Menangkap Hati

Menangkap hati bukan berarti hanya diam begitu saja. Bukan berarti tidak memberi nasehat juga mengingatkan. Tetapi kembali untuk introspeksi diri dan juga merenungi kesalahan untuk diperbaiki bersama

152 0

Lewat Mulut Kita Memasukkan Nutris Pentingkah Ego Muslim.or Tajamnya Mata Hati Orang Bertaqwa

Allah Ta’ala dengan kekuasaan-Nya telah menciptakan segala organ dalam tubuh kita, dengan segala kesempurnaan yang dimiliki organ tubuh kita, baik berupa bentuk dan fungsinya. Mata sangat tajam menatap segala benda yang ada di sekelilingnya, begitupula ia mampu dengan tajam menusuk perasaan. Lewat mulut, kita bisa memasukkan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, tetapi ia juga mampu mengeluarkan kata-kata yang tajamnya melebihi pedang yang baru ditempa dan dapat melukai hati yang tidak mudah untuk disembuhkan. Bahwa segala organ tubuh mampu melakukan segala tugasnya dengan sempurna. Namun terkadang manusia salah menggunakannya.

Dalam episode perjalanan cinta rumah tangga, terkadang ekspresi kurang menyenangkan turut hadir. Ekspresi yang hadir dari tatapan mata yang tajam, dari lidah lunak menjadi kuat menerkam dan muka yang begitu masam. Menjadi saksi atas ujian-ujian yang harus ia lakukan. Sebuah konsekuensi yang harus dijalani dari sebuah pilihan besar untuk hidup bersama. Dalam atap yang sama pula. Menyatukan perbedaan-perbedaan dari dua kepala yang berbeda yang terkadang lebih dikuasai oleh ego untuk sama-sama ingin dimengerti.

Ketika dalam perjalanan rumah tangga menemui kerikil-kerikil tajam yang  bisa melukai atau membuat kita terjatuh.

Ketika muka masam dari pasangan muncul kepermukaan, nada ketus terucap lewat mulutnya, juga tindakan-tindakan kurang mengenakanpun nampak. Maka, menangkap hati adalah salah satu kiat yang bisa kita lakukan. Bukan membalas masamnya muka dengan memasang muka yang lebih masam, bukan membalas tajamnya mata dan lidah dengan membuat perbandingan yang lebih kentara. Tetapi menangkap hati adalah dengan memahami bahwa pasangannya tidak akan sempurna, kesabaran yang harus tertanam kuat dalam-dalam, mengalah  dan juga berusaha untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang dapat menambah kekeruhan suasana, tidak memunculkan perdebatan-perdebatan yang semakin buruk akibatnya. Walaupun sulit namun bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan. Karena menangkap hati itu bukanlah siapa yang tatapan matanya paling tajam, atau volume dan intonasi suaranya paling tinggi atau siapa yang wajahnya paling garang. Menangkap hati adalah kemenangan dengan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali ‘Imran: 134).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” [HR Al-Bukhari (no. 5763) dan Muslim (no. 2609)].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ، وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Saya memberi jaminan, agar mendapatkan rumah di tingkatan terbawah di surga, bagi setiap orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun dia berada di pihak yang benar.” [HR. Abu Daud, dinilai hasan oleh Al-Albani].

Menangkap hati bukan berarti hanya diam begitu saja. Bukan berarti tidak memberi nasehat juga mengingatkan. Tetapi kembali untuk introspeksi diri dan juga merenungi kesalahan untuk diperbaiki bersama diwaktu yang tepat. Demi keluarga yang didamba. Menggapai ridha Allah untuk sama-sama sampai surga.

Imam Syafi’i dalam syairnya mengatakan:

Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri,

dan jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian

karena nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk satu jenis pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya

jika engkau menyelisihi dan menolak saranku

maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti

[Imam Syafi’i, dikumpulkan dan disusun oleh Muhammad Ibrahim Saliim, hal 91]

Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan kelapangan hati untuk senantiasa memaafkan. Allahu a’lam.

 

————–

Penulis: Lia Wijayanti Wibowo

Muraja’ah: Ustadz Sa’id Abu Ukkasyah

Artikel muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?