Donasi Web Donasi Web

Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga

Penulis: Ummu Ayyub
Muroja’ah: Ust Abu Ahmad

Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?


Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama “Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak, tabungannya?” Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab “Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi “pengen jadi Superman!”

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?

Lalu…

Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ‘cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?

Wallahu a’lam

Maroji’:

  1. Dapatkan Hak-Hakmu, Wahai Muslimah oleh Ummu Salamah as Salafiyyah. Judul asli: Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat
  2. Mendidik Anak bersama Nabi oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Judul Asli: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl
  3. Majalah Al Furqon Edisi: 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427/April 2006

***

Artikel www.muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Banner MPD

About Author

166 Comments

  1. www.muslimah.or.id

    1. Abu ‘Uzair
    December 17th, 2007 at 8:53 am

    artikel yg bagus,
    salam buat abu Ayyub…

    3. nurhidayat
    December 17th, 2007 at 10:51 pm

    Subhanallah, begitu pentingnya peran wanita. Namun sayang, sedikitnya wanita yg mampu & mau berperan sbg ibu rumah tangga pendidik.
    Saya kutip ya artikelnya.

    4. Qonita
    December 18th, 2007 at 1:18 am

    ibu rumah tangga, kedengarannya sepele…namun siapa sangka akan membuahkan pahala bagi yang ikhlas. Wanita karier…ah sudah banyak dan biasa
    ibu rumah tangga….wow luar biasa.
    Coba bayangkan dari urusan rumah A sampai Z dia yang urus, wah…..

    “Jadi ibu rumah tangga, siapa takut.”

    5. muhandhis
    December 21st, 2007 at 2:34 am

    :)
    saya suka baca artikel ini, moga2 kelak saya bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik… amiin…

    6. ummu abdillah
    December 23rd, 2007 at 6:57 pm

    Subhanalloh, menjadi ibu rumah tangga memang berat tanggung jawabnya tapi pahalanya…masya Alloh,artikelnya bagus banget

    7. muhirnayani
    December 25th, 2007 at 1:45 pm

    Terima kasih artikelnya menggugah hati saya, insyaAllah saya bisa menjadi ibu rumahtangga yang baik dan mendidik anak-anak saya menjadi anak yang Shaleh/ah

    8. nik
    December 26th, 2007 at 9:22 pm

    aku semakin bangga dg ibuku…ibu aku kangen!!!

    9. azzahra
    December 28th, 2007 at 2:14 am

    Aduh…jadi ingat almh ibu. mudah2an semua yang yang sudah ditulis dapat bermanfaat bagi muslimah2 di seluruh dunia termasuk saya.

    10. siti
    December 28th, 2007 at 4:03 am

    membaca artikel ini membuatku semakin rindu tuk menjadi istri dan ibu nan sholehah serta berkhidmat sepenuhnya pada keluarga..

    11. tunik
    January 1st, 2008 at 2:26 am

    artikelnya bagus bgt. menjadi ibu rmh tgg yg baik adl cita2 saya. amien

    12. yusuf
    January 2nd, 2008 at 10:36 pm

    alhmdulillah…akhirnya kmbali ada yang mengingatkan betapa pentingnya peran ibu rumah tangga…inilah cara tuk memperbaiki masa depan bangsa..memdidik dgn benar calon generasi pengganti..

    13. enissa
    January 11th, 2008 at 3:35 am

    Subhanalloh, ana pun baru menyadari betapa kaya nya pahala seorang ibu rumah tangga. sehingga skrng tidak malumalu lagi ana menyebut diri ana iburumah tangga, walau kadang kerabat dan ortu pun tidak menyukai jabatan IRT tsb.

    14. zahra
    January 15th, 2008 at 10:37 am

    Subhanallah, artikel yang sangat menggugah nurani. Tapi bagaimana dengan teman saya yang harus terus bekerja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga padahal tempat kerja tersebut berbaur laki dan perempuan.

    15. halimah
    January 25th, 2008 at 3:41 pm

    Tak kan ada yang sia2, itulah kata2 yang selalu kuingat. Seorang dosen menguatkan tekadku untuk tak mengejar karir perusahaan. Beliau (sang dosen) berkata bahwa meskipun kita tidak bekerja setelah kuliah tinggi2, itu takkan sia2, sebab nanti kita akan jadi ibu, jadi pendidik. Pola pikir ilmiah yang kita dapatkan dari proses belajar itulah yang nantinya akan membedakan dalam pendidikan anak. Dan kalaupun seorang wanita bekerja, sebaiknya pada ranah2 pengajar, penulis, atau bekerja yg bisa dilakukan di rumahnya sendiri (semisal programmer IT yang tidak mengharuskan ke kantor). Insya Alloh tak ada yang sia-sia…

    16. santy
    February 6th, 2008 at 5:36 am

    Yah..itulah perempuan..(lebih halus dr segi bahasa di banding wanita)..
    Setelah melakukan semua tugas domestik..ikut membantu suaminya mencari nafkah untuk berlangsungnya kehidupan..tapi kadang hak2nya masih juga dibatasi..bahkan di belenggu..
    Sang pemimpin tinggal bilang..sejatinya istri di rumah mengurus anak dan mengatur keuangan sebaik2nya…tanpa di sadari kewajiban dia untuk membahagiakan anak dan istrinya LAHIR dan BATHIN pun kadang terabaikan..walau tak sengaja..
    apa jadi istri saleha adalah yg hanya menuruti tanpa perduli dengan hak2 yg harus di dapatnya..bukan hanya menyembunyikan tapi membunuh haknya sendiri dan membuangnya jauh2..
    hak seperti apa?
    yah..setiap manusia punya hak yang sama..baik laki2 atau perempuan..
    single or married..
    setelah sang perempuan mengurusi rumahnya, mengurusi anak dan suaminya, bahkan membantu cari nafkah..dsb
    semestinya sang suami memberinya ruang untuk dia bisa maju…tanpa warning selalu…awas ya..ingat rumah! ingat anak!..padahal tanpa di begitukan..sudah sangat melekat pekerjaan itu..
    apalagi punya anak special need yg tidak normal…berat..
    sungguh perempuan sangat harus di hormati…dan di berikan hak2 nya..

    17. liwa
    February 6th, 2008 at 11:47 pm

    mnt saya mjd ibu rumah tangga profesi terberat.dulu saya PNS di bagian yang kt org “basah”.Agak berat juga berhenti kerja untuk ikut suami yang lagi sekolah di Saudi, bukan karena uangnnya tapi ambisi saya ingin ambil postgraduate di luar. Alhamdulillah,now Allah mengantinya kehidupan yang saya yang lebih baik, dunia dan akhirat insyaallah.Jangan takut untuk berhenti kerja kr kita tidak akan mati sebelum dipenuhi semua rezeki kita di dunia ^-^

    18. linda
    February 14th, 2008 at 2:54 am

    assalamualaikum Wr.Wb

    Terimakasih atas artikelnya dapat memberikan masukan buat saya.sebab peran ibu tidak gampang.Tidak semua wanita yang mampu menjadi ibu yang baik.siapa tau dengan membaca artikel ini mereka yang sudah menjadi ibu yang kurang baik dapat mengubah diri meraka menjadi ibu yang baik bagi anak2 mereka.

    Wassalam,

    19. wardah
    February 15th, 2008 at 12:31 am

    memang menjadi ibu rumah tangga yg hanya tinggal di rumah lebih baik, tetapi jika kita dihadapkan kepada kebutuhan rumah tangga dengan penghasilan suami yg tidak mencukupi mau tidak mau kita sebagai istri harus bisa membantu menutupinya dengan bekerja, walau berat meninggalkan anak tapi itu tugas kita untuk dapat membagi waktu dengan baik

    20. andy jen
    February 15th, 2008 at 1:22 am

    subbahannallah.begitu besar dan penting peranan seorang ibu rumah tangga.sekarang saya menjadi tahu lebih banyak tentang peranan seorang ibu rumahtangga.kebetulan saya baru aja menikah dan baru aja memulai kehidupan berumah tangga.dan setelah saya membaca artikel ini,saya menjadi banyak tahu tentang peranan ibu runah tangga.dan jujur aja neh, saya jadi tambah sayang dan cinta ama istri tercinta. saya sadar akan tanggung jawab yang diemban oleh istri saya tercinta sangat berat. mulai hari ini saya akan selalu menghargai istri saya,dan akan selalu menyayanggi nya seumur hidup saya,dan akan selalu mencintai nya dari dunia hingga akhirat.dan semoga allah swt mempertemukan kembali kami di akhirat nanti tetap sebagai pasangan suami istri,dan bukan sebagai musuh. terima kasih banyak atas tulisan yang berharga.hanya tuhanlah yg bisa membalas segala kebaikan yang terkandung dalam tulisan ini.sekali terima kasih..wassalam mualaikum.

    21. ningrum
    February 18th, 2008 at 2:08 am

    asalamkum.subhanallah sungguh mulia pengorbanan seorang ibu yang mau merawat, mendidik anaknya.karena pertanggungjawaban orang tua akan di diminta di akhirat nanti.was.

    22. putri_hasy
    February 18th, 2008 at 10:59 pm

    subhanallah, artikelnya baguss bgt.
    memang peranan seorang ibu sangat luar biasa.
    rusaknya suatu negeri itu tergantung wantnya. jk wnta nya baik maka akan baik pula negeri itu. begitu juga rt. jd janganlah memandang remeh pekerjaan ibu rumah tangga. justru itu lahan lahan menuju surga allah.

    23. olga
    February 21st, 2008 at 2:32 am

    Memang ideal sekali jika wanita “Full” mengurus rumah tangganya?, tapi bagaimana dengan keadaan ekonomi keluarga yang pas-pas an.Belum lagi butuh biaya sekolah untuk anak?
    Saya lebih setuju jika wanita mengambil wilayah abu-abu. Karena bagaimana pun wanita itu harus bisa mencari uang. Pernahkah terpikir bagaimana jika sang pencari nafkah dipanggil oleh ALLAH ?dari mana sang ibu akan memenuhi kebutuhan dirinya juga anak-anaknya ? Ya! Wahai Para Muslimah saya mengajak kita semua untuk berkembang, maju, tau cara mencari nafkah, mempersiapkan diri kita sebaik mungkin siap untuk situasi apa pun. Saya yakin para muslimah bisa mengatur-atur pembagian waktu antara mencari nafkah, mendidik anak, melayani suami dan menikmati kehidupannya seBagai wanita. Selamat berikhtiar, Kau Tak Sendiri

    24. muslimah.or.id
    February 21st, 2008 at 6:37 pm

    Assalamu’alaikum
    Ukhti Olga, kaum wanita pada dasarnya diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya untuk tetap berada di rumahnya. Kewajiban untuk mencari nafkah adalah kewajiban laki-laki (suami), dan tidak boleh dibebankan kepada para wanita untuk mencari nafkah. Perintah Allah dan Rasul-Nya agar wanita tetap tinggal di rumah mengandung begitu banyak kebaikan dan hikmah. Sebagaimana kita tahu, bahwa wanita yang keluar rumah dan bekerja di luar akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang bertentangan dengan syari’at, seperti: ikhtilat/campur baur dengan laki-laki yang bukan mahromnya, dll. Jika ada suatu keadaan yang memaksa seorang wanita untuk bekerja, maka banyak sekali jenis pekerjaan yang tetap bisa dikerjakan di rumah tanpa harus keluar rumah dan campur baur dengan laki-laki yang bukan mahrom, seperti: menjahit pakaian, dll. Silahkan baca artikel berikut:
    1. Saudariku kembalilah ke rumahmu
    2. Jangan menyerah saudariku

    25. Siska
    February 22nd, 2008 at 2:40 am

    Buat ukhti Olga:
    Mendidik anak dan bekerja itu bisa diatur??

    wah…apa benar bisa semudah itu??
    masalahnya mendidik anak itu tidak semudah itu ya ukhti…(tentu ukhti telah merasakannya bukan?)
    bayangkan ketika seorang ibu bekerja seharian..banyak momen2 yang terlewatkan untuk mendidik anak.
    Ketika dia masuk kamar mandi yang mungkin beberapa kali,
    ketika dia akan makan siang,
    ketika dia akan tidur…
    ketika dia bangun tidur…
    ketika dia bermain dengan temannya atau ketika ia melangkahkan kaki keluar rumah…
    ketika dia mengganti bajunya…mengajarkannya untuk malu..ketika pakaiannya tersingkap di hadapan temannya…dan masih banyak lagi…

    ada banyak sekali adab dan sunnah nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa ditanamkan…(yang tentu saja mestinya juga/telah tertanam di benak kita sebagai ibu) yang bisa diajarkan kepada sang anak..yang tentu saja itu gak bisa diajarin sehari dua hari…atau sejam dua jam ketika malam telah tiba…ketika hari libur kerja..gak semudah itu…
    butuh berbulan-bulan secara kontinyu menanamkan adab itu sampai mereka akhirnya menjalankannya secara natural…melekat di kepribadian mereka..
    manis rasanya ketika akhlak itu dilakukan sang anak tanpa perlu diingatkan lagi..

    dan bukan sekedar yang seperti itu…

    ketika seorang anak merengek meminta mainan….disitu banyak sekali kesempatan adab dan akhlak yang bisa diajarkan.. mengajarkan anak qonaah…taat pada ibu…berkata lembut pada ibu dan bapaknya…itu juga harus kontinyu…
    bayangkan ketika sang anak sudah besar dan ia meminta sesuatu yang lebih besar…lebih mahal…apa kita harus selalu memenuhi permintaaanya…padahal ketika itu sang anak telah memiliki kepribadian yang melekat..memiliki fisik yang lebih besar..dan kuat..

    tapi….sekali lagi…itu semua juga setidaknya juga telah tertanam di pribadi sang ibu..
    sang ibu juga mesti belajar untuk qona’ah…sang ibu juga harus berusaha menjalankan ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.. bagaimana mengajarkan anak qona’ah…jika sang ibu juga tidak merasa qona’ah…
    sama saja..bagaimana mengajarkan anak untuk tidak berdusta…ketika sang ibu sering berdusta…
    coba direnungkan wahai ukhti…

    sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala maha mengetahui apa yang paling baik untuk hamba-Nya…

    26. Ibnu Muhammad Nuh
    February 22nd, 2008 at 2:59 am

    Ingin menambahkan buat ukhti Olga: mmmmmhhh coba maen itung2an ajah. misal: seorang ibu bekerja di luar rumah, pergi pagi pagi trus selesai kerja menjelang sore dan sore sore banget bahkan bisa malam baru sampe di rumah, ketemu anak sang buah hati, berinteraksi sebentar dan ternyata anak sudah mengantuk, ketemu lagi keesokan paginya sudah harus siap-siap pergi lagi ke kantor/tempat kerja. kapaaan waktu mendidik anaknyaa???? apakah mendidik anak cuma pekerjaan sampingan??? ketika sang ibu bekerja seharian di luar, sang anak ditinggalin dimana? baby sitter?? atau dititipin ke rumah neneknya? mmmhh jadilah anak kita menjadi anak sang baby sitter atau anak nenek. jika dititipin ke ke baby sitter atau tempat penitipan anak, kita tidak tahu apa saja yang dicecokin ke anak kita selama kita bekerja. bagaimana dg tanggung jawab sebagai ibu di hadapan Allah nanti??? jika kehidupan keluarga pas pasan maka kepala keluarga/suami yang barus banting tulang dan bertawakal kepada Allah dalam mencari nafkah, jangan malah dibalik,malah sang ibu bela-belain buat banting tulang,,, semuanya ada porsinya. jawaban singkat dari muslimah.or.id sy kira sudah mencukupi dan mantab ditambah lagi ada 2 artikel yang dilink tersebut. mohn maaf jk ada salah2 kata.

