fbpx
Donasi Web Donasi Web

Hukum Bertunangan Sebelum Menikah (Bagian 1)

Hukum Bertunangan Sebelum Menikah (Bagian 1)

Sebagian orang ketika hendak menikah, mereka “mengikat” calon pasangannya dengan bertunangan. Biasanya bertunangan ditandai dengan acara tukar cincin atau semisalnya. Bagaimana hukum bertunangan sebelum menikah?

Sebelum kita membahas tentang hukum, kita perlu definisikan dulu apa itu tunangan?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): “tunang: calon istri atau suami”. Dan tunangan ini juga identik dengan budaya barat. Maka perlu kita tampilkan juga definisinya menurut mereka. Pertunangan atau engagement dalam Cambridge Dictionary artinya: “an agreement to marry someone” (suatu perjanjian untuk menikahi seseorang).

Maka dari sini kita melihat bahwa definisi tunangan itu agak bias. Karena menurut definisi KBBI, semua orang yang sudah punya calon istri atau suami, maka bisa dikatakan sudah bertunangan. Sedangkan menurut definisi Cambridge Dictionary, orang dikatakan bertunangan jika sudah berjanji kepada seseorang untuk menikahinya.

Oleh karena itu, hukum bertunangan perlu kita rinci:

Pertama:
Jika yang dimaksud dengan bertunangan adalah seorang lelaki melamar seorang wanita untuk menikahinya, maka tentu saja hukumnya boleh. Bahkan ini perkara yang disyariatkan.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوْهُ إِلَى نِكَاحِهَا، فَلْيَفْعَلْ

Apabila seseorang di antara kalian ingin melamar seorang wanita, jika ia mampu melihat apa-apa yang dapat memotivasi untuk menikahi wanita tersebut, maka lakukanlah!” (HR. Abu Daud no.2082, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya melamar dan nazhor (melihat calon). Syaikh Abdullah bin Jibrin menjelaskan langkah-langkah melamar:

عليك أولاً السؤال عنها، وعن أخلاقها وصلاحها ومناسبتها، ثم بعد ذلك لك أن تتقدم إلى أهلها وترسل إليهم من يطلب منهم ذلك ثم إذا وافقوا فقد وافقت المرأة، ولك بعد ذلك طلب رؤيتها في غير خلوة

“Hendaknya anda menanyakan tentang wanita tersebut (kepada orang lain), yaitu tentang akhlaknya, keshalihannya, nasabnya. Setelah itu, anda datang kepada keluarganya dan utarakan kepada mereka bahwa anda ingin melamar anaknya. Setelah itu, jika orang tuanya setuju dan si wanita juga sudah setuju, maka hendaknya anda meminta untuk melihat wajah si wanita tersebut tanpa berdua-duaan” (Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, 2/100, Asy Syamilah).

Dan seorang lelaki dikatakan sudah melamar atau sudah melakukan khitbah, jika ia sudah mengutarakan maksudnya kepada wali dari sang wanita. Karena para ulama mendefinisikan khitbah yaitu:

إظهار الرغبة في الزواج بامرأة معينة, وإعلام وليها بذلك

“Menunjukkan keinginan untuk menikahi seorang wanita tertentu dan menyampaikannya kepada walinya” (Al Fiqhul Muyassar, 1/293).

Adapun sekedar mengutarakan isi hati pada sang wanita, ini tidak dianggap melamar ataupun khitbah.

Kedua:
Jika yang dimaksud dengan tunangan adalah berjanji untuk menikahi seorang wanita, maka perlu kita rinci lagi:

  • Jika perjanjian ini sekedar berjanji kepada walinya, tanpa ada ritual-ritual tertentu, maka ini sama dengan melamar atau khitbah pada poin pertama.
  • Namun jika disertai ritual-ritual tertentu, seperti tukar cincin dan semisalnya. Maka ini tidak diperbolehkan, karena ini merupakan budaya non Muslim.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:

الدبلة التي تسأل عنها السائلة لا نعلم لها أصلًا والذي يظهر لنا من ذلك أن فيها تشبهًا بالكفرة؛ لأنها من عادتهم فيما بلغنا فلا ينبغي اتخاذها، فإن الإشارة إلى الزواج تكون بالخطبة والاتفاق بين الخاطب والمخطوب منهم ويكفي ذلك من غير حاجة إلى الدبلة

“Cincin kawin yang ditanyakan oleh penanya, kami tidak mengetahui asalnya. Menurut kami, dalam ritual tukar cincin tunangan ini terdapat unsur menyerupai orang-orang kafir. Karena sebagian orang menyampaikan kepada saya bahwa itu adalah adat orang kafir. Maka hendaknya tidak menggunakannya. Mengutarakan maksud untuk melamar, dan adanya kesepakatan antara lelaki yang melamar dan wanita yang dilamar, ini sudah cukup. Tidak butuh kepada cincin tunangan” (Mauqi’ Ibn Baz, https://bit.ly/2HirSP6).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:

الدبلة: هي عبارة عن خاتم يهديه الرجل إلى الزوجة ، ومن الناس من يلبس الزوجة إذا أراد أن يتزوج أو إذا تزوج ، هذه العادة غير معروفة عندنا من قبل ، وذكر الشيخ الألباني رحمه الله : أنها مأخوذة من النصارى، وأن القسيس يحضر إليه الزوجان في الكنيسة ويلبس المرأة خاتم في الخنصر وفي البنصر وفي الوسطى ، لا أعرف الكيفية لكن يقول : إنها مأخوذة من النصارى فتركها لا شك أولى ؛ لئلا نتشبه بغيرنا

“Cincin kawin adalah cincin yang dihadiahkan suami kepada istrinya. Sebagian orang, memakaikan cincin ini ketika hendak menikah (bertunangan) atau ketika menikah. Ini adalah adat yang tidak dikenal oleh kaum Muslimin terdahulu. Dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa adat ini berasal dari orang-orang Nasrani. Yaitu pendeta didatangi oleh sepasang kekasih di gereja, lalu sang lelaki memakaikan cincin kepada sang wanita di jari kelingking atau di jari manis atau di jari tengah. Saya tidak mengetahui detail tata caranya. Namun Syaikh Al Albani mengatakan ini berasal dari orang-orang Nasrani. Maka tidak ragu lagi, meninggalkannya itu lebih utama. Agar kita tidak menyerupai orang-orang non Muslim” (Liqa’ Asy Syahri, 1/46).

***

[bersambung]

Penulis: Yulian Purnama

Artikel Muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

🔍 Arti Futur, Tauhid Artinya, Doa Yang Bagus, Rumah Muslimah, Background Muslimah, Masa Iddah Talak 1 Berapa Lama, Keturunan Hasan Bin Ali, Sabda Rasulullah Tentang Sabar, Doa Agar Istri Patuh Pada Suami Menurut Islam, Cara Membersihkan Puting Susu Sebelum Melahirkan

Donasi masjid al ashri pogung rejo

Donasi Masjid Pogung Dalangan

 

Profil penulis

Ustadz Yulian Purnama

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, kontributor Muslim.or.id dan PengusahaMuslim.com

View all posts by Ustadz Yulian Purnama »

Leave a Reply