fbpx
Donasi Web Donasi Web

Renungan dari Realitas Umat Islam

Renungan dari Realitas Umat Islam

Pada kenyataannya, ada dua hal yang membuat umat Islam kehilangan keseimbangan, sehingga berjalan limbung ke kanan dan ke kiri, sampai ada sekelompok darinya keluar dari jalan induk (lurus).

Pertama : Al Wahn

Keadaan ini telah diisyaratkan dan dijelaskan dengan sangat tegas dan tidak ada kebimbangan, sangat jelas dan tidak ada kesamaran padanya, sangat gamblang, dalam hadits Tsauban -radhiyallaahu ‘anhu-, maula Rasulullaah Shallallaahu’alaihi wa Sallam, beliau berkata: telah bersabda Rasulullaah Shallallaahu’alaihi wa Sallam:

” يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها ” ، فقال قائل : ومن قلة نحن يومئذ ؟ قال : ” بل أنتم يومئذ كثير ، ولكنكم غثاء كغثاء السيل ، ولينزعن الله من صدور عدوكم المهابة منكم وليقذفن في قلوبكم الوهن ” ، فقال قائل : يا رسول الله وما الوهن ؟ قال : ” حب الدنيا ، وكراهية الموت ”

Artinya: “Nyaris sudah para umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan menghadapi bejana makanannya.” Lalu bertanya seseorang, “Apakah kami pada saat itu sedikit?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan ke dalam hati-hati kalian wahn (kelemahan).” Maka seseorang bertanya, “Wahai Rasulullaah, apakah wahn itu?”. Kata beliau, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud no. 4297, shohih li ghairihi).

Kedua : Keadaan Ad Dakhan

Hal ini didapatkan melalui petunjuk kenabian yang terdapat dalam hadits Hudzaifah bin Al Yaman -radhiyallaahu ‘anhu-, beliau berkata.

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي ، فَقُلْتُ : ” يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ ، فَجَاءَنَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَذَا الْخَيْرِ ، فَهَلْ بَعْدَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ ، قَالَ : نَعَمْ . قُلْتُ : فَهَلْ بَعْدَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، وَفِيهِ دَخَنٌ . قُلْتُ : وَمَا دَخَنُهُ ؟ قَالَ : قَوْمٌ تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ . قُلْتُ : فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا . قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ ؟ قَالَ : تَلْزَمَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ ، قُلْتُ : فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلا إِمَامٌ ؟ قَالَ : فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعُضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ كَذَلِكَ ، قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، صِفْهُمْ لَنَا ، قَالَ : هُمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا ، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا ”

Artinya: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullaah Shallallaahu’alaihi wa Sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena takut jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya, “Wahai Rasulullaah, kami dahulu berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Allah memberikan kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?”. Beliau menjawab, “Ya.” Aku bertanya, “Dan apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?”. Beliau menjawab, “Ya, dan ada padanya kabut (dakhan)!”. Aku bertanya lagi, “Apakah kabut (dakhan) tersebut?”. Beliau menjawab, “Satu kaum yang mengikuti teladan selain sunnahku, dan mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu menganggap baik mereka dan kamu pun mengingkarinya.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi?”. Beliau menjawab, “Ya, para dai yang mengajak ke pintu-pintu neraka (jahannam)! Barangsiapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka menjerumuskan ke dalam neraka.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullaah, berilah tahu kami sifat-sifat mereka?”. Beliau menjawab, “Mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullaah, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya?”.Beliau menjawab, “Berpegang teguhlah pada jama’ah kaum muslimin dan imamnya.” Aku bertanya lagi, “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imam?”. Beliau menjawab, “Hindarilah semua kelompok-kelompok itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon, hingga kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu.” (HR Bukhori dan Muslim).

Beraneka ragam ibarat (keterangan) para pensyarah hadits ini seputar pengertian ad Dakhan, akan tetapi bertemu pada satu hasil yang sama.

Berkata al Baghawy -rahimahullaahu- dalam Syarhus Sunnah (15/15): “Dan sabdanya (و فيه دخن) bermakna kebaikan tersebut tidak murni bahkan telah ada padanya kekeruhan dan kegelapan, dan asal kata dakhon adalah kekeruhan yang menuju warna gelap yang ada pada warna binatang tunggangan.

Aladzim Abaady -rahimahullaahu- telah menukilkan dalam Aunul Ma’bud (11/316) perkataan dari Al Qaary, “Dan asal kata ‘Dukhan’ adalah kekeruhan dan warna yang kehitam-hitaman, maka ada padanya satu penunjukan bahwa kebaikan telah terkeruhkan oleh kerusakan.”

Dan kerusakan dan kekeruhan tersebut diantaranya disebabkan oleh banyaknya bid’ah yang merusak dan mengaburkan ajaran Nabi yang murni, sehingga timbullah berbagai macam pencemaran syari’at, serta tipu daya dan muslihat kaum kafir yang merongrong generasi kaum muslimin dan berusaha merusaknya dari dalam dan dari luar.

Diringkas dari buku “Mengapa Memilih Manhaj Salaf?” terjemahan karya Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied al Hilaly. 2002. Pustaka Imam Bukhari, Solo.

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Donasi masjid al ashri pogung rejo
Donasi Masjid Pogung Dalangan

About Author

One Comment

Leave a Reply