    27. Gina
    February 26th, 2008 at 3:34 am

    Assalaualaikum wr.wb
    artikel yang menggugah nurani dan mengubah pemikiran saya betapa mulianya seorang ibu rumahtangga.Bravo ibu rumahtangga

    28. mami Hazza
    March 5th, 2008 at 3:55 am

    saya sangat setuju dengan ketentuan Islam yang menaruh beban pencari nafkah bukan pada para ibu (wanita) tetapi pada kaum laki – laki. Namun keadaan di Indonesia ini nampaknya hanya sebagian kecil saja yang bisa menikmati kemudahan menjadi ibu rumah tangga tanpa dibebani dengan tanggung jawab mencari nafkah. Bukannya karena sudah sekolah tinggi2 trus sayang kalau di rumah saja tapi memang beban ekonomi semakin berat.

    29. Annisa
    March 8th, 2008 at 2:22 am

    Subhanallah
    artikelnya bagus,jadi semakin bangga sama ibu.Smoga kelak saya jg bisa menjadi ibu rumah tangga yg baik.
    Amiin….

    30. yusi
    March 9th, 2008 at 11:18 pm

    Assalamualaikum…
    Bisa minta tolong komentar2 ukhti sekalian tentang suami yusi yang sangat mengharapkan yusi bekerja?
    Bahkan suami yusi berusaha keras mencarikan pekerjaan untuk yusi, yang tentu saja sesuai bidang yusi ketika kuliah(yakni di proyek2 pembangunan), yang sangat kental dengan pembauran pergaulan dan lebih banyak laki2nya???)
    Suami yusi berpendapat bahwa, sebaiknya yusi mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan yusi sendiri, sedang uang dari suami (yang sudah dikurangi untuk kebutuhan suami) dapat ditabung untuk masa depan… karena ukhti2 tau pendidikan mahal, untuk makan saja mahal, transportasi mahal, dll…
    Wassalamualaikum wr.wb

    31. muslimah.or.id
    March 12th, 2008 at 8:33 pm

    untuk saudariku yusi,
    ukhti, tempat yang paling baik untuk wanita adalah di rumahnya, karena dengan berada di rumahnya sang wanita akan terjaga dari berbagai macam fitnah. Jika bekerja memang dibutuhkan,maka bekerja dibolehkan dengan syarat sang wanita harus menutup auratnya dari orang-orang yang bukan mahrom nya serta kondisi kerja harus bebas dari hal-hal yang dilarang oleh syari’at seperi ikhtilat (campur baur), khalwat (beruda-duaan dengan bukan mahrom), dll. Dan perlu kembali kita ingat bahwa kewajiban seorang wanita adalah mendidik anak-anaknya.
    Maka, cobalah beri pengertian kepada suami ukhti. Bahwa rezeki adalah suatu hal yang telah ALLAH jamin untuk kita. Manusia tidak akan meninggalkan dunia ini sebelum semua jatah rezeki yang ALLAH jamin untuknya ia terima. Dan kewajiban kita sebagai hamba ALLAH adalah melaksanakan apa yang ALLAH perintahkan dan menjauhi apa yang ALLAH larang.
    Waallahu a’lam.

  2. Dinie Kawai

    Kewajiban terus ya…dimana gerangan Hak-hak untuk perempuan.. i wonder

  3. Ummu Ahmad

    Hak untuk perempuan? wah buanyak… dekat dengan anak dan mendidik mereka juga merupakan hak (bukan cuma kewajiban). Memang tidak bisa dinilai dengan rupiah, tetapi melihat kemajuan mereka dalam menjalani hari-harinya juga merupakan kebahagiaan tersendiri.

    Bisa makan sendiri, pakai baju sendiri, tidur sendiri… bisa diajarkan oleh ‘siapapun’ asalkan sabar (biasanya qt serahkan hal tsb pd pengasuh utk mengajarinya). Tapi… mengajarinya tentang Islam…?

    Terharu loh… ketika ‘tau-tau’ anak bisa membaca doa2/surat2 pendek dalam Al-Quran (padahal gak pernah diajari scr khusus).

    Atau…
    Saat si anak menutup mulut temannya yang menguap, dan mengajari… “kata Nabi, kalau menguap harus ditahan, kalo gak tahan harus ditutup supaya setan gak masuk”. dll dsb dst

    Melihat anak mengerti TUHAN ITU SATU, TUHAN BERSEMAYAM DI ARSY, adab2 Islam, dll… merupakan hak ibu yang sangaaaat indah.

    btw… tau gak? Anakku (5th) menangis waktu saya ceritakan moment wafatnya Rasulullah. Ia bersedih krn gak bisa bertemu Rasulullah (dikiranya Rasulullah hidup pada jaman sekarang), Ia berdoa memohon pd Allah agar bisa bermimpi bertemu dengan Beliau, Ia bahkan jadi termotivasi untuk mengikuti sunnahnya dengan harapan kelak bertemu di akhirat.

    So sweeeeeeetttt. Subhanallah

    dan anakku benar-benar menangis meneteskan air mata… tertelungkup di bantalnya (agak lama untuk dihibur), pdhl ia hampir tak pernah menangis!

  4. Bisa bantu? saya seorang guru yang bekerja full time (senin-jumat), saya bekerja sudah 4 tahun (dari sebelum menikah) setelah anak pertama lahir saya berniat berhenti jadi ibu rumah tangga. Tapi masih bingung karena karir guru sedang naik pesat (kemungkinan besar ada promosi PNS dan di sekolah juga sudah mendapat banyak kepercayaan). Sekolah saya memberi libur lebih banyak (libur semester bisa 1 bulan + 1 minggu mid + 1 minggu spring + 1 minggu summer) tapi kalau hari kerja bisa sampai jam 4 or 5. Kalau berhenti keuangan rumah tangga jadi pas2an. Mana yang lebih baik ya? terimakasih

  5. abu asykari

    assalamu’alaikum…

    afwan, ana mau tanya…???
    klo kajian di palembang itu dimana yah…???
    dan ada ngak orang yg bisa ana hubungi (contact personx)

    infonya kirim ke email ana aj yah…

    jazakallahu khoir…

  6. farida setiawaty

    kajian yang maenarik, alhamdulilah. menjadikan sebuah keluarg yang sakinah, mawaddah warrahmah adalah impian setiap orang, dan menjadi ibu yang sukses dalam keluarga adalah kebahagiaan yang besar, terutama kesuksesan dalam mendidik anak, karena ia amanah dari yang maha penyayang, mendidik anak dengan baik bukan hanya tabungan buat kita tapi juga aset buat bangsa dan negara bahkan dunia, bagi para ibu yang sibuk dimana saja saya rasa bukan suatu masalah karena setiap perempuan diciptakan dengan takdir yang berbeda asala kita memiliki prioritas utama yaitu keluarga dan putra-putri kita

  7. subhanallah, iya bener, jd IRT emang masya ALlah indah n berkahnya. lucunya , kami ummahatmuda di kajian yg masih mahasiswa, kalo ngisi biodata yang tentang pekerjaan, lebih bangga ngisi IRT daripada MAHASISWI, that means IRT itu…ah, subhanallah lah^_^

  8. “IBU RUMAH TANGGA”

    itu adalah cita2 terbesar saya,,
    tak terbayangkan jika harus menyerahkan segala urusan anak kpd pembantu yg tidak mungkin setelaten kita.
    tak terpikirkan jika harus melewatkan kata pertamanya..
    langkah pertamanya..
    gigi yang pertamanya..
    dan tawa yang begitu tulus setiap saat..

    sayang sekali jika seorang anak tumbuh dr kedua orang tua yg berpendidikan sarjana harus mendapat perhatian hanya dari seorang pembantu..

    semoga artikel yg bagus ini dapat membuka hati dan pikiran para ibu/calon ibu lainnya yang enggan atau bahkan melu menjadi seorang “ibu rumah tangga”

  9. Dinie Kawai

    yeah right..keep going ..

  10. Dinie Kawai

    Saya sangat sangat setuju bahwa pekerjaan sebagai Ibu rumah Tangga merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Tapi saya juga ga setuju apabila ada anggapan wanita karier atau perempuan bekerja itu tidak baik. Lihat dulu konteksnya, kalau melihat statistik di indonesia, ada 11 % dari seluruh jumlah keluarga di indonsia yang dikepalai seorang perempuan. Mau tidak mau harus bekerja kan?? kalau tidak anak2nya mau makan apa?. Lalu dari statistik kita bisa liat kalo ada 39 juta populasi di indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. What do u expect from income 150 rb/bulan??. That means buat makan aja kurang. Berarti mau ga mau perempuan harus bekerja untuk nambah2 kan??.

    Sebagai perempuan tentu saya sangat senang kalau diri kita dicukupi oleh suami dan hidup sejahtera, tapi please..thinking outside the box, tulisan anda ditujukan untuk siapa? seluruh perempuan di Indonesia kah? atau hanya kelompok anda saja?.

    im not intend to being rude or somethin. Hanya saja gambaran anda mengenai ibu rumah tangga terlalu ideal buat saya, mendidik anak memang penting, memperhatikan ia tumbuh dan berkembang, dsb dsb. Yah itu kalau keadaannya sudah sejahtera. Tapi bagaimana dengan keluarga2 miskin?? bagaimana mendidik kalau ia masih bingung apakah hari ini ia makan atau tidak?. belum lagi masalah2 yang lain seperti kekerasan dalam rumah tangga atau banyak ibu yang meninggal di meja persalinan sehingga keluarga tidak memiliki seorang untuk mendidik anak lagi. Maka menjadi tanggung jawab bagi perempuan lain yang lebih beruntung secara ekonomi dan sosial untuk ikut membantu mereka, Not in “material” way, tapi yang lain, misal terjun ke politik untuk menjadi wakil mereka, menciptakan lapangan pekerjaan untuk mereka, “bekerja” untuk mereka dsb. Thats what women should do.

    Itu saja komentar saya. afwan sebelumnya, sesungguhnya kebenaran itu milik Allah SWT, wa’llahu alam bi showab

  11. abdul fattah

    tiada suatu pekerjaan yang lebih mulia lagi membanggakan bagi seorang wanita dari mengasuh anak dan melayani seorang suami… kenapa? jika dilakukan secara sempurna kan mendatangkan kebaikan yang tak terkira… yang kan menghantarkan kejannah dan melihat wajah Allah… tiada kenikmatan yang melebihinya….kok bisa? ya bisa lah kalau nanti kita mati meninggalkan anak yang durhaka apa kita dapat pahala lagi? … kalau mereka (moga dikaruniai anak yang banyak lagi sholeh dan sholehah) berbakti kan bisa ngurangi penderitaan dan mengkat derajat?! betul kagak?
    kenyataan kemiskinan kelaparan dan lain sebagainya tak bisa menjadi alasan bagi seorang wanita tuk tidak mendidik anak mereka dengan alasan pekerjaan. ketika mereka bekerja rezqi mereka takkan melebihi apa yang telah Allah tentukan. kalau rizqinya Rp 5000,- takkan jadi Rp10.000,- dengan bekerja.
    oh ya ana tdk menghalangi mereka bekerja tetapi kalau bekerja ikutilah aturan yang ditentukan islam dan jangan korbankan keuntungan akhirat yang jauh lebih besar..???? ???? ???? ?????

  12. jd IRT memang pkerjaan yg sngt mulia sekali.harta,benda kekayaan hana sementara,tp amalan p’buatan qt akan qt bwa sampai qt mati,apa la9i bsa menddk anak mjd sholeh n sholeha.subhanallah. . .pahala qt tk akan t’puTus.krn anak adl amanah dri allah.dan istr y9 mendmpin9i suamina dpt phla sur9a. . .apala9i jk suamina pulan9 dri kerja. . .disambuT OLeh istri,btp bh9ia san9 suami.jika ke2na sma”sibuk wah istri pln9 k’ja suami j9 pln9 k’ja,sma”cpekna truz ankna 9mN?JD ank pembantu?he he he siapa yang nanyain pR mrk,sdan9kan keDua ortu mrk sibuk sendiri.syukr0n

  13. Yeah,if the situation force a woman to work, try not to compromise the dien. There will be a way insya Allah, as Allah says:
    “And whosoever fears Allah and keeps his duty to Him, He will make a way for him to get out (from every difficulty). And He will provide him from (sources) he never could imagine. And whosoever puts his trust in Allah, then He will suffice him. Verily, Allah will accomplish his purpose. Indeed Allah has set a measure for all things (At-Talaq:2-3)
    One important key is to learn which ways are permissible,which are not. So a woman,at certain condition, can work without violating her role as wife and mom,as ruled by Islam.
    And there is no such thing for the other “sufficient” women to help the “poor” by jumping into political area.There are a lot of destruction for women by doing so,and we can just reflect back how sahabiyah help the other sahabiyah without jumping into such manly area.I think there are no women better than the like of Aisyah,Fatimah,Ummu Salamah,Khodijah, Zainab,Hafshoh,etc..radliallahu ‘anhunna..and despite their strong will to do charity, they didnt go up to challenge for khalifah post,or being one of the governor,etc etc.
    Do not think out of the box,that is, the box of Islam.IF we try to use any other way that outside Islam rule,even if we (seem) succeed in this world,I doubt that it will be successful in the Hereafter.
    Only Allah’s guidance,the true guidance.Allahu a’lam

  14. memang paling enak jadi ibu rumah tangga. ga perlu bercapek2 di jalanan. Tapi gimana bila ekonomi keluarga minim? Bolehkah sang ibu bekerja? Kalau menurut saya, mendingan buka bisnis aja di rumah. Bisa jaga anak smbil cari penghasilan :)

  15. Subhanallah..sebuah wacana yang sangat membuat hati para ibu menjadi tergugah hatinya, termasuk saya… Pastinya artikel ini akan saya jadikan bahan rujukan bagi teman-teman yang baru saja menikah, bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah hal yang sangat mulia.

