Parenting Islami (21): Nama sang Anak adalah Gambaran Keadaan Orang Tua (02)

Nama seorang anak merupakan wadah, tanda baginya sekaligus sesuatu yang terikat erat dengannya. Dari nama dapat dinilai keadaan si anak, keadaan orang tua, bahkan keadaan suatu masyarakat

48 0

Syaikh Bakr bin ‘Abdullah Abu Zaid rahimahullah mengatakan dalam kitab Tasmiyatul Maulud (yang kami sampaikan dengan ringkas),

Wahai sekalian muslim, saya ulangi dalam rangka mengingatkan kebenaran. Sesungguhnya nama merupakan tanda bagi orang yang diberi nama. Sebuah buku dibaca dari judulnya. Demikian pula, seorang anak dikenal dari namanya, terkait aqidah dan arah hidupnya. Bahkan dari nama tersebut, diketahui pula aqidah orang yang memberi nama, seberapa jauh ilmu dan pemahamannya. [1]

Nama seorang anak merupakan wadah, tanda baginya sekaligus sesuatu yang terikat erat dengannya. Dari nama dapat dinilai keadaan si anak, keadaan orang tua, bahkan keadaan suatu masyarakat. Dari nama pula dapat diketahui idola seseorang, nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya serta bagaimana akhlaknya. Nama seorang anak menunjukkan keterikatan kuat antara nama dan yang dinamai (anak). Ini merupakan sebuah perkara yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala. Dia ilhamkan pada jiwa para hamba-Nya dan Dia jadikan di hati-hati mereka.

Oleh sebab itulah, sebagian orang jika melihat orang lain, maka mereka akan berimajinasi dengan nama orang tersebut. Dan kebanyakan keadaan orang tersebut sesuai dengan namanya, dalam hal keras dan lembutnya.

Wahai kaum muslimin sekalian, perbaguslah keadaan dirimu, anak-anakmu dan masyarakatmu dengan memilihkan nama yang baik untuk anak-anakmu dalam lafazh dan maknanya. Sesungguhnya baiknya pilihan nama menunjukkan berbagai pesan dan kesan. Pemilihan nama menunjukkan seberapa kuat keterikatan seseorang ayah yang muslim dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, keselamatan pemikirannya dari pengaruh yang dapat memalingkannya dari petunjuk, keistiqamahan dan baiknya dia terhadap anaknya.

Ringkasnya, nama merupakan simbol yang dengannya terungkaplah identitas orang yang memilih nama. Nama juga merupakan tolak ukur, cerminan seberapa dalam wawasan orang yang memberikan nama. Disebutkan dalam sebuah ungkapan populer di masyarakat Arab, “Dari namamu aku mengenal siapa ayahmu.”

Sebuah nama mengaitkan seorang anak dengan syariat dan adab. Seorang anak akan terberkahi dari doa orang yang memanggilnya [2] manakala namanya adalah nama para nabi atau nama orang-orang yang shalih dan bentuk peneladanan terhadap petunjuk salafus shalih. Sehingga nama-nama mereka terjaga, disebutkan sifat-sifat dan karakternya, sehingga akhirnya rangkaian kebaikan tersebut akan terus menerus terikat pada masyarakat dan anak keturunan mereka.

Memilihkan nama yang baik untuk anak dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi jiwa sang anak dengan perasaan dimuliakan dan dihargai. Sehingga ketika dia telah tumbuh dalam usia remaja, menjadi seorang mumayyiz (usia sekitar 5-6 tahun), masa dimana dia akan banyak bertanya, bisa jadi dia akan bertanya kepada kita, “Siapakah orang yang memiliki nama yang sama namanya denganku wahai ayahanda?” “Mengapa ayah pilihkan nama ini untukku?” “Apakah makna namaku ini?”

