Muslimah.or.id
Catatan kaki:
Diterjemahkan dari kitab ‘Asyratu Asbabi Linsyirahi ash-Shadri, karya Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr, hal. 12-17.




