Donasi Web Donasi Web

Keindahan Akhlak Seorang Mukmin

Keindahan Akhlak Seorang Mukmin

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ خَيْرًا إِنَّ النَّاسَ لَمْ يُعْطَوْا شَيْئًا

Sesungguhnya manusia tidak pernah diberi sesuatu yang lebih baik daripada akhlak yang baik.” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir I/145. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih al-Jami’ No. 1973)

Perkara akhlak merupakan salah satu pilar Islam dan diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam guna menyempurnakan akhlak manusia. Allah sangat memuji hamba-Nya yang berhias dengan akhlak mulia. Keutamaan lainnya adalah dengan akhlak yang baik akan memperberat timbangan di akhirat sekaligus ia mencapai derajat tinggi sebagaimana orang yang shalat malam dan berpuasa di siang hari dan mukmin yang paling sempurna imannya ialah orang yang paling baik akhlaknya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَثْقَلُ شَيْءٍ فِيْ الْمِيْزَانِ الخُلُقِ الْحَسَنِ

Sesuatu yang paling berat di timbangan adalah akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud no. 4778, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no.270, dan Ibnu Hibban 2/481. Menurut at-Tirmidzi hadits ini hasan shahih)

Dalam hadits lain, beliau bersabda yang maknanya: “Sesungguhnya dengan akhlaknya yang baik, seseorang benar-benar dapat mencapai tingkatan orang yang bangun (shalat) malam dan berpuasa di siang hari.” (HR. Al-Hakim, I/60)

Ketika Sahl at-Tasturi ditanya tentang akhlak yang baik, dia menjawab, ”Yang paling rendah adalah tabah menanggung derita, tidak membalas keburukan dengan keburukan yang sepadan, berbelas kasih dengan orang yang menzalimi, memohonkan ampun untuknya, dan menyayanginya.” (Al-Ihya, 3/57)

Mereka adalah orang-orang yang jauh dari sikap sombong karena sikap tersebut bisa membawa petaka, baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Allah berfirman,

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ ﴿١٤٦

Artinya: “Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda-tanda (kekuasaan-Ku), mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mendustakan ayat – ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya.” (QS. Al-A’raf: 146)

Juga firman-Nya,

الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ أَتٰهُمْ ۗ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ وَعِنْدَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۗ كَذٰلِكَ يَطْبَعُ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ ﴿٣٥

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Sangat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan orang-orang beriman. Demikianlah, Allah mengunci hati setiap orang yang sombong dan berlaku sewenang-wenang.” (QS. Gafir: 35)

Muhammad bin Wasi’, tokoh terpandang dan ahli ibadah berkata: “Kalau saja dosa itu memiliki bau, tentu tidak akan ada orang yang bersedia duduk di dekatku.” (As-Siyar, 6/120, Shifah ash-Shofwah, 3/268).

Subhanallah ... Begitu lembut dan peka hati mereka. Keimanan yang kokoh dan amal saleh yang mereka lakukan tidak membuat mereka sombong dan bangga diri.

Al-Husain bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak ada hati yang dimasuki oleh rasa sombong sedikit pun, kecuali pemahamannya akan terkurangi sesuai dengan rasa sombong yang malu, sedikit ataukah banyak.” (Al-Ihya’, 3/358)

Ayyub as-Sikhtiyani mengatakan: “Ketika orang-orang saleh disebutkan, aku merasa sangat jauh dari mereka.” (Tadzkiroh al-Huffazh, 10/131)

Imam Ahmad berkata: “Aku mohon kepada Allah, semoga Dia menjadikan kami lebih baik dari apa yang disangka orang dan mengampuni dosa kami yang tidak diketahui orang.” (al-Wara’, Imam Ahmad bin Hambal, hlm. 152)

Asy-Syafi’i mengatakan: “Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah yang tidak memandang dirinya memiliki kedudukan. Dan orang yang paling banyak jasanya adalah yang tidak memandang dirinya memiliki jasa.” (As-Siyar, 10/99)

Demikianlah, ungkapan betapa mereka sangat hati-hati dengan prestasi ukhrawi yang tidak mereka raih. Semakin tinggi ilmu yang mereka raih, kian tawadhu’ hati mereka, mereka tebarkan kasih sayang kepada orang lain dan membalas keburukan dengan kebaikan.

Sungguh kisah-kisah mereka penuh hikmah dan cermin. Sering betapa menjadi orang mulia itu perlu terus belajar pula mendidik pribadinya untuk selalu tawadhu’. Dan sebaik-baik orang mukmin adalah sosok yang terus belajar dan beramal dengan berhias akhlak mulia.

 

Referensi

  1. Pendidikan Berbasis Metode Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Syaikh Ahmad Farid, PT. Elba Fitrah MAndiri Sejahtera, Surabaya, 2011.
  2. Majalah Akhwat, Vol. 20 / Tahun IV.

 

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah

Artikel Muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Banner MPD

About Author

Isruwanti Ummu Nashifa

Penulis, penulis buku "Tahukah Anda Seks Obat Awet Muda" (DIVA Press)

View all posts by Isruwanti Ummu Nashifa »

Leave a Reply