Waspadalah…. Bid’ah Tersebar, Reduplah Sunnah

Tak ada seorang mukmin pun yang tidak mengharapkan kembalinya kejayaan Islam, sebagaimana Islam dahulu pernah berada pada masa emas kejayaannya di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. …

7225 24

Islam Sesuai Sunnah Hukum Istigfar Ibadah2 Bid Ah Yg Sering Di Kerjakan Hukum Yasinan Jumat Bidah Hukum Wirit Menurut Ahlusunnah

Tak ada seorang mukmin pun yang tidak mengharapkan kembalinya kejayaan Islam, sebagaimana Islam dahulu pernah berada pada masa emas kejayaannya di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi cita-cita bukanlah angan-angan dan mimpi indah di kala terjaga. Bagaimana kita bisa meraih kejayaan Islam seperti dahulu sedangkan saat ini banyak diantara kaum muslimin sendiri yang meninggalkan ajaran Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan mengamalkan bid’ah. Kebid’ahan inilah yang menjadi pengeruh sunnah Nabi (syariat Islam) yang sebenarnya.

Dari Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كَانَ النّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الْخَيْرِ. وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشّرِّ. مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِِ إنّا كُنّا فِي جَاهِلِيّةٍ وَشَرٍّ. فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ. فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: “نَعَمْ” فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: “نَعَمْ. وَفِيهِ دَخَنٌ” قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: “قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي. تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ”. فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: “نَعَمْ. دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ. مَنْ أَجَابَهُمْ إلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا”. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا. قَالَ: “نَعَمْ. قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا. وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا” قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ فَمَا تَرَى إنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: “تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإمَامَهُمْ” فَقُلْتُ: فَإنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟ قَالَ: “فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا. وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ، حَتّىَ يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ، وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ”

Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan sedangkan aku bertanya tentang keburukan, karena khawatir hal tersebut akan menimpaku. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya dulu kami berada pada masa jahiliyah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya‘ Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan lagi?’ Beliau menjawab,‘Ya, namun ada kerusakan‘ Aku bertanya lagi, ‘Apa bentuk kerusakan itu?’ Beliau menjawab, ‘Suatu kaum yang berjalan bukan di atas sunnahku dan mengikuti petunjuk selain petunjukku. Engkau mengenali mereka dan mengingkarinya’ Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya, (yaitu) para da’i yang mengajak kepada pintu neraka jahanam. Barangsiapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka akan menjerumuskannya ke dalam neraka’ Aku bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami sifat-sifat mereka!’ Beliau menjawab, ‘Ya. Mereka berasal dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita‘. Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa yang kau perintahkan jika aku bertemu mereka?’ Beliau menjawab, ‘Berpegangteguhlah dengan jamaah kaum muslimin dan imam mereka‘ Aku bertanya lagi, ‘Bagaimana jika kami tidak mendapati adanya jamaah kaum muslimin dan imam mereka?’ Beliau menjawab,‘Tinggalkanlah semua kelompok-kelompok itu meskipun dengan menggigit pokok pohon hingga kematian datang menjemputmu sedang engkau masih dalam keadaan seperti itu‘” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan makna kerusakan yang memperkeruh kebaikan, yaitu ‘suatu kaum yang berjalan bukan di atas sunnahku dan mengikuti petunjuk selain petunjukku‘. Artinya kaum tersebut melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (baca: bid’ah). Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa waspada terhadap amalan-amalan bid’ah yang banyak sekali tersebar saat ini, sebagaimana shahabat Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu merasa khawatir akan terjerumus dalam keburukan tersebut.

