Pertumbuhan jumlah Sekolah Islam Terpadu sangatlah masif, terhitung mulai dari periode 2010 hingga saat ini sebagaimana yang dilansir oleh Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia. Pada tahun 2013, terdapat 1.926 Sekolah Islam Terpadu, dan pada tahun 2026 naik menjadi 2.890 Sekolah. [1]
Pertumbuhan ini tidak terjadi begitu saja tanpa sebab. Beberapa riset menyebutkan bahwasannya faktor motivasi terbanyak orang tua memasukkan anaknya ke sekolah Islam adalah program tahfidz-nya atau pembelajaran Al-Quran di dalamnya.
Berangkat dari motivasi besar orang tua yang sangat menginginkan anaknya menjadi anak yang senantiasa membersamai Al-Quran, hafidz Al-Quran, atau bersahabat dengan Al-Quran, maka ada beberapa poin yang dapat kita bahas terkait ini. Hal ini menjadi sangat penting karena banyak sekali orang tua yang menaruh harapan besar hanya pada sekolah saja (sekolah Islam), agar apa yang ia cita-citakan dapat terpenuhi tanpa melihat faktor-faktor lain yang juga memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan yang mereka harapkan.
Lantas, bagaimana caranya agar harapan orang tua tersebut dapat terealisasi? Bagaimana menjadikan anaknya hafidz Al-Quran?
Pada bahasan kali ini, kami akan memberikan empat tips utama yang mesti dilakukan para orang tua yang menginginkan anaknya menjadi hafidz Al-Quran sebagaimana para salafus saleh dulu melakukannya terhadap anak mereka.
Jadilah teladan pertama bagi anak-anak
Poin ini adalah poin terpenting yang banyak orang tua lalai padanya. Mereka beranggapan ketika telah memasukkan ke sekolah Islam terbaik yang program tahfidz-nya bagus, lantas si anak akan otomatis baik tahfidz-nya. Ternyata, yang berpandangan seperti ini banyak sekali yang kecewa. Oleh karena itu, sangat penting sekali menjadi teladan bagi anak-anak di rumah. Jika menginginkan anak lebih mencintai Al-Quran daripada gadget-nya, maka ciptakanlah lingkungan untuk itu, berikanlah contoh bagi anak.
Patut diketahui bahwasannya anak-anak salaf mencintai Al-Quran bukan sekadar karena diperintah, melainkan karena mereka melihat orang tua mereka hidup bersama Al-Quran setiap hari. Sebagaimana wasiat Utbah bin Abi Sufyan kepada pengajar anaknya,
لِيَكُنْ أَوَّلَ إِصْلَاحِكَ لِبَنِيَّ إِصْلَاحُكَ لِنَفْسِكَ، فَإِنَّ عُيُونَهُمْ مَعْقُودَةٌ بِعَيْنِكَ، فَالْحَسَنُ عِنْدَهُمْ مَا صَنَعْتَ، وَالْقَبِيحُ عِنْدَهُمْ مَا تَرَكْتَ
“Hendaklah langkah pertama yang engkau lakukan dalam memperbaiki anak-anakku adalah memperbaiki dirimu sendiri. Sebab, mata mereka senantiasa tertuju pada matamu. Hal yang baik menurut mereka adalah apa yang engkau kerjakan, dan hal yang buruk menurut mereka adalah apa yang engkau tinggalkan.” [2]
Karena perbandingan waktu anak-anak di sekolah dengan di rumah lebih banyak di rumah, maka mata mereka akan lebih banyak tertuju kepada orang tuannya sebagai contoh. Maka, untuk konteks tahfidz qur’an, akan ada pertanyaan besar, bagaimana jika ternyata yang menginginkan anaknya menjadi hafidz Al-Quran adalah orang tua yang bahkan tidak mampu membaca Al-Quran? Pada batasan ini, maka wajib hukumnya bagi orang tua tersebut terlebih dahulu untuk belajar untuk. Ini sebagaimana firman Allah dalam surah At-Tahrim ayat 6.
Memilihkan pengajar dan lingkungan yang tepat (sekolah yang tepat)
Bahkan untuk cita-cita besar di atas, seorang ayah atau orang tua tidak boleh sembarangan memilihkan sekolah, yang penting sekolah Islam. Mengapa demikian, karena Al-Quran adalah panduan seorang muslim, baik membaca, memahami, ataupun men-tadabburi-nya, tidak boleh sembarangan. Menginginkan seorang anak menjadi hafidz qur’an itu tidak hanya hafal, tetapi yang dihafalnya mestilah benar dan fasih, atau benar dalam lafadz (sifat dan makhraj huruf). Sehingga memilih siapa yang akan mengajarkan dan lingkungan belajar amatlah penting.
