Baca pembahasan sebelumnya: Parenting Islami (Bag. 30)
Kedua orang tua disyariโatkan dan bahkan dianjurkan untuk mencium anak-anaknya baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Mencium dan memeluk sang anak memiliki dampak psikologis yang positif bagi anak dan juga membangun kedekatan emosional antara anak dan orang tuanya. Karena hal ini menunjukkan besarnya kasih sayang dan cinta orang tua kepada anaknya.
Ibnu Bathal rahimahullah mengatakan, โ(Orang tua) diperbolehkan mencium anak-anak kecil di bagian anggota tubuhnya yang manapun dan juga untuk anak yang telah besar selama bukan pada auratnya. Inilah pendapat mayoritas ulama.โ (Fathul Bari, 1: 427)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium putranya, Ibrahim radhiyallahu ‘anhu. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu telah mengisahkan,
ุฏูุฎูููููุง ู ูุนู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ุนูููู ุฃูุจูู ุณููููู ุงูููููููู ุ ููููุงูู ุธูุฆูุฑูุง ูุฅูุจูุฑูุงูููู ู ุ ููุฃูุฎูุฐู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ุฅูุจูุฑูุงูููู ู ุ ูููููููุจููู ููุดูู ูููู
โKamiย pergi bersama Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju rumah Abu Saif Al-Qayyin (sang pandai besi).ย Dia ini adalah bapak susu Ibrahim (karena istri Abu Saif menyusui putra Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengambil Ibrahim, lalu menciumnya dengan mulut (bibir) dan hidung beliau.โ (HR. Bukhari no. 1303)
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pun pernah bertutur,
ู ูุง ุฑูุฃูููุชู ุฃูุญูุฏูุง ููุงูู ุฃูุฑูุญูู ู ุจูุงููุนูููุงูู ู ููู ุฑูุณูููู ุงูููููู -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู - – ููุงูู – ููุงูู ุฅูุจูุฑูุงูููู ู ู ูุณูุชูุฑูุถูุนูุง ูููู ููู ุนูููุงููู ุงููู ูุฏููููุฉู ููููุงูู ููููุทููููู ููููุญููู ู ูุนููู ููููุฏูุฎููู ุงููุจูููุชู ููุฅูููููู ููููุฏููุฎููู ููููุงูู ุธูุฆูุฑููู ููููููุง ููููุฃูุฎูุฐููู ููููููุจูููููู ุซูู ูู ููุฑูุฌูุนู. ููุงูู ุนูู ูุฑูู ููููู ููุง ุชูููููููู ุฅูุจูุฑูุงูููู ู ููุงูู ุฑูุณูููู ุงูููููู -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู - : ุฅูููู ุฅูุจูุฑูุงูููู ู ุงุจูููู ููุฅูููููู ู ูุงุชู ููู ุงูุซููุฏููู ููุฅูููู ูููู ููุธูุฆูุฑููููู ุชูููู ูููุงููู ุฑูุถูุงุนููู ููู ุงููุฌููููุฉู
โAku tidak pernah melihat orang yang lebih penyayang kepada anak-anak melebihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dahulu Ibrahim disusukan di suatu daerah yang bernama โIwal Madinah (daerah perbukitan yang letaknya lebih kurang 10 km dari masjid Nabawi, pen.). Suatu hari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi menjenguknya dan kami pun bersama beliau. Lalu beliau masuk ke rumah tersebut dan pada saat itu benar-benar banyak asap sebab suami ibu susu ini adalah seorang pandai besi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil Ibrahim, menciumnya, dan kemudian pulang.
โAmr radhiyallahu ‘anhu mengatakan, โKetika Ibrahim wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, โSesungguhnya Ibrahim adalah putraku. Sesungguhnya dia telah wafat di usia masih disusui (belum genap usia dua tahun dan makanan pokoknya masih ASI, pen.). Sesungguhnya kelak akan ada dua orang (wanita) yang akan menggenapkan susuannya di surga.โ (HR. Muslim no. 2316)
Masih kisah yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda,
ููููุฏู ูููู ุงููููููููุฉู ุบููุงูู ู ููุณูู ููููุชููู ุจูุงุณูู ู ุฃูุจูู ุฅูุจูุฑูุงูููู ู. ุซูู ูู ุฏูููุนููู ุฅูููู ุฃูู ูู ุณููููู ุงู ูุฑูุฃูุฉู ูููููู ููููุงูู ูููู ุฃูุจูู ุณููููู ููุงููุทููููู ููุฃูุชูููู ููุงุชููุจูุนูุชููู ููุงููุชูููููููุง ุฅูููู ุฃูุจูู ุณููููู ูููููู ููููููุฎู ุจููููุฑููู ููุฏู ุงู ูุชููุฃู ุงููุจูููุชู ุฏูุฎูุงููุง ููุฃูุณูุฑูุนูุชู ุงููู ูุดููู ุจููููู ููุฏููู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ููููููุชู ููุง ุฃูุจูุง ุณููููู ุฃูู ูุณููู ุฌูุงุกู ุฑูุณูููู ุงูููููู -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ููุฃูู ูุณููู ููุฏูุนูุง ุงููููุจูููู -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู - ุจูุงูุตููุจูููู ููุถูู ูููู ุฅููููููู ููููุงูู ู ูุง ุดูุงุกู ุงูููููู ุฃููู ููููููู. ููููุงูู ุฃูููุณู ููููุฏู ุฑูุฃูููุชููู ูููููู ูููููุฏู ุจูููููุณููู ุจููููู ููุฏููู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ููุฏูู ูุนูุชู ุนูููููุง ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ููููุงูู : ุชูุฏูู ูุนู ุงููุนููููู ููููุญูุฒููู ุงููููููุจู ูููุงู ููููููู ุฅููุงูู ู ูุง ููุฑูุถูู ุฑูุจููููุง ููุงูููููู ููุง ุฅูุจูุฑูุงูููู ู ุฅููููุง ุจููู ููู ูุญูุฒููููููู
โSuatu malam telah lahir putraku dan aku menamainya dengan nama kakek moyangku, Ibrahimโ. Kemudian beliau menyerahkannya kepada Ummu Saif, istri seorang pandai besi yang nama kunyahnya Abu Saif. Suatu hari, beliau mengunjungi Ibrahim dan kami pun menyertai beliau. Kami pun hampir tiba di rumah Abu Saif. Ketika itu, dia sedang meniup kir (alat pandai besi) sehingga penuhlah rumahnya dengan asap.
