Jangan Menyerah Saudariku!

Penulis: Ummu Ziyad Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc. Pusing! itulah yang ada di kepala Ida (bukan nama sebenarnya). Sepertinya ‘tuntutan hidup’ mengharuskan dia bekerja, yang itu berarti dia …

2420 38

Penulis: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc.

Pusing! itulah yang ada di kepala Ida (bukan nama sebenarnya). Sepertinya ‘tuntutan hidup’ mengharuskan dia bekerja, yang itu berarti dia harus bercampur baur dengan para pria. Ya Allah, kuatkanlah imannya dan berikan sifat istiqomah dalam menjalankan ketaatan kepada-Mu. Aamiin.

Sebuah tuntutan dari orang yang telah membiayai pendidikan (kuliah), baik itu orang tua, kakak, paman, bibi, atau yang lainnya adalah sebuah kewajaran ketika mereka merasa bahwa ‘tugas’ mereka menyekolahkan seorang anak telah selesai. Lalu, apakah setiap tuntutan itu harus dipenuhi? Lalu kemudian teringat sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang maknanya adalah sebuah kebaikan dibalas dengan kebaikan yang serupa, dan bila tidak mampu maka dengan mendoakannya (HR. Baihaqi). Berbagai pikiran mungkin berkecamuk di benak, “Entah telah berapa puluh juta yang mereka telah keluarkan untuk membiayai kuliahku, tapi entah berapa yang bisa kubalas, atau entah apakah sebanding yang kudapat sekarang dengan yang mereka korbankan.” Di samping tuntutan dari orang-orang di belakang layar selama proses menempuh perkuliahan, masih pula dikejar-kejar oleh kebutuhan hidup yang perlu dipenuhi. Dan biaya-biaya tak terduga yang pada intinya akan mengurangi ‘bekal’ yang masih tersisa. Seakan-akan semua keadaan itu berteriak bersama-sama, “Kerja! kerja! kerja!”, “Cari yang bergaji wah!”, “Pendekkan saja jilbabmu, tidak apa-apa, biar cepat mendapatkan kerja!”, “Lepas cadarmu, tidak ada yang mau menerima wanita seperti dirimu”, “Jangan cuma kerja yang begitu!” Dan bisikan-bisikan hawa nafsu yang setiap orang pasti memilikinya, dan tidaklah hawa nafsu itu melainkan mengajak pada keburukan.

Saudariku, kuatkan imanmu!

Dimana pelajaran tauhid yang selama ini telah engkau pelajari? Dan kemanakah perginya konsekuensi dari pengenalan nama dan sifat Allah Ta’ala yang telah engkau ketahui? Engkau mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya. Engkau telah mengetahui bahwa Allah Ta’ala telah mengatur seluruhnya dan tertulis dalam kitab Lauh Mahfuz. Jauh, jauh sebelum engkau diciptakan. Segala ketentuannya tak dapat dirubah. Namun, engkau adalah manusia yang menjalankan dengan berbagai pilihan. Dan engkau akan dimudahkan pada setiap takdir yang telah ditentukan. Dari pengenalanmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, engkau mengetahui, bahwa rezeki, kehidupan yang baik dan buruk, seluruhnya telah ditentukan. Maka, berdoalah! Dan bersabarlah! Serta bersyukurlah dengan keadaanmu sekarang.

…Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Al Imraan [3]: 145)

Engkau tidak dapat mengejar tujuan hidup berupa kekayaan. Dan engkau -seharusnya- tidak menanggalkan pakaian ketakwaan. Kekayaan telah ditentukan. Nikmat Islam telah diberikan. Keadaan yang diberikan kepadamu sekarang, insya Allah adalah lebih baik dari yang lain atau yang sebelumnya. Jika engkau masih memikirkan, antara keinginan yang kuat untuk tetap bertahan dalam ketaatan menjalankan syari’at, maka bersyukurlah! Karena itu adalah keadaan yang lebih baik untuk dirimu. Bandingkanlah dengan keadaan mereka yang tidak perlu bersusah payah mempertimbangkan itu semua. Dan dengan mudahnya mereka jatuh dalam gelimang dosa. Dan salah satu cara untuk mewujudkan rasa syukurmu adalah dengan lebih menjalankan ketaatan kepada-Nya. Perhatikanlah firman Allah ta’ala kepada orang-orang yang telah diberikan nikmat.

…Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al A’raaf [7]: 69)

Nikmat yang engkau rasakan dalam menjalankan ketaatan dalam agama Islam adalah jauh lebih baik dari dunia dan segala isinya. Tidak semua orang Islam dapat merasakan ini. Karena terdapat dua nikmat dalam Islam. Nikmat karena telah beragama Islam (ni’mat lil islam) dan nikmat dalam Islam itu sendiri (ni’mat fil islam). Tidak semua orang Islam mendapatkan nikmat untuk menjalankan ketundukan pada syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan telah dijelaskan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ya! Baiklah! Masih berkutat di pikiranmu. Bagaimana dengan kebutuhan hidupku?! Bagaimana dengan balas jasaku? Allahumma… semoga Allah memudahkan jalanmu saudariku. Tidakkah engkau ingat bahwa masing-masing telah ditentukan rezekinya. Bahkan sampai binatang yang cacat sekalipun, yang ia tidak dapat mencari makanan sendiri atau mangsa sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji pada hamba-hamba-Nya lewat firman-Nya (dan sungguh janji Allah Ta’ala adalah benar adanya)

…Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At Thalaq [65]: 2)

Dan ayat ini sejalan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memberikan jalan bagi seorang muslim dalam menghadapi kehidupan di dunia dimana seorang makhluk memiliki berbagai kebutuhan,

Sekiranya kalian bertawwakal kepada Allah secara benar maka Dia akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki pada burung. Mereka berangkat pada waktu pagi dalam keadaan sangat lapar dan pulang dalam keadaan sangat kenyang. (Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi, Nasai, Ibn Majah, Ibn Hibban, dan Hakim. Tirmidzi berkata, hadist ini hasan shohih)

Saudariku… burung tersebut tentu tidak memastikan bahwa setiap bulannya harus mendapatkan makanan sekian dan sekian. Namun ia berusaha untuk mendapatkan apa yang dia butuhkan dan mendapatkan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka bersyukur adalah yang lebih layak engkau lakukan dan dengan demikian maka akan terwujud sikap qona’ah dalam hatimu.

Syaitan menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan, sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengatahui. (Al-Baqoroh [2]: 268)

Lalu, bagaimana dengan balas jasaku? Maka dengan menjalankan keta’atan kepada Allah, engkau memberikan balasan yang insya Allah jauh lebih besar manfaatnya untuk mereka di akherat nanti. Mengapa? Perhatikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini (yang secara makna artinya) “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam hal kemaksiatan pada Allah.”

Dan dari Abu Hurairah rodhiallahu’anhu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia menanggung dosanya dan juga menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka. (HR. Muslim)

Maka jika engkau mengikuti mereka dalam sebuah hal yang dapat menjerumuskanmu dalam kemaksiatan, maka ketahuilah saudariku, engkau juga telah memberikan dosa-dosa yang semisal kepada mereka. Wal’iyyadzubillah. Dan berpuluh-puluh juta yang telah mereka korbankan untukmu agar engkau pada akhirnya menjalankan sebuah kemaksiatan tidak akan memberi manfaat sedikitpun di akherat nanti dan justru yang terjadi adalah sebaliknya, mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatannya. Maka, janganlah ukur segala sesuatu dengan materi keduniaan. Karena ada kehidupan yang jauh lebih patut untuk dipikirkan dan dipersiapkan.

Pesan terakhir yang paling baik adalah kalimat dari manusia terbaik yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abu Sa’id Al-Khudry rodhiallahu’anhu, dia berkata. ‘Aku memasuki tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sedang demam. Lalu kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas di tanganku di atas selimut. Lalu aku berkata. ‘Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini pada dirimu’. Beliau berkata: ‘Begitulah kami (para nabi). Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami’. Aku bertanya. ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ? Beliau menjawab: ‘Para nabi. Aku bertanya. ‘Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi? Beliau menjawab: ‘Kemudian orang-orang shalih. Sungguh salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun. Dan, sungguh salah seorang diantara mereka merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan.’ (HR. Ibnu Majah, Al-Hakim, di shahihkan Adz-Dzahaby)

Jangan menyerah saudariku!
Rezeki yang kau butuhkan,
tidak hanya bertumpuk pada hiruk pikuk perkantoran.