  16. subhanallah,,artikel ini membangkitkan kembali kein9inan saya jadi istri dan ibu yg bAik dan solehah,memang sulit ya..but hrapan positif tetap haruz dkembangkan with usaha. tapi dsisi lain,ingin juga mbaha9iakn orang tua yg ingin anknya sukses dg bkrja. so,untk wanita yg ingin bekerja,ada banyak pekerjaan yang dapat dkerjakan drumah,tanpa harus jauh dEngan anak,bisa sebagai wirausahawan.. tak salah kan?

  17. saya percaya 100% bahwa keberadaan perempuan di rumah akan membawa kebaikan tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk suami dan anak-anaknya,
    tapi,
    terkadang kita dihadapkan pada situasi yang mengharuskan kita untuk bekerja
    menurutku,
    berbuatlah yang terbaik dalam kondisi apapun kita saat ini,
    selama segalanya masih dalam kerangka keridhoan Allah SWT dan masih dapat ditoleransi agama……
    bersyukurlah atas semua kasih sayang Nya selama ini………
    Wahai Anak-anak ku, ….bersabarlah !
    Maafkan ummi mu yang nak…………..

  18. bagus sekali tulisannya, ijin mengutip ya :)

  19. Pencari Ilmu

    Subhallah..

    Semoga Kami para suami bisa mendidik istri-istri kami supaya mereka juga bisa mendidik anak-anak kami (amanah dari Allah).

    Amin.

    Mohon ijin mengutip tulisannya ya ukhti.

  20. Subhanalloh…. artikel yang bagus… smpe pns pengen nangis bacanya, jg koment2nya. ana jg umahat muda dg si kecil raihanku (3bln) emg so sweeet wktu si kecil mau bo2 kita tatap matanya n say.. sayangnya ummi mau bo2 ya? doa dulu yuuk… bismikallohhumma ahya wabismika amuut… eeeh sikcil kut menggerakkan bibir lucunya.. jg doa2 yg lain. sunah2 yg lain.. walo msh 3bln tp ana yaqin banget dia pham dan smga melekat sangat lekat dlm kepribadiannya dn mjd amal jariyah bg abi umminya… jadilah anak yg shilih lagi mushlih raihanku sayang… kami mencintaimu karena ALLOH.

  21. ABU YUSUF AL-AMBUNY

    Hiks..hiks
    terharu baca artikel + komentar2nya..
    bagus,bagus bgt.
    Apalagi komentar ummu ahmad..hiks hiks bikin terharu..
    Smoga aq dmudahkan utk mnjd pribadi yg sholeh n mdptkn istri yg sholeha. Amiin
    Hiks hiks

  22. assalammu’alaykum. ana tergugah setelah membaca artikel ini,ingin menjadi istri idaman suami,plus org tua yg sukses membesarkan anak.ana seorang ibu muda br berusia 20 thn.dan alhamdulillah ana br punya anak satu masih batita.ana ingin seperti apa yg di idamkan suami,namun ana merasa masih byk sekali kekurangan dalam hal rmh tangga.mdh-mdhn dgn byk membaca artikel2 yg berilmu,insyaAlloh ana bisa merubah diri ana lebih baik dan dari smw usaha itu akan ana transfer ke buah hati ana tercinta. salam buat para ummahat “semangat terus menjadi tauladan bwt penerus kita…”

    assalammu’alaykum,salam ummu emira.

  23. Assalamualaikum

    Artikel yang sangat menyentuh hati…
    ana minta ijin meng-copy artikel ini dan mungkin artikel lain yang ada di web ini untuk dimuat di web ana, tentunya dengan menyebutkan sumbernya.
    Selain itu apa boleh ikut me-link web ini ?
    Mohon tanggapan dari webmaster…

    jazzakunnallahu Khoir

  24. Assalamu’alikum…artikelnya merupakan jawaban apa yg saya rasakan selama menjadi IRT,lulus kuliah S1 dgn cum laude tp skrg hanya jd IRT.keluarga sangat anggap remeh saya..apalagi teman2 saya yg sudah pd berkarir sukses.kl ketemu jd minder.padahal ini sudah jalan hidup saya dan saya menjalaninya dgn senang,krn skrg putri saya sdh 3thn sudah bisa menghafal surat2 pendek n do’a2,sangat dkt n sayang pd saya.begitu besar manfaat jd IRT.Artikel ini memantapkan hati saya untuk menjadi IRT yg berkualitas..mudah2an predikat cum laude yg saya dapat akan menghasilkan anak2 saya kelak menjadi cum laude di mata ALLAH SWT…

  25. Saya juga ibu rumah tangga. Ya memang banyak yang meremehkan profesi ini. Kata orang “Nggak menghasilkan uang”. Saya juga sering disudutkan saudara saya, kuliah tinggi2 cuma di rumah. Sayang gak ada hasilnya. Saya sering sedih dengan cibiran itu. Seolah olah yang tak ada uang tak berguna dan sekolah tinggi harus ada pemasukan uang.

  26. bolehkah saya meng link web ini ke web saya? terima kasih

  27. Sekedar berbagi …
    Ibu saya jauh dari karakter IRT ideal. Tak pernah mengajarkan apa pun. Beliau wanita karir luar biasa, tak pernah di rumah. Membiayai ke-4 anaknya tanpa bantuan suami karena ayah kami tidak bekerja. Hasilnya… yah saya ini. Saya bukan siapa-siapa. Dan tidak menjadi siapa-siapa. Saya lebih banyak belajar pada matahari, pada bulan, dan pada angin yang bergerak. Pada ibu juga secara tidak langsung, dan pada surat cinta dari Yang Maha Kuasa. Tapi, saya bangga dengan ibu saya. Bukan karena sekedar ibu saya telah melahirkan saya dan saya tidak mau dicap anak durhaka. Tapi saya benar-benar bangga padanya. Bangga saja. Bangga sekali. Dengan rumit atau sederhana.
    Saya malah ingin keliling dunia untuk mengambil satu misi yang sangat mulia. Yang tidak semua wanita mau menjalankannya. Mungkin rumah saya nanti bukan sebuah bangunan dengan peralatan memasak lengkap dengan mesin jahit. Di mana saya harus menungguinya seharian. Saya bukan hanya ingin mendidik anak-anak yang keluar dari rahim saya, tapi saya ingin mendidik anak-anak di seluruh dunia. Anak-anak yang bukan hanya hafal doa-doa dan ingin menjadi ulama. Tapi anak-anak yang kelak di masa besarnya, mampu membebaskan dirinya dan orang lain dari belenggu. Belenggu persepsi dan pemikiran, terutama.
    Baru ingin saja, kok. Ingin. Yah… ingin saja. Apakah keinginan ini terlalu muluk-muluk? Nggak juga. Biasa saja. Karena Al Quran memampukan kita untuk tahu, bahwa kita diciptakan untuk menjadi lebih dari apa yang kita duga…!
    Wallaahu a’lam bishawab.

  28. #Ari Nur:
    Siapa pula yang tidak bangga dengan ibunya, seperti kata mba Nur, rumit atau sederhana.

    Tapi terkadang kita harus melihat apakah tujuan kita itu sudah benar walau terlihat sangat sangat indah dan menurut logika dan idealisme kita akan sangat bermanfaat.

    Keliling dunia? Wah tunggu dulu, apakah keliling dunia bersama suami tercinta sebagai mahrom kita? Kalau tidak, maka kita telah menentang apa yg telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk tidak safar tanpa mahrom.

    Pembebasan dari belenggu persepsi dan pemikiran yang seperti apakah. Saya takut malah nanti Islam itu yang dianggap belenggu jika pola pikir kita menanamkan adanya hal seperti itu, sehingga anak-anak kita berusaha membebaskan diri mereka dari Islam itu sendiri. Wal ‘iyyadzu billah.

    Tidak ya ukhti. Misi itu bukanlah menjadi misi mulia jika harus banyak mengorbankan syari’at Islam. Padahal misi mulia seorang anak manusia adalah beribadah kepada-Nya. Dan ibadah dari seorang wanita itu adalah dengan berada di rumahnya, menjadi pemimpin bagi anak-anak dan menjaga amanah sang suami (semua ini insya Allah telah jelas dalam ayat Al-Qur’an dan hadits).

    Lihatlah ukhti…dan carilah ilmu, dimana sebenarnya surga bagi wanita dapat dicari. Apakah dengan mimpi-mimpi (yang kita anggap sangat mulia),yang kemungkinan besar menerjang syari’at atau dengan cara yang terlihat ‘klasik dan membosankan’, namun sebenarnya memiliki ganjaran yang begitu besar dan butuh kesabaran luar biasa untuk menjalankannya.

  29. Berbahagialah bagi yang sudah memutuskan untuk menjadi IRT dan menjalaninya dengan iklas. Saya sendiri adalah pekerja yang ingin bergabung menjadi ibu seutuhnya. Namun berat sekali nih, ibu dan saudara2 adalah pekerja, sejak kuliah saya sudah bekerja, bahkan suami sangat mendukung profesi saya. Kalau anak sakit atau pembantu pulang dia bersedia cuti, dan tetap mengantar saya pergi ke tempat kerja. Bayangkan betapa beratnya saya memutuskan, karena selama ini segalanya sepertinya baik2 saja, anak2 santun, pintar, kelihatannya sholeh, …..

  30. Wanita adalah makhluk perkasa yang diciptakan untuk membantu laki-laki menuju kesuksesan bersama

  31. Alhamdulillah ya allah……….
    Akan ku jaga Titipan Mu yg sangat berharga ini seumur hidupku takkan ku sia siakan hanya untuk kuliah ataupun bekerja,menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yg indah karena memang wanita ditakdirkan untuk diam di rumah.
    Buat pria rajin2lh bekerja…
    Allahu akbar

  32. Artikelnya jadi bikin semangat dan ga malu harus jadi Ibu Rumah tangga …
    Mohon ijin copy ke blog ya…

    jazzakalloh khair

  33. Subhanalloh….semoga banyak akhwat yang banyak membaca artikel ini. Dan segera tinggal di rumahnya, mendulang pahala! Mohon izin, ana copy di blog yaa, Jazakillah

  34. wahai para suami…bimbinglah istri2 kalian agar menjadi wanita sholihah serta pendidik anak2 kalian. Bakarlah semangatnya, bantulah ia dalam mencetak generasi rabbany. Janganlah kalian biarkan ia layu disudut rumahmu….sehingga jari -jemarinya yang lentik tak kuasa lagi menghias rumahmu.
    bagus artikelnya, lho…boleh ngopy??

  35. Alhamdulillah, ana bersyukur kpd Alloh SWT..atas nikmat yg diberikan kpd kami sebagai ibu rumah tangga dga 3 anak, dan semoga kami mampu menjaga titipan NYA dengan sebaik-baik iman akhlaq dan aqidah.

  36. subhanallah artikelnya bagus banget. semoga muslimah2 bisa kembali pada fitrahnya

  37. artikel yang bagus… bikin tambah semangat untuk mengejkar cita- cita jadi ibu rumah tangga neh.. tapi yah sampe tabungan cukup dulu… maklum.. kuli.

    salam kenal

  38. Alhamdulillah… ada artikel ini, jadi ada pembangkit semangat supaya saya bisa menjadi IRT yg baik. Adik saya sudah ‘tidak menganggap’ saya, karena menurutnya saya sangat sangat tidak bisa dijadikan contoh wanita ideal, karena memilih menjadi IRT.
    Saya minta ijin meng-copy artikel ini, untuk disampaikan kepada teman-teman saya. Jazakillah…

  39. subhanallah, artikelnya bagus. Semoga banyak saudari2 kita yang tergerak hatinya setelah membaca artikel ini. Amin

  40. subhanaahllah, artikelnya bener2 sangat menggugah hati…
    selama ini saya merasa menjadi IRT merupakan profesi yang tidak dapat dibanggakan,,namun setelah membaca artikel ini saya jadi lebih sadar,,, ternyata profesi IRT adalah sangat penting dan sangat mulia,, apalagi dijalankan dengan sabar, ikhlas, dan tulus.. Insya Allah hasil yang akan didapatkan akan berbuah manis.

  41. Ummu Naufal

    To: Ummu Raihan
    Afwan, doa mau boboknya yang shohih “bismika allohumma amutu wah ahya” silahkan dicek di Hisnul Muslim atau kumpilan doa usyadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

  42. Nuni Agustina

    Subhanallah, artikel ini tepat saya baca saat sedang menghadapi “jumudnya” menghadapi jobdesk rumah tangga (tapi penuh tantangan lho…). Jazakillah khoiron katsiro ya…

  43. Assalamu’alaikum.
    ana minta ijin untuk mengcopy artikel ini dan beberapa artikel lain di situs ini, dengan tentu saja mencantumkan sumbernya.
    Insya Allah bermanfaat,,
    jazakillah..

  44. subhanallah…
    bagus sekali artikelnya..
    saya sekarang sedang kuliah dan mengerjakan beberapa bisnis di internet. cita2 saya kelak jika udah lulus ingin menjadi ibu rumah tangga yg baik yang selalu ada jika suami butuh dan melayaninya sdan bisa dekat, mendidik anak2 saya menjadi anak yg sholeh/ah kelak. amiin.
    tetapi ortu saya dan kerabat saya memandang rendah cita2 saya untuk menjadi IRT. mereka bilang ibu rumah tangga itu rendah dan tidak punya status sosial di masyarakat. mungkin mereka sudah terkontaminasi matrealism dan mengagung2kan perempuan yg bekerja di perusahaan bonafit dikantor yang menjadi budaya dewasa ini.
    tapi saya akan tetep memegang cita2 saya :)
    ya Allah.. semoga Engkau meridhoi cita2ku ini… amiin.

  45. UMMI SALMA

    ass.wr.wb ana mau tanya ana pns di puskesmas sebagai bidan bgmn hukumnya krn sistim kerjanya ada shif mlm yg hrs jaga malam utk melayani pasien yg melahirkan sukron atas penjelasannya

  46. pak ekooke

    aku ingat ibuku didesa, dia sangat bangga menjadi ibu rumah tangga, sekarang istriku juga, semoga Allah selalu membimbingnya dan menjaganya agar tetapbangga menjadi ibu rumah tangga, subhanaAllah

  47. Subhanallah artikelnya baguuus… Izin mengutip artikelnya ya…

  48. Subhanallah….sy kagum dengan artikelnya. Jd ibu rumah tangga itu pekerjaan hebat looh..bayangkan 24 jam waktu kerjanya..sy sangat kagum dengan ibu rumah tangga seperti ibu sy yang sampai saat ini beliaulah yg mengurus anak sy jd anak sy lebih deket ke neneknya drpd ke sy. Sy sendiri adalah wanita bekerja yg waktu sy lebih banyak di luar rumah, sedih juga sih kalau hrs denger ibu sy bilang kalo anak sy sdh tambah pinter. Tp bagaimanapun sy akan terus berusaha menjadi ibu yg baik bagi anak sy dan jd istri yang shalehah bg suami saya. Amiinnn Ya Rab…

  49. Setlh membaca artikel ini ,banyak yg mirip sekali dngn kehidupan saya sebenarnya .yg mulanya saya malu mengakuinya tpi memang benar 100% bahwa peran ibu sangatlah penting membentuk/mendidik anak kita menjadi orng yg berguna u/nusa,bangsa terutama agama.Smoga saya dpt menjalankannya(harus!!).Trim’s,,,dan ijin mau copy artikelnya.

