Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga

Penulis: Ummu Ayyub Muroja’ah: Ust Abu Ahmad Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah …

751 166

Kata Kata Untuk Seorang Ibu Rumah Tangga Kata Bijak Menjadi Seorang Ibu Kata Kata Islam Untuk Seorang Istri Dan Ibuibu Menikmati Peran Sebagai Ibu Rumah Tangga Kata Kata Jadi Ibu Rumah Tangga

Penulis: Ummu Ayyub
Muroja’ah: Ust Abu Ahmad

Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?


Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama “Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak, tabungannya?” Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab “Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi “pengen jadi Superman!”

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?

Lalu…

Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ‘cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?

Wallahu a’lam

Maroji’:

  1. Dapatkan Hak-Hakmu, Wahai Muslimah oleh Ummu Salamah as Salafiyyah. Judul asli: Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat
  2. Mendidik Anak bersama Nabi oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Judul Asli: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl
  3. Majalah Al Furqon Edisi: 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427/April 2006

***

Artikel www.muslimah.or.id

Kata Motivasi Untuk Ibu Rumah Tangga Kata Kata Bijak Ibu Rumah Tangga Kata Mutiara Untuk Ibu Rumah Tangga Kata Mengurus Rumah Tamgga Yg Benar Motivasi Islam Untuk Ibu Rumah Tangga

In this article

Join the Conversation

166 comments

  1.    Reply

    alhamdulillah , setelaj membaca artikel ini saya mendapat banyak masukan yang selama ini saya lupakan,

  2.    Reply

    Setlh membaca artikel ini ,banyak yg mirip sekali dngn kehidupan saya sebenarnya .yg mulanya saya malu mengakuinya tpi memang benar 100% bahwa peran ibu sangatlah penting membentuk/mendidik anak kita menjadi orng yg berguna u/nusa,bangsa terutama agama.Smoga saya dpt menjalankannya(harus!!).Trim’s,,,dan ijin mau copy artikelnya.

  3.    Reply

    Subhanallah….sy kagum dengan artikelnya. Jd ibu rumah tangga itu pekerjaan hebat looh..bayangkan 24 jam waktu kerjanya..sy sangat kagum dengan ibu rumah tangga seperti ibu sy yang sampai saat ini beliaulah yg mengurus anak sy jd anak sy lebih deket ke neneknya drpd ke sy. Sy sendiri adalah wanita bekerja yg waktu sy lebih banyak di luar rumah, sedih juga sih kalau hrs denger ibu sy bilang kalo anak sy sdh tambah pinter. Tp bagaimanapun sy akan terus berusaha menjadi ibu yg baik bagi anak sy dan jd istri yang shalehah bg suami saya. Amiinnn Ya Rab…

  4.    Reply

    Subhanallah artikelnya baguuus… Izin mengutip artikelnya ya…

  5.    Reply

    aku ingat ibuku didesa, dia sangat bangga menjadi ibu rumah tangga, sekarang istriku juga, semoga Allah selalu membimbingnya dan menjaganya agar tetapbangga menjadi ibu rumah tangga, subhanaAllah

  6.    Reply

    ass.wr.wb ana mau tanya ana pns di puskesmas sebagai bidan bgmn hukumnya krn sistim kerjanya ada shif mlm yg hrs jaga malam utk melayani pasien yg melahirkan sukron atas penjelasannya

  7.    Reply

    subhanallah…
    bagus sekali artikelnya..
    saya sekarang sedang kuliah dan mengerjakan beberapa bisnis di internet. cita2 saya kelak jika udah lulus ingin menjadi ibu rumah tangga yg baik yang selalu ada jika suami butuh dan melayaninya sdan bisa dekat, mendidik anak2 saya menjadi anak yg sholeh/ah kelak. amiin.
    tetapi ortu saya dan kerabat saya memandang rendah cita2 saya untuk menjadi IRT. mereka bilang ibu rumah tangga itu rendah dan tidak punya status sosial di masyarakat. mungkin mereka sudah terkontaminasi matrealism dan mengagung2kan perempuan yg bekerja di perusahaan bonafit dikantor yang menjadi budaya dewasa ini.
    tapi saya akan tetep memegang cita2 saya :)
    ya Allah.. semoga Engkau meridhoi cita2ku ini… amiin.

  8.    Reply

    Assalamu’alaikum.
    ana minta ijin untuk mengcopy artikel ini dan beberapa artikel lain di situs ini, dengan tentu saja mencantumkan sumbernya.
    Insya Allah bermanfaat,,
    jazakillah..

  9.    Reply

    Subhanallah, artikel ini tepat saya baca saat sedang menghadapi “jumudnya” menghadapi jobdesk rumah tangga (tapi penuh tantangan lho…). Jazakillah khoiron katsiro ya…

  10.    Reply

    To: Ummu Raihan
    Afwan, doa mau boboknya yang shohih “bismika allohumma amutu wah ahya” silahkan dicek di Hisnul Muslim atau kumpilan doa usyadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

  11.    Reply

    subhanaahllah, artikelnya bener2 sangat menggugah hati…
    selama ini saya merasa menjadi IRT merupakan profesi yang tidak dapat dibanggakan,,namun setelah membaca artikel ini saya jadi lebih sadar,,, ternyata profesi IRT adalah sangat penting dan sangat mulia,, apalagi dijalankan dengan sabar, ikhlas, dan tulus.. Insya Allah hasil yang akan didapatkan akan berbuah manis.