Tidak hanya terkumpul pada tempat yang memudahkanmu menjalankan kemaksiatan.

Balas jasamu tidak sekedar materi keduniaan.
Sebuah do’a dan amal sholeh lebih dapat menghindarkan mereka dari kehinaan.

Insya Allah.
Semoga Allah memudahkanmu dalam ketaatan.
Dan memberikan yang lebih baik, yaitu manisnya iman.

Sebuah nasihat bagi diriku dan ukhtifillah…

***

Artikel www.muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

  • www.muslimah.or.id

    1. abu usamah

    semoga qt istiqomah diatas Al-haq

    2. Uthie

    Subhanallah semoga Muslimah yang membacanya bisa menambah keyakinan akan janji Allah yang tidak akan menelantarkan hambaNya :)

    3. ummu ayyub

    seperti memegang bara api…
    dari luar sepertinya pahit tapi rasanya manis..
    semoga Allah memberi kekuatan!

    4. abu evi

    Subhanallah, artikel ini tentunya insya Allah dapat menyentuh hati dan menuntun para muslimah yang saat ini masih meremehkan syari’at (keluar rumah tanpa uzur yang dibenarkan syari’at, kerja campur baur dengan laki-laki,tidak mengenakan jilbab, mengedepankan duniawi dll)

    5. chandra

    Assalamu’alaikum
    Baru pertama kali kunjungi situs ini.
    Artikelnya bagus, sebagai taushiyah juga buat kita agar selalu istiqomah.
    Phuihh, emang berat banget sih …

    Tapi harus berusaha ya semampunya

    May Allah protects me from harsh weather ..

    6. abu yahya

    subhanallah, sangat bagus sekali artikelnya…semoga kaum wanita memahami akan hakikat dari syariat islam yang mulia ini dalam menjaga para muslimah.

    7. qonita

    Assalaamu’alaikum

    Ummu Hafidz jangan lupa nulis ya dimanapun berada.

    O iya ada adek anti di jogja yang sangat menunggu kepulangan anti.

    8. Abu hanief

    Subhanallah,…tuk saudari2ku keep istiqomah..selalu !!!!

    9. Abu Uwais

    Kunci segala kebaikan memang bertaqwa kepada Alloh,
    Semoga Alloh memudahkan kita tetap istiqomah dalam keta’atan kepada-Nya.
    Memang, yang namanya berpegang pada jalannya Salaful ummah itu berat, maka hendaknya akhi/ukhti semua mempersiapkan ilmu yang sangat dibutuhkan ketika mudik pulang kampung ketika idul fitri, karena menghadapi berbagai masalah dari orang tua dan masyarakat sangat mungkin sekali, mungkin karena penampilan kita, celana yang diatas mata kaki, jenggot, atau jilbab besar bagi muslimah. Sehingga dibutuhkan ilmu dan kesabaran. Persiapkanlah saudaraku, jangan lupa minta pertolongan kepada Alloh supaya tetap istiqomah.

    10. abu yahya

    subhanallah, sangat bagus sekali artikelnya…semoga kaum wanita memahami akan hakikat dari syariat islam yang mulia ini dalam menjaga para muslimah.

    11. li4ni

    Subhanallah….Artikel yang sangat bagus…kadang kita mmg tidak bisa menafikan bahwa begitu banya Muslimah yang saat ini karena berbagai tuntutan baik itu dari lingkungan, keluarga ataupun pribadinya sendiri sehingga secara sadara ataupun tidak telah meremehkan tuntunan Syaria’at…semoga dengan membaca artikel ini bisa menjadi bahan muhasabbah kita semua khususnya li4ni pribadi.
    Dan semoga kita semua tetap di anugrahkan ke istiqomahan untuk tetap menapak di jalan-Nya, Amin Allahuma Amin…

    12. Ummu Yahya Miftahul Jannah Al Atsariyyah

    assalaamu’alaikum
    hal ini juga ana alami saat ini, dilema bagai makan buah simalakama…emang berat juga seh, tapi ana akan berusaha untuk istiqomah…

