Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Iffah, Sifat Indah Muslimah yang Mulai Hilang

Norma Melani Khaira oleh Norma Melani Khaira
6 Juni 2026
di Akhlak dan Nasihat
0
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Makna iffah bagi seorang muslimah
  • Pembagian iffah dan sesuatu yang harus dihiasi dengan iffah
    • Pertama: Iffah dalam menjaga pikiran dan hati
    • Kedua: Iffah dalam menjaga pandangan
    • Ketiga: Iffah dalam penampilan dan pakaian
    • Keempat: Iffah dalam menggunakan media sosial
  • Menghindari hubungan terlarang

Perempuan (terkhusus muslimah) layaknya mutiara di dasar lautan. Indah dan berharga. Namun, tidak semua orang mampu melihat keindahannya dan menyentuhnya. Perumpamaan ini tentu tidak bisa disematkan untuk setiap perempuan, karena nyatanya banyak perempuan yang tidak bisa menjaga kemuliaan dan keindahannya. Kemuliaan dan keindahan ini hanya akan ada pada seorang perempuan jika ia bisa menjaga kehormatannya. Inilah iffah, yang dengannya seorang perempuan menjaga kehormatannya. Melihat penting dan berharganya sebuah kata iffah bagi seorang perempuan, penulis ingin berbagi ilmu tentangnya yang diambil dari kajian bersama Ustazah Evi Khulwati (Ummu Hanifah) hafizhahallahu Ta`ala (Dosen Institut Muslim Cendekia) pada tanggal 17 Januari 2026.

Makna iffah bagi seorang muslimah

Iffah berarti menahan diri dari hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang muslimah, baik itu perkataan maupun perbuatan. Dalam pengaplikasian iffah, seorang muslimah harus memiliki pagar atau batasan untuk menjaga diri. Pagar ini meliputi pagar zahir (yang terlihat) dan pagar bathin (yang ada di dalam diri atau yang tidak terlihat).

Pagar zahir bagi seorang muslimah untuk menjaga dirinya berupa pakaian yang sesuai dengan standar syariat, standar yang Allah ridai. Sedangkan pagar batin adalah pagar yang bertujuan untuk melindungi seseorang dari syahwatnya, dan melindunginya dari semua perkataan serta perbuatan yang bisa mengurangi atau menghilangkan kemuliaan serta kehormatannya, dan membantunya untuk bisa bersabar dan membersihkan diri dari penyakit dan godaan dunia. Allah Ta`ala berfirman,

وَلۡيَسۡتَعۡفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغۡنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ

“Dan hendaklah orang-orang yang belum mampu menikah itu menjaga kesucian dirinya, sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 33)

Donasi Muslimah.or.id

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ

“Barangsiapa menjaga diri (dari yang haram), maka Allah akan menjaganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam mengajarkan umatnya doa untuk meminta iffah,

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى

Allahumma innii asalukal hudaa wattuqoo walafaafa walghinaa

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri (iffah), dan kecukupan.”

Di antara sebab pentingnya iffah bagi seorang muslimah:

Pertama: Seseorang yang memiliki sifat iffah akan mendapatkan naungan Allah Ta’ala di hari akhir, yang mana di hari itu tidak ada satu naungan pun kecuali naungan Allah Ta`ala. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda (dalam hadis tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah, di antaranya yang menjaga iffahnya):

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ

“Dan seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang berkedudukan dan cantik (untuk berzina), lalu ia berkata, “Sungguh aku takut kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua: Iffah adalah sebab terjaganya kehormatan seorang muslim. Seorang A’rabi berkata,

صُنْ عَقْلَكَ بِالْحِلْمِ وَمُرُوءَتَكَ بِالْعَفَافِ

“Jagalah akalmu dengan kesabaran, dan jagalah kehormatan dirimu dengan sifat iffah.”

Ketiga: Pertolongan Allah terhadap orang-orang yang menjaga iffah-nya.

