Metode Nabawiyah dalam mendidik anak (lanjutan)
Berikut adalah metode-metode ringkas yang diteladankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya:
Meluangkan waktu untuk memberi nasihat
Jangan enggan menasihati anak. Carilah momen-momen emas (golden moments) yang tepat, seperti saat dalam perjalanan atau ketika santai.
Nasihat saat perjalanan, sebagaimana kisah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu Abbas yang dibonceng di belakang beliau,
يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
“Wahai anak muda, sesungguhnya aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat, ‘Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu..’.” (HR. Tirmidzi no. 2516)
Nasihat saat makan, seperti kisah Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu. Ketika melihat tangan anak kecil mengacak-acak makanan di piring, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya dengan lembut,
يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Wahai anak muda, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)
Nasihat saat sakit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk seorang anak Yahudi yang sedang sakit keras lalu mengajaknya masuk Islam hingga anak tersebut bersyahadat,
عنْ أَنَسٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ: كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ ﷺ فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ ﷺ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَقَالَ لَهُ ” أَسْلِمْ “. فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهْو عنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ ﷺ. فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ وَهْوَ يَقُولُ
” الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ “
“Dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata, ‘Ada seorang pemuda Yahudi yang melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia sakit. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menjenguknya. Nabi duduk di dekat kepalanya dan berkata kepadanya, ‘Masuklah Islam.’ Pemuda itu melihat kepada ayahnya yang berada di sampingnya, lalu ayahnya berkata, ‘Taatlah kepada Abul-Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia pun masuk Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar sambil berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.’” (HR. Bukhari no. 1356)
Bersikap adil kepada semua anak
Ketidakadilan orang tua terhadap anak-anaknya dapat memicu rasa iri hati, perpecahan, dan kedurhakaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak menjadi saksi atas pemberian hibah Basyir kepada salah satu anaknya, yaitu Nu’man bin Basyir tanpa memberikan hal serupa kepada anak-anaknya yang lain. Beliau bersabda,
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ
“Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah di antara anak-anak kalian!” (HR. Bukhari no. 2587 dan Muslim no. 1623)
Memperhatikan dan menghargai hak anak
Anak-anak memiliki hak yang patut dihormati. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disuguhi minuman. Di sebelah kanan beliau, duduk Ibnu Abbas (masih kecil), sedangkan di sebelah kiri, duduk para sahabat senior. Berdasarkan adab, orang yang berhak menerima sisa minuman adalah orang yang berada di sebelah kanan. Beliau meminta izin kepada Ibnu Abbas,
أتَأذَنُ لي أن أُعطيَ هؤلاء؟ فقال الغُلامُ: لا واللهِ، لا أوثِرُ بنَصيبي مِنكَ أحَدًا. فتَلَّه في يَدِه
“‘Apakah engkau mengizinkanku memberikan sisa minuman ini kepada mereka (orang-orang tua)?’ Anak itu menjawab, ‘Demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.’ Maka Rasulullah menyerahkan minuman itu ke tangan anak tersebut.” (HR. Bukhari no. 2605 dan Muslim no. 2030)
Demikian pula jika anak-anak sudah memenuhi syarat salat di saf depan masjid, mereka memiliki hak atas tempatnya dan tidak boleh digeser paksa oleh orang dewasa.
Berkomunikasi sesuai dengan tingkat nalar anak
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,
حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ؟
“Bicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Apakah kalian suka Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR. Bukhari no. 127)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bercanda dan menghibur adik tiri Anas bin Malik yang bernama Abu Umair. Ketika burung peliharaannya mati, Rasulullah berkata,
يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟
“Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh si Nughair (burung kecilmu)?” (HR. Bukhari no. 6129 dan Muslim no. 2150)
Menjauhi mencela, mencerca, dan berkata kasar
Kelembutan dalam rumah tangga adalah sumber kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,
إِنَّ اللهَ إِذَا أَرَادَ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ
“Sesungguhnya apabila Allah menghendaki kebaikan bagi sebuah rumah tangga, Allah akan memasukkan rasa kelembutan kepada mereka.” (HR. Ahmad no. 24427)
Bentakan, cacian, dan kata-kata kotor hanya akan mewariskan kebiasaan buruk (dosa jariyah) pada keturunan.
Menerapkan metode targhib (motivasi) dan tarhib (hukuman edukatif)
Metode targhib
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma untuk memotivasi ibadahnya,
نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ، لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ
“Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah, seandainya ia rajin melakukan salat malam.” (HR. Bukhari no. 1122 dan Muslim no. 2479)
Memberikan apresiasi atas perbuatan baik anak—baik dalam bentuk pujian, doa, maupun materi/hadiah—sangat dianjurkan dalam Islam.
Metode tarhib
Jika anak melakukan pelanggaran setelah diberi pengajaran, hukuman edukatif diperbolehkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkannya ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR. Abu Dawud no. 495)
Prinsip hukuman: Sebelum menghukum, jelaskan terlebih dahulu letak kesalahannya agar anak paham bahwa hukuman tersebut bersumber dari kasih sayang dan tekad perbaikan, bukan atas dasar kebencian.
Penutup
Usaha mendidik anak agar menjadi pribadi yang saleh dan salehah membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan doa yang konsisten. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kelembutan, petunjuk, serta keteguhan bagi kita selaku orang tua, dan mempertemukan kita kembali bersama seluruh anggota keluarga di surga-Nya kelak. Aamiiin Ya Rabbal ‘Alamiin.
[Selesai]
***
Penulis: Nurur Rohmah Azzahra
Artikel Muslimah.or.id
Catatan kaki:
Disarikan dari faedah kajian Ustaz Dr. Firanda Andirja, Lc., MA. hafidzahullah dengan beberapa tambahan penjelasan dari penulis




