Bolehkah Memastikan Allah Telah Menerima Taubat Seseorang?

Bismillah. Allahumma yassir wa a‘in .… Ketika ada seseorang yang bertaubat dengan serius, memenuhi setiap syarat dan rukun taubat, bolehkah kita memastikan bahwa taubatnya diterima oleh Allah? Ataukah …

2338 1

Bismillah. Allahumma yassir wa a‘in .…

Ketika ada seseorang yang bertaubat dengan serius, memenuhi setiap syarat dan rukun taubat, bolehkah kita memastikan bahwa taubatnya diterima oleh Allah? Ataukah yang bisa kita lakukan hanya berharap taubatnya akan diterima Allah, sementara kepastian diterimanya tergantung kepada kehendak Allah?

Ada dua pendapat ulama dalam masalah ini. Berikut rinciannya.

  • Pertama, kita tidak boleh memastikan taubatnya diterima Allah. Karena diterimanya taubat seseorang, tergantung pada kehendak Allah. Sementara tidak ada satupun makhuk yang mengetahui apa yang menjadi kehendak Allah. Yang bisa kita lakukan hanyalah berharap, semoga Allah menerima taubatnya dan mengampuni dosanya. Tidak lebih dari itu; karena manusia tidak bisa memastikan.

Ibnu Athiyah dalam tafsirnya menyebutkan empat jenis manusia terkait pengampunan dosa. Salah satunya,

وتائب مات على توبته فهو عند أهل السنة وجمهور فقهاء الأمة لاحق بالمؤمن المحسن إلا أن قانون المتكلمين أنه في المشيئة

“Orang mukmin yang bertaubat dari dosanya dan mati setelah taubat, menurut ahlus sunnah dan mayoritas ulama umat, dia disamakan dengan orang mukmin yang baik (diterima taubatnya). Sementara kaidah ahli kalam menyatakan, dia berada di bawah kehendak Allah.” (Al-Muharrar Al-Wajiz, 2:137)

Al-Hafizh Ibnu Rajab juga menyebutkan perbedaan pendaat ini,

ومِنَ الناسِ مَنْ قال : لا يقطع بقبول التوبة ، بل يُرجى ، وصاحبُها تحت المشيئة وإنْ تاب

“Sebagian orang berpendapat bahwa tidak boleh memastikan diterimanya taubat. Namun yang benar adalah mengharapkan (diterimanya taubat). Orang yang bertaubat itu di bawah kehendak Allah, meskipun dia sudah bertaubat.” (Jami’ Al-Ulum wal Hikam, hlm. 31)

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa taubat seseorang berada di bawah kehendak Allah adalah firman-Nya,

إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاء

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48)

Ayat di atas menyebutkan pengampunan dosa selain syirik, di bawah kehendak Allah.

Di antara ayat lain yang menguatkan pendapat ini adalah firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang serius). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu.” (QS. At-Tahrim: 8)

Kata [عَسَى ] yang diartikan “mudah-mudahan” adalah kalimat tarajji (harapan), sehingga pengampunan dosa bagi orang yang bertaubat itu kembali kepada kehendak Allah.

Dalil lainnya adalah qiyas terhadap amal soleh yang dilakukan hamba. Ketika seorang hamba melakukan amal shalih dengan memenuhi setiap rukun dan syaratnya. Tidak boleh seorang pun memastikan amalnya diterima, karena tidak ada yang tahu diterimanya amal, kecuali Allah. Yang bisa dilakukan hanyalah berharap amalnya diterima.

Demikian pula taubat, karena taubat termasuk amal shalih. Ketika seseorang bertaubat dengan memenuhi setiap syarat dan rukunnya, tidak ada yg bisa memastikan apakah Allah menerima taubatnya ataukah tidak.

  • Kedua, kebalikan dari pendapat pertama, ketika ada orang yang telah bertaubat dengan serius, memenuhi semua syarat dan rukunnya, kita boleh memastikan taubatnya diterima karena Allah telah menjanjikan, siapa saja yang bertaubat kepada-Nya, Allah akan menerima taubatnya. Sebagaimana hal ini yang tergambar dari makna dalil-dalil yang menjelaskan tentang perintah taubat.

Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. Bahkan sebagian ulama mengisyaratkan adanya ijma’.

Al-Hafizh Ibnu Rajab menyebutkan berbagai dalil perintah taubat. Selanjutnya beliau mengatakan,

وظاهر هذه النصوص تدلُّ على أنَّ من تاب إلى الله توبةً نصوحاً ، واجتمعت شروطُ التوبة في حقه، فإنَّه يُقطع بقبولِ الله توبته ، كما يُقطع بقبول إسلام الكافر إذا أسلم إسلاماً صحيحاً ، وهذا قولُ الجمهور ، وكلامُ ابن عبدِ البرِّ يدلُّ على أنَّه إجماع

“Makna yang tertangkap dari dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa orang yang bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuhah, terpenuhi semua syarat taubat bagi dirinya, maka boleh dipastikan Allah menerima taubatnya. Sebagaimana boleh dipastikan diterimanya islam orang kafir yang masuk islam dengan benar. Inilah pendapat mayoritas ulama. Keterangan Ibnu Abdil Bar mengisyaratkan bahwa hal ini disepakati ulama.” (Jami’ Al-Ulum wal Hikam, hlm. 31)

Beberapa dalil yang menunjukkan janji diterimanya taubat:

  1. Firman Allah,

    إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاء

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48)

    Jumhur ulama menafsirkan ayat ini,

    فإنَّ التائب ممن شاء أنْ يغفرَ له ، كما أخبر بذلك في مواضعَ كثيرةٍ من كتابه

    “Orang yang bertaubat termasuk orang yang dikehendaki untuk Dia ampuni, sebagaimana hal ini Allah sampaikan dalam banyak kesempatan di kitab-Nya.” (Jami’ Al-Ulum wa al-hikam, hlm. 490)

  2. Firman Allah,

    فَأَمَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَعَسَى أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُفْلِحِينَ

    ”Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang soleh, semoga Dia Termasuk orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Qashash: 67)

    Atau firman Allah,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

    “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu .…” (QS. At-Tahrim: 8)

    Dalam dua ayat di atas, Allah menggunakan kata [عَسَى ] untuk janji menerima taubat hamba. Menurut keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, kata [عَسَى ] dari Allah bermakna “wajib”. (Tafsir Ibnu Abi Hatim, 4:84; Al-Qurthubi, 8:91)

  3. Hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha; sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    إنَّ العبد إذا اعترف بذنبه ، ثم تابَ تاب الله عليه

    “Sesungguhnya hamba, jika dia menyadari dosanya kemudian dia bertaubat, niscaya Allah terima taubatnya.” (HR. Ahmad, Bukhari [no. 2661], dan Muslim)

    Konsekuensi dari mengakui dosa adalah menyesali dosa yang dia lakukan. Dan itulah inti taubat. Maka Allah pun menerima taubatnya.

Kemudian, qiyas yang lebih tepat untuk orang yang bertaubat adalah qiyas dengan orang yang masuk islam, bukan dengan orang yang beramal. Karena orang yang bertaubat berarti dia menyesali dan meninggalkan dosa yang dia lakukan. Sebagaimana orang yang masuk Islam, dia meninggalkan kekufuran.

Dengan demikian, pendapat yang lebih mendekati kebenaran dalam kasus ini adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa orang yang serius bertaubat dengan sebenar-benarnya, boleh dipastikan taubatnya diterima oleh Allah.

Allahu a’lam.

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel www.muslimah.or.id

 

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?