Kehidupan di dunia merupakan sebuah ujian bagi setiap anak Adam. Agar Rabb mereka ‘Azza wa Jalla dapat melihat, siapa di antara mereka yang bersyukur dan siapa yang kufur. Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an,
إِنَّا خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَٰهُ سَمِيعًۢا بَصِيرًا • إِنَّا هَدَيْنَٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. Al-Insan: 2-3)
Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengutus para Rasul ‘alaihimush shalatu wassalam yang memberikan petunjuk bagi manusia untuk menempuh jalan menuju keridaan-Nya, juga petunjuk yang meneguhkan hati mereka dalam menghadapi kehidupan selama di dunia, hingga perjumpaan dengan-Nya di negeri akhirat kelak.
Petunjuk itu ialah iman. Keimanan dapat membantu untuk teguh dalam menghadapi kehidupan; baik dan buruknya, senang dan susahnya, serta luas dan sempitnya. Di saat kegembiraan datang, keimanan menuntun untuk bersyukur. Pun saat cobaan menerpa, keimanan menuntun untuk bersabar.
Dengan keimanan, kita meyakini Allah adalah Zat Yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih. Dengan keimanan pula, kita meyakini pertolongan Allah sangat dekat bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Dan dengan keimanan, kita yakin akan janji Allah, yaitu kenikmatan yang Ia berikan kepada hamba-hamba-Nya yang teguh di atas iman, berupa surga yang luasnya seluas langit dan bumi, serta kenikmatan akan memandang wajah-Nya Yang Mulia.
Sungguh, Allah tidak akan menyia-nyiakan keimanan hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُم
“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.” (QS. Al-Baqarah: 143)
Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsir beliau, “Maksudnya, tidaklah patut dan pantas bagi Allah Ta’ala, bahkan hal itu merupakan perkara yang tidak mungkin dilakukan oleh-Nya. Allah Ta’ala mengabarkan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan-Nya dan sangat mustahil Dia menyia-nyiakan keimanan kalian. Dalam hal ini, ada sebuah kabar gembira bagi orang yang telah dikaruniakan keimanan dan keislaman oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu bahwa Allah Ta’ala akan menjaga keimanan mereka dan tidak menyia-nyiakannya.
Penjagaan Allah itu ada dua macam:
Pertama: Penjagaan dari kesia-siaan dan kehilangan, yaitu dengan perlindungan-Nya dari segala hal yang dapat merusak, menghapus, dan menguranginya, berupa ujian-ujian yang menggoncangkan dan hawa nafsu yang menghalangi keimanan.
Kedua: Penjagaan dengan menumbuhkannya untuk mereka dan memberikan taufik terhadap mereka kepada perkara yang dapat menambah keimanan dan menguatkan keyakinan mereka. Sebagaimana Allah memulai dengan memberikan hidayah-Nya untuk kalian kepada keimanan, maka begitu pula Allah akan menjaga keimanan itu bagi kalian dan akan menyempurnakan nikmat-Nya dengan menumbuhkannya dan memperbanyak ganjaran dan balasan, serta memeliharanya dari segala hal yang mengotorinya.” (Tafsir As-Sa’di, 1: 167)
Kita memohon kepada Allah taufik untuk dapat teguh di atas keimanan kepada-Nya hingga ajal menjemput. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, serta para sahabatnya.
Baca juga: Hakikat Iman Kepada Allah
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
As-Sa’di, Syekh Abdurrahman bin Nashir. (2019). Tafsir Al-Qur’an (Penerjemah: Muhammad Iqbal, Lc. dan Izzudin Karimi, Lc, dst). Jakarta: Darul Haq.



