Donasi Web Donasi Web

Seuntai Hikmah Doa Nabi Ayyub ‘alaihissalam

Seuntai Hikmah Doa Nabi Ayyub ‘alaihissalam

Doa adalah untaian kata yang terangkai indah penuh makna, terangkat tinggi nan mulia karena keutamaan-Nya, terangkai harapan yang besar di dalamnya, menjadi teman tatkala sendiri, menjadi pelipur lara tatkala berduka, menjadi perisai tatkala musuh mengintai.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz ibn Muhammad ibn ‘Abdillah as-Sadhan pernah menuturkan, “Doa -dengan keutamaan dari Allah- akan membukakan sesuatu yang tertutup, mendekatkan sesuatu yang jauh, mengumpulkan sesuatu yang terpisah, dan memudahkan sesuatu yang sulit ….” (Ya Thalibal ‘ilmi, Kaifa Tahfadzu, Kaifa Taqra`u, Kaifa Tafhamu, hlm. 7).

Al-Imam Ahmad berkata dalam kitab az-Zuhd, dari Qatadah dia berkata, Muwarriq rahimahullah berkata, “Aku tidak mendapati bagi seorang mukmin permisalan kecuali seperti seorang laki-laki di tengah lautan berada di atas sebilah papan. Maka dia berdoa, ‘Ya Rabb … ya Rabb …’ dengan harapan Allah menyelamatkannya.” (Fiqih Doa dan Dzikir jilid 1, hlm. 397).

Keutamaan Doa

Syaikh ‘Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr hafizahullah pernah mengatakan bahwa doa adalah perkara besar dan memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama Islam karena ia adalah ibadah yang paling mulia, ketaatan yang paling agung, dan taqarrub yang paling bermanfaat. Bahkan, sungguh Allah Ta’ala telah memulai dan mengakhiri kitab-Nya dengan doa. Doa adalah asas peribadatan dan ruhnya, tanda penghinaan, ketundukan, luluhnya hati di hadapan Rabb, dan menampakkan kebutuhan kepada-Nya (Fiqih Doa dan Dzikir jilid 1, hlm. 383).

Oleh karena itu, seorang hamba setiap kali bertambah besar pengetahuannya tentang Allah dan semakin menguat hubungannya dengan-Nya maka doanya pun akan semakin besar dan luluhnya hati di hadapan-Nya semakin bertambah. Oleh karena itu, para nabi Allah dan rasul-Nya adalah manusia-manusia yang paling hebat dalam merealisasikan doa dan menegakkannya dalam segala kondisi dan keadaan mereka. Allah Ta’ala telah memuji mereka karena hal itu dalam Al-Qur`an al-Karim, seraya disebutkan sejumlah doa-doa mereka dalam kondisi yang berbeda-beda dan situasi yang bermacam-macam. (Fiqih Doa dan Dzikir jilid 1, hlm. 385)

Allah Ta’ala berfirman dalam mensifati mereka,

 ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sungguh mereka bersegera kepada kebaikan-kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya` : 90)

Kedudukan Doa Para Nabi

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ al-Fatawa berkata, “Sepantasnya bagi manusia untuk berdoa dengan doa-doa syar`i yang disebutkan dalam Al-Kitab dan as-Sunnah karena doa-doa ini tidak diragukan lagi keutamaannya dan kebagusannya, dan itulah jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Allah beri nikmat atas mereka, yaitu para nabi, para shiddiq, para syuhada, dan orang-orang shalih.” (Fiqih Doa dan Dzikir jilid 2, hlm. 395)

Allah Ta’ala telah menyebutkan contoh-contoh yang banyak dari doa-doa para nabi dan utusan, munajat mereka kepada Rabb mereka, tawasul mereka, ketergesaan mereka kepada-Nya, keluluhan mereka di hadapan-Nya. Kehinaan mereka, ketundukan mereka, rasa harap dan takut mereka, kesempurnaan adab mereka dalam munajat, serta kerendahan mereka dan doa-doa mereka. (Fiqih Doa dan Dzikir jilid 2, hlm. 405)