  12.    Reply

    subhanallah, artikelnya bagus. Semoga banyak saudari2 kita yang tergerak hatinya setelah membaca artikel ini. Amin

  13.    Reply

    Alhamdulillah… ada artikel ini, jadi ada pembangkit semangat supaya saya bisa menjadi IRT yg baik. Adik saya sudah ‘tidak menganggap’ saya, karena menurutnya saya sangat sangat tidak bisa dijadikan contoh wanita ideal, karena memilih menjadi IRT.
    Saya minta ijin meng-copy artikel ini, untuk disampaikan kepada teman-teman saya. Jazakillah…

  14.    Reply

    artikel yang bagus… bikin tambah semangat untuk mengejkar cita- cita jadi ibu rumah tangga neh.. tapi yah sampe tabungan cukup dulu… maklum.. kuli.

    salam kenal

  15.    Reply

    subhanallah artikelnya bagus banget. semoga muslimah2 bisa kembali pada fitrahnya

  16.    Reply

    Alhamdulillah, ana bersyukur kpd Alloh SWT..atas nikmat yg diberikan kpd kami sebagai ibu rumah tangga dga 3 anak, dan semoga kami mampu menjaga titipan NYA dengan sebaik-baik iman akhlaq dan aqidah.

  17.    Reply

    wahai para suami…bimbinglah istri2 kalian agar menjadi wanita sholihah serta pendidik anak2 kalian. Bakarlah semangatnya, bantulah ia dalam mencetak generasi rabbany. Janganlah kalian biarkan ia layu disudut rumahmu….sehingga jari -jemarinya yang lentik tak kuasa lagi menghias rumahmu.
    bagus artikelnya, lho…boleh ngopy??

  18.    Reply

    Subhanalloh….semoga banyak akhwat yang banyak membaca artikel ini. Dan segera tinggal di rumahnya, mendulang pahala! Mohon izin, ana copy di blog yaa, Jazakillah

  19.    Reply

    Artikelnya jadi bikin semangat dan ga malu harus jadi Ibu Rumah tangga …
    Mohon ijin copy ke blog ya…

    jazzakalloh khair

  20.    Reply

    Alhamdulillah ya allah……….
    Akan ku jaga Titipan Mu yg sangat berharga ini seumur hidupku takkan ku sia siakan hanya untuk kuliah ataupun bekerja,menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yg indah karena memang wanita ditakdirkan untuk diam di rumah.
    Buat pria rajin2lh bekerja…
    Allahu akbar

  21.    Reply

    Wanita adalah makhluk perkasa yang diciptakan untuk membantu laki-laki menuju kesuksesan bersama

  22.    Reply

    Berbahagialah bagi yang sudah memutuskan untuk menjadi IRT dan menjalaninya dengan iklas. Saya sendiri adalah pekerja yang ingin bergabung menjadi ibu seutuhnya. Namun berat sekali nih, ibu dan saudara2 adalah pekerja, sejak kuliah saya sudah bekerja, bahkan suami sangat mendukung profesi saya. Kalau anak sakit atau pembantu pulang dia bersedia cuti, dan tetap mengantar saya pergi ke tempat kerja. Bayangkan betapa beratnya saya memutuskan, karena selama ini segalanya sepertinya baik2 saja, anak2 santun, pintar, kelihatannya sholeh, …..

  23.    Reply

    #Ari Nur:
    Siapa pula yang tidak bangga dengan ibunya, seperti kata mba Nur, rumit atau sederhana.

    Tapi terkadang kita harus melihat apakah tujuan kita itu sudah benar walau terlihat sangat sangat indah dan menurut logika dan idealisme kita akan sangat bermanfaat.

    Keliling dunia? Wah tunggu dulu, apakah keliling dunia bersama suami tercinta sebagai mahrom kita? Kalau tidak, maka kita telah menentang apa yg telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk tidak safar tanpa mahrom.

    Pembebasan dari belenggu persepsi dan pemikiran yang seperti apakah. Saya takut malah nanti Islam itu yang dianggap belenggu jika pola pikir kita menanamkan adanya hal seperti itu, sehingga anak-anak kita berusaha membebaskan diri mereka dari Islam itu sendiri. Wal ‘iyyadzu billah.

    Tidak ya ukhti. Misi itu bukanlah menjadi misi mulia jika harus banyak mengorbankan syari’at Islam. Padahal misi mulia seorang anak manusia adalah beribadah kepada-Nya. Dan ibadah dari seorang wanita itu adalah dengan berada di rumahnya, menjadi pemimpin bagi anak-anak dan menjaga amanah sang suami (semua ini insya Allah telah jelas dalam ayat Al-Qur’an dan hadits).

    Lihatlah ukhti…dan carilah ilmu, dimana sebenarnya surga bagi wanita dapat dicari. Apakah dengan mimpi-mimpi (yang kita anggap sangat mulia),yang kemungkinan besar menerjang syari’at atau dengan cara yang terlihat ‘klasik dan membosankan’, namun sebenarnya memiliki ganjaran yang begitu besar dan butuh kesabaran luar biasa untuk menjalankannya.

  24.    Reply

    Sekedar berbagi …
    Ibu saya jauh dari karakter IRT ideal. Tak pernah mengajarkan apa pun. Beliau wanita karir luar biasa, tak pernah di rumah. Membiayai ke-4 anaknya tanpa bantuan suami karena ayah kami tidak bekerja. Hasilnya… yah saya ini. Saya bukan siapa-siapa. Dan tidak menjadi siapa-siapa. Saya lebih banyak belajar pada matahari, pada bulan, dan pada angin yang bergerak. Pada ibu juga secara tidak langsung, dan pada surat cinta dari Yang Maha Kuasa. Tapi, saya bangga dengan ibu saya. Bukan karena sekedar ibu saya telah melahirkan saya dan saya tidak mau dicap anak durhaka. Tapi saya benar-benar bangga padanya. Bangga saja. Bangga sekali. Dengan rumit atau sederhana.
    Saya malah ingin keliling dunia untuk mengambil satu misi yang sangat mulia. Yang tidak semua wanita mau menjalankannya. Mungkin rumah saya nanti bukan sebuah bangunan dengan peralatan memasak lengkap dengan mesin jahit. Di mana saya harus menungguinya seharian. Saya bukan hanya ingin mendidik anak-anak yang keluar dari rahim saya, tapi saya ingin mendidik anak-anak di seluruh dunia. Anak-anak yang bukan hanya hafal doa-doa dan ingin menjadi ulama. Tapi anak-anak yang kelak di masa besarnya, mampu membebaskan dirinya dan orang lain dari belenggu. Belenggu persepsi dan pemikiran, terutama.
    Baru ingin saja, kok. Ingin. Yah… ingin saja. Apakah keinginan ini terlalu muluk-muluk? Nggak juga. Biasa saja. Karena Al Quran memampukan kita untuk tahu, bahwa kita diciptakan untuk menjadi lebih dari apa yang kita duga…!
    Wallaahu a’lam bishawab.