    Untuk sodari2ku, keep istiqomah dan…jangan pernah menyerah ya

    13. devi nasution

    Ass.Jangan pernah menyerah dalam mengarungi kehiupan ini.Tegarlah selalu&kethuilah disana ada pertolongan ALLAH SWT yang selalu ada untuk hamba-NYA.
    Fight 4ever just 4 ISLAM…^_^

    14. wahyuni

    Ass….
    untuk saudariku semua khususnya teman2 forkam di smk 1 klt jangan menyerah n pts asa za terus berjuang 4JJI bersama kita……..keep istiqomah!!!!
    Wass

    15. Fitriyeni

    Mudah-mudahan Allah S.W.T melindungi kita semua kaum muslimah yang membantu suaminya mencari rizky Allah dimuka bumi ini, asal kita tetap pada kondrad kita sebagai seorang muslimah

    16. Dessy

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh…

    Ana lagi membutuhkan saran dan nasehat, mengenai hijab. Hijab yang ana pakai sekarang ini ‘belum menutup dengan sempurna’ bagian yang paling banyak mengundang fitnah tidak bisa ana tutup karena sejumlah alasan… Tapi ana ingin segera berhijab dengan sempurna seperti yang dilakukan para sahabat alias para ummul mukminin…
    Tapi ana bingung…
    Semoga lewat situs ini, akan ada seorang yang bisa membantu memberi jawaban…

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh…

    17. muslimah.or.id

    Waalaikum salam warohmatullah wabarokatuh
    Ukhti Dessy, bersegeralah dalam kebaikan… jangan tunda lagi… ketahuilah wahai ukhti bahwa jalan menuju sirothol mustaqim dan surga itu sangat berliku dan terjal… bersegeralah melakukan kebaikan dan jangan tunda-tunda lagi, karena kita tidak tahu kapan ajal datang menjemput kita. Semoga Allah menjaga dan memberkahi kehidupanmu wahai ukhti…

    18. leli

    ana juga pengen banget menutup muka&telapak tangan walau mungkin cobaan di depan menghadang,tapi mang surga itu dikelilingi dgn yg ga enak utk ukhti fillah keep istiqomah smoga ALLOH mudahkan jln kita mnuju surga

    19. konita

    subhanallah,, tukisan yang bagus……
    kiranya qta smua slalu dalam lindunganNya krn dgn rahmatnya qta bisa menggapai keberhasilan menyembah ALLAH swt,,, amin ya robal’alamin,,
    di tunggu lagi ya tulisannya,,

    20. ana

    subhanallah,,
    artikel ini bagus sekali.
    ana sedang bingung karna sebentar lagi lulus dari pendidikan ana. tapi ana tidak tahu harus bagaimana setelah itu. kalau ana lulus, ana akan jauh dari teman2 yang selama ini “membawa pengaruh baik” bwat ana, akan susah ikut kajian2 karna orangtua belum ridlo, dan karna ana takut tidak dapat pekerjaan seperti teman2 ana yang sekarang sudah banyak yang “booking” jasa mereka unt bekerja. jadi takut lulus rasanya!!!
    ana juga sedang memulai mencoba memakai hijab dengan benar, walau ana tidak berani memakainya di depan orang tua ana, lebih tepatnya ana tidak berani meminta ijin kpd orang tua.
    dan sungguh keistiqomahan itu harus diperjuangkan…
    semoga ada yang bisa membantu ana..

    21. danik

    berkali-kali dibaca,,,
    tetap saja menyentuh hati,,,
    terima kasih,,,

    22. Abu Maryam

    artikel yg bagus.
    mengingatkan kita akan nikmatnya hidayah yang telah kita peroleh.
    semoga Allah selalu menjaga kita.
    untuk saudari ana, semoga istiqomah di jalan-Nya. jangan lupa banyak doa. semua ini hanya ujian dari Allah untuk melihat kesungguhan anti.
    Allah tidak akan membiarkan kita menyatakan bahwa kita beriman namun kita tidak diuji. agar Dia mengetahui siapa yang benar di atas keimanannya.
    ya Allah jagalah kami selalu…..