  50. N Azifatul

    alhamdulillah , setelaj membaca artikel ini saya mendapat banyak masukan yang selama ini saya lupakan,

  51. rachmawati

    Saya sangat ingin menjadi IRT, dan itu adalah cita2 saya yang terakhir setelah tamat kuliah dan bekerja. Namun, orangtua saya yang sudah sepuh menginginkan saya tetap bekerja, karena mereka beranggapan, itu adalah suatu kebanggaan bagi setiap ortu yang sudah menguliahkan anaknya, bisa tetap bekerja meskipun sudah berumah tangga. Klo suami saya sendiri, cenderung mnginginkan saya di rumah aja, hanya saja beliau menyerahkan semuanya ke saya, apa yang sebaiknya saya putuskan, karena membahagiakan orangrua juga termasuk ibadah. So, what should I do?

  52. saya jadi ikut bingung nih. saya pernah baca pernyataan seorang ustadz, beliau bilang kalau semua orang hanya memikirkan anaknya sendiri, siapa yang mau memikirkan anak yatim dan fakir miskin?

    menurut beliau, kalau suami dan istri bekerja, maka ada dua wajib zakat di rumah itu (zakat pendapatan). itu berarti dapat menyumbang bagi kemaslahatan umat yang lebih besar. katanya…

    tapi dipikir2 ada benernya juga sih. kalau saja ibu dokter sofie (dokter kandungan terkenal di bandung hehehe) hanya peduli sama anaknya sendiri tapi tidak sama calon bayi orang lain. kan sayang sekali ilmunya.

    menurut saya, para ibu rumah tangga yang sudah bekerja di bidang-bidang yang berpahala besar, sebaiknya teruskan saja beramal di jalan ALLAH.

    bidang-bidang yang pahalanya besar itu misalkan kedokteran: dokter kandungan (pasti semuanya pengen diperiksa sama dokter perempuan), bidan, internist (ahli penyakit dalam), dokter ahli penyakit kulit dan kelamin (hiii amit-amit dah diperiksa sama dokter laki2), dokter umum, psikolog anak, konsultan perkawinan, guru, dosen, peneliti, tukang masak (catering / pattiserie), ustadzah.

    saya yakin, ibu-ibu yang ikhlas mengorbankan kebahagiaan pribadi demi menolong orang banyak pasti juga banyak ditolong Allah, insyaallah.

    saya sih sekarang ibu rumah tangga full time (maklum cari kerjaan sekarang susah..). yah sadar kemampuan juga sih. kalau saya cari kerja pasti dapatnya yang kebanyakan ngundang fitnah daripada menolong orang. kan orang perhotelan. apalagi kalau beli sayur aja masih bisa dibego2in sama tukang sayur. gimana bisa diharep menolong orang banyak hehehe. jadi ya saya mah pasrah aja disimpen di rumah. kembali ke fitrah-Nya…

  53. bunda afif

    Terima kasih artikelnya cocok skali dngn keadaan saya sekarang ini yang hampir 2 tahun menjadi IRT dulu saya amat berhasil dalam karir bahkan bsa dibilang mambanggakan selama ini saya ikhlas dan senang mnjalaninya ntah knapa hari ini saya tak kuat iman mndengar crita teman krja saya dulu,alhamdulillah teman seperjuangan saya linda memberi masukan artikel ini,smangat saya jadi timbul kmbali,mhon kpada pmbaca lain memberi masukan apa2 saja yang bsa saya krjakan tnpa harus meninggalkan Farros Al Afif Rifki buah hati kami sebelumnya saya ucapkan terima kasih

  54. stayhomemom

    artikel yg bagus, semoga makin byk artikel ttg pentingnya jd IRT, dan musnahkan emansipasi wanita

  55. stayhomemom

    sayangnya di indonesia pfofesi IRT selalu diremehkan, krn IRT identik dengan pemalas yang hanya mengandalkan pembantu untuk ngurus semua pekerjaan rumah dan perawatan anak, padahal rumah dan anak yg kita miliki adalah amanah dari Allah, dan ladang pahala bagi wanita yg menunaikan kewjibannya. sungguh beda dg negara maju yg notabene non muslim yg bs mengerjakan semua sendiri dan tidak “menghamba” pada pembantu, shg disana frofesi IRT sangat dihargai krn padatnya kesibukan IRT. kenyataannya di indo, pekerjaan utama IRT adl: pagi makan, siang tidur, sore nggosip dg tetangga, malam nonton sinetron dan yg paling bikin cape krn hrs sering berteriak “ineem..!”
    pendidikan apa yg diterima anak dirmh selain memberi contoh kemalasan dan kemudahan memerintah pembantu? itulah knp SDM di indo sangat payah dan pemalas. saya tidak kagum dg wanita karir, tapi saya jg tdk senang melihat IRT yg tidak bermanfaat bagi keluarga dan lingkungannya.
    bahkan Fatimah ketika meminta pembantu kepada Rasulullah krn tangannya luka parah akibat pekerjaan rumah tangga, ditolak halus oleh Rasulullah krn itu adalah ladang amal bagi perempuan.
    jd alangkah baiknya bila ada artikel disini yg membahas ttg pentingnya kembali kpd fitrah wanita di rmh, dan menjalankan kewajibannya, bkn hanya tinggal dirumah dan bermalas2an tidak berguna.
    “Menjadi IRT itu berat dan melelahkan, tapi pahalanya byk…hanya bagi yg mau bekerja keras, ikhlas dan Lillahi ta’ala.”
    kalau IRT merasa lelah dan bangga krn kebanyakan tidur dan maen perintah, mau dapat pahala dan berkah dari mana?
    sibukkan diri dg kewajibanmu, tinggalkan yg sunnah (berkarir diluar rmh). saya bangga melihat IRT yg tangguh dan cakap dlm urusan rmh tangga dan tidak bergantung pada pertolongan pembantu, krn hanya Allah sebaik=baik penolong bagi umatNya

  56. Alhamdulillah..dpt ilmu lagi..
    Jazakillahu khairan mba uus..
    Masyaallah artikelnya bagus, meski telat mbaca..

  57. indah sekali uraian artikel ini. thanks…

  58. bunda kazka

    Assalammu’alaikum
    artikel yg bagus..selama 5 tahun ini saya mnjd IRT sering didera perasaan rendah diri, karena kerap diremehkan oleh teman sendiri yg merupakan wanita pekerja.. saya minta izin untuk mengcopy paste artikel ini untuk saya posting di blog saya dan saya share dg beberapa kawan saya yg juga mengalami hal serupa dg saya, supaya kami tidak lagi merasa rendah diri karena menjadi IRT.. trmksh sblmnya, wassalammu’alaikum..

  59. assalamualaikum
    saya sangat setuju dengan artikel ini, saya minta ijin untuk menyebarkannya di facebook saya, terimakasih ya…
    wasalam

  60. khusnul khotimah

    wah,bagus sekali isi tulisannya sehingga aq percaya diri untuk jadi ibu rumah tangga walau pendidikan aq S1 dengan predikat cumlaude. sebab suami tak ijinkan aq bekerja. oh iya, aq mau tanya
    bagaimana klo istri yang stay dirumah hanya menerima uang dari suami lalu ibu dari si istri minta uang ?dengan kondisi keuangan suami baik tapi si suami tidak suka dengan keluarga si istri, what wife doing?

  61. Untuk mba khusnul:
    Sebaiknya anti bicarakan hal tersebut kepada suami,karena kita juga harus ijin ke suami jika menggunakan hartanya kecuali kalau suami pelit. saling berbagi,dan bertanya alasannya mengapa sikap suami demikian kepada ibu kita. Komunikasikan terlebih dahulu, jika memang ibu kita butuh sekali dan sangat mendesak mungkin kita bisa menjelaskan dan memberi pengertian kepada suami. wallohu a’lam

  62. Assalamualaikum…
    Saya tertarik sekali dgn artikelnya. Saya mama dari seorang putri(3,5 th). Setelah memutuskan utk berrumah tangga, saya langsung mengambil keputusan utk berhenti dari pekerjaan saya, dgn tujuan ingin membesarkan anak saya sepenuhnya. Saya merasa sangat bangga akan profesi saya, walaupun saya harus meninggalkan profesi lama saya dgn berbagai kendala yg alhamdulillah berhasil saya lewati.

    Salam kenal

  63. Assalamualaikum.. salam kenal saya baru saja baca artikelnya.. Terimakasih sekali, saya jadi merasa bahwa saya tidak sendirian. Saya juga baru saja menjadi IRT sejak Juni 2009. Alhamdulillah suami tidak pernah melarang saya bekerja atau menyuruh saya jadi IRT, dia memberi kebebasan kepada saya sepenuhnya. Sebeluumnya saya juga wanita bekerja yang aktif. Tapi justru saya dengan kesadaran penuh yang ingin mendedikasikan diri saya menjadi IRT.
    Memang terkadang sulit ketika melihat teman2 perempuan saya sukses berkarier dan seringkali mereka memandang saya dengan penuh iba menanyakan kenapa saya tidak bekerja saja, daripada bosan di rumah.. Kadang saya juga merasa jadi orang yang tidak berguna tapi saya menguatkan hati saya bahwa keputusan yang saya ambil ini bukan sesuatu yang memalukan. Saya ingin meraih ladang surga di rumah kami yang insya Allah akan membawa keluarga kami ke surga dunia dan akhirat. Amin..

  64. Semoga jadi sarana u lebih istiqomah bagi saya dan semuanya..
    Mohon ijin copi paste @ FB’s notes..
    Jazakumullahu..

  65. SAYA SANGAT SENANG DENGAN ARTIKEL INI, sangat menyanjung sekali menjadi IRT , modah-mudahan saya bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku ,dan menjadi istri yang baik bagi suami ,AMIN YA RABBAL ALAMIN…WALAUPUN SEBELUMNYA saya juga merasa rendah diri ,kalau bertemu dengan istri teman suamiku yang pada umumnya bekerja menjadi wanita kalir ,

  66. Ass…sedih sy baca artikel’a,krn sy g 100%temani anak” sy,krn sy kerja.sy bingung krn g mgkn utk berhenti,krn ada bbrp faktor penyebab’a,barangkali ada saran atw tips buat sy,supaya bisa jadi ibu yg berhasil mendidik anak walapun berkarier?terima kasih banyak
    Wa’alaikum salam…

  67. Bunda Farhan

    Anak saya masih 5 bulan dan saya bekerja. Selama saya bekerja, suami saya mengasuh anak. Selama ini masih bisa termanage dengan baik karena suami saya kerja shift dan lebih banyak masuk malam.
    Tapi saya ingin berhenti bekerja, karena ternyata kebahagiaan saya terletak pada kebersamaan dengan suami dan anak. Suami sangat setuju saya usaha di rumah. hanya… betapa sulitnya menjelaskan pada keluarga besar, bahwa keputusan itu akan jadi keputusan terbaik.
    Keluarga besar sangat menyayangkan, karena saya mengenyam pendidikan tinggi, sementara suami hanya lulus SMA.
    Mohon doa, semoga semua baik pada akhirnya….

  68. Yusriansyah

    ARTIKEL ok

  69. terima kasih unyuk artikelnya. menggugah!

  70. rinrin maulani

    iya bahwa jd ibu rumah tangga,memang keinginan hati kecil sya,tp apa mungkin apabila seorang suami menyuruh istrinya tuk bekerja??

  71. ricka santoso

    Assalamu’alaikum
    Saya dulu bekerja,tp setelah nikah dan hamil saya berhenti dan ingin full di rumah.sekarang anak dah mo masuk TK.Pengen jg rasanya kerja…..ya fikiran saya waktu itu biar ada tambahan penghasilan.Cuma bagaimana dengan buah hati saya jika saya harus keluar rumah pagi dan masuk rumah pada sore hari.

    Sedangkan saya orang yang antipati dengan yang namanya baby sitter.bagaimanapun juga saya tetep ingin buah hati ada sama saya full time……sedangkan suami juga tidak memaksa saya harus bekerja.Cuma karena saya dulu bekerja,jd keinginan untuk bekerja lagi itu selalu ada.Apalagti suami saya kan seorang wiraswasta yang tidak ada penghasilan bulanan.Ya bisa dibilang kadang rame,kadang sepi.Disaat bissnis lagi sepi pengen rasanya bisa kembali bekerja di luar rumah.

    Akan tetapi pikiran saya sekarang lebih terbuka,yang namanya rejeki banyak sedikit memang sudah ada yang ngatur.Tapi kalau saya mengabaikan keluarga dan memasrahkannya ke pembantu akan merasa bersalahnya diri saya.Apa gunanya saya sebagai ibu rumah tangga.Akhirnya saya bisa melewati semua ini dengan sangat bangga sebagai wakil kepala keluarga.mulai bayi merah sampai sekarang bisa membaca dan mengapal,hanya saya dan suamilah yang menjadi pengasuhnya.Betapa bahagianyya hidup saya walaupun tidak dilimpahi materi berlebih.malah tanpa bekerja di luar rumah sekalipun saya bisa menambah uang belanja,dengan bisniss kecil2lan dirumah,tanpa harus ninggalin my lovely girl Najwa Salvaretha Sunardjono.

    Syukur Alhamdulillah saya bisa bs menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik bagi keluarga kecil saya.

    Terima kasih karna saya dikasih kesempatan membaca artikelnya,dan ikut memberi dukungan bagi Ibu Rumah Tangga lainnya.

    Salam kenal
    Wasalamu’alaikm

  72. isfiandari amrullah

    Subhanallah… Mohon ijin utk di share ya umi..

  73. asalamualikum my noble sisters, i wanted to say, jazakum Allahu khayran for this reminder.

