Menjaga Kesehatan di Bulan Ramadhan

Menjaga Kesehatan di Bulan Ramadhan

 

Menjaga kesehatan di bulan Ramadhan untuk memaksimalkan ibadah kepada Allah dan menggapai ridha-Nya

 

Bulan Ramadhan merupakan bulan mulia yang penuh keberkahan. Bulan yang selalu dirindukan oleh orang-orang beriman. Bulan dimana pahala dari setiap ibadah dilipatgandakan. Ketika bulan Ramadhan tiba maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim hendaknya memaksimalkan diri dalam beribadah ketika menjumpai bulan Ramadhan. Namun, memaksimalkan diri bukan berarti memforsir diri tanpa memperhatikan kondisi tubuh kita. Tubuh kita pun memiliki hak-haknya yang perlu untuk kita penuhi. Hendaklah kita menjaga kesehatan tubuh kita agar dapat melakukan ibadah semaksimal mungkin di bulan Ramadhan. Berikut merupakan tips-tips menjaga kesehatan ketika berpuasa di bulan Ramadhan :

  1. Makan sahur

Ketika sahur sebaiknya memilih menu makanan yang mengandung protein tinggi dan berserat. Makanan yang dikonsumsi cukup makanan sederhana dan tidak terlalu berat, yang terpenting adalah memenuhi unsur gizi yang komplit, yaitu lemak, protein, vitamin, karbohidrat, dan mineral. Makanan berserat, seperti buah dan sayuran sangat bermanfaat untuk menahan rasa lapar. Selain itu, hindari makanan yang terlalu manis karena memicu pengeluaran insulin yang mengakibatkan tubuh lemah.

Kemudian ketika makan sahur, kita perlu untuk meminum air  yang cukup karena lebih dari 60% tubuh kita terdiri dari air dan untuk menjalankan fungsi organ tubuh membutuhkan air. Minum air yang dimaksudkan bukan hanya sekedar minum air putih, tetapi susu, sirup, dan teh juga termasuk cairan. Hendaknya berusaha mengatur agar kebutuhan tubuh kita terhadap air terpenuhi, yakni sebanyak delapan gelas air atau sekitar 2 liter.

 

  1. Mengakhirkan sahur

Salah satu manfaat mengakhirkan sahur adalah membuat tenaga dan energi lebih tahan lama. Mengakhirkan sahur juga merupakan perkara yang diperintahkan oleh syariat.

Seorang tabi’in,‘Amr bin Maimun al-Audi berkata,

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَسْرَعَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهُمْ سَحُوْرًا

“Dahulu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling segera berbuka dan paling lambat sahur.” (HR. Abdurrazaq di dalam al-Mushannaf, shahih)

 

  1. Hindari tidur langsung setelah subuh

Sebagian orang memiliki kebiasaan tidur setelah sahur ataupun setelah shalat subuh. Ini merupakan salah satu kebiasaan yang buruk karena membuat tubuh tidak segar ketika bangun dan kebiasaan ini tidak baik secara kesehatan. Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata,

”Tidur setelah subuh mencegah rezeki karena waktu subuh adalah waktu makhluk mencari rezeki mereka dan waktu dibagikan mereka. Tidur setelah subuh suatu hal yang dilarang (makruh), kecuali ada penyebab atau keperluan. Sangat berbahaya bagi badan karena melemahkan dan merusak badan karena sisa-sisa (metabolisme) yang harusnya diurai dengan berolahraga/beraktivitas. (Zadu alMa’ad, 4/222)

Berikut beberapa kiat agar tidak langsung tidur setelah shalat subuh :

  1. Makan sahur diakhirkan karena jika jarak makan sahur dengan shalat subuh terlalu jauh membuat mengantuk.
  2. Mengisi kegiatan setelah shalat subuh bersama banyak orang, misal pengajian di masjid atau membaca Alquran.
  3. Hindari makan sahur terlalu banyak.

 

  1. Menyegerakan berbuka

Ketika suara adzan maghrib telah dikumandangkan maka hendaknya kita segera berbuka, tidak menunda-nunda sehingga energi akan langsung terisi dan badan terasa segar kembali. Menyegerakan berbuka merupakan anjuran syariat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Terus-menerus manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan buka puasa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

  1. Berbuka dengan yang manis dan makan secara bertahap

Secara medis, kita dianjurkan untuk berbuka dengan yang manis karena makanan yang manis lebih cepat memulihkan energi dan memberikan stamina dalam waktu yang lebih dekat. Makanan manis dengan karbohidrat sederhana tidak perlu dicerna dalam waktu yang lama sehingga energinya langsung diserap oleh tubuh. Namun, kita perlu berhati-hati dengan minuman yang mengandung pemanis buatan karena tidak mengandung energi. Ketika berbuka lebih baik dengan memakan kurma karena ini adalah sunnah dan berpahala, sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka denga ruthab (kurma basah), jika tidak ada dengan tamr (kurma kering), jika tidak ada, beliau meneguk beberapa teguk air.” (HR. Ahmad, shahih)

 

  1. Tidak “balas dendam” ketika berbuka puasa

Ketika berbuka sebaiknya makan dengan cara bertahap, tidak langsung makan besar dan dalam jumlah banyak karena untuk balas dendam. Hal yang perlu diperhatikan ketika berbuka adalah makan secara perlahan-lahan dan memberi jarak kurang lebih setengah atau satu jam. Tujuannya adalah agar pencernaan tidak kaget dan tidak bekerja dengan berat. Dampak buruk ketika banyak makan di waktu berbuka sebagai berikut :

  1. Membuat badan malas, lemas dan mengantuk.
  2. Mengalami gangguan pencernaan, akibat “kaget” karena menerima jumlah makanan yang besar secara tiba-tiba.
  3. Menurunkan semangat dan konsentrasi terutama semangat beribadah karena aliran darah lebih fokus pada pencernaan dan pasokan darah berkurang ke otak.

