Di antara bentuk kasih sayang yang diajarkan Islam kepada anak-anak adalah mengusap kepala anak dengan penuh kelembutan serta mendoakan kebaikan untuk mereka. Amalan ini tampak sederhana. Tidak membutuhkan biaya, tidak pula menguras tenaga. Namun, di baliknya terdapat nilai pendidikan, kasih sayang, dan ibadah yang sangat agung.
Salah satu dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah hadis dari sahabat ‘Amr bin Huraits radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata,
ذَهَبَتْ بِي أُمِّي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَسَحَ عَلَى رَأْسِي، وَدَعَا لِي بِالرِّزْقِ
“Ibuku membawaku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tambahan riwayat lain: ketika aku masih kecil). Kemudian beliau mengusap kepalaku dan mendoakanku agar diberi rezeki.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 632; Abu Ya’la no. 1452-1456; Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab Al-Aahaad wal Matsaaniy no. 717; dan lbnul Atsir datam kitab Usdul Ghoabah, 14: 213. Lihat As-Silsilah as-Shahihah, 6: 1070)
Hadis yang singkat ini menyimpan banyak pelajaran berharga, khususnya bagi para orang tua.
Perhatian orang tua terhadap agama anak
Perhatikan bagaimana ‘Amr bin Huraits membuka kisahnya, “Ibuku membawaku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Kalimat ini menunjukkan besarnya perhatian seorang ibu terhadap masa depan anaknya. Kasih sayangnya jauh melampaui urusan makan, pakaian, dan kesehatan anaknya. Yang paling ia inginkan adalah agar anaknya dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mendapatkan doa beliau, dan tumbuh di atas keberkahan. Inilah bukti bahwa orang tua yang saleh tidak hanya memikirkan kehidupan dunia anaknya, tetapi juga keselamatan agama dan akhiratnya.
Hal ini juga menjadi pelajaran bahwa salah satu bentuk kasih sayang orang tua adalah mengenalkan anak kepada lingkungan yang baik, majelis ilmu, dan pendidikan agama sejak dini.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menjelaskan tentang ayat ini,
عَلِّمُوهُمْ وَأَدِّبُوهُمْ
“Ajarkanlah (didiklah) mereka dengan ilmu (agama) dan adab (akhlak mulia).” (Lihat Tafsir Ath-Thabari, 23: 103 dan Syu’abul Iman, 11: 156)
Sentuhan yang mengandung kasih sayang
Sesampainya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengusap kepala ‘Amr bin Huraits.
Perbuatan ini menunjukkan akhlak mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak. Beliau tidak menjaga jarak dengan mereka, bahkan memperlihatkan kasih sayang melalui sentuhan yang lembut.
Mengusap kepala anak dapat menumbuhkan rasa aman, kedekatan, dan kasih sayang antara orang tua dengan anak. Tidak mengherankan apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dikenal sering mencium Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma, menggendong mereka, bahkan memanjangkan sujud ketika cucunya menaiki punggung beliau.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
“Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat yang lain,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا
“Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil (orang yang lebih muda) dan tidak menghormati orang yang dituakan di antara kami.” (HR. At-Tirmidzi. Lihat Shahihul Jami’ no. 5445)
Mendoakan anak merupakan kebiasaan para Nabi
Setelah mengusap kepala ‘Amr, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berhenti sampai di situ. Beliau juga mendoakannya,
وَدَعَا لِي بِالرِّزْقِ
“Beliau mendoakanku agar diberi rezeki.”
Ini menunjukkan bahwa mendoakan anak merupakan sunah yang sangat dianjurkan. Bahkan, doa adalah salah satu hadiah terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anaknya.
Betapa sering kita memikirkan tabungan pendidikan anak, namun lupa menabung doa untuk mereka.
Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاثُ دَعَواتٍ مُسْتَجاباتٍ، لا شَكَّ فيهنَّ: دَعْوةُ المَظْلومِ، ودَعْوةُ المُسافِرِ، ودَعْوةُ الوالِدِ على وَلَدِه
“Ada tiga doa yang tidak diragukan kemustajabannya, yaitu: doa orang yang dizalimi (dianiaya), doa orang musafir, dan doa kedua orang tua kepada anaknya.” (HR. Abu Dawud no. 1536, Tirmidzi no. 1905, Ibnu Majah no. 3862, dan Ahmad no. 7501. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1797)
Sudah sepatutnya setiap hari orang tua meluangkan waktu untuk mendoakan anak-anaknya agar mereka diberi hidayah, dimudahkan dalam menuntut ilmu, dijaga akhlaknya, dilapangkan rezekinya, dan diwafatkan di atas imam dan Islam.
Rezeki yang diminta bukan sekadar banyak
Menariknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan ‘Amr bin Huraits agar diberi rezeki.
Hal ini menunjukkan bahwa memohon rezeki adalah perkara yang dianjurkan. Namun, yang paling penting bukanlah banyaknya rezeki, melainkan keberkahannya.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58)
Dalam firman-Nya yang lain,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mendoakan Anas waktu masih kecil dengan doa,
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ
“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480)
Rezeki yang diberkahi akan membawa ketenangan, memudahkan seseorang dalam beribadah, dan menjadi sebab kebahagiaan dunia maupun akhirat.
Renungan untuk para orang tua
Hadis dari ‘Amr bin Huraits di atas mengajarkan kepada kita bahwa membangun generasi tidak selalu dimulai dengan perkara-perkara besar. Sebuah usapan di kepala yang disertai kasih sayang, serta doa yang tulus dari orang tua, merupakan bagian dari pendidikan Islam yang sangat bernilai.
Maka, janganlah kita meremehkan amalan-amalan sederhana yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Luangkan waktu untuk mendekati anak-anak kita, usaplah kepala mereka dengan penuh kelembutan, peluklah mereka, dan iringilah setiap hari mereka dengan doa-doa terbaik.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang bertauhid, berakhlak mulia, diberi rezeki yang halal dan berkah, serta menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tuanya.
Baca juga: Konsep Parenting Islami: Memadukan Kasih Sayang dan Ketegasan dalam Mendidik
***
Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Al-Bukhari, Al-Adab al-Mufrad, Bab 279. Hadis ke-632.