  74. ummu Zahra

    Assalamu’alaykum wa rohmatulloh wa barokatuh, ukhti.. setelah membaca artikel ini, saya punya seorang adik wanita telah menikah dikarunia kan dua orang anak. yang mana adik saya ini sebelumnya berkarir di dunia perbankan selama kurang lebih 18 tahun. da’wah terus kami sampaikan kepada adik tercinta agar berhenti dari pekerjaannya. Alhamdulillah dgn izin Allah da’wah kami berhasil menggugah hati sanubarinya dan hidayah datang-akhirnya adik tercinta berhenti dari pekerjaannya yang selama ini telah menyita perhatiannya terhadap keluarga kecilnya. Setelah dia beralih penuh dan menikmati menjadi ibu rumah tangga yang baru di jalani selama 3 tahun lebih ini, adik kami berujar” alangkah nikmatnya menjadi seorang ibu rumah tangga yang utuh dan penuh waktunya utk keluarga. Tanpa dibebani dgn stres, tergesa-gesa dllnya dlm membagi waktu dan perhatian kelrga dgn pekejaannya dulu. walau rejki tidak selapang dulu, tapi kebahagiaan dan kelapangan hati telah di gapainya.” dan adik kami juga berkata kepada saya, bahwa dia senantiasa bnyk beristighfar, dia bangga menjadi seorang ibu rumah tangga yg full dirumah, dia dpt menuntut ilmu, dapat menambah amalan ibadahnya dan seluruh kebaikan dlm kehidupan rumah tangganya.” karena dia ingin meraih surga dari pintu yang mana dia sukai kelak. sesuai dgn Sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “bila seorang wanita mengerjakan sholat fardhunya, mengerjakan shaum, menjaga kehormatannya lalu dia meninggal, dikatakan padanya masuklah melalui pintu surga yang engkau sukai. semoga kita semua menjadi ibu yang sholeha yang berhasil kelak mendi2k anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh yang dpt menyelamatkan kita dari siksa api neraka. sehingga kita dapat berkumpul di surga firdaus NYA. amiin.

  75. lisma pertiwi

    sayaibu rumah tangga,yg juga bekerjadi sekolah yg terdekat dari rumah. Hanya beberapa meter jarakny. Penghasilannya sy dah diplot suami untuk kebutuhan dapur dan anak2. Saya mengajar sesuai jdwal, jd tdk setiap hari. Tapi menjalankan semuanya mmg membuat lelah. disamping ajang utk bersosialisasi dgn org lain, bekerja jg adl kemauan saya sendiri.Saya pikir gk ada salahnya saya bekerja, selama rumahtangga tdk terbengkalai, saya bisa bersedekah kpd keluarga setiap bulan, bukankah sy tdk wajib menafkahi keluarga? Memang sih, kadang keteteran juga, double fungsi gini, cuapek n stress kl gk ada yg bantuin.

  76. Ummu Hasan

    Bismillalah

    Alhamdulillah, setelah baca artikel ini, semangat untuk menjadi full house-wife muncul kembali, setelah beberapa saat sempat surut karena sikon di tempat saya tinggal. tinggal di lingkungan keluarga suami yang notabene sangat menjunjung tinggi pendidikan tinggi untuk berjuang keras mencari penghasilan. hmm… agak stress juga karena merasa dikasihani. hm… tiap ada keluarga suami bertanya, sangat sulit menjawabnya, karena mereka pasti akan berkomentar “sayang ilmunya ga dipake!”. Tawaran kerja yang lumayan sering datang, tawaran yang kayaknya sayang banget dilewatkan : jadi guru atau dosen! Tapi alhamdulillah di tengah kefuturan yang melanda Allah masih menjaga ana dari keputusan yang akan merusak keimanan ana. Alhamdulillah.

  77. ass.wr.wb
    subhanallah…..ijin share y …..mksh seblm & sesdhx

  78. ijin copy paste ya umi,..untuk menyemangati begitu banyak IRT d sekitar sy :)

  79. Agus Setia Permana

    alhamdulillah, fuji syukur terhadap Allah subhanahu wata’ala. trimakasih ini menjadi bekal bagi sy & keluarga dalam menjalani rumah tangga. Amin.

  80. saya sangat senang sekali setelah membaca artikel tersebut dan membuat hati saya pilu krn saat ini saya jauh dari buah hati saya&suami,sedandkan sikecil baru berumur 3th dia mulai belajar ini itulah&dia mulai masuk sekolah paud..dilubuk hatiku yang paling dalam aku ingin menjadiIRT yang baik buat keluarga kclku,tetapi dengan keadaan y’seperti ini aku harus bekerja membantu suamiku dan keluargaku.Aku enggak ingin membantah keinginan klgku&suamiku sendiri jg mengijinkan krn dia merasa belum bisa menjadi suami yang baik buat istri&anaknya..aku sangat menghargai keputusan suamiku karena smua demi keluarga&insyaallah ini gak kan lama aku berjauhan dari suami&buah hatiku,doakan kami smg cpt berkumpul amin.

    • @ vita
      Semoga Allah memudahkan ukhti untuk mendapatkan yang hati kecil ukhti inginkan, yaitu menjadi ibu rumah tangga yang sepenuhnya. Karena sayang sekali kalau masa emas anak kita berlalu tanpa kebersamaan kita sebagai ibu nya. Masa emas anak kita habis begitu saja bersama orang lain, bahkan banyak kejadian yang memprihatinkan yaitu masa emas anak habis begitu saja bersama pembantu tampa sempat ibu nya mengukirkan sesuatu di masa emas tersebut.
      Alhamdulillah Allah sama sekali tidak membebani seorang wanita untuk mencari nafkah keluarganya, bahkan Allah tidak membebani seorang wanita untuk menafkahi dirinya sendiri. Melainkan yang menjadi beban seorang wanita (dan juga suaminya) yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya adalah tentang anak-anak nya.
      Semoga Allah memberi kemudahan..

  81. alhamdullilah, sy sdh menjlnkan sedikit dr bacaan diatas, n mdh2an sy jd lebih baik lagi dlm mencari Ridho Allah….

  82. Assalamualaikum, jazakillah khoiron atas artikelnya sangat membantu u memotivasi diri saya khususnya u tetap menjadi ibu rumah tangga yang sempet goyah u ikut bekerja karena melihat temen2 yang hampir smuanya bekerja

  83. kadang ada rasa bosan jadi ibu rumah tangga mengasuh mengurus semua keperluan rumah, kadang rindu kepingin kerja seperti dulu, tapi melihat anakku musnah sudah keinginanku untuk bekerja lagi, dan kini sabar menjalani sebagai ibu rumah tangga… karna ternyata sungguh nikmat’

  84. lilik suprapti

    saya sebenarnya sangat setuju dengan artikel tersebut,tapi kadang-kadang kenyataan disekeliling kita membuat kita tidak percaya diri menjadi ibu rumah tangga saja apalagi kalau kita termasuk orang yg berpendidikan tinggi.saya sudah sangat sering mendapatkan perlakuan yang merendahkan saya bahkan dari kerabat saya sendiri hanya karena saya tidak bekerja padahal saya S1 dan cumlaude.
    kadang-kadang saya ingin bekerja karena perlakuan suami saya sendiri.dia melarang saya bekerja dan menuntut saya hanya dirumah mengurus anak-anak dan keluarga tapi disisi lain kadang dia pernah mengucapkan kata-kata yg tidak sesuai dengan perkataan ia sebelumnya. Dia pernah bilang kalau saya harus berpikir bagaimana cari uang dan tidak hanya bisa membelanjakan uang penghasilan suami saja.selain itu suami saya sepertinya tidak suka kalau saya memberi uang kepada orang tua saya,padahal itu juga tidak sering.kan saya jadi bingung. kalau seperti ini apakah saya juga harus pasrah dan menjadi ibu rumah tangga saja?saya menjadi IRT sudah 7 tahun dan sekarang saya mulai jenuh dan bosan dengan aktivitas saya yang itu-itu aja.

  85. setelah baca artikel “bangga menjadi ibu rumah tangga” hatiku langgsung terenyuh dan ada hidayahnya bagi ku, karena selama 6 tahun menjadi IRT disaat senggang selalu ada kepikiran ingin berkarir lagi seperti dulu…tp setelah baca artikel diatas saya bangga jadi ibu yang baik bagi anak-anak saya dan suami.
    Pada kenyataannya 80%suami lebih memilih istri yang dirumah mengurus anak2nya karena dengan istri bekerja resiko timbul masalah lebih banyak…..
    Tapi bagi istri yang sanggup berkarir yang penting jangan lupakan kewajiban sebagai istri dan tatap hormat pada suami ok…g’ luck…!.

  86. saya sedang dihadapkan pada dua pilihan berat. berada di rumah menyiapkan generasi rabbani atau tetap bekerja di sebuah lembaga sosial pemberdayaan anak yatim dan dhuafa. saya sampai tidak berani istikharah untuk memutuskan. membaca artikel ini membuat saya cenderung lebih memilih untuk di rumah. toh sama-sama ibadah. biarlah di lembaga itu para lelaki yang berjuang, pun juga banyak akhwat yang msh single. berat rasanya meninggalkan mu NURUL HAYAT. klo masalah rizki saya sangat yakin, ALLAH SWT BERSAMA SAYA. selamat berjuang untuk ibu rumah tangga semua.

  87. Tutik Agus Salim

    Subhanallah….memberikan pencerahan bagi saya, saya share ke temen 2x ya. Semoga lebih membuka wawasan saya dan temen 2x tentunya. Amin

  88. Saran saya, cobalah bikin usaha rumahan. Misalnya bisnis katering, jahit, laundry, kue2 kering.

    Insya ALLAH, kita sebagai Full Time Mother gak malu kalo di tanya ma temen2 kita.

    Eh, elo kerja dimana sekarang? Oh… Gue kerja di rumah, bikin2 kue. Omzet gue sekarang 200 Juta. Lebih gede kan dari gaji elo? Insya ALLAH tahun ini gue mau haji sekalian umroh!

  89. Jadi ibu rumah tangga memang membanggakan tapi jika di jalani, waduh mbak membosankan…salu deh buat peran wanita sebai ibu..terimakasih ibu

  90. Jazakallahu khoir…
    Saya menikah 1tahun lalu dan blm dikaruniai keturunan..
    Saya bercita2 menjadi IRT sejak masa sekolah dulu..bahkan ketika kuliah ada seorang sahabat yang berujar “punya cita2 kok ngasal,buat apa sekolah tinggi2″(Karena di jurusan saya kuliah dulu satu-satunya jurusan yang hampir 85% adalah wanita dan 95%-nya berorientasi melanjutkan S2 atau bekerja di perusahaan asing atau pegawai pemerintah). Saya merasakan selama menjadi irt saya lebih leluasa untuk belajar berbagai hal,tidak terpaku pada jurusan yang kita ambil ketika kuliah dulu..

    Ketika lulus kuliah saya lbh memilih bekerja sbg guru tk inklusi walaupun sblmnya tidak ada latar pendidikan pgtk. Yayasan tempat saya bekerja sangat terbuka, sehingga bagi yang tidak memiliki latar belakang pgtk dibekali seminar2,dll. Alhamdulillah selama 1,5 thn saya mendapat banyak ilmu bagaimana mendidik anak usia prasekolah. Komentar teman-teman : “emang gajinya berapa?”

    Sdh 1 thn saya menikah dan selama itu pula saya menjadi IRT. Dan saya sempat goyah dengan cita2 saya mnjd irt, entah karena komentar teman2&tetangga, pendapat keluarga,atau masalah ekonomi (walaupun penghasilan suami lebih untuk kami berdua namun lebih leluasa ketika memiliki penghasilan sendiri). Karena itu saya mencari nasihat2 yang bisa menguatkan cita2 saya kembali. Semoga saya bisa istiqomah amin..

  91. Betul, banyak yang bisa dilakukan ibu di rumah untuk membantu keuangan keluarga. Ngga cuma hanya ngurus anak dan nonton sinetron. Saya berbisnis bros akrilik,bisa di lihat di http://mutenovnov.blogspot.com . omset antara 5 juta sampai 9 juta dan saat ini memiliki 3 orang pekerja yang membantu membuat bros.
    Lihat, dengan di rumah saya bisa membantu keuangan keluarga, bisa mengantarkan suami ke depan pagar setiap berangkat kerja dan ketika suami pulang saya telah ada dirumah menunggu dengan senyuman:)dan juga saya bisa membantu meringankan kesulitan satu anak yatim serta 2 ibu rumah tangga yang kesulitan.
    Ayo Ibu di rumah, maksimalkan potensi yang kita miliki:)

  92. Yup, setuju banget!..Alhamdulillah saya berhenti kerja krn membaca artikel ini(Bekerja di Bank syariah selama 3 thn)Sy memutuskan berhenti krn pekerjaan sy pada saat itu lbh banyak menyita waktu tuk keluarga dan anak (anak sy umur 2 thn)..
    Walaupun ada perlawanan sana sini..dr keluarga, ortu termasuk suami lho!maklum cm pegawai biasa..
    Apalagi masalah keuangan.Waduuhh…kalo kita gak terbiasa mengatur keuangan bisa repot, belum lg ngadepin anak..(wkt itu sempat kepikiran mendingan ngadepin nasabah drpd ngadepin anak..he..)
    ……Allah SWT benar2 menguji keikhlasan dan kesabaran saya…..
    Alhamdulillah semuanya teratasi.MAsalah keuangan, hutang,renovasi rumah, sekolah anak..dll Gak tau rezeki darimana…malah lebih banyak ketika sy bekerja dulu.Suami cari usaha sampingan lain selain jd pegawai.siapa lagi yg bisa ngedoain suami selain istrinya.Sekarang suami tambah sayang deh..hehe..

  93. wiwit purramaranti

    alhamdullilah… sukron atas informasi yg membuat saya makin mantap dan tidak merasa bersalah atas apa yg telah saya lakukan terhdp ortu saya, dan saya berharap semoga mrk bangga dapat menjadikan anak2 yg kuat dan sabar, seperti saya sgt bangga mempunyai ortu seperti mrk… amin

  94. Rini Hidayat

    Begitu saya lulus dari perguruan tinggi ternama di Bdg, saya langsung bekerja di sebuah perusahaan raksasa dg fasilitas bagus, sering terbang kesana kemari termasuk LN utk urusan kantor. Sempat juga terlena, Alhamdulillah kemudian insyaf. Skr ini saya tetap bekerja walaupun memimpikan mjd IRT yg full time. Saya harus bekerja utk membantu ekonomi keluarga dan membantu anak2 mewujudkan cita2-nya. Saya pun sepenuhnya sadar, keputusan utk tetap bekerja full time tidak menggugurkan kewajiban utama saya utk mendidik dan mengurus anak2. Konsekuensinya, saya harus ikhlas lebih cape, tidur lebih sedikit, siang ngantor, malam harus masak dan ngurus rumah(karena di LN tidak sanggup menggaji pembantu), dan menyempatkan diri berkomunikasi dengan anak.

