Bahasa Arab merupakan bahasa yang Allah pilih sebagai bahasa Al-Qur’an. Di dalamnya terdapat firman-firman Allah yang mulia, yang dijadikan sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Allah berfirman,
هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُوْقِنُونَ
“(Al-Qur`an) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS. Al-Jatsiyah: 20)
Sebagai seorang muslim, mempelajari bahasa Arab bertujuan agar bisa memahami dua dasar utama dalam agama, yaitu al-Qur`an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena bagaimana seseorang dapat menyelami lautan hikmah dan makna Al-Qur’an dan hadis, apabila bahasa Arab saja tidak mengerti?
Allah berfirman,
اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰهُ قُرۡءٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur`an yang berbahasa Arab, agar kamu mengerti.” (QS. Yusuf: 2)
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata,
تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ فَإِنَّهَا مِنْ دِيْنِكُمْ
“Pelajarilah bahasa Arab karena ia bagian dari agama kalian.”
Oleh karena itu, untuk memahami keindahan makna Al Qur’an dan hadis, serta pesan-pesan yang Allah sampaikan kepada manusia, seseorang perlu merujuk kepada ilmu-ilmu yang membahas tentang kaidah bahasa Arab dengan benar. Tujuannya agar tidak keliru dalam memahami makna keduanya.
Beberapa disiplin ilmu yang sangat penting untuk dipelajari adalah ilmu nahwu dan sharaf. Kedua ilmu ini merupakan pondasi bagi seseorang yang ingin mempelajari kaidah bahasa Arab dengan benar.
Namun, mungkin tidak sedikit di antara kaum muslimin yang masih bingung mengenai perbedaan ilmu nahwu dan sharaf. Oleh karena itu, melalui artikel ini kita akan membahas perbedaan antara ilmu nahwu dan sharaf dengan ringkas, dan mudah dipahami.
Apa itu ilmu nahwu?
Ilmu nahwu adalah salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang membahas tentang cara menyusun kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa Arab, baik yang berkaitan dengan letak kata dalam suatu kalimat atau kondisi kata (harakat akhir dan bentuk) dalam suatu kalimat.
Pada intinya, ilmu nahwu berfokus pada cara merangkai kata agar menjadi kalimat yang sempurna, baik dari segi susunan kata, maupun perubahan akhir setiap kata dalam kalimat yang dikenal dengan istilah i’rab.
Sebagai contoh adalah kalimat:
- جَاءَتْ فَاطِمَةُ (Fathimah telah datang.)
- رَأَيْتُ فَاطِمَةَ (Aku melihat Fathimah.)
Kedua contoh kalimat di atas, kata ‘Fathimah’ memiliki kesamaan tata letak, yakni datang setelah fi’il (kata kerja). Namun, mengapa harakat akhirnya berbeda? Pada contoh yang pertama, Fathimah yang berharakat dhammah berkedudukan sebagai subjek (fa’il); sedangkan pada contoh kedua, Fathimah yang berharakat fathah ia berkedudukan sebagai objek (maf’ul bih).
Pemberian harakat akhir ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan terdapat kaidah khusus yang mengatur perubahan harakat akhir kalimat tersebut. Kaidah-kaidah ini dibahas secara rinci dalam ilmu nahwu.
Baca juga: Belajar Bahasa Arab Yuk…
Apa itu ilmu sharaf?
Ilmu sharaf adalah ilmu yang membahas tentang perubahan kata dari satu bentuk ke bentuk yang lain.
Sebagai contoh:
- Dia (laki-laki) menulis = كَتَبَ
- Kami menulis = كَتَبْنَا
Kedua contoh di atas, sama-sama berasal dari kata kerja kataba. Namun, mengapa keduanya memiliki bentuk yang berbeda?
Pada contoh pertama, fi’il kataba memiliki arti dia (laki-laki) telah menulis, merujuk kepada pelaku tunggal dia (laki-laki), Sedangkan pada contoh kedua, fi’il kataba berubah menjadi katabnaa dengan tambahan huruf nun di akhir kata. Dan huruf nun tersebut merujuk kepada pelaku jamak, yaitu kami/kita, sehingga artinya menjadi kami telah menulis.
Di sinilah fokus kajian ilmu sharaf, yaitu membahas bagaimana kata kataba, berubah menjadi katabna dan bentuk lainnya. Perubahan kata beserta rumus-rumusnya ini, dibahas secara rinci dalam ilmu sharaf.
Secara ringkas, perbedaan ilmu nahwu dan ilmu sharaf dapat disimpulkan sebagai berikut:
Ilmu nahwu berfokus pada membahas susunan dan kondisi kalimat, sedangkan ilmu sharaf berfokus pada perubahan suatu kata ke bentuk yang lain.
Pentingnya ilmu nahwu dan sharaf
Ilmu nahwu dan ilmu sharaf sangat penting untuk dikuasai bagi orang-orang yang ingin memahami bahasa Arab. Oleh karena itu, kedua ilmu tersebut dijuluki dengan ilmu alat; yakni alat untuk memahami kaidah bahasa Arab.
Seorang muslim mempelajarinya untuk tujuan agar bisa memahami dua dasar utama dalam agama kita, yaitu Al-Qur`an dan hadis Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Maka, tidak ada jalan untuk bisa memahami semua itu kecuali dengan penguasaan bahasa Arab. Dan benarlah perkataan Al-‘Imrithy dalam kitabnya, Nadzam Al-Ajrumiyyah,
“Ilmu Nahwu adalah hal pertama yang paling utama untuk dipelajari …
Karena tanpanya, kalimat tak dapat dipahami.”
Baca juga: Keutamaan Menuntut Ilmu
***
Penulis: Faikha Mufidah Bakhrudin
Artikel Muslimah.or.id