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sungguh telah ada pada kisah-kisah mereka pelajaran bagi orang-orang berakal. Bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi pembenaran bagi yang sebelumnya dan perincian segala sesuatu. Petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf : 111)

Doa Nabi Ayyub ‘alaihissalam

Beliau, Nabi Ayyub ‘alaihissalam, Nabi yang Allah muliakan kedudukannya karena kesabarannya lagi mengharap pahala atas musibah yang menimpanya. Cobaan besar yang menimpa badannya, keluarganya, dan hartanya, hingga apa yang menimpa dirinya dijadikan permisalan untuk semua jenis cobaan. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Dan Ayyub ketika dia berseru kepada Rabbnya, sungguh aku ditimpa mudharat dan Engkau Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Al-Anbiya` : 83)

Dalam penuturan tersebut, terdapat pujian agung kepada hamba Allah dan rasul-Nya, Ayyub ‘alaihissalam, ketinggian kedudukannya ketika diuji Allah dengan cobaan berat, namun Dia mendapatinya bersabar lagi mengharap pahala. Beliau tawasul kepada Allah dengan mengabarkan keadaan dirinya, bahwa mudharat telah mencapai tingkat sangat tinggi dan dengan rahmat-Nya yang luas, dia pun menyeru Rabbnya, “Sungguh aku ditimpa mudharat dan Engkau Maha Penyayang di antara para penyayang.”.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab al-Fawa`id berkata, “Beliau -yakni Ayyub ‘alaihissalam– telah mengumpulkan dalam doa ini antara hakikat tauhid dan menampakkan kefakiran serta kebutuhan kepada Rabbnya, dengan adanya kecintaan yang besar padanya, pengakuan untuknya tentang sifat pengasih dan Dia Maha Pengasih di antara para pengasih, serta bertawasul kepada-Nya dengan sifat-sifat-Nya, besar kebutuhannya, dan kefakirannya. Kapan orang ditimpa cobaan mendapatkan hal ini niscaya disingkap darinya cobaannya.” (Fiqih Doa dan Dzikir jilid 2, hlm. 481)

Kemudian, Allah mengabulkan doanya. Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ

Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang beribadah.” (QS. Al-Anbiya` : 84)

Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan cara penyingkapan mudharat dari Nabi Ayyub ‘alaihissalam, Dia memerintahkannya menghentakkan kakinya, sebagaimana firman-Nya,

ارْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

Hentakkanlah kakimu, ini tempat mandi yang sejuk dan minuman.” (QS. Shad : 42)

Berkaitan dengan maksud ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab al-Bidayah wannihayah berkata, “Yakni pukullah tanah dengan kakimu, maka beliau melaksanakan apa yang diperintahkan padanya sehingga Allah memancarkan baginya mata air yang sejuk, dan diperintah untuk mandi dan minum darinya. Seketika itu, Allah menghilangkan darinya apa yang menimpanya dari kepedihan, gangguan, penyakit, dan sakit yang ada di badannya, baik lahir maupun batin. Lalu Allah menggantikannya sesudah semua itu dengan kesehatan lahir batin, keindahan sempurna, dan harta yang banyak. Hingga dicurahkan untuknya berupa harta bagaikan curahan hujan besar hingga belalang dari emas.

Allah pun menggantikan untuknya keluarganya. Sebagaimana firman-Nya, ‘Dan Kami memberinya keluarga dan yang sepertinya bersama mereka.’ Sebagian berkata, ‘Allah menghidupkan kembali anak-anaknya.’ Sebagian lagi berkata, ‘Allah memberinya pahala atas kematian anak-anaknya yang terdahulu, lalu menggantikan mereka untuknya di dunia dan dikumpulkan keuarganya seluruhnya di akhirat. Adapun lafadz, ‘Sebagai rahmat dari sisi Kami,’ yakni Kami angkat kesulitan darinya,’ Maka Kami singkap apa yang menimpanya dari mudharat,sebagai rahmat dari Kami terhadapnya dan kasih sayang serta kebaikan,Dan peringatan bagi orang-orang beribadah,’ yakni peringatan bagi siapa yang diuji pada badannya atau hartanya atau anaknya, maka baginya teladan pada nabi Allah, Ayyub ‘alaihissalam, dimana Allah mengujinya dengan apa yang lebih besar daripada itu, namun beliau bersabar dan mengharapkan pahala hingga Allah memberi kelapangan baginya.”

