Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Makna Orang yang Lalai dalam Salatnya

Triani Pradinaputri oleh Triani Pradinaputri
6 Februari 2026
di Al-Qur'an
0
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Pertama: Lalai dari waktunya
  • Kedua: Lalai dari kewajiban-kewajiban di dalam salat
  • Ketiga: Lalai dalam menghadirkan hati

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan bahwasanya tujuan, ruh, dan intisari salat adalah menghadapkan hati kepada Allah Ta’ala di dalamnya. Beliau berkata, ”Jika engkau salat tanpa hati, maka itu seperti jasad yang tidak mempunyai ruh di dalamnya.”

Syekh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al-Badr hafizhahullah menjelaskan perkataan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab di atas bahwa ini adalah tujuan salat. Maknanya adalah bahwa salat disyariatkan dan diminta untuk ditegakkan demi tujuan tersebut, yaitu menghadapkan hati kepada Allah Ta’ala. Ketika hati itu dihadapkan kepada Allah, maka hadirlah hakikat dari salat. Terwujudlah hubungan di antara hamba dan Allah. Adapun jika dia salat tanpa menghadapkan hati kepada Allah, maka perkara ini seperti yang telah disebutkan oleh Syekh, yakni, “Seperti jasad yang tidak mempunyai ruh di dalamnya.” Jasad yang tidak ada ruh, artinya adalah jasad yang tidak ada kehidupan di dalamnya.

Maka bagaimana keadaan salat yang tidak menghadirkan hati kepada Allah? Jasadnya hadir, tapi hatinya kabur menjauh, lalai, meremehkan, berpaling, dan tersibukkan oleh hal lain. Maka, hal yang paling dibutuhkan oleh seorang muslim adalah menyadari makna (hakikat) salat ini.

Maksud menghadirkan hati kepada Allah adalah khusyuk di dalam salat. Dan tempat khusyuk adalah di dalam hati, yang dampaknya akan terlihat pada anggota badan. Khusyuk tidak hanya sekadar diamnya anggota badan, namun hatinya berpaling dan pikirannya tidak fokus.

Terdapat atsar dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Mintalah perlindungan kepada Allah dari khusyuknya orang-orang munafik.” Kemudian, dikatakan kepadanya, “Wahai Abu Darda, apa itu khusyuknya orang-orang munafik?” Ia menjawab, “Engkau melihat jasad itu khusyuk, namun hatinya tidak khusyuk.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 35711)

Donasi Muslimah.or.id

Khusyuk bukanlah sekedar diamnya anggota badan. Khusyuk sebenarnya hanyalah dengan kekhusyukan hati yang menimbulkan kekhusyukan badan.

Adapun orang yang berpura-pura khusyuk anggota badannya, namun hatinya berpaling jauh, maka dia berpura-pura khusyuk hanya karena manusia, bukan karena Allah Ta’ala. Hal ini semakin jauh dari intisari, ruh, dan hakikat salat. Ini seperti orang yang tidak khusyuk anggota badannya dikarenakan hatinya tidak khusyuk. Yang ini menyebabkan dia semakin menjauh dari kedudukan salat yang agung.

Oleh karena itulah, diriwayatkan oleh Sa’id bin Musayyib rahimahullah (riwayat ini marfu’ namun tidak shahih), bahwasanya ia melihat seorang laki-laki bermain-main di dalam salatnya. Maka ia mengatakan, “Seandainya hati itu khusyuk, maka anggota badan juga akan khusyuk.” (Mushannaf Abdurrazaq no. 3308 dan Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 6787)

Allah Ta’ala berfirman,

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ ۝٤ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ ۝٥

“Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)

Kata وَيْلٌ  dalam bahasa Arab bermakna ‘celaka’, ‘kebinasaan’, atau ‘azab yang menyakitkan’. Hal ini ditunjukkan kepada الْمُصَلِّيْنَ, yaitu ‘orang-orang yang salat’. Maka, bagaimana ungkapan kebinasaan ini disandarkan kepada orang-orang yang salat? Allah Ta’ala melanjutkan firman-Nya,

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ ۝٥

 “(Yaitu) yang lalai terhadap salatnya.”

Sehingga sudah menjadi keharusan bagi seorang muslim untuk mengetahui hakikat lalai dalam salat yang terdapat ancaman bagi orang yang melakukannya. Ini adalah ancaman agar orang-orang menghindarinya sehingga tidak termasuk dalam ancaman kebinasaan ini.

