Pada kenyataannya, ada dua hal yang membuat umat Islam kehilangan keseimbangan, sehingga berjalan limbung ke kanan dan ke kiri, sampai ada sekelompok darinya keluar dari jalan induk (lurus).
Pertama: Al-Wahn
Keadaan ini telah diisyaratkan dan dijelaskan dengan sangat tegas dan tidak ada kebimbangan, sangat jelas dan tidak ada kesamaran padanya, sangat gamblang. Dalam hadis Tsauban –radhiyallaahu ‘anhu-, maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata, “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Nyaris sudah para umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan menghadapi bejana makanannya.”
Lalu bertanya seseorang, “Apakah kami pada saat itu sedikit?”
Beliau menjawab, “Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan ke dalam hati-hati kalian wahn (kelemahan).”
Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?”
Kata beliau, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud no. 4297, shahih li ghairihi)
Kedua: Keadaan Ad-Dukhan
Hal ini didapatkan melalui petunjuk kenabian yang terdapat dalam hadis Hudzaifah bin Al-Yaman –radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata,
“Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena takut jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kami dahulu berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Allah memberikan kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?”
Beliau menjawab, “Ya.”
Aku bertanya, “Dan apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?”
Beliau menjawab, “Ya, dan ada padanya kabut (dukhan)!“
Aku bertanya lagi, “Apakah kabut (dukhan) tersebut?”
Beliau menjawab, “Satu kaum yang mengikuti teladan selain sunahku, dan mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu menganggap baik mereka dan kamu pun mengingkarinya.”
Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi?”
Beliau menjawab, “Ya, para dai yang mengajak ke pintu-pintu neraka (jahannam)! Barangsiapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka menjerumuskan ke dalam neraka.”
Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, berilah tahu kami sifat-sifat mereka?”
Beliau menjawab, “Mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita.”
Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya?”
Beliau menjawab, “Berpegang teguhlah pada jama’ah kaum muslimin dan imamnya.”
Aku bertanya lagi, “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imam?”
Beliau menjawab, “Hindarilah semua kelompok-kelompok itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon, hingga kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beraneka ragam ibarat (keterangan) para pensyarah hadis ini seputar pengertian ad-Dukhan, akan tetapi bertemu pada satu hasil yang sama.
Al-Baghawy –rahimahullah– berkata dalam Syarhus Sunnah (15: 15), “Dan sabdanya (ad-Dukhan) bermakna kebaikan tersebut tidak murni bahkan telah ada padanya kekeruhan dan kegelapan, dan asal kata dukhan adalah kekeruhan yang menuju warna gelap yang ada pada warna binatang tunggangan.”
Aladzim Abaady –rahimahullahu– telah menukilkan dalam Aunul Ma’bud (11: 316) perkataan dari Al-Qaary, “Dan asal kata “dukhan” adalah kekeruhan dan warna yang kehitam-hitaman, maka ada padanya satu penunjukan bahwa kebaikan telah terkeruhkan oleh kerusakan.”
Dan kerusakan dan kekeruhan tersebut di antaranya disebabkan oleh banyaknya bid’ah yang merusak dan mengaburkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang murni, sehingga timbullah berbagai macam pencemaran syari’at, serta tipu daya dan muslihat kaum kafir yang merongrong generasi kaum muslimin dan berusaha merusaknya dari dalam dan dari luar.
—
Artikel Muslimah.or.id
Sumber: Diringkas dari buku “Mengapa Memilih Manhaj Salaf?” edisi terjemahan dari karya Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied al-Hilaly. 2002. Pustaka Imam Bukhari, Solo.