  25.    Reply

    bolehkah saya meng link web ini ke web saya? terima kasih

  26.    Reply

    Saya juga ibu rumah tangga. Ya memang banyak yang meremehkan profesi ini. Kata orang “Nggak menghasilkan uang”. Saya juga sering disudutkan saudara saya, kuliah tinggi2 cuma di rumah. Sayang gak ada hasilnya. Saya sering sedih dengan cibiran itu. Seolah olah yang tak ada uang tak berguna dan sekolah tinggi harus ada pemasukan uang.

  27.    Reply

    Assalamu’alikum…artikelnya merupakan jawaban apa yg saya rasakan selama menjadi IRT,lulus kuliah S1 dgn cum laude tp skrg hanya jd IRT.keluarga sangat anggap remeh saya..apalagi teman2 saya yg sudah pd berkarir sukses.kl ketemu jd minder.padahal ini sudah jalan hidup saya dan saya menjalaninya dgn senang,krn skrg putri saya sdh 3thn sudah bisa menghafal surat2 pendek n do’a2,sangat dkt n sayang pd saya.begitu besar manfaat jd IRT.Artikel ini memantapkan hati saya untuk menjadi IRT yg berkualitas..mudah2an predikat cum laude yg saya dapat akan menghasilkan anak2 saya kelak menjadi cum laude di mata ALLAH SWT…

  28.    Reply

    Assalamu’alaikum…

    Artikel yang sangat menyentuh hati…
    ana minta ijin meng-copy artikel ini dan mungkin artikel lain yang ada di web ini untuk dimuat di web ana, tentunya dengan menyebutkan sumbernya.
    Selain itu apa boleh ikut me-link web ini ?
    Mohon tanggapan dari webmaster…

    jazzakunnallahu Khoir

  29.    Reply

    assalammu’alaykum. ana tergugah setelah membaca artikel ini,ingin menjadi istri idaman suami,plus org tua yg sukses membesarkan anak.ana seorang ibu muda br berusia 20 thn.dan alhamdulillah ana br punya anak satu masih batita.ana ingin seperti apa yg di idamkan suami,namun ana merasa masih byk sekali kekurangan dalam hal rmh tangga.mdh-mdhn dgn byk membaca artikel2 yg berilmu,insyaAlloh ana bisa merubah diri ana lebih baik dan dari smw usaha itu akan ana transfer ke buah hati ana tercinta. salam buat para ummahat “semangat terus menjadi tauladan bwt penerus kita…”

    assalammu’alaykum,salam ummu emira.

  30.    Reply

    Hiks..hiks
    terharu baca artikel + komentar2nya..
    bagus,bagus bgt.
    Apalagi komentarñ ummu ahmad..hiks hiks bikin terharu..
    Smoga aq dmudahkan utk mnjd pribadi yg sholeh n mdptkn istri yg sholeha. Amiin
    Hiks hiks

  31.    Reply

    Subhanalloh…. artikel yang bagus… smpe pns pengen nangis bacanya, jg koment2nya. ana jg umahat muda dg si kecil raihanku (3bln) emg so sweeet wktu si kecil mau bo2 kita tatap matanya n say.. sayangnya ummi mau bo2 ya? doa dulu yuuk… bismikallohhumma ahya wabismika amuut… eeeh sikcil kut menggerakkan bibir lucunya.. jg doa2 yg lain. sunah2 yg lain.. walo msh 3bln tp ana yaqin banget dia pham dan smga melekat sangat lekat dlm kepribadiannya dn mjd amal jariyah bg abi umminya… jadilah anak yg shilih lagi mushlih raihanku sayang… kami mencintaimu karena ALLOH.

  32.    Reply

    Subhallah..

    Semoga Kami para suami bisa mendidik istri-istri kami supaya mereka juga bisa mendidik anak-anak kami (amanah dari Allah).

    Amin.

    Mohon ijin mengutip tulisannya ya ukhti.

  33.    Reply

    bagus sekali tulisannya, ijin mengutip ya :)

  34.    Reply

    saya percaya 100% bahwa keberadaan perempuan di rumah akan membawa kebaikan tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk suami dan anak-anaknya,
    tapi,
    terkadang kita dihadapkan pada situasi yang mengharuskan kita untuk bekerja
    menurutku,
    berbuatlah yang terbaik dalam kondisi apapun kita saat ini,
    selama segalanya masih dalam kerangka keridhoan Allah SWT dan masih dapat ditoleransi agama……
    bersyukurlah atas semua kasih sayang Nya selama ini………
    Wahai Anak-anak ku, ….bersabarlah !
    Maafkan ummi mu yang nak…………..

  35.    Reply

    subhanallah,,artikel ini membangkitkan kembali kein9inan saya jadi istri dan ibu yg bAik dan solehah,memang sulit ya..but hrapan positif tetap haruz dkembangkan with usaha. tapi dsisi lain,ingin juga mbaha9iakn orang tua yg ingin anknya sukses dg bkrja. so,untk wanita yg ingin bekerja,ada banyak pekerjaan yang dapat dkerjakan drumah,tanpa harus jauh dEngan anak,bisa sebagai wirausahawan.. tak salah kan?