Sesungguhnya syariat Islam ini sudah sempurna, tidak membutuhkan lagi penambahan maupun pengurangan dalam urusan ibadah, sebagaimana hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS.Al Maidah : 3)

Bahaya Bid’ah

Di antara bahaya bid’ah adalah perbuatan ini akan menghilangkan sunnah yang semisal. Hal ini sebagaimana pernyataan salah seorang tabi’in, Hasan bin ‘Athiyah,

ما ابتدع قوم بدعة في دينهم إلا نزع الله من سنتهم مثلها ولا يعيدها إليهم إلى يوم القيامة

“Tidaklah suatu kaum melakukan suatu perkara yang diada-adakan dalam urusan agama mereka (bid’ah) melainkan Allah akan mencabut suatu sunnah yang semisal dari lingkungan mereka. Allah tidak akan mengembalikan sunnah itu kepada mereka sampai kiamat” (Lammud Durril Mantsur, hal. 21)

Demikianlah gambaran masyarakat kita sekarang yang tidak lagi mengenal perbedaan sunnah dan bid’ah. Ajaran Nabi yang benar, dianggap sebagai bid’ah atau aliran menyimpang, sedangkan suatu amalan bid’ah justru dianggap sebagai sunnah Nabi yang perlu dilestarikan. Hal ini sudah jauh hari disinyalir keberadaannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al Ghuroba’)” (HR. Muslim 2/175-176)

Terdapat beberapa penafsiran ulama mengenai kata al ghuroba’, namun penafsiran yang marfu’ (berdasarkan riwayat yang sampai kepada Nabi), adalah:

  1. Orang-orang yang berbuat kebajikan ketika manusia rusak.
  2. Orang-orang shalih di antara banyaknya orang-orang buruk. Orang yang menyelisihinya lebih banyak daripada yang mentaatinya.

(Mengapa Memilih Manhaj Salaf, hal. 70)

Contoh Amalan Bid’ah yang Menghilangkan Amalan Sunnah

Ada banyak amalan bid’ah yang tersebar di masyarakat, akibatnya amalan sunnah Nabi yang seharusnya dikerjakan justru ditinggalkan. Di antaranya:

1. Membaca doa اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ketika akan makan.

Doa ini merupakan bacaan yang sering diajarkan para guru sekolah, pesantren, maupun TPA ketika membahas tentang adab makan. Padahal hadits yang dijadikan sandaran doa ini adalah hadits yang lemah sekali. Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Ad Du’a: 888, Ibnu Sunni: 457, Ibnu Adi 6/2212 dari beberapa jalan dari Hisyam bin Ammar telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Isa bin Sami’, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abi Zu’aiza’ah dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau apabila akan makan makanan berdoa ….(dengan doa di atas)…

Sisi cacat hadits ini adalah Hisyam bin Ammar dan Ibnu Sami’ diperbincangkan oleh para ulama, namun yang lebih parah adalah Ibnu Abi Zu’aiza’ah, dia seorang yang tertuduh berdusta dan haditsnya sangat munkar. Hadits ini dianggap munkar oleh Ibnu Adi, Adz Dzahabi, dan Ibnu Hajar. (Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia, hal. 220-221 dari Takhrij Al Adzkar hal. 424)

Adapun bacaan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika akan makan justru kurang dikenal oleh masyarakat kita. Beliau mengajarkan sebelum makan hendaknya membaca :بِسْمِ اللهِ atau بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Dan apabila lupa membacanya, hendaknya kita membaca : بِسْمِ اللهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ atau بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ. Hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Apabila salah seorang dari kalian akan makan maka sebutlah nama Allah Ta’ala. Jika lupa menyebutnya di awal makannya, hendaknya mengucapkan : ‘Dengan menyebut nama Allah di awalnya dan di akhirnya’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dan ia (Tirmidzi) berkata : ‘hadits hasan shahih’)

Begitu juga hal ini disebutkan dalam hadits dari ‘Umar bin Abi Salamah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

Sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa sebelum makan hendaknya kita menyebut nama Allah yakni dengan membaca بِسْمِ الله . Tidaklah mengapa apabila seseorang menambahkan kata الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ karena Allah menggunakan kedua nama ini untuk memuji diri-Nya sendiri pada bacaan basmalah, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ , dalam Al Qur’an Al Karim. Oleh karena itu, tidaklah mengapa membaca بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ atau cukup meringkasnya dengan membaca بِسْمِ الله saja. (Syarh Riyadhus Sholihin: Kitab Adab Ath Tho’am)

