Waktu Mustajab Do’a

Diantara keluasan rahmat Allah, Dia jadikan bagi hamba-Nya sebagian waktu yang jika seorang hamba berdo'a di dalam waktu-waktu tersebut, akan dikabulkan do'anya

382 0

Seorang Hamba Sangat Dekat Dg Tuhannya Saat Dia Sujud Tausyiyah Tentang Mustajabnya Doa Muslimah Waktu Mustahab

Do’a adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita. Do’a merupakan praktik nyata kita dalam menerapkan ilmu tauhid. Ketika seorang yang mengesakan Allah berdo’a, maka orang tersebut akan mengarahkan do’anya hanya kepada Allah, bukan kepada selainnya. Dengan berdo’a seseorang dapat menolak qadha’ dan qadar, hal ini sesuai sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam (artinya), “Tidak ada yang dapat mengubah qadha’ (ketetapan Allah) kecuali do’a. Dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali perbuatan baik.”  (Diriwayatkan At-Tirmidzi. Dihasankan oleh Al-Albani).

Diantara keluasan rahmat Allah, Dia jadikan bagi hamba-Nya sebagian waktu yang jika seorang hamba berdo’a di dalam waktu-waktu tersebut, akan dikabulkan do’anya. Diantara waktu mustajabnya do’a, yaitu:

1. Do’a di Sepertiga Malam Terakhir
Waktu ini merupakan salah satu waktu terkabulnya do’a karena pada waktu ini Allah turun ke langit dunia, dan mengabulkan do’a hamba-Nya. Hal ini berdasarkan sabda Rasululah shallallahu alaihi wa sallam, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala, turun setiap malam ke langit dunia, ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman:‘Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku, Aku akan kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku berikan. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni dia’.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

2. Ketika Sujud
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد . فأكثروا الدعا

Kondisi paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika dia sujud, maka perbanyaklah do’a (ketika sujud)” (Hadits riwayat Muslim, Ahmad, An-Nasa’i dan Abu Dawud).

Hikmah dari posisi sujud ini adalah seorang hamba membuktikan kehambaan, ketundukan, kerendahan, dan kefakirannya. Dalam kondisi seperti ini sangat tepat bagi seorang hamba untuk memanjatkan do’a karena dia sangat dekat dengan Allah dan akan dikabulkan do’anya.

3. Antara Adzan dan Iqamah
Telah diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Rasusullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة

Do’a yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan selainnya. Disahihkan oleh Al-Albani).

4. Saat Mustajab di Hari Jum’at
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فيه ساعة ، لا يوافقها عبد مسلم ، وهو قائم يصلي ، يسأل الله تعالى شيئا إلا أعطاه إياه- وأشار بيده يقللها

Pada hari Jum’at itu terdapat waktu yang tidaklah seorang muslim memohon kepada Allah, sedangkan iapun menunaikan shalat di waktu tersebut kecuali Dia akan mengabulkannya.” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangannya, bahwa saat-saat itu hanya sebentar. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

5. Do’a Orang yang Berpuasa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ. . .

Tiga orang yang do’anya tidak akan ditolak, orang yang berpuasa hingga ia berbuka …” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dan selainnya. Disahihkan oleh Al-Albani).

6. Do’a Orang yang Didzalimi, Do’a Musafir, dan Do’a Orang Tua kepada Anaknya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu Anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

Tiga orang yang do’anya akan dikabulkan, tidak diragukan lagi: do’a orang yang didzalimi, orang yang musafir, dan do’a orang tua bagi anaknya.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan selainnya. Dihasankan oleh Al-Albani).

Dari hadits di atas ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu seorang musafir hendaknya memanfaatkan waktu pada saat sedang safar untuk berdo’a kepada Allah, barang kali tersebut adalah do’a yang kelak akan dikabulkan oleh Allah. Dan kita harus waspada jangan sampai menzalimi orang lain karena do’a yang berasal dari hati yang terluka, tidaklah ada hijab antara dia dengan Allah. Orang tua juga harus berhati-hati dalam berdo’a, karena jika dalam keadaan marah kemudian berdo’a buruk kepada anaknya, maka do’anya manjur. Sering kali orang tua menyesal setelah do’a tersebut dikabulkan.

7. Do’a Ketika Turun Hujan
Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

Dua Do’a yang tidak tertolak, yaitu: ketika (atau sesudah) adzan dikumandangkan dan ketika turun hujan” (HR. Al Hakim. Disahihkan oleh Al-Albani)

8. Do’a Saat Perang Berkecamuk, dan Saat Adzan Dikumandangkan
Dari Abu Hazim, dari Sahal bin Sa’ad, dia berkata, “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا

Dua do’a tidak ditolak atau jarang sekali ditolak: do’a ketika adzan berkumandang, dan ketika perang berkecamuk.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Ibnu Hajar menyatakan hasan shahih).

Wallahu a’lam.

————————————————————–

Penulis: Romadhoni Umi Utami

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: Ringkasan Kitab Adab karya Fuan bin Abdul ‘Aziz Asy-Syalhub, dengan sedikit perubahan dan penambahan.

Artikel muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?