Lihatlah, bagaimana iman itu menghujam kuat dalam hati Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Iman yang meringankan musibah berat yang menerpa. Iman yang senantiasa tumbuh berbalut ilmu tentang Rabbnya Yang Maha Penyayang. Iman yang terus terpupuk hingga didatangkan kebahagiaan sebagai balasan atas kesabaran. Bagaimana dengan kita? Bagaimana kesabaran kita dibanding kesabaran Nabi Ayyub ‘alaihissalam? Bagaimana beratnya cobaan kita dengan cobaan Nabi Ayyub ‘alaihissalam? Jauh dan sangatlah jauh, karena cobaan beliau lebih keras dan semata-mata dengan taufik dari Allah, beliau mampu melewatinya. Beliau jadikan Rabbnya sebagai satu-satunya tempat bersandar dari segala kelemahan dan ketidakberdayaannya. Beliau bersegera menuju kebaikan-kebaikan dan mengembalikan seluruh urusan kepada Rabbnya. Beliau berdoa dengan mengiba dan penuh harap tatkala ditimpakan cobaan. Maka ingatlah bahwa seorang mukmin akan senantiasa mendapati cobaan di dunia ini.

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai rasulullah, manusia mana yang lebih keras cobaannya?’ Beliau bersabda,

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاص رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ , أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً ؟ قَالَ : الأَنْبِيَاءُ , ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ , فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ , فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاؤُهُ , وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ , فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ . صَحَّحَهُ الأَلْبَانِي فِي السِّلْسِلَةِ الصَّحِيْحَةِ

Para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang lebih utama, lalu yang lebih rendah darinya. Seseorang diuji sesuai agamanya. Jika pada agamanya ada kekokohan maka ditambahkan pada cobaannya, dan jika pada agamanya ada kelemahan maka diringankan darinya, dan cobaan senantiasa menimpa seorang hamba hingga dia berjalan di muka bumi dan tidak ada atasnya kesalahan. “ (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah

Sesungguhnya kebutuhan seorang mukmin terhadap doa sangat besar dalam setiap urusannya. Oleh karena itu, jangan engkau menjadi manusia yang lemah karena tak mampu berdoa. Jangan engkau menjadi manusia yang takabur karena enggan berdoa. Jangan membuat Dia marah karena engkau tak mau berdoa. Padahal Rabbmu Yang Maha Lembut lagi Maha Pengasih telah berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku niscaya aku akan mengabulkan untukmu. Sesungguhnya mereka yang takabur dari beribadah kepadaku, niscaya mereka akan masuk jahannam dalam keadaan terhina.’” (QS. Ghafir : 60)

Demikian hikmah yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan taufik-Nya kepada kita untuk meneladani keluhuran akhlak para nabi. Semoga bermanfaat. Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Penulis : Lilis Mustikaningrum

Referensi:

  1. Fiqih Doa dan Dzikir jilid 1 dan 2 (terjemahan), Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr, 2016, Griya Ilmu: Jakarta.
  2. Al-Qur`an al-Karim (terjemahan).
  3. Ya Thalibal ‘ilmi, Kaifa Tahfadzu, Kaifa Taqra`u, Kaifa Tafhamu, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz ibn Muhammad ibn ‘Abdillah as-Sadhan, 2009.