2. Mengucap istighfar (“Astaghfirullah“) atau ta’awudz (“A’udzu billahi minasy syaithanirrajim“) ketika menguap.

Tatkala menguap, beberapa orang mengucapkan kalimat istighfar atau ta’awudz. Hal ini merupakan salah satu bentuk dzikir yang tidak ada tuntunannya dan menyelisihi apa yang dituntunkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika menguap, hendaknya kita menahannya dengan sekuat tenaga, boleh jadi menahan mulut agar tidak terbuka yaitu dengan mengatupkan gigi pada bibir atau menutup mulut dengan tangan, kain, atau benda semisalnya (Kitabul Adab, hal. 322-323).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ، فَإِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَحَمِدَ اللهَ، كَانَ حَقًّا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُوْلَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ، وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ: فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَثَاءَبَ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Jika salah seorang di antara kalian bersin lalu mengucapkan hamdalah (الحَمْدُ لِلَّهِ ), maka menjadi kewajiban bagi setiap muslim yang mendengarnya untuk mengucapkan : يَرْحَمُكَ اللهُ (Semoga Allah merahmatimu). Adapun menguap, maka itu datangnya dari setan. Jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaknya ia menahannya sekuat tenaga karena sesungguhnya jika salah seorang di antara kalian menguap maka setan akan tertawa karenanya” (HR.Bukhari)

Sebagian orang berargumen dengan ayat di bawah ini mengenai alasan mereka berta’awudz ketika menguap. Allah Ta’ala berfirman :

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah . Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al A’raf : 200)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan bahwasanya godaan setan tersebut maknanya adalah perintah setan untuk melakukan kemaksiatan dan meninggalkan kewajiban-kewajiban. Oleh karena itu, jika kita merasa bahwa setan mengajak pada hal tersebut, hendaknya kita berta’awudz memohon perlidungan pada Allah. (Syarh Riyadhush Sholihin: Kitab As Salam).

3. Membaca surat Yasin (Jawa: Yasinan) pada malam Jum’at

Di sebagian masjid, pada malam Jumat, setelah shalat Maghrib sering diadakan pembacaan surat Yasin. Menurut mereka, hal ini berdasar hadits :

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ (يس) فِيْ لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ ؛ غُفِرَ لَهُ

Barangsiapa membaca surat Yasin pada malam Jum’at, maka (dosanya) akan diampuni

Teks hadits tersebut disebutkan oleh Al Ashfahani dalam At Targhib wat Tarhib dari jalan Zaid bin Al Harisy, mengabarkan pada kami Al Aghlab bin Tamim, mengabarkan kepada kami Ayyub dan Yunus dari Al Hasan dari Abu Hurairah secara marfu’.

Syaikh Al Albani menilai hadits ini dho’if jiddan (lemah sekali) karena ada perawi bernama Al Aghlab bin Tamim yang dinilai oleh Ibnu Hibban sebagai perawi yang haditsnya munkar serta perawi bernama Zaid bin Al Harisy yang dinilai oleh Ibnu Hibban sebagai perawi yang seringkali salah (dalam meriwayatkan hadits) (Lihat Silsilah Al Ahadits Adh Dhoifah 11/191)

Pada hari Jumat (yaitu dimulai ketika matahari sudah tenggelam/malam Jum’at sampai sebelum matahari tenggelam keesokan harinya) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru mengajarkan umatnya untuk membaca surat Al Kahfi. Sayangnya, sunnah ini banyak ditinggalkan masyarakat karena kekurang-tahuan mereka akan ilmu yang benar.

