Donasi Web Donasi Web

Seruan Dari Allah Untuk Semua Manusia

Seruan Dari Allah Untuk Semua Manusia

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (2577), dalam kitab “Al Birr wash Shilah wal Adab”, bab “Haramnya Kezaliman” :

وَعَن أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ عَنِ النَّبِيِّ صَ اللَّهُ عَلَيهِ وَ سَلَم فِيمَا يَروِيهِ عَن رَبِّهِ، قَالَ: “يَا عِبَادِي إِنِّ حَرَّمتُ الظُلمَ عَلَى نَفسِي، وَجَعَلتُهُ بَينَكُم مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا…”

Dari Abi Dzar rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam apa yang Nabi riwayatkan dari Rabbnya (hadits qudsi), Allah berfirman: “Wahai hamba-Ku, sesungguuhnya Aku haramkan kezaliman atas Diriku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah saling menzalimi”

Hadits yang agung dan panjang namun dicukupkan oleh penulis dalam satu kalimat saja. Hadits dari Abu Dzar yang terkenal diriwayatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Rabbnya. Dan adalah Abu Muslim Al-Khauali rahimahullah apabila membaca dan menyampaikan hadits ini beliau duduk dengan bertekuk lutut dalam rangka takut kepada Allah ta’ala.

Allah Tidak Menzalimi Hamba-Nya

Pada kalimat, “Allah berfirman” merupakan penetapan bahwa Allah ta’ala bisa berbicara. Sesungguhnya Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku”, ini adalah seruan dari Allah untuk semua manusia. Makna dari kalimat, “Sesungguhnya Aku haramkan kezaliman atas Diriku” adalah Allah mencegah dan membersihkan diri-Nya dari kezhaliman serta menolak untuk berbuat zalim padahal Allah mampu melakukannya. Allah mampu melakukan segala sesuatu akan tetapi Allah menghalangi diri-Nya untuk berbuat kezaliman karena kezaliman merupakan suatu aib (sifat kekurangan) dan Allah tersucikan dari aib.

Hadits ini adalah dalil bahwasanya Allah mampu berbuat zalim terhadap hamba-hamba-Nya namun Allah tidak ingin berbuat zalim. Maka Allah menegaskan hal tersebut untuk menunjukkan betapa adilnya Allah.
Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan Rabbmu tidaklah zalim kepada siapapun” (Q.S Al-Kahfi: 49).

وَمَا رَبُّكَ بِظُلاَّمٍ لِلعَبِيدِ

Dan Rabbmu sama sekali tidak berbuat zalim pada hamba-hamba-Nya” (Q.S Fushshilat: 46).

Meskipun kata zhullam adalah sighah mubalaghah (makna hiperbola) sehingga zhullamin bermakna sangat zalim, namun makna ayat bukanlah “Allah tidaklah berbuat sedikit zalim pada hamba-hamba-Nya” melainkan makna yang tepat adalah zalim sehingga makna yang tepat adalah “Dan Rabbmu sama sekali tidak berbuat zalim pada hamba-hamba-Nya”. Allah Ta’ala berfirman,

لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۚ

Tidak ada kezaliman hari ini” (Q.S Ghafir: 17).

Pengertian dan Macam-macam Kezaliman

Maka Allah tidak zalim pada siapapun padahal Allah mampu berbuat zalim. Zalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.

الظلم ثلاثة: فظلم لا يتركه الله، و ظلم يغفر، وظلم لا يغفر، و أما الظلم الذي لا يغفرفا الشرك لا يغفر الله، و أما الظلم الذي يغفر فظلم العبد فيما بينه و بين ربه، و أما الظلم الذي لا يترك فظلم العبد فيقتص الله بعضهم من بعد

Kezaliman ada tiga macam yaitu kezaliman yang tidak akan Allah biarkan, kezaliman yang diampuni dan tidak diampuni. Kezaliman yang tidak diampuni adalah syirik, Allah tidak mengampuni kemusyrikan. Kezaliman yang diampuni adalah kezaliman terkait hamba dan hak Rabbnya. Kezaliman yang tidak Allah biarkan adalah kezaliman antara hamba dengan hamba Allah akan kisas sebagian dengan yang lain (HR. Abu Daud At-Thalisi dalam musnadnya no. 2223, Abu Nu’aim di dalam Hilyah (6/309) dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah no. 1927).

Zalim ada tiga macam:

1. Zalim antara hamba dengan Rabbnya dan ini adalah syirik. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya kemusyrikan adalah kezaliman yang besar” (Q.S Luqman: 13).

2. Zalim antara hamba dengan hamba yakni atta’addi (melampau batas terhadap orang lain). Atta’addi mencakup tiga hal, yakni melampau batas terhadap;
a.  Harta orang lain dengan mencuri, merampok, mengambil haknya.
b.  Darah orang lain dengan memukuli, melukai bahkan membunuh.
C.  Nama baik dan kehormatan orang lain dengan mencaci maki, ghibah, menggunjing dan yang lain.

3. Zalim terhadap diri sendiri, dengan bermaksiat dan melakukan keburukan. Zalim jenis ini hukumnya haram dan termasuk salah satu dosa besar.

Kalimat “Aku haramkan kezaliman atas Diriku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian”, merupakan larangan zalim terhadap sesama manusia. Kalimat “Maka janganlah saling menzalimi” adalah taukid (penegasan) untuk kalimat “Dan Aku menjadikannya haram di antara kalian”. Zalim buruk secara syariat dan akal sehat. Orang yang berbuat kezaliman diancam dengan azab.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا

Sungguh menyesal orang yang memikul kezaliman” (Q.S Thaha: 111).

Wallahu a’lam.

***

Penulis: Atma Beauty Muslimawati

Lihat Juga: Keadilan Tertinggi di Jagat Raya

Referensi:

  • Ithaful Kiram Syarah Kitabul Jami’ min Bulughul Maram hlm 171-172, Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan, 1436H/2015, Dar Qurthuba, Beirut
  • Rekaman Ithaful Kiram Syarah Kitabul Jami’ min Bulughul Maram Pertemuan ke-11 menit ke 15:49-21:15 (https://archive.org/details/UstAris-IthafulKiram/Ithaful+Kiram+Syarah+Kitabul+Jami’+min+Bulughul+Maram+-+20190516+11.mp3)
  • https://quran.com

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Banner MPD

About Author

Leave a Reply