Kemerdekaan bangsa Indonesia bukanlah sekadar peristiwa sejarah atau kemenangan politik semata, melainkan nikmat agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib disyukuri dan dijaga. Bebasnya negeri ini dari cengkeraman penjajahan, penindasan, serta perampasan hak hidup dan beribadah merupakan manifestasi dari kasih sayang Sang Pencipta yang melahirkan keamanan dan ketenteraman bagi seluruh rakyat. Lebih dari itu, proklamasi kemerdekaan merupakan buah manis dari ikhtiar panjang dan perjuangan (jihad fi sabilillah) yang melibatkan pengorbanan para pahlawan, ulama, hingga santri dalam membela tanah air, agama, dan kehormatan bangsa dari segala bentuk kezaliman.
Namun, Islam mengajarkan bahwa kemerdekaan fisik dari penjajah asing barulah langkah awal dari hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan sejati mencakup kebebasan lahir dan batin, yang meliputi kemerdekaan akidah dari kesyirikan, kemerdekaan jiwa dari perbudakan hawa nafsu, serta kemerdekaan berpikir dari kebodohan. Oleh karena itu, tugas terbesar umat Islam saat ini adalah mengisi kemerdekaan dengan ketaatan, menjaga persatuan (ukhuwah), serta senantiasa mendoakan negeri agar menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, sebuah negeri yang baik, aman, dan senantiasa berada dalam naungan dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kemerdekaan sebagai nikmat yang wajib disyukuri
Dalam sisi pandangan Islam, kemerdekaan bukan hanya peristiwa politik atau sejarah, melainkan nikmat besar dari Allah yang wajib disyukuri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb-mu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7)
Kebebasan dari penjajahan, dari penindasan, dari perampasan hak hidup dan beribadah, adalah nikmat yang setara dengan nikmat keamanan dan ketenteraman yang disebut Al-Qur’an sebagai salah satu tanda kasih sayang Allah kepada suatu kaum.
Kemerdekaan adalah buah dari perjuangan (jihad)
Islam memandang perjuangan melawan penjajahan sebagai bagian dari jihad fi sabilillah membela diri, agama, tanah air, dan kehormatan dari kezaliman. Ulama dan santri banyak yang terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, seperti Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1945 yang menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban agama, bukan sekadar kewajiban nasionalisme semata.
Kemerdekaan sejati: Bebas dari penjajahan lahir dan batin
Islam mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati tidak berhenti pada bebasnya suatu bangsa dari penjajah asing, tetapi juga mencakup:
- Kemerdekaan akidah adalah bebas dari kesyirikan dan penghambaan kepada selain Allah.
- Kemerdekaan jiwa adalah bebas dari perbudakan hawa nafsu, riba, dan kezaliman sosial.
- Kemerdekaan berpikir adalah bebas dari kebodohan dan taklid buta yang menjajah akal.
Mengisi kemerdekaan dengan ketaatan dan kebaikan
Setelah merdeka secara fisik, tugas berikutnya adalah mengisinya dengan:
- Ketaatan kepada Allah dan menjalankan syariat-Nya.
- Membangun negeri dengan ilmu, akhlak, dan amal saleh.
- Menjaga persatuan (ukhuwah) dan menghindari perpecahan.
- Bersyukur melalui perbuatan, bukan hanya lisan.
Doa dan harapan untuk bangsa
Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa mendoakan kebaikan bagi negeri, sebagaimana Nabi Ibrahim mendoakan negerinya
وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا ٱلْبَلَدَ ءَامِنًا وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.’” (QS. Ibrahim: 35)
Umat Islam Indonesia dianjurkan mendoakan agar bangsa ini menjadi negeri yang baik dan mendapat ampunan Allah (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur), sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِى مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا۟ مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لَهُۥ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.'” (QS. Saba’: 15)
Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan keteladanan cinta dan doa kebaikan terhadap tanah air tempat tinggalnya,
مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلاَ أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ
“Negeri ini sungguh indah dan sangat kucintai. Jika bukan karena masyarakatku sendiri yang memaksaku pergi, tak akan pernah aku memilih tinggal di tanah yang lain.” (HR. Tirmidzi no. 3926, disahihkan oleh Al-Albani)
Sebagai kesimpulan, kemerdekaan Indonesia bukan sekadar warisan sejarah, melainkan amanah agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus senantiasa kita syukuri dan pertahankan melalui kerja nyata serta ketaatan. Menjaga kemerdekaan sejati menuntut setiap elemen bangsa untuk memerdekakan jiwa dan pikirannya dari segala bentuk kezaliman, kesyirikan, serta perbudakan hawa nafsu. Dengan merawat persatuan (ukhuwah), memperkuat akhlak dan ilmu, serta terus mengiringi langkah pembangunan bangsa dengan doa, kita berharap Indonesia dapat mewujudkan hakikat kemerdekaan yang hakiki dan tumbuh menjadi negeri yang aman, sejahtera, serta diratai keberkahan sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Baca juga: Hijrah Nabi dan Cinta Tanah Air: Pelajaran Berharga bagi Setiap Muslim
***
Penulis: Rizka Fajri Indra
Artikel Muslimah.or.id