Dari Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Ju’mat, akan diberikan cahaya baginya di antara dua Jum’at” (HR. Al Hakim 2/368 dan Al Baihaqi 3/249, dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 626)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku juga menyukai surat Al Kahfi dibaca pada malam Jum’at” (Shahih Al Adzkar 1/449)

Semua keterangan di atas menunjukkan disunnahkan untuk membaca surat Al Kahfi pada malam dan hari Jum’at (Doa dan Wirid, hal.304)

Semoga tulisan yang ringkas ini dapat menjadi pemicu semangat bagi kaum muslimin untuk lebih mendalami agama Islam dengan sebenarnya sehingga kita dapat mengenali mana yang haq dan mana yang bathil. Pada akhirnya, kita tidaklah beramal kecuali di atas dasar ilmu yang benar yaitu yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih sesuai dengan pemahaman salafush shalih.

Selanjutnya, kita mendakwahkannya kepada orang lain dengan penuh hikmah dan kesabaran, sehingga lambat laun masyarakat kita akan kembali menemukan kesejukan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang murni dan terwujudlah kejayaan Islam yang sebenarnya.

Sungguh indah perkataan Imam Malik bin Anas rahimahullah yang selayaknya digoreskan dengan tinta emas:

لَا يُصْلِحُ آخِرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا

“Tidak akan menjadikan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah menjadikan baik generasi awalnya”

واللهُ المُوَفِّق
والحَمْدُ للهِ الذي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

***
artikel muslimah.or.id
Penyusun: Ummu Nabiilah Siwi Nur Danayanti
Muraja’ah: Ust Ammi Nur Baits

Rujukan:

  • Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al Haritsi, Muroja’ah Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, Lammud Durril Mantsur minal Qoulil Ma’tsur, Darus Salaf.
  • Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia, Pustaka Al Furqon, Gresik.
  • Fuad bin Abdul ‘Azis Asy Syalhub, Kitabul Adab, Darul Qosim, Riyadh.
  • Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Syarh Riyadhush Sholihin, Maktabah Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, www.islamspirit.com.
  • Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Silsilah Al Ahadits Adh Dhoifah, Al Jami’ li Muallafat Asy Syaikh Al Albani, www.islamspirit.com.
  • Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaly, Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Terj. Limadza Ikhtartu li Manhaj Salaf), Pustaka Imam Bukhari, Solo.
  • Yazid bin Abdul Qodir Jawwaz, Doa dan Wirid Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al Qur’an dan As Sunnah, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor.

Istighfar Sesuai Rosulullah Istighfar Yang Benar Sesuai Sunnah Zikir Yang Tidak Sesuai Sunnah Apakah Bidah? Wirid Tidak Sesuai Sunah Wirid Sunnah Rosul

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

  • Desi Astuti

    Alhamdulillah artikel ini menyadarkan sy mengenai kesalahn ta’awudz ktika menguap. Bahkn sy jg mngnjurkn org lain utk membacanya jika menguap. Karena itu sy peroleh dr guru ktika msih sekolah dulu. InsyaALLAH stelah ini sy hrus memberitahukn ksalahn ini pd org yg sdh sy anjurkn. Syukran wa jazakumullahu khairan.

  • abdul razak

    Jazzakumullah khoir,

  • jazaakumullahu khoyron

  • Hendra

    Alhamdulillah seneng sekali aku yang awam ini menemukan tulisan ini…
    Kalo bisa diperbanyak lagi pmbahasan amalan yang terjadi di sekitar kita, yang masih butuh kejelasannya (trdapat perselisihan). seperti :
    – peringatan 4 atau 7 bulan kehamilan
    – adzan iqomah bayi yang baru lahir
    – doa qunut ketika sholat shubuh
    – khotib khotbah jumat dengan memegang tongkat
    – bacaan2 sebagai tanda dimulainya sholat tarawih
    dll.
    Jazakumullah Khoiron …..

  • subhan juni prihadi

    Saya sangat senang dengan website2 yg memuat tentang ajaran2 sunah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman para Salafusshalih untuk menghidupkan sunnah dan menghilangkan bid’ah..
    Tugas berat kita sebagai umat Beliau untuk selalu melakukan syi’ar islam dengan hikmah dan nasihat yang baik..