 

Allah memerintahkan kita untuk tidak makan secara berlebihan, namun secukupnya saja. Allah Ta’ala berfirman,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. (QS. Al-A’raf : 31)

 

  1. Jangan bermalas-malasan dan tetap berolahraga

Tidak menjadikan puasa sebagai alasan untuk mengurangi aktivitas secara total. Hendaknya tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Beraktivitas selama puasa dapat merangsang pengeluaran hormon-hormon anti insulin yang berfungsi melepas gula darah dari simpanan energi sehingga kadar gula darah tidak menurun dan pada akhirnya tubuh tetap segar bugar sepanjang hari.

Ketika sudah terbiasa berolahraga maka sekalipun sedang berpuasa hendaknya tetap melakukan olahraga ringan, seperti lari-lari kecil atau gerakan senam ringan. Namun dalam beberapa keadaan orang berpuasa tidak dianjurkan untuk berolahraga, yakni ketika kurag tidur karena begadang dalam rangka beribadah untuk menghidupkan malam. Ketika daya tahan tubuh sedang menurun maka sebaiknya olahraga ditunda terlebih dahulu. Bagi seorang yang memiliki sakit berat dan kronis sebaiknya konsultasi ke dokter jika ingin berolahraga. Kemudian, hindari olahraga ketika menjelang waktu tidur karena ketika selesai berolahraga, metabolisme masih berjalan sehingga kita akan kekurangan waktu tidur dan tubuh tidak ada kesempatan untuk beristirahat.

 

  1. Tidur yang cukup

Ketika tidur maka tubuh kita tengah beristirahat sehingga sel-sel bisa mengembalikan fungsi tubuh yang digunakan untuk beraktivitas seharian. Hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas tidurnya bukan kuantitasnya. Tidur pulas selama 30 menit itu lebih baik dari pada tidur lama, tetapi tidak nyenyak dan gelisah. Hendaknya juga tidur siang untuk memenuhi kebutuhan tidur yang cukup. Tidur siang juga merupakan sunnah dan anjuran dalam syariat, inilah yang disebut “qailulah”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

قِيْلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ

“Qailulah lah (istirahat/tidur sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang. (HR. Abu Nu’aim, shahih)

 

  1. Mandi dan menyegarkan diri

Ketika berpuasa agar tetap segar maka hendaknya kita mandi dan menggosok gigi terutama di siang hari yang sangat panas. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menuangkan air pada kepalanya karena haus atau panas yang menyengat, sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa.

Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berkata,

 

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالْعَرْجِ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ مِنَ الْعَطَشِ أَوْ مِنَ الْحَرِّ

“Sungguh, aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Al-‘Araj mengguyur kepalanya karena keadaan yang sangat haus atau sangat terik- dengan air, sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa.” (HR. Abu Daud)

Abu Ath-Thayyib mengatakan bahwa hadits ini merupakan dalil diperbolehkannya orang yang berpuasa menyegarkan badan karena cuaca yang terik, dengan cara mengguyurkan air ke seluruh badan atau sebagian saja. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dan mereka tidak membedakan antara mandi wajib, sunnah, atau mubah. (‘Aunul Ma’bud, 6/352)

 

  1. Mengendalikan emosi dan nafsu

Puasa tidak hanya menahan makan dan minum saja, namun juga menahan hawa nafsu dan emosi. Psikologis kita berpengaruh kepada fisik kita. Ketika marah dan stres, hormon, seperti adrenalin akan dikeluarkan tubuh dan mengeluarkan energi yang banyak. Maka, hendaknya kita dapat mengontrol emosi dan hawa nafsu kita. Bahkan, ketika ada orang yang memancing kita untuk marah, hendaknya kita menjelaskan bahwa kita sedang berpuasa, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

“Puasa adalah membentengi diri maka bila salah seorang kamu di hari ia berpuasa janganlah berkata kotor dan janganlah ia berteriak-teriak dan jika seseorang memakinya atau mengajak bertengkar hendaknya ia mengatakan “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Semoga tips-tips di atas sedikit banyak membantu kita untuk lebih memahami bagaimana menjaga tubuh kita agar tetap fit selama bulan Ramadhan sehingga kita dapat melakukan ibadah dengan maksimal untuk memperoleh keridhaan Allah Ta’ala.

‘Allahu A’lam.

 

Referensi

Diketik ulang dari Sehat dan Sunnah Menjalani Ramadhan, dr. Raehanul Bahraen, Pustaka Muslim, Yogyakarta.

About Author

Leave a Reply