fbpx
Donasi Web Donasi Web

Apakah Amalku Diterima? Bag. 1

Apakah Amalku Diterima? Bag. 1

Sesungguhnya seorang muslim mengerjakan amal shalih karena berharap agar Allah menerimanya. Apabila Allah menerima amal seseorang, maka hal ini menunjukkan bahwa amal tersebut sah dan sesuai dengan bentuk amalan yang Allah tabaraka wa ta’ala cintai. Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan,

الله لا يقبل مِن العمل إلا أخلَصَه وأصوَبَه، فأخلَصُه ما كان لله خالصًا، وأصوبُه ما كان على السُّنَّة

“Sesungguhnya Allah tidaklah menerima amal kecuali amal tersebut ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Nabi”.

Allah tabaraka wa ta’ala juga menyebutkan bahwa Dia tidaklah menerima amal kecuali dari orang-orang yang bertakwa,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنْ الْمُتَّقِينَ

Allah hanyalah menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27).

Lantas, bagaimana seseorang mengetahui bahwa amalnya telah diterima dan kerja keras yang ia lakukan telah membuahkan hasil?

Para ulama telah menjelaskan tanda-tanda diterimanya amal. Apabila ciri-ciri tersebut terpenuhi, maka hendaknya seorang hamba merasa gembira. Di antara tanda-tanda tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama: Tidak kembali terjerumus ke dalam dosa

Jika seorang hamba benci dengan dosa-dosanya dan tidak mau kembali melakukannya, maka ketahuilah bahwa amalnya diterima. Apabila ia teringat dengan dosa-dosanya, lalu ia merasa sedih, menyesal, dan hatinya sesak karena merasa bersalah, maka taubatnya telah diterima. Ibnul Qayyim menerangkan di dalam kitab Madarijus Salikin,

أما إذا تذكَّر الذنبَ ففرح وتلذَّذ فلم يُقبل، ولو مكث على ذلك أربعين سنة

“Jika seseorang teringat dengan dosa-dosanya, kemudian ia merasa gembira dan menikmatinya, maka amalnya tidak diterima, meskipun ia beramal selama 40 tahun”.

Yahya bin Mu’adz mengatakan,

مَن استغفَر بلسانه وقلبُه على المعصية معقود، وعزمُه أن يرجع إلى المعصية ويعُود، فصومُه عليه مردود، وباب القبول فى وجهه مسدود

“Barangsiapa beristighfar dengan lisannya, sedangkan hatinya terikat dengan maksiat dan ia bertekad untuk kembali mengulanginya, maka puasanya tertolak dan pintu diterimanya amal tertutup di hadapannya”.

Kedua : Bertambah Taat

Salah satu ciri diterimanya amal yaitu semakin rajin melakukan ketaatan. Hasan Al-Bashri menyampaikan,

إنَّ مِن جزاءِ الحسَنةِ الحسَنة بَعْدَها، ومِن عقوبةِ السيئةِ السيئةُ بعدها

“Di antara balasan kebaikan adalah dipermudah untuk berbuat kebaikan setelahnya. Dan di antara hukuman keburukan adalah dipermudah untuk berbuat keburukan setelahnya”.

Apabila Allah menerima amal seorang hamba, maka Dia akan memberikannya taufiq untuk melakukan ketaatan dan memalingkannya dari maksiat. Hasan Al-Bashri juga mengatakan,

يا ابن آدم، إن لم تكن فى زيادة فأنتَ فى نقصان

“Wahai anak keturunan Adam, jika ketaatanmu tak kunjung bertambah, maka ia akan semakin berkurang”.

Ketiga : Kontinyu dalam ketaatan

Berkesinambungan dalam melakukan ketaatan memiliki faidah yang besar sebagaimana ucapan Ibnu Katsir Ad-Damasyqi tatkala beliau rahimahullah menerangkan,

لقد أجرَى اللهُ الكريمُ عادتَه بكرَمِه أنَّ مَن عاش على شيء مات عليه، ومَن مات على شيء بُعِث عليه يوم القيامة

“Sungguh Allah yang Maha Mulia dengan kedermawanan-Nya telah menetapkan sunnatullah yaitu barangsiapa hidup di atas suatu kebiasaan, maka ia akan mati di atas kebiasaan tersebut. Dan barangsiapa mati di atas suatu kebiasaan, maka ia akan dibangkitkan di atas kebiasaan tersebut di hari kiamat”.

Maka, barangsiapa yang hidup di atas ketaatan, maka dengan kemuliaan Allah ia tidak mungkin mati di atas kemaksiatan. Di dalam hadits, tatkala ada seorang laki-laki berangkat haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ia ditendang oleh untanya hingga ia pun meninggal. Lantas, Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

وكَفِّنُوهُ في ثَوْبَيْنِ، ولَا تُحَنِّطُوهُ، ولَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ، فإنَّه يُبْعَثُ يَومَ القِيَامَةِ مُلَبِّيًا

Kafanilah ia dengan pakaian ihramnya. Jangan beri ia minyak wangi. Jangan tutupi kepalanya. Sebab, ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah” (HR. Bukhari no.1265, Muslim no.1206).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menyampaikan peringatan dengan bersabda,

لَا أَعْرفنَّ أحدَكم يومَ القِيامَةِ يَحْمِلُ عَلى رقبتِه جملًا له رُغَاء، فَيَقُولُ: يَا مُحَمَّدُ، يَا مُحَمَّدُ! فَأَقول قد بلَّغْتُك

Aku benar-benar tidak mengenal salah seorang dari kalian pada hari kiamat memanggul unta yang bersuara di atas pundaknya. Ia memanggil, ‘Wahai Muhammad! Wahai Muhammad!’ Lalu aku pun menjawab, ‘Bukankah aku telah menyampaikan kepadamu’” (HR. Bukhari no.1402, Muslim no.987).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda tentang pencuri harta rampasan perang,

إنَّ الشملة – التى سرقها – لتشتعل عليه نارًا

Sesungguhnya jubah yang ia curi akan menyalakan api pada tubuhnya” (HR. Bukhari no.4234, Muslim no.115).

Bersambung insyaallaah.

Diterjemahkan dari https://www.alukah.net/sharia/0/8961/
Penulis: Dr. Bayoumi Isma’il
Penerjemah: Ummu Fathimah

Artikel Muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Donasi masjid al ashri pogung rejo
Donasi Masjid Pogung Dalangan

About Author

One Comment

  1. Bismillahirrohmaanirrohiim
    Mohon share, jzkk atas perkongsian moga diterima sebagai amal soleh In Syaa Allah Aamiin Allahumma Aamiin

Leave a Reply