Doa adalah untaian kata yang terangkai indah penuh makna, terangkat tinggi nan mulia karena keutamaan-Nya, terangkai harapan yang besar di dalamnya, menjadi teman tatkala sendiri, menjadi pelipur lara tatkala berduka, menjadi perisai tatkala musuh mengintai.

Seuntai Hikmah Doa Nabi Ayyub ‘alaihissalam

Doa adalah untaian kata yang terangkai indah penuh makna, terangkat tinggi nan mulia karena keutamaan-Nya, terangkai harapan yang besar di dalamnya, menjadi teman tatkala sendiri, menjadi pelipur lara tatkala berduka, menjadi perisai tatkala musuh mengintai.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz ibn Muhammad ibn ‘Abdillah as-Sadhan pernah menuturkan, “Doa -dengan keutamaan dari Allah- akan membukakan sesuatu yang tertutup, mendekatkan sesuatu yang jauh, mengumpulkan sesuatu yang terpisah, dan memudahkan sesuatu yang sulit ….” (Ya Thalibal ‘ilmi, Kaifa Tahfadzu, Kaifa Taqra`u, Kaifa Tafhamu, hlm. 7).

Al-Imam Ahmad berkata dalam kitab az-Zuhd, dari Qatadah dia berkata, Muwarriq rahimahullah berkata, “Aku tidak mendapati bagi seorang mukmin permisalan kecuali seperti seorang laki-laki di tengah lautan berada di atas sebilah papan. Maka dia berdoa, ‘Ya Rabb … ya Rabb …’ dengan harapan Allah menyelamatkannya.” (Fiqih Doa dan Dzikir jilid 1, hlm. 397).

Keutamaan Doa

Syaikh ‘Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr hafizahullah pernah mengatakan bahwa doa adalah perkara besar dan memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama Islam karena ia adalah ibadah yang paling mulia, ketaatan yang paling agung, dan taqarrub yang paling bermanfaat. Bahkan, sungguh Allah Ta’ala telah memulai dan mengakhiri kitab-Nya dengan doa. Doa adalah asas peribadatan dan ruhnya, tanda penghinaan, ketundukan, luluhnya hati di hadapan Rabb, dan menampakkan kebutuhan kepada-Nya (Fiqih Doa dan Dzikir jilid 1, hlm. 383).

Oleh karena itu, seorang hamba setiap kali bertambah besar pengetahuannya tentang Allah dan semakin menguat hubungannya dengan-Nya maka doanya pun akan semakin besar dan luluhnya hati di hadapan-Nya semakin bertambah. Oleh karena itu, para nabi Allah dan rasul-Nya adalah manusia-manusia yang paling hebat dalam merealisasikan doa dan menegakkannya dalam segala kondisi dan keadaan mereka. Allah Ta’ala telah memuji mereka karena hal itu dalam Al-Qur`an al-Karim, seraya disebutkan sejumlah doa-doa mereka dalam kondisi yang berbeda-beda dan situasi yang bermacam-macam. (Fiqih Doa dan Dzikir jilid 1, hlm. 385)

Allah Ta’ala berfirman dalam mensifati mereka,

 ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sungguh mereka bersegera kepada kebaikan-kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya` : 90)

Kedudukan Doa Para Nabi

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ al-Fatawa berkata, “Sepantasnya bagi manusia untuk berdoa dengan doa-doa syar`i yang disebutkan dalam Al-Kitab dan as-Sunnah karena doa-doa ini tidak diragukan lagi keutamaannya dan kebagusannya, dan itulah jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Allah beri nikmat atas mereka, yaitu para nabi, para shiddiq, para syuhada, dan orang-orang shalih.” (Fiqih Doa dan Dzikir jilid 2, hlm. 395)

Allah Ta’ala telah menyebutkan contoh-contoh yang banyak dari doa-doa para nabi dan utusan, munajat mereka kepada Rabb mereka, tawasul mereka, ketergesaan mereka kepada-Nya, keluluhan mereka di hadapan-Nya. Kehinaan mereka, ketundukan mereka, rasa harap dan takut mereka, kesempurnaan adab mereka dalam munajat, serta kerendahan mereka dan doa-doa mereka. (Fiqih Doa dan Dzikir jilid 2, hlm. 405)

