fbpx
Donasi Web Donasi Web

Sifat Wudhu dan Shalat, Bag. 1

Sifat Wudhu dan Shalat, Bag. 1

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Segala puji bagi Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada keluarga beliau dan para sahabat beliau semuanya.

Ini adalah tulisan singkat namun bermanfaat tentang tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai dari takbir sampai salam. Kitab yang kami tulis ini dalam rangka mewujudkan dan melaksanakan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari).

Dari hadist ini kita dapat mengambil faidah bahwasanya shalat itu harus mengikuti tata cara yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tuntunkan. Tidak boleh berbuat bid’ah dalam shalat. Namun hendaknya kita mencontoh cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat. Disertai dengan penjelasan tata cara wudhu sebelumnya dan dijelaskan tentang dzikir-dzikir setelah shalat.

Tulisan ini sebetulnya kami ambil dari kitab yang berjudul Mukhtashar Al Fiqhil Islami. Kami sendirikan pembahasan tentang shalat karena pentingnya masalah shalat dan butuhnya setiap muslim untuk mengetahui tentang perkara shalat dan wudhu.

Semoga Allah Ta’ala memberikan manfaat dengan buku ini kepada orang yang menulis, membaca, mengajarkan, dan menyebarkannya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Menjawab Doa dan Maha Banyak Memberikan Pemberian.

Tata Cara Wudhu

Definisi Wudhu

Wudhu adalah ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menggunakan air yang suci pada bagian tubuh manusia dengan tata cara yang khusus. Berdasarkan definisi ini kita dapat mengambil faidah bahwasanya wudhu sendiri adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Hendaknya kita ikhlas berwudhu kepada Allah, berwudhu sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan khusyu’ ketika berwudhu. Berwudhu dengan air yang suci dan mensucikan maksudnya adalah air yang masih berada pada sifat aslinya yaitu masih cair dan bening. Adapun air yang sudah tidak berada pada sifat aslinya maka tidak bisa digunakan untuk berwudhu.

Keutamaan berwudhu
Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222).

Keutamaan wudhu yang pertama yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala mencintai orang-orang yang mensucikan diri dan diantara orang yang mensucikan diri adalah orang yang berwudhu. Para ulama tafsir menafsirkan ayat ini, mereka mengatakan الْمُتَطَهِّرِينَ mencakup dua yaitu yang pertama adalah orang yang mensucikan dirinya dari noda-noda syirik dan maksiat, yang kedua, orang yang mensucikan badannya dari kotoran dengan berwudhu.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala anhu, beliau mengatakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَوَضَّأَ العَبْدُ المسْلِمُ أَوْ المؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيْئَةً نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَينِيْهِ مَعَ الماءِ أَوْ مَعَ آخِرِ،قَطْرِ الماءِ، فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلَّ خَطِيْئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الماءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الماءِ، فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيْئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاه مَع الماءِ أَوْ آَخِرِ قَطْرِ الماءِ، حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنْ الذُّنُوْبِ

Kalau seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu, kemudian dia mencuci wajahnya, maka akan keluarlah semua dosa-dosa (kesalahan) yang dilakukan oleh kedua matanya berupa pandangan, bersama air yang digunakan untuk mencuci wajah atau bersamaan dengan tetesan dari air tersebut. Ketika dia mencuci kedua tangannya, maka keluarlah semua dosa-dosa yang disebabkan oleh kedua tangannya ketika dia memukul secara dzalim, bersamaan dengan air atau tetesan terakhir dari air tersebut. Ketika dia mencuci kedua kakinya, maka keluarlah dari kedua kakinya tersebut setiap dosa (kesalahan) yang dibuat oleh kakinya ketika melangkah, bersamaan dengan air atau tetesan air yang terakhir, sampai dia keluar dari wudhu dalam keadaan suci dari dosa.” (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala anhu, beliau mengatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Bilal ketika akan shalat fajar,

يَا بِلَال، حَدِّثنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلَامِ، فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الجَنَّةِ. قَالَ : مَا عَمِلْتُ عَمَلَ أَرْجَى عِنْدِى أنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُوْرًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهاَرٍ، إِلَّا صَلَيْتُ بِذَلِكَ الطَّهُوْرِ مَا كَتَبَ لِي أَنْ أُصَلِّي. متفق عليه

Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amalan yang engkau andalkan disisi Allah yang pernah engkau lakukan dalam Islam, karena aku mendengar hentakan kedua sandalmu dihadapanku di surga. Bilal menjawab, Tidaklah aku mengamalkan suatu amalan yang paling aku andalkan bagiku kecuali ketika aku berthaharah dengan sebuah thaharah baik pada waktu malam maupun waktu siang pasti aku akan shalat setelahnya yang aku mampui shalat setelah itu.” (HR. Bukhari – Muslim).

