Donasi Web Donasi Web

Wanita Bercadar Berfoto Selfie (bag. 2): Melepaskan Diri dari Kecanduan Selfie

Wanita Bercadar Berfoto Selfie (bag. 2): Melepaskan Diri dari Kecanduan Selfie

Artikel ini merupakan bagian kedua dari artikel berjudul “Wanita Bercadar Berfoto Selfie”. Setelah membahas tentang kebiasaan selfie yang dilakukan sebagian muslimah dan kemungkaran yang ditimbulkan, artikel kedua ini akan memberikan sebagian solusi dan tips untuk saudari-saudariku yang hendak melepaskan diri dari kebiasan selfie di sosial media. Semoga Allah memberikan taufiq-Nya sehingga memudahkan niat baik saudari-saudari sekalian.

Nasehat kami untuk yang sudah ‘terlanjur’ tersebar foto-fotonya, baik bercadar atau bukan, berhijab, lebih-lebih bagi yang belum menutup auratnya dengan sempurna:

Pertama, bertaqwalah kepada Allah

Sebaik-baik nasehat adalah nasehat taqwa, agar engkau menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana seluruh perintah dan laragan Allah telah Dia jelaskan kepada manusia melalui Rasul-Nya yang mulia.

Kedua, luruskan niat dan mulai berbenah

Niat yang ikhlas dan ittiba kepada Rasul-Nya adalah syarat diterimanya amal. Amal yang ikhlas hanya untuk-Nya tidak diterima jika tidak sesuai dengan contoh dari Rasulullah, sedangkan amal yang sesuai teladan Rasul, tidak diterima jika niatnya bukan karena Allah. Maka kami mewasiatkan kepada diri kami sendiri kemudian saudariku sekalian agar kita luruskan niat kita dalam berhijab sehingga manfaat hijab bisa kita capai. Kemudian, perhatikan rambu-rambu syariat agar hijab kita sesuai tuntunan Rasulullah.

Ketiga, hapus saja! akan Allah ganti

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5/363, Syaikh Syuaib al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Ganti yang Allah berikan beragam. Akan tetapi, ganti yang lebih besar yang diberi adalah kecintaan dan kerinduan kepada Allah, ketenangan hati, keadaan yang terus mendapatkan kekuatan, terus memiliki semangat hidup , juga kebanggan diri serta ridha terhadap Allah Ta’ala. (Al-Fawaid hal. 166).

Keempat, memahami dari esensi, bukan nama

Ketika kita memutuskan untuk hijrah, mari kita pandang hijrah dari esensinya, yaitu hijrah dari aqidah yang menyimpang, menuju aqidah yang lurus. Hijrah dari kebodohan menuju cahaya ilmu. Jika sebelum dan setelah bercadar, tetap pada hobi berselfie ria, maka kita belum hijrah kepada esensi hijab untuk menutup, kita hanya mengubah nama dengan esensi yang sama (yaitu): ingin tampil.

Kelima, sibukkan dirimu dengan ilmu

Maka tak ada tempat untuk hal yang tidak bermanfaat. Ibnu Hazm menasehatkan, “Seandainya tidak ada manfaat menuntut ilmu dan sibuk dengan ilmu kecuali untuk memutus berbagai macam was-was (kebingungan) yang membuat badan kurus, dan menjadi tempat berbagai macam angan-angan yang hanya mendatangkan kegalauan dan akan menghilangkan berbagai pikiran yang menyusahkan jiwa, maka alasan ini sudah cukup menjadi dorongan yang paling kuat agar seseorang menyibukkan dirinya dengan ilmu. Lantas bagaimana lagi jika ternyata manfaat menuntut ilmu jauh lebih banyak daripada itu?” (Al-Akhlaq was Siyar fii Mudaawatin Nufuus, hal. 48).