  • Assalamu alaikum

    afwan, boleh ane kutip artikel-artikel di web ini untuk kebutuhan menulis buku?

    jazakillah khoir

  • www.muslimah.or.id

    Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh
    Jika sebagai referensi silakan dikutip Pak Denny, dan jangan lupa cantumkan https://www.muslimah.or.id sebagai sumber referensinya. Jazakallah khaira…

  • Sari

    Alhamdulillah, bisa menemukan situs ini, begitu pula nasihat-nasihat dari saudariku untuk terus istiqomah.

    Bagaimana jika ada ikhwan yang menyukai seorang akhwat (belum khitbah, tapi ada sindiran kalau dia suka ke kita) lalu tiba-tiba dia memutuskan untuk menikahi akhwat lain dan meninggalkan akhwat yang pertama? Dan pemberitahuan ini tiba-tiba. Wah, hal ini bisa membuat shock, (hanya Allah yang memberikan pertolongan).

  • Maria

    Bagaimana apabila siswa memakai cadar?

  • Maria

    karena saya siswi SMk sedang dalam proses memakai Cadar?

  • ikhsan

    untuk sari: tidak perlu shock. jika ada sindiran berarti anda berteman dengan orang yang tidak baik. dan kalangan anda terbiasa membuat isu dan menyebar gosip, padahal belum ada kejelasan yang pasti. dan pastinya laki-laki tersebut buruk akhlak dan agamanya termasuk pemahamannya. Sebagaimana banyak wanita yang buruk agama dan akhlaknya. kasus seperti ini juga sering dialami kebanyakan laki-laki, dimana wanita banyak yang “memancing-mancing” laki-laki A kemudian tiba-tiba menikah dengan laki-laki B. kuncinya anda seharusnya menjaga hijab anda dengan sebenar-benarnya, seperti tidak berhubungan dengan laki-laki, termasuk menjaga pandangan.tidak bergaul dengan teman yang buruk akhlaknya. jika semua itu dilakukan maka anda tidak akan shock..karena baik wanita maupun laki-laki banyak yang buruk akhlaknya, untuk bisa mengetahui akhlak dan agama seseorang, maka perlu ilmu dan pemahaman dien yang benar. ya salahsatunya baca artikel2 disini.

  • ikhsan

    tambahan: isi artikel disini benar dan bagus, tapi saya khawatir kebanyakan yang ada disini jadi seperti aktivis haroki, terutama para akhwat aktivis haroki, dimana mereka sering berkirim-kirim salam atau ucapan selamat pernikahan melalui media seperti ini. saya heran, harusnya mereka termasuk pengurus disini seharunya menyampaikan hal yang penting-penting saja. seperti bertanya tentang ilmu syar’i, dan tidak berkirim-kirim salam disini atau curhat disini. jika terus-terusan begini, maka tidak ada bedanya dengan para akhwat aktivis haroki yang gemar “memancing-mancing” laki-laki karena jilbabnya, yang membuatnya terlihat cantik dan indah. bahkan lebih parah lagi, mereka mencari ilmu dan berdakwah(isi dakwahnya kosong) ujung-ujungnya bertujuan untuk menikah dan mencari ikhwan. keburukan yang ditimbulkan merka pada laki-laki jauh sangat besar, bahkan jilbab tidak syar’i yang mereka kenakan tidak mengurangi beban keburukan umat ini.. tentu akhwat yang disini termasuk pengurus tidak menginginkan hal seperti ini.

  • Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh…

    artikelnya saya copy paste buat blog saya boleh? tapi dengan mencantuman sumbernya… kalau keberatan akan segera saya hapus..

    wassalaamu’alaykun

  • Linda

    assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…
    artikelnya sangat bagus sekali dan sangat menyentuh…
    mohon nasehat dan sarannya dari ukhti2,,,
    saya skrg dlm proses mempelajari agama islam sebenarnya,saya sudah memakai hijab walaupun belum tertutup semuanya,saya ingin sekali memakai hijab yg sebenarnya. sedikit bercerita ttg pekerjaan saya saat ini adalah operator warnet yg banyak sekali pengunjung prianya,sementara itu banyak sekali godaan yg hrs saya alami disini.tp saya harus membantu kedua ortu saya keluar dr masalah keuangan.Apa saya harus keluar dr pekerjaan ini?tolong bantu saya. Maaf, tolong kirimkan jawaban ukhti di e-mail saya.
    afwan ukhti yg baik…
    wassalamu’alaikum

