fbpx
Donasi Web Donasi Web

Jejak Empati Orang-Orang Shalih

Jejak Empati Orang-Orang Shalih

 

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِهِمْ وَ تَرَا حُمِهِمْ وَ تَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّعَمِرِ وَ الحُمَّى

Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan kelembutan mereka layaknya tubuh. Bila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan susah tidur dan demam.” (HR. Muslim)

Berempatilah pada orang lain dalam kebajikan dan amal shalih merupakan jalannya orang-orang shalih. Bahkan, indikasi kebenaran iman sebagai perwujudan kecintaan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang mudah berempati serta memiliki sifat empati yang tinggi akan disukai orang lain. Dia peka pada keadaan atau penderitaan orang lain yang direfleksikan dengan ucapan, perbuatan, ataupun doa. Hal itu merupakan karakter orang yang hatinya diberi kelembutan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia senantiasa memenuhi kebutuhan orang lain, hatinya lapang, dan bersegera memulai kebaikan.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, seorang khalifah yang adil memiliki sikap tawadu dan akhlak yang mulia. Raja’ bin Haiwah meriwayatkan hal itu. Dia bertutur, “Saya menghabiskan satu malam bersama ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Tiba-tiba lampu minyak yang menerangi kami mati. Saat itu di dekatnya ada seorang pelayan laki-laki yang tertidur. Saya berkata, ”Apakah dia perlu saya bangunkan?” ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menjawab, “Biarkan aku yang berdiri memperbaiki lampu itu.” Dia berkata, “Meminta pelayanan dari tamu bukanlah bagian dari keperwiraan diri seorang laki-laki!” Kemudian dia berdiri dan berjalan menuju ke tempat minyak dan memperbaikinya lalu kembali. Dia berkata, “Aku berdiri sebagai ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dan aku kembali sebagai ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.”” (Tarikhul-Khulafa` : 221)

Sikap empati perlu diasah agar hati menjadi lembut dan seakan-akan turut meringankan kebutuhan orang lain. Para salaf dahulu saling berlomba-lomba melakukan kebaikan karena mereka memahami ada banyak barakah, pahala, dan kebaikan yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berempati merupakan ibadah yang lebih didominasi kecintaan pada akhirat.

Ibnul Qayyim dalam al-Fawa`id (222) beliau berkata, “Turut perhatikan penderitaan kaum muslimin dan berempati pada mereka bisa diwujudkan dengan beragam cara, seperti dengan harta, kehormatan, fisik dan bantuan, nasehat dan petunjuk, doa dan istigfar, serta ikut merasakan duka mereka. Tingkat empati ini sesuai dengan taraf keimanan. Bila iman lemah, maka empatipun juga lemah. Sebaliknya, bila iman kuat maka empati juga kuat. Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling berempati kepada sahabat-sahabat beliau melalui semua bentuk tersebut di atas. Dan untuk para pengikut beliau, tingkat empatinya sesuai dengan sejauh mana kesetiaan mereka mengikuti beliau.”

Berempati pada orang lain adalah sebuah nikmat karena diberi taufik Allah untuk mengikuti jejak sabiquna fil khairat (orang-orang yang bersegera dalam melakukan kebaikan). Ukhuwah imaniyah menjadi lebih kuat dan ia akan merasakan kebahagiaan tersendiri ketika bisa memberikan yang dibutuhkan orang lain. Berhias dengan empati adalah wujud kepekaan hati seorang mukmin yang akan mendatangkan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan di mata orang lain ia akan mampu menarik empati ketika semua itu dilandasi ikhlas.

Referensi :
Harta Karun Akhirat (terjemah), Dr. Kholid Abu Syadi, al-Qowwam, Solo, 2008.
Tiket Meraih Surga (terjemah), Syaikh Abdul Malik bin Muhammad al-Qosim dan Syaikh Kholid bin Abdurrahman ad-Darwis, Maktabah al-Hanif, Yogyakarta, 2008.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Artikel Muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Donasi masjid al ashri pogung rejo
Donasi Masjid Pogung Dalangan

About Author

Isruwanti Ummu Nashifa

Penulis, penulis buku "Tahukah Anda Seks Obat Awet Muda" (DIVA Press)

View all posts by Isruwanti Ummu Nashifa »

One Comment

  1. Empati dengan ikhlas tanpa berharap dari orang yang kita tolong.
    Sekarang misalnya bawahan dengan atasan yang nurut itu belum tentu empati ya…

Leave a Reply