Donasi Web Donasi Web

Parenting Islami (32): Memaklumi dan Memahami Dunia Anak Kecil

Parenting Islami (32): Memaklumi dan Memahami Dunia Anak Kecil

Anak-anak dan dunianya memiliki keistimewaan tersendiri. Sungguh ringkas dan jelas sebuah pedoman yang digariskan oleh ibunda orang-orang beriman, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau radhiyallahu ‘anha mengatakan,

فَاقْدِرُوا قَدْرَ الْجَارِيَةِ

Maklumi dunia (kebutuhan) anak kecil.” (HR. Bukhari no. 5190, 5236 dan Muslim no. 892).

Kalimat yang ringkas dan jelas ini menjelaskan kepada kita bahwa anak kecil itu memiliki kekhususan tertentu. Dia memiliki “dunia” sendiri, sudah mulai memahami sesuatu, dan harus diberikan perhatian khusus. Hal ini tentu memiliki perbedaan dengan orang yang sudah dewasa. Oleh sebab itu, anak kecil perlu diberikan perhatian khusus dan perlu didudukkan sesuai tempatnya.

Sehingga anak-anak tidak layak diperlakukan serius, tegang, kaku pada setiap waktu, tidak boleh diberikan beban di luar batas kemampuannya, tidak boleh dicegah dari haknya yang masih suka bermain, hiburan dan senang-senang. Namun di sisi lain, orang tua juga tidak boleh membiarkan anak-anaknya hanya bermain di semua waktunya. Ringkasnya mungkin boleh dikatakan, ‘maklumi (hargai) kebutuhan anak-anak’.

Berikut ini beberapa contoh teladan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memaklumi dunia anak kecil, dan memberikan haknya berupa bermain dan bersenang-senang.

Dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, “Orang Habasyah (orang Afrika berkulit hitam, pen.) masuk masjid dan bermain-main. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku,

يَا حُمَيْرَاءُ أَتُحِبِّينَ أَنْ تَنْظُرِي إِلَيْهِمْ

Wahai Humaira’ (wanita yang berkulit putih, pen.), apakah Engkau ingin untuk melihat mereka (bermain-main)?

Aku menjawab, ‘Iya.’

Rasulullah kemudian berdiri di pintu, lalu aku letakkan daguku di atas pundak beliau dan aku tempelkan wajahku di pipi beliau. Aku (‘Aisyah) berkata, ‘Dan di antara ucapan (senandung) yang mereka (orang Habasyah) katakan adalah “Abul Qasim thayyiban (Abul Qasim yang baik).”’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

حَسْبُكِ

Apakah sudah cukup?’

Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan tergesa-gesa.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata lagi,

حَسْبُكِ

Apakah sudah cukup?’

Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan tergesa-gesa.’

Aku (‘Aisyah) berkata,

وَمَا لِي حُبُّ النَّظَرِ إِلَيْهِمْ، وَلَكِنِّي أَحْبَبْتُ أَنْ يَبْلُغَ النِّسَاءَ مَقَامُهُ لِي وَمَكَانِي مِنْهُ

‘Sebetulnya aku tidak ingin melihat mereka. Akan tetapi, aku ingin agar sampai berita kepada istri-istri Nabi yang lain bagaimana kedudukan (perhatian) Nabi kepadaku dan kedudukanku di hati Nabi.’” (HR. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8902) [1]

Dari hadits ini kita bisa melihat bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian dan meluangkan waktunya untuk ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang ketika itu tentu masih belia. Karena ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, usia ibunda ‘Aisyah baru 18 tahun, sehingga ibunda ‘Aisyah masih suka melihat hiburan atau tontonan.

Dalam riwayat lain ‘Aisyah menceritakan,

لَعِبَتِ الْحَبَشَةَ فَجِئْتُ مِنْ وَرَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَعَلَ يُطَأْطِئُ ظَهْرَهُ حَتَّى أَنْظُرَ

“Sejumlah orang Habasyah bermain-main dan aku mendatangi dari arah belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi menundukkan punggungnya sehingga aku bisa melihat.” (HR. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8906) [2]

Dalam kisah yang lain dengan sanad yang shahih, ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Aku keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebagian safar beliau. Ketika itu aku masih kecil dan belum gemuk. Rasulullah berkata kepada para shahabat,

تَقَدَّمُوا

Kalian jalanlah duluan.’ Sehingga para shahabat pun jalan mendahului Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi berkata kepadaku,

تَعَالَيْ حَتَّى أُسَابِقَكِ

Ayo kita berlomba lari.’

Aku pun melayani ajakan beliau dan aku menang. Beliau pun diam tentangku sampai ketika aku sudah gemuk dan lupa kejadian tersebut, aku pun keluar menemani Nabi dalam sebagian safar beliau. Beliau berkata kepada para sahabatnya,

تَقَدَّمُوا

Kalian jalanlah duluan.’

Sehingga para shahabat pun berjalan mendahului Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi berkata kepadaku,

تَعَالَيْ أُسَابِقُكِ

Ayo kita berlomba lari.’

Aku pun melayani ajakan beliau dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menang. Mulailah beliau tertawa dan berkata,

هَذِهِ بِتِلْكَ

Ini adalah balasan atas lomba yang dulu.’ (HR. Ahmad dalam Al-Musnad 6/264 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8894).

Dalam hadits ini pun kita bisa melihat bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha membangun keakraban dan bercanda dengan istrinya dengan membuat acara main-main dengan mengadakan lomba lari.

Demikian pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain-main dengan anak kecil lainnya. Dari Mahmud bin Rabi’ radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

عَقَلْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ

“Aku masih ingat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa semburan air yang beliau semburkan ke wajahku. Ketika itu aku baru berusia lima tahun dan beliau mengambil air dari ember.” (HR. Bukhari no. 77)

Tentu saja pada zaman itu belum ada pistol air, sehingga beliau menyemprotkan air tersebut ke wajah Mahmud bin Rabi’ dengan menggunakan mulut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikianlah beberapa contoh bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memaklumi dunia anak kecil yang masih butuh bermain, hiburan, dan bercanda sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyempatkan waktu untuk bermain-main dengan mereka. Dan lihatlah, bagaimana di tengah-tengah kesibukan beliau sebagai seorang da’i, kepala negara dan lainnya, beliau masih menyempatkan waktu untuk bermain-main dengan anak kecil.

 

***

Diselesaikan ba’da ashar, Rotterdam NL 29 Shafar 1439/ 19 November 2017

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1] Dinilai shahih oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, 2: 444.

[2] Syaikh Musthafa Al-‘Adawi menyatakan bahwa riwayat status ini hasan (Fiqh Tarbiyatil Abna’, hal. 68)

 

Artikel Muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Banner MPD

About Author

Leave a Reply