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sungguh telah ada pada kisah-kisah mereka pelajaran bagi orang-orang berakal. Bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi pembenaran bagi yang sebelumnya dan perincian segala sesuatu. Petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf : 111)

Doa Nabi Ayyub ‘alaihissalam

Beliau, Nabi Ayyub ‘alaihissalam, Nabi yang Allah muliakan kedudukannya karena kesabarannya lagi mengharap pahala atas musibah yang menimpanya. Cobaan besar yang menimpa badannya, keluarganya, dan hartanya, hingga apa yang menimpa dirinya dijadikan permisalan untuk semua jenis cobaan. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Dan Ayyub ketika dia berseru kepada Rabbnya, sungguh aku ditimpa mudharat dan Engkau Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Al-Anbiya` : 83)

Dalam penuturan tersebut, terdapat pujian agung kepada hamba Allah dan rasul-Nya, Ayyub ‘alaihissalam, ketinggian kedudukannya ketika diuji Allah dengan cobaan berat, namun Dia mendapatinya bersabar lagi mengharap pahala. Beliau tawasul kepada Allah dengan mengabarkan keadaan dirinya, bahwa mudharat telah mencapai tingkat sangat tinggi dan dengan rahmat-Nya yang luas, dia pun menyeru Rabbnya, “Sungguh aku ditimpa mudharat dan Engkau Maha Penyayang di antara para penyayang.”.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab al-Fawa`id berkata, “Beliau -yakni Ayyub ‘alaihissalam– telah mengumpulkan dalam doa ini antara hakikat tauhid dan menampakkan kefakiran serta kebutuhan kepada Rabbnya, dengan adanya kecintaan yang besar padanya, pengakuan untuknya tentang sifat pengasih dan Dia Maha Pengasih di antara para pengasih, serta bertawasul kepada-Nya dengan sifat-sifat-Nya, besar kebutuhannya, dan kefakirannya. Kapan orang ditimpa cobaan mendapatkan hal ini niscaya disingkap darinya cobaannya.” (Fiqih Doa dan Dzikir jilid 2, hlm. 481)

Kemudian, Allah mengabulkan doanya. Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ

Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang beribadah.” (QS. Al-Anbiya` : 84)

Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan cara penyingkapan mudharat dari Nabi Ayyub ‘alaihissalam, Dia memerintahkannya menghentakkan kakinya, sebagaimana firman-Nya,

ارْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

Hentakkanlah kakimu, ini tempat mandi yang sejuk dan minuman.” (QS. Shad : 42)

Berkaitan dengan maksud ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab al-Bidayah wannihayah berkata, “Yakni pukullah tanah dengan kakimu, maka beliau melaksanakan apa yang diperintahkan padanya sehingga Allah memancarkan baginya mata air yang sejuk, dan diperintah untuk mandi dan minum darinya. Seketika itu, Allah menghilangkan darinya apa yang menimpanya dari kepedihan, gangguan, penyakit, dan sakit yang ada di badannya, baik lahir maupun batin. Lalu Allah menggantikannya sesudah semua itu dengan kesehatan lahir batin, keindahan sempurna, dan harta yang banyak. Hingga dicurahkan untuknya berupa harta bagaikan curahan hujan besar hingga belalang dari emas.