Keenam, pilah-pilih teman duduk

Ada berbagai macam teman yang kita temui. Ada yang berteman hanya karena sekelas, atau karena satu majelis atau karena dekatnya tempat tinggal. Di antara mereka, ada orang-orang yang menjadi teman duduk kita, teman yang biasanya kita ajak ngobrol, diskusi, senang untuk bertemu dan berbagi dengannya. Inilah teman duduk yang disebutkan dalam al-Qur’an

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Az-Zukhruf: 67). Oleh karenanya, Rasulullah bersabda,

لا تصاحب إلا مؤمنا

Janganlah engkau bergaul kecuali dengan seorang mukmin.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Hadits Hasan).

Telah menjadi kaidah umum bahwa teman itu saling mewarnai satu sama lain, baik mewarnai dalam kebaikan, bahkan dalam keburukan.
Nasehat kami, jika saudariku ingin istiqomah untuk tidak selfie lagi, hendaknya meninggalkan teman-teman yang juga hobi selfie jika ternyata mereka tidak rujuk setelah dinasehati. In syaa Allah, digantikan dengan teman yang lebih baik.

Ketujuh, selalu dalam bimbingan ahli ilmu yang berpegang teguh dengan sunnah

‘Amr bin Qais al-Malai pernah berkata,

إن الشباب لينسأ فإن آثر أن يجالس أهل العلم كاد أن يسلم وإن مال إلى غيرهم كاد أن يعطب

Sesungguhnya pemuda itu terus tumbuh. Jika ia dikelilingi oleh orang yang berilmu maka kemungkinan besar ia akan selamat. Dan jika ia condong pada selain orang-orang yang berilmu hampir pasti ia akan rusak.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Bathah dalm Al-Inabah al-Kubra 1/204).

Kedelapan, foto bukan satu-satunya bukti

Jika alasan selfie cadar untuk foto dakwah atau bukti kegiatan dakwah dan semisalnya, maka alasan ini sejatinya sangat lemah, mengingat bukti foto tanpa mahluk bernyawapun masih memungkinkan untuk dilakukan. Kenapa pula wanita yang harus diekspos?

Ingatlah saudariku.. Jalan dakwah hanya satu, yaitu jalan yang ditempuh Rasulullah, dan jangan menyelisihi jalan dakwah beliau. Tidak mungkin kita mewujudkan kebaikan, namun mengorbankan kebaikan yang lebih besar dari itu. Menjadi muslimah yang terjaga izzah dan iffahnya lebih besar kebaikannya, tidak perlu dikorbankan untuk alasan dakwah.

Terakhir, tapi selalu mengiringi. Berdoalah!

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kita doa:

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Ya Allah, yang mengarahkan hati, arahkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu” (HR. Muslim no. 2654 dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash).

Tidak ada ketaatan tanpa kemudahan dan izin Allah, pun tidak ada kemaksiatan kecuali atas kehendak-Nya. Hati manusia ada di antara jari jemari Allah, Allah yang akan membolak-balikkannya antara ketaatan dan kemaksiatan. Maka tidak ada tempat meminta, menyampaikan harapan dan memohon pertolongan kecuali kepada Allah Ta’ala. Dan kami memohon pertongan kepada-Nya agar memperbaiki agama kita dan kaum muslimin, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertaqwa.

Demikian sedikit nasehat sekaligus solusi dan tips dari kami, semoga bermanfaat.

Kota Tepian Air, Jumadal Ula 1440 H

***

Penyusun: Titi Komalasari

Referensi:

  • Al-Akhlaq was Siyar fii Mudaawatin Nufuus, Ibnu Hazm al-Andalusiy, hal. 48, cet. Pertama 1431 H, Maktabah Ibnu Abbas
  • Kumpulan Do’a dari Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, 2015, Cetakan ke-11, Pustaka Imam Syafi’i
  • Meninggalkan Sesuatu Karena Allah, Muhammad Abduh Tuasikal, Rumaysho.com
  • Min Wasyaya Salaf Lis Syabab (terjemahan), Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr

Artikel Muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Banner MPD

About Author

4 Comments

Leave a Reply