  95. Bismillah…
    tiga tahun sudah,stlh sy menikah,sy mjd bu RT.sy menikmatiny dan memang ingin benar2 mengurus keluarga,t’khusus anak.krn di zaman skrg,saat perkembangan teknologi kian cepat, pun mempengaruhi bgmn anak berkembang.dan tentuny mjd tanggung jawab org tua lah kelak anak qt akan mjd apa.

    namun ada sebuah ganjalan.sy menikah bbrp bln stlh wisuda sarjana.dan tentunya org tua sy m’harapkan sy bs bekerja sesuai bidang ilmu.akan tetapi stlh sekian lama,mondar mandir mencari kerja,tak jua dapat.hingga akhirny ada yg datang melamar,menikahlah..dan stlh menikah pun tak dpt pekerjaan.dan ternyata suami lebih senang ketika sy di rumah sj.sebuah dilema memang.satu sisi ingin membahagiakan org tua dg bekerja,mengingat perjuanganny menyekolahkan.satu sisi ingin berbakti pada suami.

    akhirnya…stlh hamil dan punya anak,kuputuskan untuk konsen mengurus rumah tangga dan mendidik anak. menyenangkan..^_^ menemani anak bermain dan belajar,melihat tingkah polahny,mengikuti perkembanganny.sungguh sayang untuk dilewatkan..
    bagiku,kehilangan gaji sekian rupiah tak masalah krn suatu saat kelak anakku akan mjd ORANG HEBAT..:)

    amin

    • @ Bunda Ayyi

      Semoga jerih payah Bunda Ayyi dan para bunda muslimah ‘kan menuai balasan di dunia dan di akhirat. Dan di sisi Allah-lah sebaik-baik balasan.

  96. cucun maisunah

    saya merasa PD setelah membaca artikel ini untuk menjadi seorang ibu rumah tangga,selama ini saya bekerja meninggalkn anak walau hanya setengah hari, namun skrg saya mantap utk menjadd ibu RT hanya karena ingin mendidik anak sendiri bukan dengan pengasuh

    • @ Cucun Maisunah

      Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan Ukhti kesempatan untuk merawat buah hati Ukhti dengan pertolongan Allah kemudian atas upaya keras Ukhti. Betapa besar nikmat mengasuh buah hati dengan kedua tangan sendiri; tak lagi berarti gaji dunia setinggi langit saat itu.

  97. Assalamualaikum>>>>

    Jujur saya sekarang lagi galau,hati saya begitu berat melepas kerjaan yang sdh saya jalani hampir 10 tahun.Apalagi dengan posisi dan gaji yang saya dapat.Sebetulnya ini pembuktian kepada suami saya bahwa saya bisa menjadi ibu yang sebenarnya untuk anak anak saya dan ini merupakanpermintaan suami saya yang kesekian kali untuk berhenti.Akan tetapi saya sekarang yakin…bahwa yang akan saya jalani nanti tdk seburuk yang saya bayangkan dan “benar”.
    Mudah2an ada jalan untuk saya ber Hijab…mohon doanya yaa….

    Wassalam>>>

  98. Rony Setiawan

    Assalamu ‘alaikum wr,
    ada akhwat yang bertanya kepada saya. bolehkah seorang istri bekerja?? saya hanya ingin memanfaatkan hasil studi saya.saya tidak ingin menyia-nyiakan jerih payah orangtua saya yang telah menyekolahkan sampai saat ini. saya ingin membalas jasa kedua orangtua saya meskipun itu ta akan setimpal dengan besarnya jasa-jasa mereka.

    Saya sendiri mengetahui keutamaan sebenar-benar ibu rumah tangga. Namun cukup bingung memetakan antara keutamaan menjadi ibu rumah tangga dengan keutamaan berbakti kepada orang tua. bagaimana ya menanamkan pemahaman kepada remaja yang kondisinya seperti itu?
    kalo memang penjelasannya cukup panjang mungkin bisa dikirim via email.
    Jazakillah khoir.

  99. ummu faris

    subhanallah. semoga bisa terbaca oleh banyak ibu dan calon ibu muslimah, ditengah kondisi umat yang sedang sakit sekarang ini.
    Allahu Akbar !!! sudah saatnya kita sadar, beri apresiasi besar unutk sebuah jabatan “IBU RUMAH TANGGA”

  100. subhanallah, ibu rumah tangga merupakan profesi luar biasa. pekerjaan yang menuntut total perhatian dan seluruh potensi yang maksimal, meski masih terasa miris ketika orang hanya memandang remeh dan rendah pekerjaan ini. tetap semangat wahai ibu-ibu rumah tangga dan para calonnya

  101. seharusnya jangan hanya melarang, tapi juga memberikan solusi.
    Kalau memang wanita hanya dirumah sebagai ibu rumah tangga sedangkan dari sang suami nafkah tidak cukup apa anda sebagai penulis mau menambahkan biaya pendidikan anak?
    berikan solusi jangan hanya melarang.
    islam itu datang memberi solusi bukan memberi masalah

  102. @indra kurniawan

    mas indra,. mohon maaf saya tidak melihat ada kata/kalimat yang menyatakan atau paling tidak mengisyaratkan LARANGAN bagi kaum wanita (yang sudah menjadi Ibu) untuk bekerja di luar rumah.

    yang ada ataupun tersirat adalah NASEHAT/HIMBAUAN kepada kaum wanita muslimah untuk memperhatikan pendidikan anaknya,. bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya terutama pendidikan agamanya,.

    boleh,. wanita muslimah bekerja di luar rumahnya tapi dengan syarat diantaranya dapat izin dari suaminya dan aman dari fitnah

    dan yang lebih aman (di zaman sekarang ini) adalah hendaknya wanita musliamh bekerja/berwirausaha di rumahnya,. membuat usaha semacam home industri kecil-kecilan atau yang semisalnya.

    dan lagi mencari nafkah itu tanggung jawab penuh sang suami,. sang suami HARUS bersemangat untuk bisa menafkahi keluarganya,. jika memang masih kurang maka sang Istri BOLEH membantu sang suami untuk bekerja,… seperti yang saya katakan di atas,. lebih amannya bekerja di dalam rumahnya,. dgn itu dia bisa sambil mendidik anak2nya,. tidak harus bekerja di luar rumah kan,.

    mohon dipikirkan maslahat dan mudlorotnya mas,.(hanya pendapat)^^

  103. lanjutan==>

    @mas indra

    maksud saya dalam TULISAN INI tidak ada atau tidak tersirat LARANGAN bagi kaum wanita muslimah untuk bekerja,.

  104. assalamualaikum wr wb. tidak bs dipungkiri sp sih yg tidak mau jadi wanita yg anda gambarkan di paragraf pertama, tapi saya pribadi, saya tidak pernah merasa rendah at malu hanya dg menjadi ibu rumah tangga “tulen”, tapi masalahnya…..sepertinya anda lupa memberikan solusi untuk kasus sprt saya, saya ibu rumah tangga,belum di karuniai putra, dulunya sempat mengajar, berhenti karena pindah kota ikut kerjaan suami , skg saya benar2 merasa sedikit tidak berguna, benar…..saya harusnya cukup ikhlas dengan berbakti pada suami(suami saya seorang pria yg bs di banggakan dan di andalkan), tapi….sepertinya hidup ini tidak hanya begini-begini saja, apalagi dengan otak saya yang sedikit ribet ini, ya kan?

  105. @ Khadijah
    Wa’alaikumussalam,
    Seorang wanita boleh saja bekerja diluar rumah dengan syarat tidak melanggar aturan syariat dan aman dari fitnah. Misalnya saja seperti menjadi pengajar sebagai mana profesi Ibu sebelumnya. Bahkan menjadi guru TK, SD, SMP bagi sebagian muslimah menjadi sebuah keharusan bila tidak ada orang lain yang melakukannya. AllahuA’lam

  106. betul… di artikel tidak ada larangan wanita bekerja, tetapi himbauan dilihat dari peran ibu sebagai pendidik. nyatanya banyak juga ibu yang tidak bekerja tidak mampu mendidik anaknya sesuai akidah agama. berat memang tugas ibu tapi mulia. lebih berat lagi jika ia juga bekerja di rumah, akibatnya tidak semua terurus dengan baik, aku pernah jadi wanita karir yang harus berhenti karena suami tugas ke luar kota. setelah 6 tahun jadi ibu rumah tangga, saya harus kerja lagi karena suami tidak ada pekerjaan. dalam hati kecil ingin kembali ke rumah, tetapi usaha di rumah lebih membutuhkan kesabaran dan modal…sementara kami butuh uang cepat. sedih… mengontrol anak-anak lewat telepon. waktu berdiskusi dengan anak berkurang. sekalipun mereka di sekolah islam, apakah bisa menjamin akidah mereka akan seperti yang kita harapkan? ingin menyalahkan suami yang tidak mampu menafkahi? itu juga bukan solusi. beberapa temen mengalami hal yang sama, mengapa mereka harus bekerja . jadi bukan semata-mata ingin dibilang wanita modern.

  107. “Yang perlu dipertimbangkan adalah lebih besar manakah manfaat atau mudharatnya?” karena setiap kondisi dan motivasi muslimah yang ingin berkarir pasti berbeda-beda.

    Jangan sampai dilandasi oleh sikap egois, rasa gengsi lebih-lebih mengejar materi yang berlebihan.

    Jika materi di rasa sudah cukup untuk kebutuhan dasar hidup sehari-hari, buat apa bekerja lagi… Kasihan tuh suami dan anak-anak gak keurus, ntar kalo di urus “orang lain” malah repot tuh… he he he

    Afwan wa syukron

  108. ibu adalah madrasah bagi anaknya

  109. Jadi perempuan juga harus bekerja jangan hanya diam diri dirumah,
    jika seorang muslimah yang baik tentu kenal siapa istri nabi muhammad yang seorang pedagang..
    ini bukti bahwa perempuan tidak boleh pasif..

    jumlah perempuan 1:4 di banding laki-laki, apa jadinya kalau semua perempuan hanya diam diri dirumah.. bisa lumpuh perekonomian.

    Sekali lagi berikan solusi,
    buktikan islam itu rahmatan lil alamin

    note : materu atau uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang kesempatan berbuat baik akan lebih terbuka lebar

    • @ Andi

      Bolehkah wanita bekerja?

      Memang bekerja adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga, tapi Islam juga tidak melarang wanita untuk bekerja. Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syariat.

      Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis, karena Alloh jalla waala mensyariatkan dan memerintahkan hambanya untuk bekerja dalam firman-Nya:

      ?????? ????????? ????????? ??????? ?????????? ??????????? ????????????????

      Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! maka Alloh, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu (QS. At-Taubah:105)

      Perintah ini mencakup pria dan wanita. Alloh juga mensyariatkan bisnis kepada semua hambanya, Karenanya seluruh manusia diperintah untuk berbisnis, berikhtiar dan bekerja, baik itu pria maupun wanita, Alloh berfirman (yang artinya):

      ??? ???????? ????????? ??????? ??? ?????????? ????????????? ?????????? ???????????? ?????? ???? ??????? ????????? ???? ??????? ????????

      Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang tidak benar, akan tetapi hendaklah kalian berdagang atas dasar saling rela diantara kalian (QS. An-Nisa:29),

      Perintah ini berlaku umum, baik pria maupun wanita.

      AKAN TETAPI, wajib diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan dan bisnisnya, hendaklah pelaksanaannya bebas dari hal-hal yang menyebabkan masalah dan kemungkaran. Dalam pekerjaan wanita, harusnya tidak ada ikhtilat (campur) dengan pria dan tidak menimbulkan fitnah. Begitu pula dalam bisnisnya harusnya dalam keadaan tidak mendatangkan fitnah, selalu berusaha memakai hijab syari, tertutup, dan menjauh dari sumber-sumber fitnah.

      Karena itu, jual beli antara mereka bila dipisahkan dengan pria itu boleh, begitu pula dalam pekerjaan mereka. Yang wanita boleh bekerja sebagai dokter, perawat, dan pengajar khusus untuk wanita, yang pria juga boleh bekerja sebagai dokter dan pengajar khusus untuk pria. Adapun bila wanita menjadi dokter atau perawat untuk pria, sebaliknya pria menjadi dokter atau perawat untuk wanita, maka praktek seperti ini tidak dibolehkan oleh syariat, karena adanya fitnah dan kerusakan di dalamnya.

      Bolehnya bekerja, harus dengan syarat tidak membahayakan agama dan kehormatan, baik untuk wanita maupun pria. Pekerjaan wanita harus bebas dari hal-hal yang membahayakan agama dan kehormatannya, serta tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan moral pada pria. Begitu pula pekerjaan pria harus tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan bagi kaum wanita.

      Hendaklah kaum pria dan wanita itu masing-masing bekerja dengan cara yang baik, tidak saling membahayakan antara satu dengan yang lainnya, serta tidak membahayakan masyarakatnya.

      Kecuali dalam keadaan darurat, jika situasinya mendesak seorang pria boleh mengurusi wanita, misalnya pria boleh mengobati wanita karena tidak adanya wanita yang bisa mengobatinya, begitu pula sebaliknya. Tentunya dengan tetap berusaha menjauhi sumber-sumber fitnah, seperti menyendiri, membuka aurat, dll yang bisa menimbulkan fitnah. Ini merupakan pengecualian (hanya boleh dilakukan jika keadaannya darurat). (Lihat Majmu Fatawa Syaikh Bin Baz, jilid 28, hal: 103-109)

      Ada hal-hal yang perlu diperhatikan, jika istri ingin bekerja, diantaranya:

      1. Pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utamanya dalam urusan dalam rumah, karena mengurus rumah adalah pekerjaan wajibnya, sedang pekerjaan luarnya bukan kewajiban baginya, dan sesuatu yang wajib tidak boleh dikalahkan oleh sesuatu yang tidak wajib.

      2. Harus dengan izin suaminya, karena istri wajib mentaati suaminya.

      3. Menerapkan adab-adab islami, seperti: Menjaga pandangan, memakai hijab syari, tidak memakai wewangian, tidak melembutkan suaranya kepada pria yang bukan mahrom, dll.

      4. Pekerjaannya sesuai dengan tabiat wanita, seperti: mengajar, dokter, perawat, penulis artikel, buku, dll.

      5. Tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya. Hendaklah ia mencari lingkungan kerja yang khusus wanita, misalnya: Sekolah wanita, perkumpulan wanita, kursus wanita, dll.

      6. Hendaklah mencari dulu pekerjaan yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Jika tidak ada, baru cari pekerjaan luar rumah yang khusus di kalangan wanita. Jika tidak ada, maka ia tidak boleh cari pekerjaan luar rumah yang campur antara pria dan wanita, kecuali jika keadaannya darurat atau keadaan sangat mendesak sekali, misalnya suami tidak mampu mencukupi kehidupan keluarganya, atau suaminya sakit, dll.

      http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-bekerja

    • INILAH KESEMPURNAAN ISLAM DAN ALHAMDULILLAH ALLOH JADIKAN KITA SEBAGAI SEORANG MUSLIM, SUATU NIKMAT YG PALING BESAR DARI ALLOH SUBHANA’U WATAALA..
      Jadikan akhirat sebagai tujuan dan jangan lupakan dunia( ikhtiar) tapi itu ditekankan untuk para suami agar menafkahi keluarganya sebagai kepala rumah tangga.
      Alloh dan RasulNya menyuruh para istri untuk berbakti dan taat kepada suami dalam hal kebaikan adalah suatu perintah yg sempurna yang Alloh dan Rasulnya sudah pasti tau kegala sebab dan akibatnya. Jikalau istri mau membantu tidak ada larangan sejauh tidak melalaikan hak dan kewajiban terhadap suami dan anak anak…

    • Natasya Rusbandi

      Assalamualaikum Pak Andi,

      Mohon maaf dengan kalimatnya:

      note : materu atau uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang kesempatan berbuat baik akan lebih terbuka lebar

      Menurut saya, ibu rumah tangga adalah sosok yang sangat kaya raya, dia bisa mengatur keuangan, mengatur rumah, dan mendidik anak (harta berharga), lagipula dia memiliki Allah yang kaya raya, manusia manapun tidak dapat menandingi kekayaan-Nya. Uang bukanlah segalanya, memang penting, tapi tidak sepenting keselamatan akhirat.

