Metode Nabawiyah dalam mendidik anak
Mendidik anak di zaman fitnah, media sosial, dan era globalisasi adalah bentuk jihad yang menuntut perjuangan ekstra. Berikut adalah metode-metode ringkas yang diteladankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Mendoakan anak secara kontinu
Doa adalah fondasi utama. Allah menyebutkan bahwa di antara sifat ‘ibadu ar-Rahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) yang berhak atas surga adalah mereka yang senantiasa berdoa,
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Furqan: 74)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa doa orang tua untuk anaknya termasuk doa yang dikabulkan,
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ (وَفِي رِوَايَةٍ: لِوَلَدِهِ)
“Ada tiga doa yang mustajab tanpa ada keraguan di dalamnya: doa orang yang terzalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR. Tirmidzi no. 1905 dan Abu Dawud no. 1536)
Bahkan, perlindungan anak dimulai sejak sebelum pembuahan melalui doa ketika berhubungan suami istri,
بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
“Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (anak) yang Engkau anugerahkan kepada kami.” (HR. Bukhari no. 6388 dan Muslim no. 1434)
Perbaikan diri dan kesalehan orang tua
Kesalehan orang tua memiliki pengaruh langsung terhadap perlindungan dan kebaikan anak-anaknya. Hal ini tercermin dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Khidhir ‘alihimassalam ketika merapikan dinding rumah yang hampir roboh milik dua anak yatim,
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا
“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya adalah seorang yang saleh…” (QS. Al-Kahfi: 82)
Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa kata “abuhuma” (ayah mereka) pada ayat di atas merujuk pada kakek yang ketujuh. Artinya, kesalehan leluhur menjadi sebab Allah menjaga keturunannya.
Setiap anak terlahir di atas fitrah ketaatan, dan lingkungan terdekat—terutama orang tua—adalah yang paling membentuk pola hidup mereka,
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari no. 1385 dan Muslim no. 2658)
Masyarakat Bani Israil dahulu heran ketika menduga Maryam berzina, karena mereka mengenal kesalehan kedua orang tuanya,
يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا
“Wahai saudara perempuan Harun! Ayahmu bukanlah seorang yang buruk tabiatnya dan ibumu bukanlah seorang pesakitan (pezina).” (QS. Maryam: 28)
Orang tua wajib memberi keteladanan nyata di rumah, seperti salat sunah di rumah, membaca Al-Quran, serta menjaga tutur kata dan adab penghormatan antara suami dan istri.
Membangun kedekatan emosional
Mendidik anak membutuhkan kedekatan ikatan batin, bukan sekadar pemenuhan materi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan teladan kedekatan yang luar biasa dengan anak-anak dan cucu-cucunya:
Sujud yang panjang demi cucu beliau
Diriwayatkan dari Syaddad bin al-Hadi radhiyallahu ‘anhu,
فَسَجَدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجْدَةً أَطَالَهَا… فَقَالَ: إِنَّ ابْنِي هَذَا ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud dengan sujud yang sangat lama… Setelah selesai, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya cucuku ini menunggangiku (menjadikanku seperti tunggangan), maka aku tidak ingin terburu-buru menyuruhnya turun hingga dia menyelesaikan keinginannya.’” (HR. An-Nasa’i no. 1141)
Menggendong cucunya saat salat
Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu,
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ النَّاسَ، وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِي العَاصِ، وَهِيَ ابْنَةُ زَيْنَبَ بِنْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَاتِقِهِ، فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَهَا، وَإِذَا رَفَعَ مِنْ السُّجُودِ أَعَادَهَا
“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami orang-orang dan beliau sedang menggendong Umamah binti Abil ‘As (anak dari Zainab binti Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di atas pundaknya. Apabila beliau rukuk, beliau meletakkannya; dan apabila beliau bangun dari sujud, beliau menggendongnya kembali.” (HR. Bukhari no. 516 dan Muslim no. 543)
Turun dari mimbar khotbah demi cucu beliau
Diriwayatkan dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu,
خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَقْبَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ عَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثُرَانِ وَيَقُومَانِ، فَنَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمِنْبَرِ فَحَمَلَهُمَا وَوَضَعَهُمَا بَيْنَ يَدَيْهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhotbah di hadapan kami, tiba-tiba Hasan dan Husain datang memakai baju merah dan berjalan terjatuh-jatuh. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar, menggendong keduanya, lalu meletakkan mereka di hadapan beliau.” (HR. Tirmidzi no. 3774 dan Abu Dawud no. 1109)
Meringankan salat karena tangisan bayi
Diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنِّي لأَقُومُ فِي الصَّلاَةِ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلاَتِي كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ
“Sesungguhnya aku berdiri untuk salat dan ingin memperlahankannya (memperpanjang bacaan), lalu aku mendengar tangisan seorang bayi, maka aku pun mempercepat salatku karena tidak ingin memberatkan ibunya.” (HR. Bukhari no. 707 dan Muslim no. 470)
Kelembutan kepada pelayan anak kecil
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,
خَدَمْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي: أُفٍّ، وَلَا لِمَ صَنَعْتَ؟ وَلَا أَلَّا صَنَعْتَ؟
“Aku melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah sekalipun berkata ‘Ah’ kepadaku, dan tidak pernah menegurku, ‘Mengapa engkau lakukan ini?’ atau ‘Mengapa tidak engkau lakukan itu?’” (HR. Muslim no. 2309)
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3
***
Penulis: Nurur Rohmah Azzahra
Artikel Muslimah.or.id
Catatan kaki:
Disarikan dari faedah kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., MA hafidzahullah dengan beberapa tambahan penjelasan dari penulis.