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمْ: الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ

“Ada tiga golongan yang menjadi hak (jaminan) Allah untuk menolong mereka: orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin menebus dirinya (ingin merdeka), dan orang yang menikah dengan niat menjaga iffah (kesucian diri).” (HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan)

Pembagian iffah dan sesuatu yang harus dihiasi dengan iffah

Iffah pada dasarnya terbagi menjadi dua, yaitu iffah dalam meninggalkan perbuatan-perbuatan haram; dan iffah pada hal-hal yang sebenarnya mubah (boleh), tetapi pada kondisi tertentu dapat mengurangi kehormatan, dan orang-orang yang memiliki sifat iffah akan meninggalkan hal-hal tersebut. Iffah meliputi:

Pertama: Iffah dalam menjaga pikiran dan hati

Hati dan pikiran adalah dua hal yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh orang lain. Seorang muslimah afiifah (yang memiliki iffah) harus menjaga kebersihan hati dan pikirannya. Coba kita ingat, pernahkah sewaktu-waktu terbesit di benak kita hal-hal yang buruk dan dilarang syariat? Tentu setiap kita pernah diuji dengan hal ini, dan ini adalah hal yang wajar. Tetapi seorang muslimah afiifah tidak akan berlarut-larut dalam pikiran seperti ini, dia akan berusaha mengalihkan pikirannya ke hal-hal lain yang positif.

Kedua: Iffah dalam menjaga pandangan

Allah Ta`ala berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman agar mereka menundukkan sebagian pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka.” (QS. An-Nur: 31)

Allah Ta`ala memerintahkan mukminah (dan begitu juga mukmin) untuk menundukkan pandangannya dari hal-hal yang haram terutama dari melihat orang-orang yang bukan mahramnya. Jika sebagian dari kita berfikir bahwa dia bisa menjaga hatinya walau tanpa menundukkan pandangannya, maka perspektif ini salah. Seorang muslim seharusnya tidak merasa aman dari fitnah (ujian yang bisa menghilangkan keimanan) dan godaan setan, karena fitnah bisa didapatkan oleh siapa saja, bahkan para ulama sekalipun.

Fitnah dapat memasuki hati dengan lembut bahkan sebelum seorang muslim menyadarinya. Dan untuk mencegah hal ini, maka diperlukan kehati-hatian dan memutus segala jalan menuju maksiat dan salah satunya dengan menundukkan pandangan. Semua ini sejalan dengan kaidah fiqhiyyah “Saddu adz-dzarooik”, yang berarti memutus segala wasilah (perantara) menuju keharaman.

Ketiga: Iffah dalam penampilan dan pakaian

Seorang muslimah ketika dia memakai sepotong baju dan sehelai khimar, pada hakikatnya dia bukan hanya menutup auratnya, tetapi dia sedang membawa pesan, “Beginilah seorang muslimah yang memiliki kemuliaan dan kehormatan.” Oleh sebab itu, wahai saudariku, hendaknya kita selalu melihat pakaian yang kita gunakan. Jangan kita jadikan mode dan trend menjadi tolok ukur pakaian yang kita gunakan, tetapi yang harus kita jadikan tolok ukur dalam berpakaian adalah syariat Islam.

Tujuan utama hijab dan pakaian syar`i adalah melindungi, yaitu melindungi diri sendiri dari tatapan yang tidak pantas, dan melindungi lelaki dari fitnah-fitnah yang disebabkan oleh cara berpakaian yang tidak pantas. Kita harus selalu berusaha untuk mengembalikan fungsi dasar dari pakaian tersebut. Dan jangan juga kita jadikan pakaian -yang katanya syar’i– justru untuk menarik perhatian laki-laki asing disebabkan perhiasan dan mode yang ada di pakaian tersebut.

Keempat: Iffah dalam menggunakan media sosial

Dalam menggunakan media sosial, kita juga harus selalu menjaga iffah. Hendaknya kita tidak menyibukkan diri pada hal-hal yang tidak berguna bagi dunia maupun akhirat. Hendaknya kita meninggalkan tontonan-tontonan yang melanggar syariat, serta selalu berhati-hati dalam memberikan komentar. Jangan biarkan jemari mengetikkan sesuatu yang hanya akan memberatkan timbangan keburukan kelak dan menghindari diri dari menyebarkan sesuatu yang akan mengurangi kehormatan. Kita juga harus menghindari khalwat, melalui obrolan yang tidak penting dengan lelaki asing.

Menghindari hubungan terlarang

Untuk melindungi diri dari fitnah serta menjaga iffah, maka seorang muslimah harus memutuskan semua hubungan-hubungan haram. Coba kita pikirkan, pasti setiap dari kita mau memiliki pasangan dengan akhlak yang baik. Pasangan yang ketika kita melihatnya akan membawa kedamaian di hati. Sama halnya dengan laki-laki, mereka menginginkan pasangan yang juga membawa ketenangan baginya dengan akhlak dan adabnya. Ketika kita menyadari hal ini, tentu kita bisa memahami bahwa hubungan-hubungan haram seperti pacaran hanya akan menodai akhlak dan diri kita. Lantas, bagaimana kita akan mendapatkan pasangan yang baik jika kita belum menjadi sosok yang baik? Tetapi yang perlu kita ingat, jangan niatkan memperbaiki diri untuk mendapatkan pasangan yang baik. Memperbaiki diri adalah untuk mendapatkan rida Allah Ta’ala. Kita harus sadar bahwa ketika Allah rida, maka dengan mudah Allah akan memberikan pasangan terbaik untuk kita, biidznillah.