  36.    Reply

    Subhanallah..sebuah wacana yang sangat membuat hati para ibu menjadi tergugah hatinya, termasuk saya… Pastinya artikel ini akan saya jadikan bahan rujukan bagi teman-teman yang baru saja menikah, bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah hal yang sangat mulia.

  37.    Reply

    memang paling enak jadi ibu rumah tangga. ga perlu bercapek2 di jalanan. Tapi gimana bila ekonomi keluarga minim? Bolehkah sang ibu bekerja? Kalau menurut saya, mendingan buka bisnis aja di rumah. Bisa jaga anak smbil cari penghasilan :)

  38.    Reply

    Yeah,if the situation force a woman to work, try not to compromise the dien. There will be a way insya Allah, as Allah says:
    “And whosoever fears Allah and keeps his duty to Him, He will make a way for him to get out (from every difficulty). And He will provide him from (sources) he never could imagine. And whosoever puts his trust in Allah, then He will suffice him. Verily, Allah will accomplish his purpose. Indeed Allah has set a measure for all things (At-Talaq:2-3)
    One important key is to learn which ways are permissible,which are not. So a woman,at certain condition, can work without violating her role as wife and mom,as ruled by Islam.
    And there is no such thing for the other “sufficient” women to help the “poor” by jumping into political area.There are a lot of destruction for women by doing so,and we can just reflect back how sahabiyah help the other sahabiyah without jumping into such manly area.I think there are no women better than the like of Aisyah,Fatimah,Ummu Salamah,Khodijah, Zainab,Hafshoh,etc..radliallahu ‘anhunna..and despite their strong will to do charity, they didnt go up to challenge for khalifah post,or being one of the governor,etc etc.
    Do not think out of the box,that is, the box of Islam.IF we try to use any other way that outside Islam rule,even if we (seem) succeed in this world,I doubt that it will be successful in the Hereafter.
    Only Allah’s guidance,the true guidance.Allahu a’lam

  39.    Reply

    jd IRT memang pkerjaan yg sngt mulia sekali.harta,benda kekayaan hana sementara,tp amalan p’buatan qt akan qt bwa sampai qt mati,apa la9i bsa menddk anak mjd sholeh n sholeha.subhanallah. . .pahala qt tk akan t’puTus.krn anak adl amanah dri allah.dan istr y9 mendmpin9i suamina dpt phla sur9a. . .apala9i jk suamina pulan9 dri kerja. . .disambuT OLeh istri,btp bh9ia san9 suami.jika ke2na sma”sibuk wah istri pln9 k’ja suami j9 pln9 k’ja,sma”cpekna truz ankna 9mN?JD ank pembantu?he he he siapa yang nanyain pR mrk,sdan9kan keDua ortu mrk sibuk sendiri.syukr0n

  40.    Reply

    tiada suatu pekerjaan yang lebih mulia lagi membanggakan bagi seorang wanita dari mengasuh anak dan melayani seorang suami… kenapa? jika dilakukan secara sempurna kan mendatangkan kebaikan yang tak terkira… yang kan menghantarkan kejannah dan melihat wajah Allah… tiada kenikmatan yang melebihinya….kok bisa? ya bisa lah kalau nanti kita mati meninggalkan anak yang durhaka apa kita dapat pahala lagi? … kalau mereka (moga dikaruniai anak yang banyak lagi sholeh dan sholehah) berbakti kan bisa ngurangi penderitaan dan mengkat derajat?! betul kagak?
    kenyataan kemiskinan kelaparan dan lain sebagainya tak bisa menjadi alasan bagi seorang wanita tuk tidak mendidik anak mereka dengan alasan pekerjaan. ketika mereka bekerja rezqi mereka takkan melebihi apa yang telah Allah tentukan. kalau rizqinya Rp 5000,- takkan jadi Rp10.000,- dengan bekerja.
    oh ya ana tdk menghalangi mereka bekerja tetapi kalau bekerja ikutilah aturan yang ditentukan islam dan jangan korbankan keuntungan akhirat yang jauh lebih besar..???? ???? ???? ?????

  41.    Reply

    Saya sangat sangat setuju bahwa pekerjaan sebagai Ibu rumah Tangga merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Tapi saya juga ga setuju apabila ada anggapan wanita karier atau perempuan bekerja itu tidak baik. Lihat dulu konteksnya, kalau melihat statistik di indonesia, ada 11 % dari seluruh jumlah keluarga di indonsia yang dikepalai seorang perempuan. Mau tidak mau harus bekerja kan?? kalau tidak anak2nya mau makan apa?. Lalu dari statistik kita bisa liat kalo ada 39 juta populasi di indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. What do u expect from income 150 rb/bulan??. That means buat makan aja kurang. Berarti mau ga mau perempuan harus bekerja untuk nambah2 kan??.

    Sebagai perempuan tentu saya sangat senang kalau diri kita dicukupi oleh suami dan hidup sejahtera, tapi please..thinking outside the box, tulisan anda ditujukan untuk siapa? seluruh perempuan di Indonesia kah? atau hanya kelompok anda saja?.

    im not intend to being rude or somethin. Hanya saja gambaran anda mengenai ibu rumah tangga terlalu ideal buat saya, mendidik anak memang penting, memperhatikan ia tumbuh dan berkembang, dsb dsb. Yah itu kalau keadaannya sudah sejahtera. Tapi bagaimana dengan keluarga2 miskin?? bagaimana mendidik kalau ia masih bingung apakah hari ini ia makan atau tidak?. belum lagi masalah2 yang lain seperti kekerasan dalam rumah tangga atau banyak ibu yang meninggal di meja persalinan sehingga keluarga tidak memiliki seorang untuk mendidik anak lagi. Maka menjadi tanggung jawab bagi perempuan lain yang lebih beruntung secara ekonomi dan sosial untuk ikut membantu mereka, Not in “material” way, tapi yang lain, misal terjun ke politik untuk menjadi wakil mereka, menciptakan lapangan pekerjaan untuk mereka, “bekerja” untuk mereka dsb. Thats what women should do.