Lalu aku (Anas) berjalan lebih cepat untuk mendahului Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata, โWahai Abu Saif, berhentilah meniup kir, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang.โ Lalu dia pun berhenti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta agar didatangkan kepadanya putra beliau. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekapnya, lalu berkata dengan apa yang Allah Taโala inginkan untuk beliau katakan.
Anas berkata, โSungguh aku melihat Ibrahim berada di pelukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat dia meregang nyawanya. Kedua mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berlinang. Lalu beliau berucap, โSesungguhnya air mata telah berlinang dan hati pun sedih. Namun kami tidak mengucapkan kecuali ucapan yang diridhoi Rabb kami. Demi Allah, wahai Ibrahim, sesungguhnya kami benar-benar sedih karenamu.โ (HR. Muslim no. 2315)
Dalam kisah di atas, lihatlah betapa besarnya kasih sayang dan perhatian Nabi shallallahu โalaihi wa sallam kepada anaknya, Ibrahim. Beliau menyempatkan diri berjalan menempuh jarak yang cukup jauh untuk menemui dan mencium anak beliau shallallahu โalaihi wa sallam.
โAisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,
ุฌูุงุกู ุฃูุนูุฑูุงุจูููู ุฅูููู ุงููููุจูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุ ููููุงูู: ุชููุจููููููู ุงูุตููุจูููุงูู ููู ูุง ููููุจููููููู ู ููููุงูู ุงููููุจูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู : ุฃููู ุฃูู ููููู ูููู ุฃููู ููุฒูุนู ุงูููู ู ููู ููููุจููู ุงูุฑููุญูู ูุฉู
โSuatu hari datang seorang Arab badui (yang biasanya kurang memiliki sopan santun, pen.) menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, โKalian mencium anak-anak kalian, sedangkan kami tidak pernah mencium anak-anak kami.โ
Mendengar ucapan itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, โAtaukah aku memiliki apa yang telah Allah cabut dari hatimu berupa sifat kasih sayang (Aku khawatir Allah akan mencabut sifat kasih sayang dari hatimu, pen.).โ (HR. Bukhari no. 5998 dan Muslim no. 2317)
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,
ููุจูููู ุฑูุณูููู ุงูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุ ุงููุญูุณููู ุจููู ุนููููููุ ููุนูููุฏููู ุงูุฃูููุฑูุนู ุจููู ุญูุงุจูุณู ุงูุชููู ููู ูููุ ุฌูุงููุณูุง ููููุงูู ุงูุฃูููุฑูุนู: ุฅูููู ููู ุนูุดูุฑูุฉู ู ููู ุงูููููุฏู ู ูุง ููุจููููุชู ู ูููููู ู ุฃูุญูุฏูุง ููููุธูุฑู ุฅููููููู ุฑูุณูููู ุงูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุ ุซูู ูู ููุงูู: ู ููู ูุงู ููุฑูุญูู ู ูุงู ููุฑูุญูู ู
โRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium cucunya, Al-Hasan bin โAli di dekat Al-Aqraโ bin Haabis At-Tamimi yang sedang duduk. Lalu Al-Aqraโ mengatakan, โSungguh aku memiliki 10 orang anak, namun aku tidak pernah mencium salah seorang pun dari mereka.โ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menatapnya lalu bersabda, โSiapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.โ (HR. Bukhari no. 5997 dan Muslim no. 2318)
Demikian pula Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu pun mencium putrinya, โAisyah radhiyallahu ‘anha.
Al-Barraโ bin โAzib radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa beliau pernah masuk ke rumah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Ketika itu, putrinya (โAisyah) sedang terbaring karena terkena demam. Lalu aku (Al-Barraโ) melihatnya mencium pipi putrinya sambil berucap,
ูููููู ุฃูููุชู ููุง ุจููููููุฉู
โBagaimana kondisimu, wahai putriku (sayang)?โ (HR. Bukhari no. 3817, 3918)
Syaikh Musthafa Al-โAdawi hafizhahullah mengatakan, โPeristiwa ini terjadi di awal-awal hijrah (ke Madinah) dan โAisyah ketika itu belum baligh dan ayat tentang kewajiban hijab pun belum turun pada saat Al-Barraโ masuk ke rumah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu.โ (Fiqh Tarbiyatil Abnaโ, hal. 65)
Cium dan peluklah anak-anak kita โฆ
Tunjukkanlah kalau kita cinta dan sayang kepada mereka โฆ
[Bersambung]
***
Diselesaikan baโda subuh, Sigambal, 15 Shafar 1439/ 4 November 2017
Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim
Artikel Muslimah.or.id