  • ukhti nisa

    assalammu’alaikum wr,wb
    subhanallah,artikel yang menggugah semangat bagi kita semua. alhamdulilah setelah sya mengunjungi website nie, banyak pelajaran yang saya dapati dari atikel ini
    keep your muslim!!!
    jazakillah

  • ukhti nisa

    Aslmkm,,,
    alhamdulillah …bagus banget artikel ni. ana berharap setelah membaca artikel ini ana bisa istiqomah dalam kemuslimaman ana
    jazakillah

  • wafa

    aslmkm…
    afwan an ijin mengcopy artikel ini..
    jzkllh
    wslmkm

  • abu ishaq as salafy al madury

    al hamdulillah dengan sebab artikel ini hati menjadi tergugah, semoga ana menjadi orang yg sabar dan berusaha untuk bertaqwa pada Alloh Subhanahu wa ta’ ala amiin

  • dedi irawan

    alhamdulillah…………………………………….
    BAGUS SEKALI,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, wsemoga semua orang yang membacanya mendapatkan hikmah.

  • ratna

    assalamu’alaikum..
    afwan, ada nggak ya artikel tentang adab muslimah di dalam masjid? soalnya di dekat rumah ana ada masjid yang biasa digunakan anak-anak sekolah SMP-SMA untuk shalat.. tetapi kayanya banyak dari mereka yang ngobrol2 bahkan berisik di dalam masjid, sehingga bisa mengganggu orang lain yang shalat.. hal itu juga sering terjadi di kampus ana. mohon penjelasannya. jzkllh

  • Bismillah,
    Insya Allah anti bisa baca artikel ini.
    Semoga bisa membantu.

  • ayyasi

    mau tanya, kasus di atas mirip sama yang saya alami, saya harus kerja campur baur dg lelaki, bahkan diruangan saya wanita satu-satunya, di satu pihak saya harus mencari nafkah buat keluarga (saya punya adik 4) dan di pihak lain saya harus ikhtilat jd apa yang harus saya lakukan??? suatu kali ayah saya pernah menggunakan uang saya tanpa sepengetahuan saya dan digunakan untuk membeli minuman keras, dan ibu saya pernah menggunakan uang saya untuk membayar hutangnya kepada rentenir, saya bingung ukh saya harus berbuat apa??

  • syifa

    Bismillah…
    Subhanalloh.. Semoga kita selalu ditautkan Alloh dijalan al haq ini. ummi.. ijin copy paste ya, barokallohfikum dan semoga para akhwat/ikhwan qt yang lagi ditimpa permasalhan dimudahkan oleh Alloh dan tetap istiqomahamin….

  • akhwat di bumi Alloh

    Bismillahorrohmanirrohiim.

    Ummu, sungguh nasehatnya bagus sekali. Ana sudah beberapa kali baca artikel ini, tapi baru kali ini tertarik untuk kasih komentar.lebih tepatnya curhat pada ummu dan pada pembaca sekalian jika ummu berkenan menampilkan komentar ana.
    Ana sedang mengalami masalah yang kurang lebih sama dengan masalah “Ida” dalam artikel ummu tersebut dan masalah ukhty Ayassi. Setahun belakangan ana bekerja di instansi pemerintah, resmi sebagai PNS. Pekerjaan tersebut ana dapat bukan dari keinginan ana sendiri, tapi konsekuensi dari pendidikan yang ana dapat dari salah satu sekolah kedinasan. InsyaAlloh, ana ingin keluar dari pekerjaan ana. Akan ada jalan keluar… Memang balas budi kita terhadap orang tua tidak hanya lewat materi saja. Syukron Ummu nasihatnya

  • katon

    Masyaallah, untaian nasehat yg menyentuh sekali. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberi taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.

  • sulistiawati

    masyaalloh…
    saya hampir ingin menangis membacanya.. karna apa yg dibahas dlm artikel ni sgt mnggambarkn diri saya skrg ni..
    saat ni saya memang sdg bngung..
    dan saya beruntung bisa membaca artikel ni.
    trima kasih.
    mohon bantu doanya agar diri ni senantiasa tetap istiqomah di jalanNya.
    jazakillah khoir ..