Sebagaimana perkataan Ibnu Sirin, seorang tabi’in dan ahli hadis,
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu (Al-Quran dan As-Sunah) ini adalah bagian dari agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [3]
Menanamkan akidah dan iman sebelum mulai menghafal
Mulailah menanamkan akidah dan iman kepada anak sebelum mengajarkan Al-Quran kepada anak. Yakni dengan mengenalkan tauhid, keagungan Allah, dan kisah-kisah hikmah agar hati anak terikat sebelum lisannya menghafal.
Sebagaimana perkataan seorang tabi’in,
وَعَنْ حَمَّادِ بْنِ نَجِيحٍ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ جُنْدَبٍ، قَالَ: كُنَّا غِلْمَانًا حَزَاوِرَةً مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا
Dan dari Hammad bin Najih, dari Abu ‘Imran al-Jauni, dari Jundub (bin Abdullah), ia berkata, “Dahulu, kami adalah anak-anak muda yang bugar (mendekati balig) bersama Rasulullah ﷺ. Kami mempelajari iman sebelum kami mempelajari Al-Quran. Setelah itu, kami mempelajari Al-Quran, sehingga bertambahlah iman kami dengannya (Al-Quran tersebut).” [4]
Bertahap dan tidak memaksakan anak
Para salaf dahulu memiliki prinsip dalam pengajaran Al-Quran pada anak adalah berangsur-angsur dengan maksud supaya tidak menimbulkan kejenuhan atau beban mental. Dari Abu Al-‘Aliyah (Rufai’ bin Mihran), ia berkata,
تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ خَمْسَ آيَاتٍ خَمْسَ آيَاتٍ، فَإِنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يَنْزِلُ بِالْقُرْآنِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا خَمْسًا
“Pelajarilah Al-Quran lima ayat demi lima ayat, karena sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam dahulu turun membawa Al-Quran kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lima (ayat) lima (ayat).” [5]
Kesimpulan
Kesimpulan dari keempat poin di atas adalah hendaknya bagi orang tua untuk terlebih dahulu membekali dirinya dengan ilmu. Bagi calon-calon ayah hendaknya persiapkan diri, visi misi dalam berumah tangga dengan menuntut ilmu. Bagi yang telah terlanjur, maka belum terlambat; pelajarilah agama ini secara berurut dari yang dasar. Belajar membaca Al-Quran dengan baik sesuai kaidah tajwid, ilmuilah akidah dan tauhid yang lurus. Agar kita dapat menciptakan generasi-generasi Islam yang terbaik. Agar cita-cita memiliki anak hafidz qur’an, saleh dan salehah dapat terwujud. Wallahu Ta’ala a’lam.
***
Penulis: Haris Kurniawan
Artikel Muslimah.or.id
Catatan kaki:
[1] https://anggota.jsit.id/
[2] Al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, karya Khatib Al-Baghdadi dan Al-‘Aqd al-Farid, karya Ibnu Abdi Rabbih.
[3] Muqaddimah Shahih Muslim.
[4] Siyar A’lam an-Nubala’, karya Adz-Dzahabi, 3: 175.
[5] Al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami’, karya Al-Khatib Al-Baghdadi (No. 1109, Bab Akhdz al-Hadith Qalilan Qalilan)
Daftar Pustaka
Al-Baghdadi, A.-K. (1983). Al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’ (M. A. Al-Tahhan, Ed.; Vol. 1–2). Maktabah Al-Ma’arif.
Al-Naysaburi, M. I. H. (1955). Muqaddimah Shahih Muslim (Dalam Shahih Muslim, Vol. 1, hal. 9–28; M. F. ‘Abd al-Baqi, Ed.). Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi.
Apriliani, W., Kholik, A., & Laeli, S. (2025). Analisis Faktor yang Mempengaruhi Minat Orang Tua dalam Memilih Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) (Vol. 4).
Firmansyah, M., & Kholis, N. (2024). Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Program Unggulan Tahfidz Al-Qur’an: Inovasi Kepala Sekolah Sekolah Dasar Swasta Untuk Mencetak Siswa Hafidz-Hafidzah. https://doi.org/10.30868/im.v7i01.6072
Ibnu Abdi Rabbih, A. U. (1983). Al-‘Aqd al-farid (A. Amin, A. Al-Zayn, & I. Al-Abyari, Ed.; Vol. 1–8). Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia. (n.d.). Keanggotaan JSIT Indonesia. Diakses pada 25 Juli 2026, dari https://anggota.jsit.id/
Saputra, A. (2015). MOTIVASI ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAK KE SEKOLAH ISLAM TERPADU (Studi Pada SDIT-Al-Madinah Kota Pekanbaru) Oleh. In JOM FISIP (Vol. 2, Number 2).