    Itu saja komentar saya. afwan sebelumnya, sesungguhnya kebenaran itu milik Allah SWT, wa’llahu alam bi showab

  42.    Reply

    yeah right..keep going ..

  43.    Reply

    “IBU RUMAH TANGGA”

    itu adalah cita2 terbesar saya,,
    tak terbayangkan jika harus menyerahkan segala urusan anak kpd pembantu yg tidak mungkin setelaten kita.
    tak terpikirkan jika harus melewatkan kata pertamanya..
    langkah pertamanya..
    gigi yang pertamanya..
    dan tawa yang begitu tulus setiap saat..

    sayang sekali jika seorang anak tumbuh dr kedua orang tua yg berpendidikan sarjana harus mendapat perhatian hanya dari seorang pembantu..

    semoga artikel yg bagus ini dapat membuka hati dan pikiran para ibu/calon ibu lainnya yang enggan atau bahkan melu menjadi seorang “ibu rumah tangga”

  44.    Reply

    subhanallah, iya bener, jd IRT emang masya ALlah indah n berkahnya. lucunya , kami ummahatmuda di kajian yg masih mahasiswa, kalo ngisi biodata yang tentang pekerjaan, lebih bangga ngisi IRT daripada MAHASISWI, that means IRT itu…ah, subhanallah lah^_^

  45.    Reply

    kajian yang maenarik, alhamdulilah. menjadikan sebuah keluarg yang sakinah, mawaddah warrahmah adalah impian setiap orang, dan menjadi ibu yang sukses dalam keluarga adalah kebahagiaan yang besar, terutama kesuksesan dalam mendidik anak, karena ia amanah dari yang maha penyayang, mendidik anak dengan baik bukan hanya tabungan buat kita tapi juga aset buat bangsa dan negara bahkan dunia, bagi para ibu yang sibuk dimana saja saya rasa bukan suatu masalah karena setiap perempuan diciptakan dengan takdir yang berbeda asala kita memiliki prioritas utama yaitu keluarga dan putra-putri kita

  46.    Reply

    assalamu’alaikum…

    afwan, ana mau tanya…???
    klo kajian di palembang itu dimana yah…???
    dan ada ngak orang yg bisa ana hubungi (contact personx)

    infonya kirim ke email ana aj yah…

    jazakallahu khoir…

  47.    Reply

    Bisa bantu? saya seorang guru yang bekerja full time (senin-jumat), saya bekerja sudah 4 tahun (dari sebelum menikah) setelah anak pertama lahir saya berniat berhenti jadi ibu rumah tangga. Tapi masih bingung karena karir guru sedang naik pesat (kemungkinan besar ada promosi PNS dan di sekolah juga sudah mendapat banyak kepercayaan). Sekolah saya memberi libur lebih banyak (libur semester bisa 1 bulan + 1 minggu mid + 1 minggu spring + 1 minggu summer) tapi kalau hari kerja bisa sampai jam 4 or 5. Kalau berhenti keuangan rumah tangga jadi pas2an. Mana yang lebih baik ya? terimakasih

  48.    Reply

    Hak untuk perempuan? wah buanyak… dekat dengan anak dan mendidik mereka juga merupakan hak (bukan cuma kewajiban). Memang tidak bisa dinilai dengan rupiah, tetapi melihat kemajuan mereka dalam menjalani hari-harinya juga merupakan kebahagiaan tersendiri.

    Bisa makan sendiri, pakai baju sendiri, tidur sendiri… bisa diajarkan oleh ‘siapapun’ asalkan sabar (biasanya qt serahkan hal tsb pd pengasuh utk mengajarinya). Tapi… mengajarinya tentang Islam…?

    Terharu loh… ketika ‘tau-tau’ anak bisa membaca doa2/surat2 pendek dalam Al-Quran (padahal gak pernah diajari scr khusus).

    Atau…
    Saat si anak menutup mulut temannya yang menguap, dan mengajari… “kata Nabi, kalau menguap harus ditahan, kalo gak tahan harus ditutup supaya setan gak masuk”. dll dsb dst

    Melihat anak mengerti TUHAN ITU SATU, TUHAN BERSEMAYAM DI ARSY, adab2 Islam, dll… merupakan hak ibu yang sangaaaat indah.

    btw… tau gak? Anakku (5th) menangis waktu saya ceritakan moment wafatnya Rasulullah. Ia bersedih krn gak bisa bertemu Rasulullah (dikiranya Rasulullah hidup pada jaman sekarang), Ia berdoa memohon pd Allah agar bisa bermimpi bertemu dengan Beliau, Ia bahkan jadi termotivasi untuk mengikuti sunnahnya dengan harapan kelak bertemu di akhirat.

    So sweeeeeeetttt. Subhanallah

    dan anakku benar-benar menangis meneteskan air mata… tertelungkup di bantalnya (agak lama untuk dihibur), pdhl ia hampir tak pernah menangis!

  49.    Reply

    Kewajiban terus ya…dimana gerangan Hak-hak untuk perempuan.. i wonder

  50.    Reply

    1. Abu ‘Uzair
    December 17th, 2007 at 8:53 am

    artikel yg bagus,
    salam buat abu Ayyub…

    3. nurhidayat
    December 17th, 2007 at 10:51 pm

    Subhanallah, begitu pentingnya peran wanita. Namun sayang, sedikitnya wanita yg mampu & mau berperan sbg ibu rumah tangga pendidik.
    Saya kutip ya artikelnya.

    4. Qonita
    December 18th, 2007 at 1:18 am

    ibu rumah tangga, kedengarannya sepele…namun siapa sangka akan membuahkan pahala bagi yang ikhlas. Wanita karier…ah sudah banyak dan biasa
    ibu rumah tangga….wow luar biasa.
    Coba bayangkan dari urusan rumah A sampai Z dia yang urus, wah…..