Dalam konteks pasangan yang baik, ada sebuah cerita yang diceritakan oleh ustazah. Suatu hari, di sebuah kampus, sesosok gadis cantik menanti hujan berhenti, ia ingin pulang ke rumahnya, namun apa daya, hujan terlalu deras untuk dilalui. Hingga gelap malam mulai merayap. Dia pun nekat menembus hujan. Semua rumah yang ia lewati tertutup rapat, hingga ia dapati satu rumah yang gerbangnya terbuka. Di saat mengetuk pintu, tiba-tiba seorang pemuda membukakannya, seorang pemuda yang juga mahasiswa di kampusnya. Karena kasihan melihatnya kedinginan, dia mempersilahkannya untuk masuk, memberinya pakaian ganti, dan makan malam yang hangat.

Mahasiswi tersebut terus berusaha untuk menghubungi keluarganya, namun semuanya nihil. Dengan kemurahan hatinya, pemuda tersebut mengizinkannya untuk menginap malam itu di rumahnya, dan mempersilahkannya untuk memakai kamarnya, sedangkan ia akan tidur di luar kamar. Namun, di saat pemuda itu akan memejamkan mata, tiba-tiba terbayang gambaran perempuan yang ada di kamarnya. Karena dia adalah seorang pemuda yang memiliki hati yang bersih dan akhlak yang baik, dia berusaha untuk menghapus pikiran buruknya dengan berwudu kemudian salat. Setelah salat, gambaran perempuan tadi masih saja mengganggunya, sampai akhirnya dia memutuskan untuk membaca Al-Qur`an.

Keesokan harinya, perempuan itu pulang ke rumahnya. Ayahnya marah besar karena putrinya semalaman berada di rumah laki-laki asing. Ayahnya mengancam akan membunuh pemuda itu jika terbukti telah menyentuh putrinya. Dengan marah, sang ayah pergi ke kampusnya, sesampainya di sana teman-temannya memberitahukan bahwa pemuda itu dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, ia mendapai jari-jarinya terikat (terbungkus).

Sang ayah pun bertanya, “Apa yang terjadi?” Ia menjawab, “Ketika dia (perempuan tersebut) berada di rumahku tadi malam, aku sempat memikirkan sesuatu yang tidak pantas, namun aku mengingat kalau itu salah dan mencoba mengalihkan pikiranku dengan wudu, salat, dan membaca Al-Qur`an. Namun, bayangannya masih belum hilang, sehingga aku memutuskan pergi ke dapur dan menyalakan perapian. Setiap kali bayangannya datang, aku mendekatkan jari-jariku ke perapian seraya mengatakan pada diriku, “Ingatlah wahai diri, sanggupkah kau menahan panasnya api neraka kelak?” Setiap kali ada dorongan buruk dari dalam diriku, aku dekatkan jari-jariku ke perapian sampai akhirnya aku pingsan.”

Sang ayah pun tidak bisa menahan haru mendengar kisahnya, sampai akhirnya secara spontan ia memutuskan untuk menikahkannya dengan anak perempuannya. Sang ayah yakin bahwa pemuda itu adalah pemuda yang baik dan menjaga kesuciannya, sebagaimana anak perempuannya yang menjaga iffah-nya.

***

Penulis: Norma Melani Khaira

Artikel Muslimah.or.id

ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Norma Melani Khaira

Norma Melani Khaira

Artikel Terkait

Pesona Kebahagiaan Seorang Mukmin

oleh Isruwanti Ummu Nashifa
9 Agustus 2019
0

Seorang yang bertaqwa akan terus berupaya melakukan amalan-amalan hati, lisan, dan anggota badan, yang sesuatu itu terkadang dalam pandangan manusia...

Ayah, Ibu… Biarkan Ananda Istiqomah

oleh Redaksi Muslimah.Or.Id
14 April 2009
73

Duhai, betapa indahnya jika kita bisa membahagiakan orang tua kita. Orang tua yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang....

Angan-Angan Mereka Yang Telah Tiada

oleh Redaksi Muslimah.Or.Id
27 Februari 2012
16

Angan-angan mereka yang telah mati ialah kembali ke dunia meski sejenak untuk menjadi orang shalih. Mereka ingin taat kepada Allah,...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.