Siaga Virus Riya’ (Bag. 2)

Telah nampak bagi kita betapa bahayanya virus riya' ini apabila ia membonceng pada amalan-amalan shalih seorang hamba. Berikut ini adalah beberapa rincian dari bahaya riya'

152 0

Saudariku, yang semoga senantiasa berada dalam penjagaan Allah…

Telah nampak bagi kita betapa bahayanya virus riya’ ini apabila ia membonceng pada amalan-amalan shalih seorang hamba. Berikut ini adalah beberapa rincian dari bahaya riya’:

1. Termasuk Syirik

Sesungguhnya riya’ hukum asalnya termasuk ke dalam syirik kecil yang kemudian dapat menjadi syirik besar jika menjangkiti seluruh amalan. Ingatlah, betapa khawatirnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam jika perkara  ini menimpa para sahabatnya, padahal mereka telah memiliki keteguhan iman dan puncak tauhid, bahkan Allah ‘Azza wa Jalla telah ridho kepada mereka dan mereka pun telah ridho kepada Allah (lihat surah at-Taubah ayat 100).

2. Dosa Tak Diampuni

Sebagian ulama menjelaskan bahwa syirik kecil -termasuk riya’ yang sedikit- adalah dosa yang tidak akan diampuni jika pelakunya tidak bertaubat sebelum meninggal, mereka berdalil dengan firman Allah dalam surat an-Nisaa’ ayat 48, yang artinya,  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa di bawah (syirik)bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar.”

Bagaimana nasib pelaku syirik kecil jika ia termasuk kedalam dosa yang tak diampuni? Terdapat penjelasan tentang hal ini, yaitu

a) Dosa  syirik kecil ini akan masuk ke dalam timbangan keburukan hamba yang bersangkutan,

b) Dan jika pelakunya harus diadzab terlebih dahulu di dalam neraka, maka ia tidak kekal di dalamnya.

 

3. Amalan Shalih Hangus

Riya’ dapat menghanguskan amalan shalih yang tercampurinya (jika riya’ tersebut dihukumi syirik asghar) dan dapat menghapus seluruh amalan tanpa tersisa sedikitpun (jika riy’ tersebut dihukumi syirik akbar).

Dalam Hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,

“Aku tidak membutuhkan sekutu sama sekali. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan syirik kepada-Ku, maka Aku tinggalkan ia bersama kesyirikannya (Aku tidak beri ia pahala atas amal syiriknya ).” (HR Muslim, no. 2985 dan Ibnu Majah, no. 4202 dari sahabat Abu Hurairah).

4. Lebih Dahsyat dari Fitnah Dajjal

Suatu ketika Rasulullah shallallaah ‘alaihi wa sallam menghampiri para shahabat beliau yang saat itu sedang membincangkan fitnah Dajjal yang begitu mengerikan. Kemudian  Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam bersabda,

“Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang bagiku lebih aku takutkan atas kalian daripada fitnah Masih ad-Dajjal?” Para Shahabat berkata, “Kami mau,” maka Rasulullah (shallallaahu ‘alahi wa sallam) bersabda, yaitu: syirkul khafi (syirik tersembunyi); seseorang shalat, lalu ia menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya”. [HR Ibnu Majah, no. 4204, dari Abu Sa’id al Khudri, hadits ini hasan-Shahih Ibnu Majah, no. 3389]

Apakah sebab riya` lebih dikhawatirkan daripada fitnah Dajjal?

~Pertama, fitnah dari riya` ini sifatnya samar dan tersembunyi. Kebanyakan fitnah ini menimpa orang yang beriman dan beramal shalih, sebab mereka memiliki modal untuk berlaku riya`, yakni dengan amalan shalih yang ia lakukan itu. Adapun fitnah Dajjal ini jelas bagi orang mukmin, yakni dengan tanda yang terdapat di keningnya.

~Kedua, fitnah Dajjal ada waktunya, yakni di akhir zaman. Adapun riya` dapat menjangkiti seluruh manusia tanpa mengenal waktu dan tempat. Ibnul Qayyim memisalkan riya` laksana lautan yang tak bertepi. Ia bisa menyerang siapapun, tak terkecuali para alim ulama.

Saudariku, hendaknya kita tancapkan dalam relung hati kita akan firman Allah ini,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah, Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu apapun) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15).

Ayat di atas menegaskan, hakikatnya Allah tidaklah membutuhkan amalan kita, secuilpun tak butuh. Akan tetapi kita sebagai hamba-Nya lah yang justru sangat butuh kepada Allah, agar Dia mengampuni kesalahan kita yang bertubi-tubi dan tumpukan dosa yang telah kita perbuat. Sehingga sudah selayaknya bagi kita untuk mempersembahkan segala bentuk ibadah yang kita lakukan kepada Allah semata, ya, hanya kepada Allah semata!

Kita diingatkan dengan apa yang dilakukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau adalah sosok yang telah Allah jamin surga untuknya, yang telah Allah bersihkan kotoran dalam dadanya, berdoa:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أُشْرِكَ بِك وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُك لِمَا لَا أَعْلَمُ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap dosa yang tidak aku ketahui.

Semoga doa ini adalah doa yang tidak terluput dari lisan kita, agar Allah menjaga kita dari berbuat syirik dalam segala bentuknya, termasuk dari virus riya`. Wallaahu Ta’aala ‘alam.

 

*****

Referensi:

1. Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal-ats-Tsalits-Al-‘Aliy. Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. (Terjemah). Jakarta: Ummul Qura’.

2. Catatan kajian Kitaabut Tauhid bersama Ustadz Ikrimah hafidzahullaah.

3.Https://almanhaj.or.id/2730-bahaya-riya.html

4.http://muslim.or.id/2693-jangan-remehkan-kesyirikan.html

5.https://rumaysho.com/1701-sangat-butuh-pada-ِAllah.html

 

Penulis: Mentari Anggun

Muroja’ah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

Artikel muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?