Allah pun menggantikan untuknya keluarganya. Sebagaimana firman-Nya, ‘Dan Kami memberinya keluarga dan yang sepertinya bersama mereka.’ Sebagian berkata, ‘Allah menghidupkan kembali anak-anaknya.’ Sebagian lagi berkata, ‘Allah memberinya pahala atas kematian anak-anaknya yang terdahulu, lalu menggantikan mereka untuknya di dunia dan dikumpulkan keuarganya seluruhnya di akhirat. Adapun lafadz, ‘Sebagai rahmat dari sisi Kami,’ yakni Kami angkat kesulitan darinya,’ Maka Kami singkap apa yang menimpanya dari mudharat,sebagai rahmat dari Kami terhadapnya dan kasih sayang serta kebaikan,Dan peringatan bagi orang-orang beribadah,’ yakni peringatan bagi siapa yang diuji pada badannya atau hartanya atau anaknya, maka baginya teladan pada nabi Allah, Ayyub ‘alaihissalam, dimana Allah mengujinya dengan apa yang lebih besar daripada itu, namun beliau bersabar dan mengharapkan pahala hingga Allah memberi kelapangan baginya.”

Lihatlah, bagaimana iman itu menghujam kuat dalam hati Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Iman yang meringankan musibah berat yang menerpa. Iman yang senantiasa tumbuh berbalut ilmu tentang Rabbnya Yang Maha Penyayang. Iman yang terus terpupuk hingga didatangkan kebahagiaan sebagai balasan atas kesabaran. Bagaimana dengan kita? Bagaimana kesabaran kita dibanding kesabaran Nabi Ayyub ‘alaihissalam? Bagaimana beratnya cobaan kita dengan cobaan Nabi Ayyub ‘alaihissalam? Jauh dan sangatlah jauh, karena cobaan beliau lebih keras dan semata-mata dengan taufik dari Allah, beliau mampu melewatinya. Beliau jadikan Rabbnya sebagai satu-satunya tempat bersandar dari segala kelemahan dan ketidakberdayaannya. Beliau bersegera menuju kebaikan-kebaikan dan mengembalikan seluruh urusan kepada Rabbnya. Beliau berdoa dengan mengiba dan penuh harap tatkala ditimpakan cobaan. Maka ingatlah bahwa seorang mukmin akan senantiasa mendapati cobaan di dunia ini.

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai rasulullah, manusia mana yang lebih keras cobaannya?’ Beliau bersabda,

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاص رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ , أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً ؟ قَالَ : الأَنْبِيَاءُ , ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ , فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ , فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاؤُهُ , وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ , فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ . صَحَّحَهُ الأَلْبَانِي فِي السِّلْسِلَةِ الصَّحِيْحَةِ

Para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang lebih utama, lalu yang lebih rendah darinya. Seseorang diuji sesuai agamanya. Jika pada agamanya ada kekokohan maka ditambahkan pada cobaannya, dan jika pada agamanya ada kelemahan maka diringankan darinya, dan cobaan senantiasa menimpa seorang hamba hingga dia berjalan di muka bumi dan tidak ada atasnya kesalahan. “ (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah

Sesungguhnya kebutuhan seorang mukmin terhadap doa sangat besar dalam setiap urusannya. Oleh karena itu, jangan engkau menjadi manusia yang lemah karena tak mampu berdoa. Jangan engkau menjadi manusia yang takabur karena enggan berdoa. Jangan membuat Dia marah karena engkau tak mau berdoa. Padahal Rabbmu Yang Maha Lembut lagi Maha Pengasih telah berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku niscaya aku akan mengabulkan untukmu. Sesungguhnya mereka yang takabur dari beribadah kepadaku, niscaya mereka akan masuk jahannam dalam keadaan terhina.’” (QS. Ghafir : 60)

Demikian hikmah yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan taufik-Nya kepada kita untuk meneladani keluhuran akhlak para nabi. Semoga bermanfaat. Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Penulis : Lilis Mustikaningrum

Referensi:

  1. Fiqih Doa dan Dzikir jilid 1 dan 2 (terjemahan), Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr, 2016, Griya Ilmu: Jakarta.
  2. Al-Qur`an al-Karim (terjemahan).
  3. Ya Thalibal ‘ilmi, Kaifa Tahfadzu, Kaifa Taqra`u, Kaifa Tafhamu, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz ibn Muhammad ibn ‘Abdillah as-Sadhan, 2009.

Artikel Muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Banner MPD

About Author

Leave a Reply