Syekh As-Sa’di menjelaskan tafsir dari ayat ini bahwa yang dimaksud dengan lalai adalah orang yang meremehkan, salat tidak tepat waktu, dan luput dari rukun-rukunnya disebabkan tidak perhatian dengan perintah Allah dalam salat. Sedangkan salat ini adalah ketaatan yang paling penting, cara untuk mendekatkan diri kepada Allah yang paling afdhal. Sehingga ketika orang lalai dari salat, dia pantas untuk mendapatkan celaan.

Baca juga: Ruh Bagi Salat

Dari penafsiran surah Al-Ma’un ayat 4 sampai 5 di atas, dapat dilihat bahwa ada tiga makna dari kelalaian dalam salat:

Pertama: Lalai dari waktunya

Maksudnya adalah meremehkan waktu salat. Misalnya, seseorang salat subuh setelah terbitnya matahari. Bahkan, dia terus-menerus salat subuh setelah matahari terbit, alias menjadi kebiasaan. Dia bangun, wudu, kemudian salat hanya sekedar untuk menggugurkan kewajibannya. Padahal Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا ۝١٠٣

“Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 103)

Maksudnya adalah salat harus ditunaikan sesuai dengan waktunya yang sudah ditentukan. Barang siapa yang menunda dan mengakhirkannya, maka dia termasuk dalam ancaman ini.

Kedua: Lalai dari kewajiban-kewajiban di dalam salat

Makna lain dari lalai dalam salatnya adalah lalai dalam kewajiban-kewajiban di dalam salat. Tidak perhatian dengan kewajiban-kewajiban di dalam salat. Tidak perhatian dengan syarat-syarat salat dan yang lainnya. Dia meremehkannya. Dia salat, namun tidak memperhatikan kewajiban-kewajiban di dalam salatnya, seperti orang yang buru-buru dalam salat, sehingga terlihat seperti ayam yang sedang mematuk.

Ketiga: Lalai dalam menghadirkan hati

Ini adalah makna ketiga dari lalai dalam salat yang masuk ke dalam ancaman. Dia salat dengan jasad, namun tanpa hati. Hatinya lalai dengan perdagangan duniawi, perkerjaan, dan lain-lain. Bahkan, terkadang sebagian orang salat dan hatinya tersibukkan dengan memikirkan maksiat, membayangkannya, dan lain sebagainya. Maka itulah tiga makna lalai dalam salat yang diancam dalam ayat ini.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Lalai itu bukanlah artinya ia meninggalkan salat. Bahkan, kalau seperti itu, maka tidak akan dikatakan sebagai orang-orang yang salat. Yang dimaksud lalai di sini adalah meninggalkan kewajiban-kewajibannya, baik pada waktunya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud dan yang lainnya; juga pada kehadiran dan kekhusyukan hati. Dan yang benar adalah mencakup keduanya.” (Madarijus Salikin, 1:524)

Ringkasnya, yang dimaksud lalai adalah meremehkan waktu salat, meremehkan kewajiban-kewajibannya, dan meremehkan dari menghadapkan dirinya kepada Allah Ta’ala dan menghadirkan hatinya.

Allahu a’lam.

Baca juga: Tips Mudah Shalat Khusyuk Untuk Muslimah 

***

Penulis: Triani Pradinaputri

Artikel Muslimah.or.id

 

Referensi:

  • Tafsir As-Sa’di.
  • Al-Badr, Abdurrazaq bin Abdul Muhsin, 2024, Syarh Tafsirul Fatihah lis Syaikhil Islam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab. Suthurul Bahtsil ‘Ilmi, Madinah, hal. 10-12.
ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Triani Pradinaputri

Triani Pradinaputri

- Alumni Mahad Umar bin Khattab, Kampus Tahfizh, Mahad Al 'Ilmi - Santriwati Mahad Darussalam Asy-Syafi'i - Pengajar Bahasa Arab Markaz Ar-Ruhaily

Artikel Terkait

Bahagia Dengan Memuji Allah Ta’ala?

oleh Isruwanti Ummu Nashifa
14 Desember 2018
0

Ketika nikmat disyukuri, Allah akan menebar barakahdalam dirinya dan orang lain. Sebaliknya, tatkala nikmat dikufuri maka bisajadi berakibat adzab baginya

Faidah-Faidah dari Surah Adh-Dhuha

Faidah-Faidah dari Surah Adh-Dhuha (Bag. 2)

oleh Annisa Auraliansa
17 Februari 2025
0

Pembelaan dan kasih sayang Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ...

Surat Makiyyah dan Madaniyyah

oleh Muslimah.or.id
20 November 2014
1

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Sebagian besar ayat Al...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.