Donasi Web Donasi Web

Wahai Para Penghafal Al-Qur’an, Jagalah Akhlakmu, bag. 1

Wahai Para Penghafal Al-Qur’an, Jagalah Akhlakmu, bag. 1

Wahai saudaraku, agama Islam adalah agama adab dan kemuliaan, agama akhlak dan keutamaan. Siapa yang dicintai Allah maka agamanya menjadi mulia, adabnya akan menjadi luhur. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita sebagai seorang muslim hendaknya selalu menghiasi diri kita dengan akhlak dan adab yang mulia, terlebih pada seorang yang diberi kenikmatan dan taufik menjadi seorang penghafal Al-Qur’an hendaknya lebih mampu menjaga akhlak dan adabnya sebagaimana perkataan Muhammad bin Al-Husain: “Seyogyanya orang yang telah mendapatkan pengajaran Al-Qur’an dari Allah dan dikaruniai keistimewaan dibandingkan orang yang tidak menghafal dan memahami kitabNya, kemudian dia berkeinginan untuk menjadi Ahlul Qur’an, keluarga Allah, hamba pilihanNya dan ingin masuk ke dalam golongan yang mendapatkan janji Allah untuk meraih keutamaan agung dari menghafal Al-Qur’an, hendaknya dia menjadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatinya, lalu dengannya dia membangun apa-apa yang telah rusak dari hatinya, kemudian dia beradab dengan adab-adab Al-Qur’an dan berakhlak yang mulia sehingga dengannya dia akan nampak jauh berbeda perilakunya dari orang tidak membaca Al-Qur’an”[1]

Mengingat betapa banyaknya kemuliaan dan keutamaan bagi orang yang menghafal Al-Qur’an. Hendaknya orang yang menghafal Al-Qur’an tidak menjadikan hafalan Al-Qur’an hanya sekedar hafalan tanpa berusaha memahami, merenungi, dan mengamalkan isinya atau bahkan hanya menjadikannya sebagai ajang berbangga-bangga belaka. Wal’iyadzubillah. Berikut ini adalah nasihat-nasihat tentang adab yang patut diteladani oleh orang-orang yang menghafalkan kitab Allah subhanahu wa ta’ala,

Pertama, berniat mengharap ridha Allah semata

Pertama kali yang seharusnya dilakukan oleh setiap muslim yang hendak beribadah kepada Allah adalah mengikhlaskan niatnya untuk mencari ridha Allah Ta’ala semata termasuk dalam menghafalkan Al-Qur’an dan mengajarkannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Diriwiyatkan dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam Shahihain bahwa beliau bersabda:

إنَّما الأعْمالُ بالنِّيَّةِ، وإنَّما لِامْرِئٍ ما نَوَى

Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niat dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya” [2]

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata:

إِنَّمَا يَحْفَظُ الرَّجُلُ عَلَى قَدْرِ نِيَّتِهِ

Seseorang itu akan menghafal sesuai dengan kadar niatnya” [3]

Kedua, tidak mengharap hasil duniawi

Hendaknya ia dalam menghafal Al-Qur’an tidak meniatkan untuk memperoleh kenikmatan dunia yang bersifat sementara, baik berupa harta, jabatan, kedudukan yang tinggi, sanjungan manusia, atau semacamnya.

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagiapun di akhirat,” (QS. Asy-Syura: 20).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

من طلب عِلمًا ممَّا يبتغي به وجهَ اللهِ تعالَى ليُصيبَ به عرَضًا من الدُّنيا لم يجِدْ عرْفَ الجنَّةِ

Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya diniatkan mengharap melihat wajah Allah Ta’ala, akan tetapi ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan salah satu kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium semerbak wangi surga pada Hari Kiamat.” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih) [4]

Ketiga, menghiasi diri dengan akhlak terpuji

Seorang penghafal Al-Qur’an seyogyanya menghiasi diri dengan kebaikan-kebaikan yang dituntunkan oleh syariat dan senantiasa berusaha mengamalkan ayat-ayat yang telah dihafalnya sehingga menjadikan Al-Qur’an, As-Sunnah dan hukum islam sebagai petunjuknya pada setiap akhlak yang baik dan terpuji. Beberapa contoh akhlak terpuji tersebut adalah:

  1. Senantiasa bertakwa kepada Allah saat sendirian ataupun di tengah keramaian, dengan bersikap zuhud dan wara’ dalam hal makanan, minuman, pakaian, penghasilan.
  2. Membiasakan diri untuk senantiasa berbakti pada kedua orangtuanya. Mendermakan hartanya untuk kedua orangtuanya, bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada keduanya.
  3. Menjaga lisan dan berhati-hati dalam tutur katanya. Apabila berbicara dilandasi dengan ilmu pun ketika diam dilandasi dengan ilmu dan sedikit bicara dalam hal yang tidak bermanfaat.
  4. Sedikit tertawa dan bercanda dari apa yang ditertawakan oleh manusia, disebabkan buruknya banyak tertawa dan bercanda dan takut jatuh dalam kesia-siaan.
  5. Tawadhu’, tidak membicarakan aib, merendahkan, dan mencaci seorang pun, tidak berbuat zhalim, tidak iri dengki dan berburuk sangka pada siapa pun kecuali pada orang yang pantas menerimanya.
  6. Tidak melakukan perbuatan jahil kepada seorang pun, apabila dijahili maka dia bersabar dan bermurah hati dan senantiasa memaafkan ketika dizhalimi.
  7. Senantiasa menyambung silaturrahim dan membenci pemutusan tali silaturrahim.
  8. Dia bersahabat dengan orang-orang mukmin dengan landasan ilmu. Orang yang bersahabat dengannya akan mendapatkan manfaat darinya.
  9. Bersikap sopan terhadap gurunya dan senantiasa memperhatikan adab-adab dalam bermajelis
  10. Jika dia mengajar dia bersikap lemah lembut, rendah hati, tidak bersikap keras, memperlakukan murid dengan baik, mendidik muridnya dengan adab mulia, bersemangat ketika mengajar. Orang yang bermajelis dengannya akan merasa senang dan selalu mendatangkan kebaikan.

[bersambung]
**
Penulis: Shofrida Afifah Azizah & Hilda Aziza Mayadah

Catatan kaki
[1] Kitab Akhlaq Hamalat Qur’an, halaman 63
[2] HR. Bukhari di beberapa tempat dalam Shahih-nya ; Muslim (1515-1516) no. 1907; Abu Dawud (II/651-6552) no. 2201; Nasa’I (I/58-59); Tirmdzi (IV/154) no. 1647; serta Ibnu Majah no. 4427; Ahmad (I/25, 43). Al Hafizh dalam Al-Fath (I/11) mengatakan: Hadits ini telah disepakati keshahihannya oleh para imam hadits yang sudah masyhur selain Imam Malik.
[3] HR. Ad Darimi dalam Sunan-nya (375)
[4] HR. Abu Daud dalam Al-Ilm (IV/71) no. 3446; Ibnu Majah no. 253; Ahmad (II:338).

Artikel Muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Banner MPD

About Author

Leave a Reply