      Saya masih menjadi wanita karier sampai sekarang, dan menjadi ibu rumah tangga yang solehah itu adalah cita-cita tertinggi saya. Mulia bukan dengan dunia, namun dengan keinginan untuk dekat kepada Allah.
      Semoga Allah menjabah doa saya yang ini, amin ya rabbal alamin.

  110. Assalamulaikum wr.wb.
    Subhanallah, artikel yang sangat bagus. Semoga mampu menjadi pengingat dan suntikan motivasi bagi para IBU RUMAH TANGGA yang full stay at home. Ayo kita hilangkan persepsi ibu rumah tangga adalah kolot dan ngga smart. Justru kualitas generasi anak bangsa berikutnya tergantung pada kualitas ibu rumah tangga saat ini. Betapa besar jasa ibu, ngga bisa diremehkan begitu saja dan ngga sebanding bahkan dengan wanita karir bergaji puluhan juta sekalipun. Katakan dengan bangga: AKU IBU RUMAH TANGGA

  111. ibu adlah seseorang yg bisa menjadikan ank2nya berada di surga ataupun di neraka
    lalu bagaimana dengan seorang ibu yang ahli ibadah, tapi tidak bisa mencegah anknaya berbuat keji, bahkan ankanya berzinah dia pun hanya diam dan tidak mengingatkan, setiap keluar dan di datangi oleh pasangan zinahnya si ibu hanya diam malah menemani ngobrol, jika pasangan zinahnya bertandang kerumah, dengan alasan takit anaknya marah, si ank sudah dewasa bisa membedakan yang baik dan yg benar, dosanya dia sendiri yg menanggung bkn orang tua lagi,
    bagaimana dengan ibu tersebut????

    tolong masukannya

  112. yani yulyani

    terima kasih artikel ini memperkokoh niat saya untuk dirumah,awalnya berat melepas karier dan tertekan jika ada yg bilang “sayang”ijazah kuliah tinggi-tinggi kalau cuma dirumah,tapi allah memberi jalan terbaik ini untuk saya.

  113. ummu khairyah

    bismillah,
    assalamu’alaykum,..
    sebaik-baik tempat bagi wanita adalah di rumah..
    sisi manfaat yang di dapat jauh lebih banyak di bandingkan mudharatnya.
    memang suatu hal yang sangat sulit bagi wanita yang sudah biasa dengan kehidupan di luar rumah,.*)wanita karir ketika di hadapkan pada keharusan dia di dalam rumah setelah berkeluarga namun jika ridha Allah adalah harapnnya maka tak ada kesulitan di dalamnya..semoga kita kaum hawa lebih bisa menelaah kenapa ahsannya wanita di rumah…nasehat untukq n kita semua .afwan tutur kata yng salh..syukron,baarakallahu fiykum..

  114. Nice posts. Menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga merupakan sebuah pilihan dan tentu saja keduanya membutuhkan rasa tanggung jawab yang tinggi. Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita memahami peran dengan baik serta siap dengan segala konsekuensinya.

  115. Fahmia Humaira

    Alhamdulillah…saya adl seorang ibu rumah tangga,artikel ini adl penghargaan dan support bagi saya,terima kasih

  116. Salam,
    Sebetulnya saya adalah mahasiswa tingkat akhir yg sedang mencari data tambahan mengenai aktifitas sehari-hari Ibu Rumah Tangga. Data tsb saya butuhkan untuk merancang sebuah kampanye merek yg konsumen utamanya adalah Ibu Rumah Tangga. Penelusuran di Google membawa saya ke link blog ini. Di paragraf pertama awal saya sangat terkesan dengan penggambaran seorang wanita yg sukses yg ada d mindset masyarakat saat ini. Saya paham dan sangat setuju kalau sukses itu tidak dapat dinilai dari jabatan atau materi yg berhasil diperoleh. Namun, paragraf-paragraf selanjutnya membuat saya tersentak dan terusik untuk berkomentar. Sebelumnya saya mohon maaf jika penilaian saya mungkin tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran penulis, tapi saya beranggapan bahwa kata-kata yg tertuang mulai paragraf kedua sedikit propokatif dan terkesan menyudutkan pilihan-pilihan yg diambil beberapa wanita untuk bekerja di luar rumah. Saya berpendapat, artikel ini akan lebih bagus jika tidak ada sentimen terhadap salah satu pilihan pekerjaan wanita (netral). Sehingga, pembaca dapat menilai sendiri, pilihan pekerjaan yg paling sesuai untuk mereka (Ibu Rumah Tangga atau Bekerja di luar rumah). Toh, selama tidak membawa kecelakaan bagi org lain, pekerjaan apa saja tetap mulia, bukan?

    Terima kasih.

  117. bu shofirin

    saya menikah 6tahun sudah pny anak1 dngn ada nya artikel ini saya semakin mantap menjadi ibu rumah tangga,,,,,

  118. Saya senang sekali muslimah.or.id mempublikasikan artikel ini, yg merupakan dukungan untuk ibu rumah tangga. Saya sendiri jg seorang ibu rumah tangga. Peran ini saya pilih dengan alasan sederhana, saya merasakan betapa senangnya mempunyai seorang ibu (ibu saya) yang selalu ada di rumah ketika saya pulang sekolah. Saya ingat sekali, waktu SD, saya dalam hati berkata, untung ya, mamaku di rumah, tidak bekerja seperti mama teman saya. Tantangan yg dihadapi ibu rumah tangga memang tidak mudah, terutama karena media selama ini meng-ekspose wanita karier, yg secara tidak langsung memberikan kesan keren di benak para wanita. Belum lagi keterangan dari para pakar bahwa ibu bekerja tidak mempunyai dampak negatif pada anak asalkan meluangkan waktu berkualitas. Di Indonesia, sangat disayangkan, perdebatan antara kubu yang mengusung teori bahwa anak lebih mendapatkan manfaat positif jika ibu full-time di rumah dengan kubu yang mengusung teori bahwa anak tidak mendapat dampak negatif dari ibu bekerja, tidak muncul. Yang banyak dibahas di sini adalah teori Psikologi yang menyatakan bahwa anak tidak mendapat dampak negatif dari bekerjanya ibu di luar rumah. Ini adalah isu yang terus diperdebatkan, dan mungkin akan selamanya demikian, karena semuanya menyangkut perbedaan keyakinan. Ibu yang memilih mengikuti hati nuraninya untuk menjadi ibu rumah tangga, memang berbeda keyakinan daripada ibu yang memilih berkarier, begitu pula para ahli yang mengusung teori2 tersebut.

  119. Assalamualaikum,

    Saya akhirnya memutuskan jadi ibu rumah tangga setelah pny posisi nyaman dan gaji lumayan di kantor. Ilmu saya selagi kuliah terpakai kok (yah dicocok2kan saja dng sikon dirmh). Saya lulusan jurnalistik biasa menulis, jd saya gunakan saja buat mendongeng. Pendidikan akidah saya jg tanamkan salah satunya dng bercerita. Saya jg msh bisa membagi rejeki kpd orgtua dng cara pny toko online dan sebagian profitnya saya beri ke orgtua. Sejak saya tidak bekerja suami tambah giat bekerja krn dia mrs aman-nyaman anak berada dipengasuhan saya. Krn suami tmbh giat Alhamdulillah keuangan keluarga meningkat.

    Dng jadi ibu rumah tangga Alhamdulillah saya bs membentengi anak dng akidah Islam sedari dini dari arus informasi yg negatif. Lingkungan anak disekolah penuh dng hal2 diluar dugaan kita, kalau kita tidak membentengi anak dng iman yg kuat, waduh, sayang sekali, ia akan gampang terombang-ambing. Dan siapa lg yg bisa melakukan itu kalau bukan kita, ibunya.

    Wassalam.

  120. Aku baru menikah 5 bulan dan full time di rumah, aku lepas kemandirian financial ku ketika memasuki gebang pernikahan setelah 15 tahun bekerja di kantor sebagai wanita karier dan banyak aktivitas lain di luar rumah waktu kuliah ……, walau sudah banyak membaca literatur mengenai mulianya menjadi seorang wanita yang menikah dan menjadi ibu rumah tangga full…tetap saja merasa ada susuatu yang hilang dalam hidup, apalagi belum ada momongan, apalagi bila ada kebutuhan yang pasangan belum dapat memenuhi secara materi,tetap saja ada bedanya antara mandiri secara financial dengan berpenghasilan dari suami, apalagi di hadapi oleh 5 kemungkinan bahwa pria kepala rt mempunyai resiko 1.sakit 2.resign/lost his job 3. tidak cukup penghaslan 4.selingkuh 5. wafat sehinga tidak dapat menafkahi keluarga . Ada wanita2x yang memang cerdas mengurus rumah nya dan mengurus suaminya dan anak2xnya sehingga dia punya “energi lebih” yang harus di keluarkan untuk bermanfaat bagi lingkungan masyarakat, ada juga wanita yang mengurus urusan domestik 24 jam itu sudah kehabisan energi dan kurang terampil. JAdi ……untuk aku sendiri masih berproses mempertimbangkan apakah full time jadi ibu rumah tangga atau menambah kegiatan ku dengan mandiri kembali secara financial….Semoga Allah memberikan hidayah Nya kepadaku di tengah kebimbangan ini ……..

  121. Sebenarnya artikelny bagus… krn saya juga berkeinginan jadi ibu rumah tangga… cuma karena ekonomi tdk mencukupi maka harus bekerja… tapi saya janji dengan diri sndiri, jika sudah punya anak pengen d rumah saja.. ngurus suami dan anak2…
    untuk isi waktu luang, saya akan memanfaatkan internet… Mudah2an bisa mmbantu suami… sekarang pun sudah saya mulai manfaatin internetny…

  122. subhanallah…tulisan yg mencerahkan.mg mdp balasan dari Allah SWT.semakin banyak wanita yang bangga menjadi ibu rumah tangga.amin

  123. ass,,, mohon bantuannya. saya ingin sangat ingin keluar dariPNS tinggal dirumah dn menjadi ibu yang baok untuk anak dan istri yang shaleha unruk suami ,, kebetulan suami saya juga pns,, tapi ibu saya tidak menyetujuix, bagaimana menjlaskan pada ibu agar beliau paham,,, dan mengerti tujuan saya

  124. Asalamulaikum,

    Ini hanya opini Saya saja.

    Sebenarnya menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT) adalah hal yang alami bagi wanita dewasa. Tapi menjadi full time IRT sama saja dengan memutuskan berkarir di dalam rumah, yang pastinya butuh kompetensi tertentu.

    Oleh karena itu, menjadi full time IRT tidak selalu didasarkan pada maksimal atau tidaknya nafkah materi yang diberikan suami, tetapi wanita itu sendiri yang harus mengenal kompetensi dirinya.

    Jika ia tipe orang yang kreatif, inisiatif tinggi, memiliki kemampuan berinteraksi sosial yang keren, dan tidak mudah stress terhadap masalah keuangan —- saya yakin wanita seperti ini akan menikmati perannya sebagai full time IRT dan mampu memanajemen rasa bosan dengan baik.

    Jika ia tidak punya kompetensi seperti di atas, bekerja adalah pilihan yang lebih bijak agar ia tidak gampang bosan yang ujung-ujungnya merasa hidupnya tidak berguna. Kalau sudah di tahap ini, dikhawatirkan ia akan mencari pelampiasan dengan ikutan jadi ibu-ibu rumpi yang pola pikirnya parsial dan dangkal, konsumtif, minderan, dan cemburu berlebih dengan suami.

    Saya yakin kok, ibu yang bahagia dengan pilihannya akan berdampak positif terhadap tumbuh kembang anaknya.

    Oh ya, satu lagi :) nggak semua pria mendambakan istri bertipe rumah tangga lho :). Bukan karena dia tidak bertanggung jawab, tapi karena dia juga butuh istri yang jadi teman diskusi yang seimbang atau ingin anaknya bangga kalau ibunya bisa mandiri secara finansial.

  125. saya sudah 4 bulan berhenti dari pekerjaan, dan skrng jadi ibu rumah tangga. tadinya saya merasa bosan krena terbiasa bekerja diluar, Alhamdulillah setelah membaca artikel ini saya lebih mantap menjalankan tugas saya sbagai ibu rumah tangga. rasanya masih banyak yang perlu saya benahi. ungkapan Surga diBawah “Telapak kaki ibu” tidak akan ada apabila seorang ibu tidak dapat menghadirkan surga dirumahnya. Jazakallahu muslimah.or.id. izin shared yach

  126. Kerja di rumah juga bisa kok ibu-ibu…
    Tetap dekat dengan anak, dan bisa menghasilkan.
    Kita kan tidak pernah tau apakah suami akan sehat terus, atau usaha/ peerusahaan tempat dia bekerja akan stabil terus, bahkan kita juga tidak tau sampai kapan usia suami.
    Jadi yuk mulai menghasilkan walau di rumah saja.

  127. Ayo ibu-ibu, wanita karir, diisi ya questionernya tentang online shop pakaian anak. Mbak-mbak calon ibu juga boleh :D http://tinyurl.com/d6jdydm

  128. Saya seorang dokter sekaligus ibu 2 anak. sekarang saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, saya bekerja flexi time, 2-3 kali saja dalam satu minggu. ini saya lakukan dengan penuh kesadaran bahwa tugas menjadi ibu adalah tugas yang sangat sangat penting. namun kadang ada saatnya saya merasa goyah ketika melihat teman2 sudah banyak yang sekolah untuk spesialisasi. padahal, bukan bermaksud sombong, selama sekolah sampai kuliah saya adalah siswa berprestasi. ya, banyak yang beranggapan profesi kami ini penuh pahala. tapi, ga banyak yang tahu, banyak cerita tentang rumah tangga dokter yang tidak begitu baik, tentang anak2 yang tidak terdidik dengan baik. saya sempat berencana untuk mengambil spesialisasi, tapi last minute saya pikir2 lagi gimana nasib anak2 saya nanti. krn selama masa pendidikan yg panjang itu(kira2 4 tahun) sebagian BESAR waktu, tenaga, dan pikiran saya akan tersita. lalu, bagaimana dengan suami yang harus ditinggal dlm waktu lama(di kota sy tdk ada program spesialisasi). jadi curhat, hehehe… ya, semoga Allah memberi saya hati yang istiqomah.
    sy mulai mengalami pencerahan seteleh banyak baca2, searching2 tentang sebuah kenyataan yang mengejutkan bhwa memang kitalah sudah termasuk umat akhir zaman. dan feminisme serta gerakan meng-karier-kan wanita adalah tipuan dajjal. wanita mengejar karier terlihat bagai surga yah, tapi sangat bertanggungjawab atas penurunan kualitas generasi penerus.