  • Junaid Abdillah

    assalamu alaikum..
    sy mau berkomentar sdkt (ga bnyk)..
    bagi sy mau berdoa makan allahumma bariklana… itu ngga salah, krn kesannya memgingat Allah (zikrullah) jg di waktu mkn, meminta keberkahan rezeki dari yg kita mkn. yang salah ketika makan ga ada doa, berdoa karna Allah tanpa melihat periwayat hadist abu hisyam..
    beramar ma’ruf nahi mungkar lah tanpa harus menghafal periwayat hadits, krn itu bagian ulama ahli ilmi. contoh ketika org mabuk2an lantas kita melarangnya, bahwa perbuatan itu tidak disenangi Allah.. lantas peminum itu balik nanya; apa dalilnya?

    janganlah menunggu untuk kita paham hadist dan perawinya untuk amar ma’ruf nahi mungkar… cukuplah bersangka baik kpd hadist Rasulullah saw kemudian ambil fadilahnya, dan meminta petunjuk kpd Allah.

    “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS: An Nahl-125)

    • @ Junaid
      Perlu kami sampaikan bahwa ulama berbeda-beda pendapat tentang hukum seseorang mengamalkan hadits dhaif. Ada ulama yang melarang secara mutlak megamalkan hadits dhaif diseluruh aspek namun ada juga yang memperbolehkan mengamalkannya dengan membatasinya dalam bidang-bidang tertentu seperti dalam keutamaan amal, doa dan dzikir, targhib, tarhib. Dengan cacatan harus memenuhi syarat-syarat (sebagaimana yang disebutkan Syaikh Al-Albani dalam tamamul minnah)
      – Hadits itu tidak sampai derajat maudhu (palsu).
      – Orang yang mengamalkannya mengetahui bahwa hadits itu adalah dhaif.
      – Tidak mendakwahkan kepada orang lain untuk beramal dengannya.
      Beramar ma’ruf pun perlu dalil dan diwajibakan bagi setiap orang yang ingin beramar ma’ruf memiliki ilmu tentang nya. Bagaimana mungkin orang yang mengajak kepada kebaikan namun dirinya sendiri tidak tau mana itu yang baik dan mana itu yang buruk? mana itu hadits lemah mana itu hadits shahih? mana itu sunnah mana itu bid’ah? Apakah dengan ini kema’rufan yang ia dengungkan bisa tercapai? tentu saja tidak bahkan mustahil atau bahkan malah mendatangkan murka Allah -waliyyadzubillah-.
      Dan yang lebih berbahaya lagi jika orang tersebut masuk dalam golongan orang yang ikut andil menyebarkan hadits dhaif dan palsu namun menyandarkannya kepada diri Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Bukankah Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda,
      ?? ??? ????? ??????? ??????? ????? ?? ?????
      “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka silahkan ia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari)
      Cukuplah hadits ini sebagai peringatan keras kepada setiap jiwa (yang takut akan api neraka) agar berhati-hati dalam menyampaikan suatu hadits yang ia nisbatkan kepada diri Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Allahua’lam

  • alhmdulillah… mnyadarkn aq, bnykN bid’ah d masyarakat qt… klo boleh: ‘minta contoh bid’ah dan sunnah nya selain hal di atas dong,biar lbih taw dan selamat dri bid’ah’…jzk

  • Abdul Hakim

    Assalamualaikum maaf Post ini saya mohon dihilangkan, Menghina sufi tarekat, qiyasnya lemah sekali.

    • @ Abdul Hakim

      Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh.

      Seseorang dinilai berdasarkan tolak ukur syariat, bukan aturan syariat yang harus menyesuaikan diri dengan kondisi seseorang.

      Kami menilai bahwa artikel ini tidak perlu dihilangkan karena pembahasan ini justru perlu disampaikan kepada masyarakat. Kalau dikatakan bahwa qiyasnya lemah sekali, silakan tunjukkan kelemahan tersebut.