    “Jadi ibu rumah tangga, siapa takut.”

    5. muhandhis
    December 21st, 2007 at 2:34 am

    :)
    saya suka baca artikel ini, moga2 kelak saya bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik… amiin…

    6. ummu abdillah
    December 23rd, 2007 at 6:57 pm

    Subhanalloh, menjadi ibu rumah tangga memang berat tanggung jawabnya tapi pahalanya…masya Alloh,artikelnya bagus banget

    7. muhirnayani
    December 25th, 2007 at 1:45 pm

    Terima kasih artikelnya menggugah hati saya, insyaAllah saya bisa menjadi ibu rumahtangga yang baik dan mendidik anak-anak saya menjadi anak yang Shaleh/ah

    8. nik
    December 26th, 2007 at 9:22 pm

    aku semakin bangga dg ibuku…ibu aku kangen!!!

    9. azzahra
    December 28th, 2007 at 2:14 am

    Aduh…jadi ingat almh ibu. mudah2an semua yang yang sudah ditulis dapat bermanfaat bagi muslimah2 di seluruh dunia termasuk saya.

    10. siti
    December 28th, 2007 at 4:03 am

    membaca artikel ini membuatku semakin rindu tuk menjadi istri dan ibu nan sholehah serta berkhidmat sepenuhnya pada keluarga..

    11. tunik
    January 1st, 2008 at 2:26 am

    artikelnya bagus bgt. menjadi ibu rmh tgg yg baik adl cita2 saya. amien

    12. yusuf
    January 2nd, 2008 at 10:36 pm

    alhmdulillah…akhirnya kmbali ada yang mengingatkan betapa pentingnya peran ibu rumah tangga…inilah cara tuk memperbaiki masa depan bangsa..memdidik dgn benar calon generasi pengganti..

    13. enissa
    January 11th, 2008 at 3:35 am

    Subhanalloh, ana pun baru menyadari betapa kaya nya pahala seorang ibu rumah tangga. sehingga skrng tidak malumalu lagi ana menyebut diri ana iburumah tangga, walau kadang kerabat dan ortu pun tidak menyukai jabatan IRT tsb.

    14. zahra
    January 15th, 2008 at 10:37 am

    Subhanallah, artikel yang sangat menggugah nurani. Tapi bagaimana dengan teman saya yang harus terus bekerja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga padahal tempat kerja tersebut berbaur laki dan perempuan.

    15. halimah
    January 25th, 2008 at 3:41 pm

    Tak kan ada yang sia2, itulah kata2 yang selalu kuingat. Seorang dosen menguatkan tekadku untuk tak mengejar karir perusahaan. Beliau (sang dosen) berkata bahwa meskipun kita tidak bekerja setelah kuliah tinggi2, itu takkan sia2, sebab nanti kita akan jadi ibu, jadi pendidik. Pola pikir ilmiah yang kita dapatkan dari proses belajar itulah yang nantinya akan membedakan dalam pendidikan anak. Dan kalaupun seorang wanita bekerja, sebaiknya pada ranah2 pengajar, penulis, atau bekerja yg bisa dilakukan di rumahnya sendiri (semisal programmer IT yang tidak mengharuskan ke kantor). Insya Alloh tak ada yang sia-sia…

    16. santy
    February 6th, 2008 at 5:36 am

    Yah..itulah perempuan..(lebih halus dr segi bahasa di banding wanita)..
    Setelah melakukan semua tugas domestik..ikut membantu suaminya mencari nafkah untuk berlangsungnya kehidupan..tapi kadang hak2nya masih juga dibatasi..bahkan di belenggu..
    Sang pemimpin tinggal bilang..sejatinya istri di rumah mengurus anak dan mengatur keuangan sebaik2nya…tanpa di sadari kewajiban dia untuk membahagiakan anak dan istrinya LAHIR dan BATHIN pun kadang terabaikan..walau tak sengaja..
    apa jadi istri saleha adalah yg hanya menuruti tanpa perduli dengan hak2 yg harus di dapatnya..bukan hanya menyembunyikan tapi membunuh haknya sendiri dan membuangnya jauh2..
    hak seperti apa?
    yah..setiap manusia punya hak yang sama..baik laki2 atau perempuan..
    single or married..
    setelah sang perempuan mengurusi rumahnya, mengurusi anak dan suaminya, bahkan membantu cari nafkah..dsb
    semestinya sang suami memberinya ruang untuk dia bisa maju…tanpa warning selalu…awas ya..ingat rumah! ingat anak!..padahal tanpa di begitukan..sudah sangat melekat pekerjaan itu..
    apalagi punya anak special need yg tidak normal…berat..
    sungguh perempuan sangat harus di hormati…dan di berikan hak2 nya..

    17. liwa
    February 6th, 2008 at 11:47 pm

    mnt saya mjd ibu rumah tangga profesi terberat.dulu saya PNS di bagian yang kt org “basah”.Agak berat juga berhenti kerja untuk ikut suami yang lagi sekolah di Saudi, bukan karena uangnnya tapi ambisi saya ingin ambil postgraduate di luar. Alhamdulillah,now Allah mengantinya kehidupan yang saya yang lebih baik, dunia dan akhirat insyaallah.Jangan takut untuk berhenti kerja kr kita tidak akan mati sebelum dipenuhi semua rezeki kita di dunia ^-^

    18. linda
    February 14th, 2008 at 2:54 am

    assalamualaikum Wr.Wb

    Terimakasih atas artikelnya dapat memberikan masukan buat saya.sebab peran ibu tidak gampang.Tidak semua wanita yang mampu menjadi ibu yang baik.siapa tau dengan membaca artikel ini mereka yang sudah menjadi ibu yang kurang baik dapat mengubah diri meraka menjadi ibu yang baik bagi anak2 mereka.

