Aku-lah Sang Musafir

Telah tertulis bahwa manusia adalah makhluk yang diberi amanah besar untuk menjalani kehidupan di negeri rantauan, dunia

700 0

Telah tertulis bahwa manusia adalah makhluk yang diberi amanah besar untuk menjalani kehidupan di negeri rantauan, dunia. Manusia, dengan keterbatasannya, mengemban amanah Sang Pencipta untuk memelihara kehidupan di alam dunia ini.

قال الله تعالى :وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلُ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan seorang khalifah (pengganti, pemimpin, atau penguasa) di muka bumi’. Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’. Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui’.”. (QS. Al Baqarah: 30)

Allah memilih manusia sebagai khalifah di bumi dibandingkan dengan para malaikat. Padahal malaikat adalah mahkluk yang senantiasa taat kepada Allah. Sedangkan manusia, sebahagian dari mereka taat kepada Allah dan sebahagian yang lain tidak taat kepada Allah. Manusia seringkali berbuat kerusakan di muka bumi.

Manusia sebagai seorang musafir  mempunyai hak atas tanah yang ia jajaki. Ia dapat menjadikan tanah tersebut ladang untuk bercocok tanam, sehingga hasil penanaman itu dapat ia makan demi kelangsungan hidupnya dalam melakukan rantauan. Namun tanaman yang dapat ia tanam pun juga dapat beragam. Ia dapat menanam tanaman yang bermanfaat, dapat pula tanaman yang berbahaya, baik ia ketahui bahayanya secara langsung ataupun tidak.

Baik menanam tanaman yang baik maupun yang buruk, sang musafir itu mempunyai alasan kenapa ia menanam. Ia mempunyai tujuan. Setiap apa saja yang ia lakukan di dunia, di negeri rantauan ini, adalah bukan tanpa alasan. Selalu ada maksud dan harapan. Begitu pula dengan Sang Pencipta musafir itu, yaitu Allah.

Layaknya tidak ada akibat tanpa sebab, maka tidak ada ciptaan tanpa ada yang mencipta. Dan Allah lah yang menciptakan segala sesuatu. Setiap makhluk; manusia, jin, hewan, tumbuhan, setan, bebatuan, langit, bumi, dunia, akhirat, dan lain-lain; adalah Allah Yang Maha Mencipta.

Allah lah yang menciptakan manusia sebagai musafir, dunia sebagai tempat musafir itu berjalan, dan akhirat sebagai tempat musafir itu kembali. Setiap apa yang ada di alam semesta ini, baik yang gaib maupun tidak, adalah ciptaan Allah semata.

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ  وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

“Allah pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu” (QS. Az Zumar : 62)

خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ  يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ  ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ  لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ  فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

“Dia menciptakan kalian dari diri yang satu (Adam) kemudian darinya Dia jadikan pasangan-pasangannya dan Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak untuk kalian. Dia menjadikan  kalian dalam perut ibu kalian kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan  kalian, Tuhan yang memiliki kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia, maka mengapa kalian dapat dipalingkan?” (QS. Az Zumar: 6)

Dan Allah tidaklah menciptakan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini kecuali dengan alasan yang benar. Akan selalu ada hikmah di balik setiap ciptaan-Nya. Yang manusia ketahui hanyalah apa-apa yang telah Allah dan Rasul-Nya beritakan kepada mereka. Dan Allah lah yang lebih mengetahui atas segala sesuatu.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

 “Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kalian main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS. Al Mu’minun: 115)

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

“Dan tidakkah Kami bermain-main menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.” (QS. Ad Dukhan: 38)

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan tanpa hikmah.” (QS Sad 38 : 27)

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى أَلا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Az Zumar: 5)

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidaklah Allah menciptakan manusia dengan sia-sia. Lalu untuk apakah manusia atau sang musafir itu ada?

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ   مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. ” (QS. Adz Dzariyat: 56-57)

Manusia diciptakan oleh Allah, tak lain dan tak bukan adalah untuk beribadah kepada-Nya. Sebuah hikmah penciptaan yang sangat agung dan mulia yaitu: ibadah, dimana seorang makhluk tunduk kepada Penciptanya dengan penuh rasa cinta dan pengagungan.

Ibadah mencakup segala hal yang di cintai dan diridhai oleh Allah. Yaitu ketika setiap mahkluk ciptaan-Nya mampu menjalankan peran dengan baik. Dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Allah memerintahkan seluruh makhluk-Nya untuk beribadah kepada-Nya dikarenakan begitu besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah tidak membutuhkan hamba-Nya, karena Allah lah Sang Pencipta. Dan hamba-hamba Allah lah yang butuh kepada-Nya.

———————————————————

Penulis: Ovi Aswara

Artikel muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?