Hadist ini sering digunakan oleh sebagian orang untuk mengatakan bahwasanya boleh melakukan inovasi dalam ibadah. Mereka mengatakan Bilal ditanya Nabi shallallahu‘ wa sallam tentang apa yang membuat Bilal masuk surga, Bilal menjawab shalat sunnah wudhu. Maka kata mereka, “Lihat Bilal membuat amalan baru yaitu shalat sunnah wudhu yang dapat membuat masuk surga. Sehingga boleh membuat amalan baru asalkan baik”. Maka kita jawab syubhat mereka dengan beberapa poin:

Pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengamalkan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim).

Larangan berbuat bid’ah dalam hadits ini dan hadits-hadits lainnya bersifat umum dan tidak terdapat takhsis (pengecualian) dalam dalil-dalil yang lain.

Kedua, hadits Bilal ini tidak menunjukkan bahwa Bilal membuat amalan baru karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ”Amalan apa yang menjadi andalanmu?”. Seolah-olah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ”Wahai Bilal, dari semua yang amalan yang aku ajarkan, amalan mana yang menjadi andalanmu?”. Karena amalan shalat sunnah wudhu sudah diajarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam kepada Bilal dan para sahabat yang lain. Dan amalan shalat sunnah wudhu tidak hanya Bilal yang mengetahuinya.

Amalan ini terdapat dalam hadits Uqbah bin Amir dan Utsman bin Affan yang menyebutkan amalan ini. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu anhu, beliau mengatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلمِ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِرُ وُضُوْءَهُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّي ركَعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقلبه وو جهه إلا و جبت له الجنة

Tidaklah seseorang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu shalat dua rakaat dengan sepenuh hati dan jiwa melainkan wajib baginya (mendapatkan) surga.” (HR. Muslim).

Dari Humran pembantu Utsman bin Affan radhiallahu’anhu, ia berkata:

أن عثمانَ بنَ عفانٍ رضِيَ اللهُ عنه دعا بوَضوءٍ . فتوضأ . فغسل كَفَّيْهِ ثلاثَ مراتٍ . ثم مضمض واستنثر. ثم غسل وجهَه ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل يدَه اليُمْنَى إلى المِرفَقِ ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل يدَه اليُسْرَى مِثْلَ ذلك . ثم مسح رأسَه . ثم غسل رجلَه اليُمنَى إلى الكعبين ثلاثَ مراتٍ . ثم غسل اليُسرَى مِثْلَ ذلك . ثم قال : رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم توضأ نحوَ وُضوئي هذا . ثم قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم من توضأ نحوَ وُضوئي هذا، ثم قام فركع ركعتين، لا يُحَدِّثُ فيهما نفسَه، غُفِرَ له ما تقدم من ذنبِه . قال ابنُ شهابٍ : وكان علماؤُنا يقولونَ : هذا الوُضوءُ أسبغُ ما يُتَوَضَّأُ به أحدٌ للصلاةِ

“Suatu ketika Utsman bin Affan radhiallahu‘anhu meminta air wudhu, kemudian dia berwudhu. Beliau membasuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan istintsar (mengeluarkan air dari hidung, tentunya didahului memasukkan air ke hidung; istinsyaq). Kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian membasuh tangan kanannya sampai ke siku tiga kali. Kemudian membasuh tangan kirinya dengan cara yang sama. Kemudian beliau mengusap kepalanya dengan air ( satu kali). Kemudian membasuh kaki kanannya sampai mata kaki tiga kali, kemudian membasuh kaki kirinya dengan cara yang sama. Kemudian Utsman mengatakan, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda, “Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian dia shalat dua rakaat dengan tanpa menyibukan jiwanya, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari no. 159, 164, Muslim no. 226).

Maka jelas tidak benar bahwa amalan ini diada-adakan oleh Bilal radhiallahu’anhu.

Ketiga, andaikan kita asumsikan andaikan Bilal membuat amalan baru. Maka kita katakan Bilal melakukan shalat sunnah wudhu disetujui, dipuji dan tidak dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah sunnah taqririyah yaitu sunnah yang ditetapkan atas persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Andaikan di zaman sekarang ada yang membuat amalan baru dalam agama, siapa yang ingin menyetujui padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat? Maka tidak sama amalan yang disetujui oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan amalan yang tidak disetujui oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sehingga tidak benar hadits ini digunakan sebagai dalih untuk melakukan amalan-amalan baru dalam agama.

Hadits ini juga menunjukkan faidah bahwasanya hendaknya kita punya amalan andalan yang akan kita andalkan dihadapan Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ

Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4).

***

Sumber: Shifatul Wudhu was Shalah, Syaikh Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijiri , Dar Asdaa’ Al-Mujtami’ cetakan ke 5, Al-Qasim Buraydah.

Ditranskrip oleh: Retno Utami

Artikel Muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Donasi masjid al ashri pogung rejo

Donasi Masjid Pogung Dalangan

 

Profil penulis

Leave a Reply