  • yayah

    aq senang dgn artikel ini olehkrn itu jgn dihapus dgn mendptkan ilmu spt ini kita tahu mana yg sunnah N yg bid’ah yg ada ditengah2 masyarakat kita ,klau bisa ditambah ilmu spt ini
    Jazzakumullah khoir.

  • sri

    Bingung, yang mana yang harus diikuti…

  • adam

    mengucap sayidina emang bidah ?
    apa dalilnya ?
    bukankah itu memang sebutan nya sayidina rasulillah saw ?
    mohon penjelasannya

    • @ Adam
      Pertama, tidak diragukan lagi bahwa Muhammad shallallahu’alaihi wasallam adalah sayyid (penghulu) bani adam.
      Kedua, menambahkan lafadz sayyidina pada bacaan adan, iqamah dan bacaan shalawat ketika shalat maka termasuk perkara yag menyelisihi syari’at. Karena lafadz yang dicontohkan Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak menggunakan kata sayyidina. Adapun menggunakan lafadz sayyidina diluar ibadah-ibadah tersebut maka tentu boleh saja. Allahu A’lam

  • ukhti

    Syukron atas risalahnya, mmg tdk gampang mengubah dan menerima kebiasaan bid’ad yg telah mengakar. Tapi jika utk kebaikan yg tolak ukurnya Al-quran dan hadist sohih, kenapa “gak”? Alhamdulilah bertambah lagi ilmunya, jazakumullah khoiron khatsir.

  • Fadhila Alfany

    alhamdulillah..saya senang sekali membacanya,masih ada generasi muslim yg masih berpegang teguh pada alqur’an,as sunnah ditengah tengah umat yang menghidupkan bid’ah,semoga Allah selalu memberi rahmat-Nya :)

  • Alhamdulillah nemu web yang bagus lagi…

    Baru sadar juga kalo menguap ngga perlu membaca istighfar…

  • munaris

    marilah kita jaga sunah2 nabi muhammad saw, jangan sampai ada orang-orang yang dengan hawa nafsu berusaha mengaburkannya agar kemurnian islam ini terjaga sampai hari kiamat………

  • hery

    terimaksih,,,
    untuk kedepan nya saya akan merubah kebiasaan ini..

  • Abdillah

    Assalamualaikum.
    Admin..yang baik, mau dong di kasih tahu apa saja sunnah-sunnah yang hampir terkubur itu?

  • Hery

    Assalamu alaikum Ustadz,
    bagaimana dengan pemakaian sayyidina untuk penyebutan para sahabat seperti sayyidina Umar, sayyidina ali, sayyidina abu bakar, dll ? apakah sayyidina Muhammad akan mensejajarkannya ? Mungkin lebih baik Muhammad Rasullullah shallallahu alaihi wasallam, menunjukkan Rasul Alloh, lebih tinggi kedudukannya dari para sahabat?
    Jazakillah Khoir

  • waemus

    Asalammualaikum ustad.saya mau comen dikit tentang baca doa sebelum makan.kalo menurut sepengatahuan saya c itu bukan bid’ah mlah lebih bagus soal’ya siapa saja kalo mau baca do’a pasti di awali mengucap bismilah baru do:a.itu aja

  • Ummu Jahran

    Alhamdulillah nambah ilmu lagi… selama ini ana selalu membaca doa tsb setiap mau makan dan baca istighfar setiap menguap, sekarang sudah jelas hukumnya.. jazakallah.. semoga Alloh Membalas kebaikan antum

  • rini

    Sangat di sayangkan memang ketika masyarakat mementingkan dan mengikuti perkara yg belum jelas ketimbang mengikuti sunnah yg sudah jelas riwayat nya…jadikan moment ini buat ladang amal kita untuk mengingatkan diri sendiri dan orang lain perihal sunnah yang seharusnya diikuti dan disebarkan..semoga Alloh selalu memberi petunjuk. Amiinn ya Rab