Ketika sang anak menanyakan hal itu, maka sang ayah pun demikian gembira jika telah memilihkan nama yang terbaik untuk anaknya. Sebaliknya, pada saat itu dia akan berada dalam posisi sulit di hadapan anaknya yang belum baligh tersebut. Pada kondisi demikian, tersingkaplah pengetahuannya yang kurang di hadapan anaknya. Seakan-akan seorang ayah memberikan sebuah pakaian yang asing bagi anaknya dan dia letakkan pada wadah yang tidak sesuai dengannya. Maka ini merupakan penyimpangan dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh benar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

“Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan dalam keadaan fithrah (Islam). Kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2657)

Ringkasnya, nama merupakan sebuah wadah yang di tengah-tengahnya terdapat seorang anak. Jika disebutkan nama seorang anak, dan juga nama ayah dan kakeknya, maka kita akan mendapatkan gambaran pertama tentang si anak tersebut. Jika demikian dampak sebuah nama bagi si anak dan orang tuanya, maka lihatlah apa yang akan menimpa umat ini jika nama yang buruk atau kebarat-baratan menyebar luas di tengah masyarakat kita.

Nama memiliki pengaruh terhadap kehidupan suatu masyarakat, perilaku dan akhlaknya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أجْرُهَا، وَأجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا

“Siapa yang merintis rintisan yang baik sebuah sunnah di dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim no. 1017)

Nama memberikan pandangan yang jelas tentang seberapa jauh gelombang pemikiran dan aqidah (keyakinan) pada suatu masyarakat serta seberapa mundur mereka dari akhlak dan adabnya. [3]

Nama juga menunjukkan seberapa besar berkuasanya budaya non-arab dan budaya asing lainnya yang datang padanya. Hal ini juga menunjukkan seberapa jauh terputusnya rangkaian nasab dari nama-nama yang sesuai syariat. Nama juga menunjukkan seberapa jauh sebuah masyarakat yang dikalahkan dan terjajah oleh sebuah budaya (kebarat-baratan). Karena jiwa terikat kuat dan suka mengikuti dengan bangsa yang mengalahkan dan menjajahnya, sebagaimana seorang budak sangat mengagumi tuannya. [4]

Berdasarkan uraian di atas maka memilihkan nama yang bagus untuk anak merupakan bagian dari kewajiban-kewajiban syariat.

 

***

Rantauprapat, setelah maghrib 28 Syaban 1438/ 24 Mei 2017

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim
Catatan kaki:
[1] Misalnya ada seorang anak bernama Franciskus. Dari nama ini diketahui bahwa si anak ini besar kemungkinan adalah seorang nashrani. Anak yang lain bernama Hudzaifah. Dari nama ini, besar kemungkinan bahwa si anak beragama Islam dan orang tuanya mengenal sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dimikian pula, jika ada anak yang bernama Messi atau Valentino Rossi, maka diketahui pula arahan hidup orang tuanya adalah tergila-gila dengan olah raga sepak bola dan balap motor.

[2] Misalnya, nama seorang anak adalah Umar. Maka sering sekali orang yang mengetahui seorang anak bernama Umar akan mengatakan dan berdoa, Mudah-mudahan Engkau menjadi seperti Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

[3] Ustadz Aris Munandar hafidzahullah menjelaskan bahwa uraian yang disampaikan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah membantah ungkapan sebagian orang apalah artinya sebuah nama. Sebab nama merupakan identitas seseorang, keluarga, dan masyarakat bahkan suatu ummat. Kita dapat membaca model dan keadaan suatu masyarakat secara umum dengan mengetahui nama-nama yang tersebar di kalangan mereka.

[4] Semakin banyak nama kebarat-baratan dan yang tidak berasal dari Islam, menunjukkan bahwa bangsa tersebut telah kehilangan sebagian jati dirinya. Demikian pula, hal tersebut juga menunjukkan bahwa sebuah bangsa mulai kehilangan tokoh yang namanya mampu menginspirasi masyarakatnya. Allahu a’lam.

 

Artikel muslimah.or.id

 

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

Shares