Menjemput Impian

‘Aun bin Abdullah berkata , “Sesungguhnya orang-orang sebelum kita mencukupkan untuk dunianya hanya dengan sisa  kehidupannya untuk akherat mereka, sedangkan kalian mencukupkan untuk akherat kalian hanya dengan sisa …

54 0

‘Aun bin Abdullah berkata ,

“Sesungguhnya orang-orang sebelum kita mencukupkan untuk dunianya hanya dengan sisa  kehidupannya untuk akherat mereka, sedangkan kalian mencukupkan untuk akherat kalian hanya dengan sisa hidup kalian untuk dunia”. (Shifatush Shofwah,  III/ 101).

 

Kebahagiaan Dunia

Apa impian anda hidup di dunia ini? Apakah hanya sekedar mengejar kebahagiaan dunia yang sejatinya sebuah kesenangan yang semu?.

Hari-hari bagi seorang mukmin adalah hari kemarin yang mustahil terulang lagi, atau hari ini yang merupakan anugerah termulia dari Allah untuk  meraih ridho-Nya, ataupun hari esok yang kita tak pernah tahu apakah kita masih bisa menikmatinya.

Kebahagiaan dunia sifatnya nisbi dan akan berakhir, karena dunia tempat persinggahan sementara, bagaikan musafir dalam perjalanan lalu dia berteduh di bawah pohon rindang dan tak lama ia akan pergi berlalu melanjutkan pejalanannya. Dawud Ath-Thoi berkata, “Jadikanlah kehidupan dunia bagaikan satu hari dimana engkau berpuasa lalu berbuka dengan kematian.” (Shifatush Shofwah, III/ 134 ).

Al-Hasan mensifati dunia dengan ungkapannya : Sungguh indah dunia bagi seorang mukmin dia hanya melakukan sedikit amal, tetapi ia adalah bekal menuju surga. Sungguh buruk dunia bagi orang kafir dan munafik, dia menghabiskan malam hanya sebagai bekal yang mengantarkannya ke neraka. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 360 ).

Dari petuah-petuah bijak di atas, betapa dunia dengan segala isinya bisa mengantarkan seorang hamba dalam menjemput impian untuk menggapai surga, akan tetapi ketika ia salah dalam memandang dunia, dunia bisa menjerumuskannya pada siksa neraka.

 

The Power Of Goal.. Akhirat

Seorang mukmin yang memilki keimanan membara, ibarat besi dibakar semakin kokoh, ia akan mengarahkan tujuan puncak hidupnya untuk mengejar impian akhirat. Mencintai kehidupan akhirat adalah pangkal kebahagiaan sejati. Sebagaimana ungkapan dalam syair:

Siapa yang ingin hidup bahagia

Dengan memperhatikan agama dan dengan dunia

yang memihak kepadanya.

 

Maka lihatlah orang yang lebih beradab darinya

Dan lihatlah orang yang lebih miskin

harta dari dirinya

(AdaabudDunyaa wadDiin, hal 81)

Al-Fudhail berkata, “Hari-hari telah berlalu dan menceritakan perjalanannya, kemarin bekerja, sekarang beramal dan besok adalah harapan.”

Muhammad bin Al-Hanafiyyah berkata, “Segala sesuatu yang dicari bukan karena Allah, niscaya akan hancur.”

(Hilyatul Auliyaa’, III / 176 ).

Bercita-citalah anda untuk membangun istana kebahagian abadi di surga. Menyia-nyiakan hidup tanpa keinginan kuat untuk sukses di akhirat akan membuat kita menyesal selamanya.

Ingatlah surga adalah tempat kebahagiaan yang abadi, tak ada kesedihan sedikitpun di dalamnya, maka pantaslah jika hadits tentang kesedihan penduduk surga berikut ini dinyatakan lemah oleh ulama, berikut haditsnya:

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam berpesan, “Penduduk surga tidak bersedih hati karena sesuatu kecuali karena dahulu pernah ada satu saat yang berlalu, tetapi mereka tidak menggunakannya untuk berdzikir kepada Allah.” (HR. Al-Baihaqi dan Ath Thabarani dari Mu’adz bin Jabal, dinilai dhoif oleh Al-Albani).

 

Merindukan Angin Surga

Impian puncak seorang mukmin adalah sukses memasuki surga Allah ‘Azza wa Jalla. Itulah kebahagiaan yang hanya diraih seorang mukmin ketika ia menjalani hidup di dunia dengan selalu menjalankan perintah-Nya.

Surga tidaklah dimasuki kecuali oleh mereka yang memegang kunci-kuncinya, dan hanya dalam rengkuhan Islamlah semua perjuangan serta pengorbanan ada balasannya. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Engkau berharap kesuksesan sementara tidak berjalan pada tempatnya. Sesungguhnya perahu tidak mungkin berlayar di daratan.” (lihat Tafsir Ruhul Ma’ani, Al-Alusy, 4 / 395).

Impian menakjubkan akan dinikmati manakala manusia lebih mengedepankan tujuan ke akhirat dan ridho Allah serta memandang dunia sebagai bekal untuk kebahagiaan abadi. Terlalu tenggelam dalam kebahagiaan dunia akan merusak kehidupan masa depan di surga Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam berpesan, “Demi Allah, aku tidak mengkhawatirkan kemelaratan atas kalian, namun aku khawatir apabila dunia dilimpahkan kepada kalian, seperti yang terjadi pada umat sebelum kalian, maka kalian akan berlomba untuk mendapatkannya, sebagaimana mereka berlomba-lomba dalam hal itu. Dan dunia itu akan merusak kalian sebagaimana merusak mereka.” (shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari, no. 2988 dan Muslim no. 2961 )

Allah Ta’ala telah mengingatkan kita:

وَلَلْأَخِرَةُ أَكْبَرُدَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيْلًا         

“Sesungguhnya kehidupan akhirat itu lebih besar derajat dan keutamaannya.” (QS. Al-Isra’: 21 )

Dunia hanya ada dalam genggaman tangan, sementara akhirat tetap tersemat dan terpatri di hati seorang mukmin yang senantiasa merindukan perjumpaan dengan-Nya di surga.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sungguh dunia semakin habis berlalu dan akhirat semakin mendekat sedangkan keduanya masing-masing mempunyai anak turunan, jadilah kalian anak turunan akhirat dan jangan menjadi anak turunan dunia, karena sekarang kesempatan beramal tanpa ada hisab dan besok hanya ada hisab sementara tidak ada kesempatan beramal.” (Diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Riqoq, Bab Fil Amal wa Thulihi dan Fath al-Bari’, II / 265)

 

***

 

Referensi :

  1. Dunia Kesenangan Yang Semu, Abdul Malik bin Muhammad Al-Qosim, Pustaka Al-Inabah, Jakarta 2012
  2. Tiket Meraih Surga, Syaikh Abdul Malik Al-Qosimi, Syaikh Kholid bin Abdurrahman Ad-Darwis, Maktabah Al-Hanif, 2005
  3. One Heart, Rumah Tangga Satu Hati Satu Langkah, Zainal Abidin bin Syamsuddin, Pustaka Imam Bonjol, 2014

 

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah

Muroja’ah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslimah.Or.Id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

Shares