  • azizah

    Bismillah. Ana ijin share ustd. azakumulloh bikhoir.

  • umu haidar

    subhanalloh….inilah nasehat yang sungguh2 sy butuhkan…krn akhir2 ini sy berpikiran untuk keluar dari kerja, namun ada kekhawatiran berkurangnya rezki….Jazakillah khoir

  • Citra

    Assalamualaikum..
    Menyentuh sekali..
    Apa yang diceritakan di artikel ini sama dgn posisi saya saat ini..

    Dilematis memang mengingat keinginan untuk membahagiakan Ibu yang sangat kuat..saya selama ini berpikir bahwa cara membahagiakannya hanyalah dgn bekerja keras mencari ateri dan memberikannya kepada Ibu saya..walaupun trkadang saya merasa ada hal yang dirasa tdk seharusnya saya lakukan sbg perempuan..namun, ternyata saya baru tersadar dgn tulisan ini..bahwa ternyata Islam tdk prnh membebani umatnya..pdhl slama ni trkadang saya merasa terbebani dgn pekerjaan saya..

    Insyaallah tdk lama lagi saya akan resign dr tempat saya bekerja..
    Saya berencana untuk kembali ke rumah dan mengasah keterampilan di bidang tertentu yg bisa saya kerjakan drmh seperti menjahit..

    Ummu..apakah baik apabila saya berencana untuk berwirausaha di rumah dgn keterampilan menjahit saya? sehingga sedikitnya saya bisa mencukupi kebutuhan sehari2 dan menanggung kebutuhan Ibu saya?

    Terima kasih..

    • @ Ukhti Citra
      wa’alaikumussalam warahmatullah..
      semoga pilihan Ukhti dengan pekerjaan menjahit mendapatkan berkah dari Allah..

  • Subhanawloh bagus banget…

  • dyah

    asw…masalah seperti inilah yg skrg saya alami…smoga dgn membaca artikel ini bisa memberi pencerahan kepada diri saya..amin..boleh saya ijin share????

    • @ dyah
      wa’alaikumussalam, silahkan, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.
      untuk ucapan salam, kami sarankan untuk ditulis dengan sempurna “assalamu’alaikum” karena ucapan tersebut merupakan do’a

  • esti

    Apakah wanita memang tidak boleh bekerja diluar rumah? mohon saran…..bagaimana dengan guru?

  • jangan menyerah saudariku..wah….sangat inspiratif banget buat kaum hawa… kaum hawa harus tegar..salam hangat tegakkan supremasi.. kami kaum adam dukung kaum hawa untuk lebih maju…

  • nerang

    muali dari hal kecil sblum ..hal besar menunggu dengan penuh kesesatan……..

  • senandung lirih

    SeMangatttt…

  • ina

    subhananalloh bgs bnget artikelnya
    semoga bsa d jdikan inspirasi bagi para muslimah
    amien

  • Jangan menyerah yaaa… semangat menjaga keistiqamahanmu saudarikuu..

  • Arini

    Allahu :’) itulah cerita saya seperti cerita ida diatas.. Bismillah.. Pakaian taqwa serta ketaatan yg harus aku tambah.. Bukan materi semata.. Tp kehidupan akhirat lbh penting dibanding dunia. Semoga ketaatanku pada Allah bisa menjadi peringan beban orang tua di akhirat kelak..

    Allah yg mencukupkan kebutuhan makhluk-Nya.. Saya imani itu.
    Ga akan ragu untuk tdk memilih bekerja dikantor..

  • fuji

    Sungguh2 terjadi pada diri saya…..sedih rasanya….saya menanggalkan jilbab syar’i demi orang tua.seiring dengan itu banyak kemaksiatan yg saya perbuat.setelah 9 tahun,skrg saya kembali mengenakan jilbab syar’i yg memang pakaian takwa itu sangat mempengaruhi akhlak dan amal kita.Alhamdulillah.saya mohon ampunan Allah atas dosa2ku

  • pramasti

    terima kasih untuk postingannya, seperti petunjuk, semoga istiqomah amin.

Shares