    Wassalam,

    19. wardah
    February 15th, 2008 at 12:31 am

    memang menjadi ibu rumah tangga yg hanya tinggal di rumah lebih baik, tetapi jika kita dihadapkan kepada kebutuhan rumah tangga dengan penghasilan suami yg tidak mencukupi mau tidak mau kita sebagai istri harus bisa membantu menutupinya dengan bekerja, walau berat meninggalkan anak tapi itu tugas kita untuk dapat membagi waktu dengan baik

    20. andy jen
    February 15th, 2008 at 1:22 am

    subbahannallah.begitu besar dan penting peranan seorang ibu rumah tangga.sekarang saya menjadi tahu lebih banyak tentang peranan seorang ibu rumahtangga.kebetulan saya baru aja menikah dan baru aja memulai kehidupan berumah tangga.dan setelah saya membaca artikel ini,saya menjadi banyak tahu tentang peranan ibu runah tangga.dan jujur aja neh, saya jadi tambah sayang dan cinta ama istri tercinta. saya sadar akan tanggung jawab yang diemban oleh istri saya tercinta sangat berat. mulai hari ini saya akan selalu menghargai istri saya,dan akan selalu menyayanggi nya seumur hidup saya,dan akan selalu mencintai nya dari dunia hingga akhirat.dan semoga allah swt mempertemukan kembali kami di akhirat nanti tetap sebagai pasangan suami istri,dan bukan sebagai musuh. terima kasih banyak atas tulisan yang berharga.hanya tuhanlah yg bisa membalas segala kebaikan yang terkandung dalam tulisan ini.sekali terima kasih..wassalam mualaikum.

    21. ningrum
    February 18th, 2008 at 2:08 am

    asalamkum.subhanallah sungguh mulia pengorbanan seorang ibu yang mau merawat, mendidik anaknya.karena pertanggungjawaban orang tua akan di diminta di akhirat nanti.was.

    22. putri_hasy
    February 18th, 2008 at 10:59 pm

    subhanallah, artikelnya baguss bgt.
    memang peranan seorang ibu sangat luar biasa.
    rusaknya suatu negeri itu tergantung wantnya. jk wnta nya baik maka akan baik pula negeri itu. begitu juga rt. jd janganlah memandang remeh pekerjaan ibu rumah tangga. justru itu lahan lahan menuju surga allah.

    23. olga
    February 21st, 2008 at 2:32 am

    Memang ideal sekali jika wanita “Full” mengurus rumah tangganya?, tapi bagaimana dengan keadaan ekonomi keluarga yang pas-pas an.Belum lagi butuh biaya sekolah untuk anak?
    Saya lebih setuju jika wanita mengambil wilayah abu-abu. Karena bagaimana pun wanita itu harus bisa mencari uang. Pernahkah terpikir bagaimana jika sang pencari nafkah dipanggil oleh ALLAH ?dari mana sang ibu akan memenuhi kebutuhan dirinya juga anak-anaknya ? Ya! Wahai Para Muslimah saya mengajak kita semua untuk berkembang, maju, tau cara mencari nafkah, mempersiapkan diri kita sebaik mungkin siap untuk situasi apa pun. Saya yakin para muslimah bisa mengatur-atur pembagian waktu antara mencari nafkah, mendidik anak, melayani suami dan menikmati kehidupannya seBagai wanita. Selamat berikhtiar, Kau Tak Sendiri

    24. muslimah.or.id
    February 21st, 2008 at 6:37 pm

    Assalamu’alaikum
    Ukhti Olga, kaum wanita pada dasarnya diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya untuk tetap berada di rumahnya. Kewajiban untuk mencari nafkah adalah kewajiban laki-laki (suami), dan tidak boleh dibebankan kepada para wanita untuk mencari nafkah. Perintah Allah dan Rasul-Nya agar wanita tetap tinggal di rumah mengandung begitu banyak kebaikan dan hikmah. Sebagaimana kita tahu, bahwa wanita yang keluar rumah dan bekerja di luar akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang bertentangan dengan syari’at, seperti: ikhtilat/campur baur dengan laki-laki yang bukan mahromnya, dll. Jika ada suatu keadaan yang memaksa seorang wanita untuk bekerja, maka banyak sekali jenis pekerjaan yang tetap bisa dikerjakan di rumah tanpa harus keluar rumah dan campur baur dengan laki-laki yang bukan mahrom, seperti: menjahit pakaian, dll. Silahkan baca artikel berikut:
    1. Saudariku kembalilah ke rumahmu
    2. Jangan menyerah saudariku

    25. Siska
    February 22nd, 2008 at 2:40 am

    Buat ukhti Olga:
    Mendidik anak dan bekerja itu bisa diatur??

    wah…apa benar bisa semudah itu??
    masalahnya mendidik anak itu tidak semudah itu ya ukhti…(tentu ukhti telah merasakannya bukan?)
    bayangkan ketika seorang ibu bekerja seharian..banyak momen2 yang terlewatkan untuk mendidik anak.
    Ketika dia masuk kamar mandi yang mungkin beberapa kali,
    ketika dia akan makan siang,
    ketika dia akan tidur…
    ketika dia bangun tidur…
    ketika dia bermain dengan temannya atau ketika ia melangkahkan kaki keluar rumah…
    ketika dia mengganti bajunya…mengajarkannya untuk malu..ketika pakaiannya tersingkap di hadapan temannya…dan masih banyak lagi…

    ada banyak sekali adab dan sunnah nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa ditanamkan…(yang tentu saja mestinya juga/telah tertanam di benak kita sebagai ibu) yang bisa diajarkan kepada sang anak..yang tentu saja itu gak bisa diajarin sehari dua hari…atau sejam dua jam ketika malam telah tiba…ketika hari libur kerja..gak semudah itu…
    butuh berbulan-bulan secara kontinyu menanamkan adab itu sampai mereka akhirnya menjalankannya secara natural…melekat di kepribadian mereka..
    manis rasanya ketika akhlak itu dilakukan sang anak tanpa perlu diingatkan lagi..