    • @mila
      tanggung jawab utama seorang wanita adalah di rumahnya. Mari kita membangun karir kita di rumah dengan berusaha menjadi sebaik baik istri dan sebaik baik ibu. Mari kita mencari syurga dri rumah kita. Semoga nanti Allah berkenan memasukkan kita ke dalam syurga melalui pintu mana saja yang kita inginkan. Maka saat itu akan menjadi kesuksesan sejati seorang wanita. Barakallahu fik

  129. Subahanallah….menjadi seorang ibu rumah tangga untuk memberikan didikan terbaik bagi anak lebih mulia ketimbang wanita yang hanya memikirkan penghasilan semata.

  130. suci febrianti

    Sebenernya kembali ke diri masing2..mau pilih mana? Mau d rmh ato menjadi wanita karir,kalo dibilang cukup ato ga cukup secara finansial toh gada kata2 cukup bagi manusia.iya kan?malah ada yang punya moto “jangan pernah merasa puas dgn apa yang kita miliki” nah lo kalo gt gmana nasib anak2 & suami? Heheh trus bagaimna dgn adap berbusana secara muslimah kalo para wanita bekerja? Apakah mungkin pekerja kantor dibolehkan memakai baju panjang,longgar serta jilbab sesuai syariat islam? Bagaimna dgn dandana?apakah mau wanita karir tdk mengunakan parfum? Sedangkan dlm islam wanita tdk d perbolehkan memakai parfum selalin utk mahromnya. Bagaimana dgn tmpt kerja ato waktu istirahat apakah mungkin tanpa bersenda gurau dgn lawan jenis yang bkn mahrom kita? Saya rasa itu semua takan mungkin tak terjadi..jadi sebaik2nya tempat wanita itu adalah rmh..dengan d rmh kita bisa menyambut kedatang suami d saat dia pulang kerja & bisa menyiapkan segala keperluan d saat dia berangkat kerja.masalah finansial.percayalah setiap yang bernyawa ada rejekinya.meskipun irt tdk ada penghasilanya allah swt akan lebihkan kpd sang suami. Marilah kita saling berusaha menjadi istri sholeha & ibu yang baik..

  131. assalamu’alaykum
    saya guru SD.in shaa Allah syarat2 di atas sy pnuhi mulai dr hijab syar’i ,tdk tabaruj,memakai wangi2an dll.hanya saja kondisi SD sy msh ada guru laki2nya.akan tetapi sy selalu berusaha menjaga jarak & sebisa mungkin tdk berinteraksi dg mereka.apakah yg demikian ttp dilarang?mohon jawabannya jazakumullohu khoir

  132. Hanya menambahkan, mohon jangan menyamakan wanita yang bekerja di luar rumah dengan istilah “wanita karir”..wanita karir adalah wanita yang bekerja memang untuk mencari karir, tapi sangat mungkin sebagian besar wanita yang bekerja di luar adalah wanita yang memang kondisi mengharuskan dia untuk bekerja di luar (misal : penghasilan suami tidak mencukupi, bahkan untuk kebutuhan pokok juga belum mencukupi), jadi bukan bertujuan untuk mencari karir atau uang sebanyak banyaknya).

  133. Ya ukhti,

    Saya ingin sekali menjadi ibu rumah tangga, tapi ibu saya stress ketika waktu itu saya ingin mengundurkan diri, saya jadi bingung bagaimana cara menghadapi keluarga yang pro akan wanita bekerja, sedih hati ini ketika melihat anak di didik oleh orang-orang yang kurang paham akan ilmu agama yang Shahih dan Sunnah…

    • Bundanya fatima,falisha & farah

      Assalamu’alaykum wr wb, tulisan yg amat bagus, sayang jika masih ada yg meragukan janji Allah yang akan merawat dan menjaga umat-Nya yg taat. Saya adalah ibu rumah tangga yg melepaskan karir saya demi anak2, walau nampaknya gaji suami tidak mencukupi tetapi keyakinan saya dan suami akan janji Allah begitu besar sehingga dalam setiap kekurangan Allah selalu memenuhi kebutuhan kami dengan cara-Nya, walau tidak seperti yang didambakan banyak orang (berkelebihan materi)…Dunia ini hanya jembatan, akherat adalah tujuan kita semua…ibu saya adalah salah satu bukti kekuasaan Allah, sejak ayah meninggal dunia pd saat aku dan saudara2ku msh kecil (usia 3,5 dan 7 thn) ibu harus bekerja mencari nafkah krn ayah almarhum tdk meninggalkan harta apapun kpd ibu, ibu bekerja ditahun 1980 dgn gaji 30 ribu per bulan sampai dengan pensiun thn 1997 gaji ibu terakhir hanya 750 ribu per bulannya dan kami semua mengenyam bangku kuliah diuniversitas. Rumahpun ibu lunasi dgn hasil kerjanya. kalau dipikir memakai akal sehat tidaklah mungkin dengan gaji sebesar itu semuanya bisa ibu lakukan tapi keyakinan ibu kpd Allah begitu besarnya, mukjizat itu ada rizki datang tanpa disangka dan didapat melalui jalur yang halal (tentunya ibu selain bekerja dikantor juga berusaha berjualan dll), anak2nya semua mudah mendapatkan pekerjaan bahkan saya pun mendapat pekerjaan 2 hari setelah diwisuda dr UI, sampai hari ini ibu masih menjanda. Jika ada suami istri yang bekerja dan masih juga merasa kurang, dengan dalih ingin berkecukupan agar bisa melakukan ini itu demi anak, demi ibadah dll, sungguh disayangkan jika keyakinannya thp kekuasaan Allah tidak sepenuhnya ada…jika Allah menghendaki maka apa yg tidak mungkin akan menjadi kenyataan. Ketakutan akan kekurangan ekonomi adalah salah satu trik syetan yg paling mengelabui…Kembali lagi ke pernyataan bahwa Islam tidak melarang wanita bekerja, itu benar…hanya saja jaman sekarang ini alasan utk bekerja para wanita seringkali tidak sesuai dgn syariat agama, malah para wanita bekerja ini krn suami yg menyuruh juga, agar tabungan lekas banyak terisi…padahal kalo melihat kisah ibu saya yg menjanda dgn 3 anak tp bisa mencukupi kebutuhan hidup tanpa bantuan org lain , apa tidak malu ya para suami yg menyuruh istrinya bekerja diluar rumah utk membantu ekonomi keluarga, sementara ibu saya memang harus bekerja diluar rumah karena desakan kebutuhan krn saat itu kondisinya sbg seorang janda miskin…Percayalah akan kekuasaan Allah, kita selalu memohon kpd-Nya, Insya Allah dgn iman yg kuat Allah akan mengabulkan kebaikan untuk kita dan keluarga didunia ini…seringkali bukan permintaan kita yg dikabulkan tetapi kebutuhan kita yg akan Allah penuhi dgn cara_Nya yg paling baik…Insya Allah…salam…

  134. masya Allah, seandainya kedua orang tua ku membaca tulisan ini :( mungkin aku tidak seperti ini..

  135. Subhanallah, sudah lewat tengah malam ketika saya terarahkan kepada artikel ini. Dan membaca tulisan, comment dan jawaban2 penulis sudah menambah wawasan dan ilmu lagi buat saya.
    Dulu, saya juga bekerja di luar rumah…. bahkan sampai anak saya lahir dan hampir berusia 3 tahun.
    Kemudian, dengan keyakinan, pertimbangan dan segala masukan2 ilmu dan ajaran, saya putuskan untuk ‘hijrah profesi’.

    8 bulan sebelum memutuskan resign, saya bismillah memulai satu bisnis yang saya niatkan untuk menjadi pengganti ‘gaji’ dan bisa saya kerjakan dari rumah.

    Alhamdulillah…..
    setelah resign, rezeki bisnis yg saya jalankan dari rumah lancar, anak tak perlu saya tinggal seharian. Insyaallah semakiiin yakin Allah membuka pintu rezekiNya yang Maha Luas bagi siapapun yang bersungguh2 berusaha sesuai dengan anjuranNya.

    sampai sekarang, alhamdulillah bangga menjadi Ibu Rumah Tangga dan tetap bisa berpenghasilan.

  136. wah… saya mau banget jadi ibu rumah tangga. makan-tidur, main dg anak, menunggu suami pulang dan duit tinggal ngadah sama suami, mau banget saya.

    • @riri saudariku, jangan mau seperti itu, jadilah ibu yang mengharapkan ridha Allah, sehingga kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan yang mengundang ridha Allah.

  137. Menjadi ibu rumah tangga dengan anak yang pintar dan cerdas adalah kebanggaan seorang wanita.
    kembangkan bakat dan prestasi anak anda dengan bergabung di Griya Bakat Super di :
    http://www.bakatsuper.com

  138. hm, kompleks memang kehidupan wanita tuh. kalo dibilang akhir jaman bynk wanita berkarir dan ini tipuan dajal, liat2 dulu motivasi wanita tsb bekerja. Jadi ya kalau melihat wanita yang berkarir diluar ya disupport saja supaya tetap bisa menyeimbangkan kewajiban utamanya, dan utk wanita yg berkarir dirumah juga di motivasi juga untuk memiliki penghasilan sendiri juga. Jadi semuanya dapet kan?

    Yang paling penting diskusikan dg suami, konsekuensi2nya bila wanita berkarir diluar atau dirumah. Harus saling kerjasama penuh kekompakan. Semoga berhasil !

  139. Masih Belajar

    Yaa Allah :( membaca artikel ini membuat saya makin sedih.
    Saya berencana menjadi ibu rumah tangga kelak saat berkeluarga.

    Orangtua menginginkan saya bekerja. Teman-teman saya pun berpendapat bahwa sekarang wanita dituntut harus mau dan mampu mencari uang untuk membantu suami, mengingat makin hari kebutuhan hidup semakin mahal. Belum lagi calon mertua yang berharap memiliki mantu wanita karier. Tapi entah mengapa, panggilan hati saya tetap ingin jadi ibu rumah tangga :'(

    Saat kuliah, saya aktif berorganisasi, ikut pelatihan ini-itu, dan memiliki prestasi akademik yg cukup memuaskan. Meski demikian saya tidak merasa sayang jika nantinya hanya stay di rumah mengurus anak dan suami.

    Mohon doanya agar saya mendapat suami yang ridho jika istrinya memilih jadi ibu rumah tangga :’) saya pun bingung bagaimana meyakinkan orangtua yg membiayai pendidikan saya bertahun-tahun, bahwa saya tidak ingin berkarir. lingkungan saya masih memandang sebelah mata status ibu rumah tangga (ngga smart, cuma tau ngabisin duit suami, dll).

  140. Terimakasiha atas share artikelnya, sangat bermanfaat untuk ibu rumah tangga.

  141. Alhamdulillah sy pernah spt diparagraf 1 dan saat ini sdh diparagraf berikut. Sy dl seorang dosen dg mhsw semuanya perempuan kebetulan jurusan ini khusus utk wanita. Di sebuah PTN ternama dengan ltrbelakang pendidikan sy s2 dan berhasil lulus dg cumlaude…stlh bkj menjadi dosen yg terkenal serimg tugas kemana2 dan menguji keluar propinsi,meninggalkan anak2 sampai bbrp hari. Alhamdulillah suami mengijinkan dan anak2 juga tidak ada keluhan. 2 bln yg lalu sy mengajukan resign dan ingin tinggal dirumah..diluar dugaan ternyata anak2 sangat senang dan mulai curhat ketika bunda masih bekerja dan jarang dirumah..ternyata dibalik ketegaran anak2 mereka ingin bunda di rumah,mengantar seklh,tempat cerita selepas sekolah,menangis dan sedih rasa hati ini sebagai bunda yg sibuk terbuai dengan mimpinya sendiri,dengan artikel ini semakin menguatkan utk menebus kesalahan dan tidak menengok pd tangga karier masa lalu. Mudah2an ishiqomah

  142. Nice share Bunda,
    Jadi pengen share juga nih..
    Saya Ibu yang sejak mengandung anak sudah berani resign dari karir saya. Sekarang anak full ASI sampai 2 tahun dan selalu sehat.

    Buat saya dan suami, anak tetap nomor 1. Jadi kami siapkan semua yang terbaik buat anak. waktu dan tenaga kami siapkan paling utama dibanding uang dan karir.

    Nah.. untuk ekonomi keluarga, tetap bisnis dari rumah yang paling menjanjikan koq!
    Terima kasih untuk bisnis hebat & nyata yang kami jalani saat ini. Mau saya share kisah sukses saya dalam keluarga?
    Coba deh kunjungi blog saya di http://www.kerjadirumahaja.com ! Kita share yuuk!

    @kerjadirumahaja.com #kerjadirumahaja.com
    #bisnisdarirumah # bisnisrumahan #bisnisiburumahtangga

  143. Ariani Dwipangga

    DAN YG LEBIH PARAHNYA LAGI ..NGASIH TIPS UNTUK SUKSES JADI WANITA KARIR DAN IBU RUMAH TANGGA….SUPERWOMEN.?…WONDERWOMEN..? SPIDERWOMEN..? CATWOMEN..? ATAU STUPIDWOMEN….?

  144. Ariani Dwipangga

    jangan kalian kira menuntut ilmu pengetahuan itu membuat kalian jadi pintar…itu persepsi yg salah…ilmu pengetahuan itu menjadikan manusia dari tidak tahu menjadi tahu…ilmu pengetahuan itu dari Allah…supaya manusia hidup dibumi ini lebih mudah…Allah telah memberikan kepintaran ( akal pikiran )kepada manusia itu sejak lahir…nyonyot…?

  145. Ariani Dwipangga

    dulu berhalanya manuisa..PATUNG… TAHTA….HARTA. WANITA….SEKARANG NICH ..ILMU PENGETAHUAN….NTAR LAGI …. DAJJAL

    BERPIKIRLAH…!

  146. Alhamdulillah…
    baarakalluhu fiikum
    jazaakillaahu khairon atas artikelnya, semoga bermanfaat buat kita semua..amiin ya rabb.

  147. Nurhasanah

    Ijin copas ya artikelnya. Jazakumullah

  148. Ummu Faqih

    ijin share artikel, syukran katsiro

Leave a Reply