Karena setiap klaim harus disertai bukti, maka klaim cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki ciri dan tanda yang menunjukkan kebenarannya. Semakin besar bagian dan porsi hamba dalam hal itu, semakin besar pula bagian dan porsinya dalam cinta. Kumpulan ciri-ciri cinta yang sejati kepada Nabi tersebut adalah sebagai berikut:
1) Mengikuti sunahnya
Yakni dengan berpegang teguh pada petunjuknya. Allah Ta’ala berfirman,
قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمْۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Ali Imran: 31)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang tafsir ayat ini, “Ayat mulia ini berlaku bagi siapa saja yang mengklaim mencintai Allah, namun tidak mengikuti ajaran (tuntunan) Nabi Muhammad, maka ia adalah pendusta dalam klaimnya tersebut, hingga ia mengikuti syariat Nabi Muhammad dan agama kenabian dalam segala perkataan, perbuatan, dan keadaannya. Sebagaimana tercatat dalam hadis sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو ردّ
“Barang siapa melakukan suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan perintah kami, maka perbuatannya itu ditolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Dan karena itulah, Allah berfirman, “Katakanlah, “Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku; niscaya Allah akan mencintai kalian.” Artinya, kalian akan memperoleh lebih dari apa yang kalian harapkan dari cinta kalian kepada-Nya, yaitu cinta-Nya kepada kalian, dan itu lebih agung daripada yang pertama.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2: 26-27)
Hal-hal yang menunjukkan kewajiban untuk mengikuti dan pentingnya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tulus dalam cinta sangatlah banyak. Dari Abdurrahman bin Al-Harits dari Abu Qarad Al-Sulami, ia berkata, “Kami berada di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau mengambil air wudu, mencelupkan tangannya ke dalamnya, kemudian berwudu. Kami mengikuti dan menirunya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apa yang mendorong kalian melakukan hal itu?’ Kami menjawab, ‘Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Beliau pun berkata,
فإن أحببتم أن يحبّكم الله ورسولُه، فأدّوا إذا ائتمنتم، واصدقوا إذا حدّثتم، وأحسنوا جوار من جاوركم
“Jika kalian ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka penuhi amanah jika dipercayai, jujurlah saat berbicara, dan berbuat baiklah kepada tetangga kalian.” (HR. At-Thabrani no. 6517, dinilai hasan oleh Al-Albani)
2) Sering mengingatnya dan rindu untuk melihatnya
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap kali seorang hamba sering mengingat yang dicintainya, menghadirkannya dalam hatinya, serta mengingat keutamaan-keutamaan dan makna-makna yang memicu cintanya, maka cinta kepadanya akan berlipat ganda, kerinduan kepadanya akan bertambah, dan cinta itu akan menguasai seluruh hatinya. Namun, jika ia mengabaikan mengingatnya, memikirkannya, dan mengingat keutamaan-keutamaannya di dalam hatinya, maka cinta kepadanya akan berkurang dari hatinya. Dan tidak ada yang lebih menenangkan daripada melihat kekasihnya, dan tidak ada yang lebih menenangkan hatinya daripada menyebut namanya dan mengingat keutamaannya. Jika hal ini menguat di dalam hatinya, lidahnya akan mengalir memuji dan memuliakannya serta menyebut keutamaannya, dan penambahan maupun pengurangan hal tersebut bergantung pada penambahan dan pengurangan cinta di dalam hatinya.” (Jala’ Al-Afham, hal. 525)
Salah satu bukti hal ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,
من أشدّ أمتي لي حبّاً ناسٌ يكونون بعدي يودّ أحدهم لو رآني بأهله وماله
“Di antara umatku yang paling mencintaiku adalah orang-orang yang akan datang setelahku; salah seorang di antara mereka berharap dapat melihatku dengan keluarga dan hartanya.” (HR. Muslim no. 2832)
Mengingat beliau, shallallahu ‘alaihi wa sallam, dilakukan dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan dan sifat-sifat mulianya, menjelaskan sunah-sunahnya dan jejak-jejak agungnya, serta dengan sering mengucapkan salam dan doa atasnya. Cinta untuk melihat beliau, shallallahu ‘alaihi wa sallam, buahnya adalah tekad yang tulus, kesungguhan, usaha keras, serta meneladani dan mengikuti petunjuknya yang lurus; hal ini akan membuat hamba berhak melihat dan menemani beliau di surga.
3) Mempelajari Al-Qur’an yang mulia, mengamalkan, dan meneladani adab-adabnya
Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitabnya Syu’abul Iman, dari Abdullah bin Mas’ud, radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata,
من أحبَّ أن يعلم أنه يحب الله ورسوله فلينظر فإن كان يحب القرآن فإنه يحب الله ورسوله
“Barang siapa yang ingin mengetahui bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, hendaklah ia perhatikan: jika ia mencintai Al-Qur’an, maka ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 1861)
Kecintaan terhadap Al-Qur’an, membacanya, serta merenungkannya adalah pintu-pintu hidayah yang paling agung. Sesungguhnya Allah, yang Maha Suci dan Maha Tinggi, telah menurunkan Kitab-Nya yang jelas kepada hamba-hamba-Nya sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira, dan peringatan bagi mereka yang mengingat-Nya, serta menjadikannya berkah dan petunjuk bagi seluruh alam, yang menuntun ke jalan yang paling lurus, dan di dalamnya terdapat ayat-ayat serta peringatan agar mereka bertakwa atau agar menjadi pengingat bagi mereka, serta menjadikannya obat bagi penyakit-penyakit, terutama penyakit hati dan gangguan-gangguan yang timbul dari keraguan dan hawa nafsu.
Seharusnya setiap Muslim yang menginginkan dirinya mencapai derajat tertinggi di antara para pecinta yang tulus, memperbanyak pembacaannya terhadap Al-Qur’an yang mulia dengan membacanya sebagaimana mestinya, merenungkan ayat-ayatnya, memikirkan dan mencerna maknanya, serta mengamalkan apa yang diwajibkannya.
Hal ini sebagaimana dikatakan oleh ulama besar Ibnul Qayyim rahimahullah, “Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al-Qur’an dengan mentadaburi dan memikirkan maknanya; karena Al-Qur’an mencakup semua tingkatan para pencari kebenaran, keadaan para pelaku amal, dan derajat para orang yang berilmu. Dialah yang menumbuhkan rasa cinta, kerinduan, ketakutan, harapan, tobat, tawakal, keridaan, penyerahan diri, syukur, kesabaran, dan segala keadaan yang menjadi sumber kehidupan dan kesempurnaan hati, serta menjauhkan dari segala sifat dan perbuatan tercela yang menyebabkan kerusakan dan kehancuran hati. Seandainya orang-orang mengetahui manfaat membaca Al-Qur’an dengan merenung, niscaya mereka akan mengutamakan hal itu di atas segala hal lainnya. Jika seseorang membacanya dengan tadabur hingga sampai pada suatu ayat yang ia butuhkan untuk menyembuhkan hatinya, maka jika ia mengulanginya, sekalipun seratus kali atau sepanjang malam, karena membaca satu ayat dengan tadabur dan memahami lebih baik daripada menyelesaikan satu kali pembacaan Al-Qur’an tanpa merenung dan memahami, serta lebih bermanfaat bagi hati dan lebih mendekatkan pada tercapainya iman serta merasakan manisnya Al-Qur’an.” (Miftahud Daris Sa’adah, 1: 535)
[Bersambung]
***
Penulis: Triani Pradinaputri
Artikel Muslimah.or.id