    dan bukan sekedar yang seperti itu…

    ketika seorang anak merengek meminta mainan….disitu banyak sekali kesempatan adab dan akhlak yang bisa diajarkan.. mengajarkan anak qonaah…taat pada ibu…berkata lembut pada ibu dan bapaknya…itu juga harus kontinyu…
    bayangkan ketika sang anak sudah besar dan ia meminta sesuatu yang lebih besar…lebih mahal…apa kita harus selalu memenuhi permintaaanya…padahal ketika itu sang anak telah memiliki kepribadian yang melekat..memiliki fisik yang lebih besar..dan kuat..

    tapi….sekali lagi…itu semua juga setidaknya juga telah tertanam di pribadi sang ibu..
    sang ibu juga mesti belajar untuk qona’ah…sang ibu juga harus berusaha menjalankan ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.. bagaimana mengajarkan anak qona’ah…jika sang ibu juga tidak merasa qona’ah…
    sama saja..bagaimana mengajarkan anak untuk tidak berdusta…ketika sang ibu sering berdusta…
    coba direnungkan wahai ukhti…

    sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala maha mengetahui apa yang paling baik untuk hamba-Nya…

    26. Ibnu Muhammad Nuh
    February 22nd, 2008 at 2:59 am

    Ingin menambahkan buat ukhti Olga: mmmmmhhh coba maen itung2an ajah. misal: seorang ibu bekerja di luar rumah, pergi pagi pagi trus selesai kerja menjelang sore dan sore sore banget bahkan bisa malam baru sampe di rumah, ketemu anak sang buah hati, berinteraksi sebentar dan ternyata anak sudah mengantuk, ketemu lagi keesokan paginya sudah harus siap-siap pergi lagi ke kantor/tempat kerja. kapaaan waktu mendidik anaknyaa???? apakah mendidik anak cuma pekerjaan sampingan??? ketika sang ibu bekerja seharian di luar, sang anak ditinggalin dimana? baby sitter?? atau dititipin ke rumah neneknya? mmmhh jadilah anak kita menjadi anak sang baby sitter atau anak nenek. jika dititipin ke ke baby sitter atau tempat penitipan anak, kita tidak tahu apa saja yang dicecokin ke anak kita selama kita bekerja. bagaimana dg tanggung jawab sebagai ibu di hadapan Allah nanti??? jika kehidupan keluarga pas pasan maka kepala keluarga/suami yang barus banting tulang dan bertawakal kepada Allah dalam mencari nafkah, jangan malah dibalik,malah sang ibu bela-belain buat banting tulang,,, semuanya ada porsinya. jawaban singkat dari muslimah.or.id sy kira sudah mencukupi dan mantab ditambah lagi ada 2 artikel yang dilink tersebut. mohn maaf jk ada salah2 kata.

    27. Gina
    February 26th, 2008 at 3:34 am

    Assalaualaikum wr.wb
    artikel yang menggugah nurani dan mengubah pemikiran saya betapa mulianya seorang ibu rumahtangga.Bravo ibu rumahtangga

    28. mami Hazza
    March 5th, 2008 at 3:55 am

    saya sangat setuju dengan ketentuan Islam yang menaruh beban pencari nafkah bukan pada para ibu (wanita) tetapi pada kaum laki – laki. Namun keadaan di Indonesia ini nampaknya hanya sebagian kecil saja yang bisa menikmati kemudahan menjadi ibu rumah tangga tanpa dibebani dengan tanggung jawab mencari nafkah. Bukannya karena sudah sekolah tinggi2 trus sayang kalau di rumah saja tapi memang beban ekonomi semakin berat.

    29. Annisa
    March 8th, 2008 at 2:22 am

    Subhanallah
    artikelnya bagus,jadi semakin bangga sama ibu.Smoga kelak saya jg bisa menjadi ibu rumah tangga yg baik.
    Amiin….

    30. yusi
    March 9th, 2008 at 11:18 pm

    Assalamualaikum…
    Bisa minta tolong komentar2 ukhti sekalian tentang suami yusi yang sangat mengharapkan yusi bekerja?
    Bahkan suami yusi berusaha keras mencarikan pekerjaan untuk yusi, yang tentu saja sesuai bidang yusi ketika kuliah(yakni di proyek2 pembangunan), yang sangat kental dengan pembauran pergaulan dan lebih banyak laki2nya???)
    Suami yusi berpendapat bahwa, sebaiknya yusi mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan yusi sendiri, sedang uang dari suami (yang sudah dikurangi untuk kebutuhan suami) dapat ditabung untuk masa depan… karena ukhti2 tau pendidikan mahal, untuk makan saja mahal, transportasi mahal, dll…
    Wassalamualaikum wr.wb

    31. muslimah.or.id
    March 12th, 2008 at 8:33 pm

    untuk saudariku yusi,
    ukhti, tempat yang paling baik untuk wanita adalah di rumahnya, karena dengan berada di rumahnya sang wanita akan terjaga dari berbagai macam fitnah. Jika bekerja memang dibutuhkan,maka bekerja dibolehkan dengan syarat sang wanita harus menutup auratnya dari orang-orang yang bukan mahrom nya serta kondisi kerja harus bebas dari hal-hal yang dilarang oleh syari’at seperi ikhtilat (campur baur), khalwat (beruda-duaan dengan bukan mahrom), dll. Dan perlu kembali kita ingat bahwa kewajiban seorang wanita adalah mendidik anak-anaknya.
    Maka, cobalah beri pengertian kepada suami ukhti. Bahwa rezeki adalah suatu hal yang telah ALLAH jamin untuk kita. Manusia tidak akan meninggalkan dunia ini sebelum semua jatah rezeki yang ALLAH jamin untuknya ia terima. Dan kewajiban kita sebagai hamba ALLAH adalah melaksanakan apa yang ALLAH perintahkan dan menjauhi apa yang ALLAH larang.
    Waallahu a’lam.