Ada satu kegelisahan yang sering diam-diam kita rasakan. Kita ingin berbuat baik, ingin menjadi hamba yang taat, tetapi selalu merasa amal kita terlalu kecil. Terlalu biasa. Tidak berarti. Kita melihat orang lain berdakwah, bersedekah besar, mengajar, membangun, lalu kita bertanya dalam hati, “Apa arti amal-amal kecil yang aku lakukan ini?”
Kadang kita sudah berusaha. Menahan lisan, membantu orang, menjaga salat. Tapi tidak ada yang melihat. Tidak ada yang memuji. Bahkan, tidak jarang, tidak ada perubahan yang terasa dalam hidup. Seolah-olah semua itu berlalu begitu saja, tanpa bekas.
Di titik itu, setan datang membisikkan sesuatu yang sangat berbahaya, “Untuk apa? Tidak ada yang berubah.” Dan perlahan, semangat itu pun mulai padam. Amal yang dulu rutin, mulai ditinggalkan. Yang dulu ringan, menjadi berat.
Padahal, kita lupa satu hal yang sangat besar. Allah telah menegaskan sebuah janji yang tidak mungkin dusta,
إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا
“Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Kahfi: 30)
Amal itu tidak harus besar
Masalah terbesar kita adalah cara pandang. Kita mengira amal saleh itu harus besar, harus terlihat, harus luar biasa. Padahal, Nabi ﷺ justru mengajarkan sebaliknya.
Beliau bersabda,
لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri.” (HR. Muslim no. 2626, dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu)
Perhatikan baik-baik! “Sedikit pun.” Bahkan, sesuatu yang kita anggap remeh, di sisi Allah bisa sangat besar. Senyum, menahan emosi, tidak membalas keburukan, itu semua adalah amal.
Masalahnya bukan pada kecilnya amal. Masalahnya pada hati yang meremehkan amal. Kita ingin yang besar, tapi meninggalkan yang kecil. Padahal, justru yang kecil itulah yang akan menumpuk menjadi besar.
Rasulullah ﷺ juga bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu, walaupun sedikit.” (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783, dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha)
Yang dinilai itu bukan banyaknya
Kita sering terjebak pada angka atau jumlah yang sekilas terlihat nyata. Berapa banyak infak atau sedekah yang dikeluarkan, berapa banyak ibadah, berapa banyak amal. Padahal yang Allah nilai bukan itu.
Allah Ta’ala berfirman,
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)
Oleh karenanya, kita mesti memahami bahwa yang dinilai dari amal ibadah kita adalah bukan yang paling banyak, tapi paling baik. Para ulama menjelaskan, amal yang baik itu adalah yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan sunah. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,
“Sesungguhnya amal itu jika ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika benar tetapi tidak ikhlas, maka tidak diterima. Amal itu harus ikhlas karena Allah dan benar sesuai sunah.” [1]
Di sinilah letak masalahnya. Kita sibuk memperbanyak amal, tapi lupa memperbaiki hati. Kita ingin dilihat manusia, ingin diakui, ingin dianggap baik. Padahal bisa jadi, satu amal kecil yang benar-benar ikhlas, lebih berat di sisi Allah dibanding ribuan amal yang tercampur riya’.
Tidak ada yang hilang di sisi Allah
Kadang kita merasa, “Aku sudah berbuat baik, tapi tidak ada balasannya.” Ini perasaan yang manusiawi. Tapi ini juga ujian keimanan bagi seorang hamba terkait dengan keyakinannya terhadap janji Allah Ta’ala dan perkataan atau hadis Rasulullah ﷺ.
Dalam hadis qudsi, dari Rasulullah ﷺ bahwasanya Allah Ta’ala berfirman,
يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 6737)
Tidak ada yang hilang. Tidak ada yang sia-sia. Bahkan, sesuatu yang kita lupa, Allah tetap mencatatnya. Masalahnya, kita ingin balasan itu sekarang. Kita ingin melihat hasilnya langsung. Padahal, sebagian amal memang disimpan Allah untuk hari yang jauh lebih penting, yaitu hari Akhir.
Ketika amal menjadi nol tanpa kita sadari
Di sisi lain, ada sesuatu yang lebih mengerikan. Bukan amal kecil yang tidak bernilai. Tapi amal besar yang menjadi nol yang cenderung banyak manusia tidak menyadarinya, mungkin termasuk kita. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا
“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)
Mengapa bisa begitu?
Ya, karena amal itu kehilangan ruhnya. Tidak ikhlas. Tidak sesuai sunah, petunjuk yang diajarkan oleh Rasululah ﷺ. Atau bahkan, dilakukan untuk dunia, agar ia mendapatkan pengakuan, pujian, dan perhatian khusus dari manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ. قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِىَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً
“Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashghar.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashghar, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashghar adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata kepada mereka yang berbuat riya’ pada hari Kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka, ‘Pergilah kalian kepada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah, apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad 5: 429, dari Mahmud bin Labid radhiyallahu ‘anhu. Syekh Syu’aib al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih)
Saudaraku, bayangkan! Kita melakukan suatu amal besar, banyak pula, dan mungkin melelahkan. Tapi perhitungannya di sisi Allah adalah nol. Hanya karena absennya keikhlasan dalam beramal dan niat amalnya ditujukan untuk validasi makhluk (manusia). Inilah yang seharusnya kita takutkan.
Amal itu justru semakin mudah
Kalau kita jujur, sebenarnya peluang amal di zaman ini jauh lebih banyak. Tapi, justru yang terjadi sebaliknya, kita semakin lalai. Cobalah cek diri kita sendiri!
Jari kita bisa berzikir, tapi justru sibuk scrolling. Dengan sejuta alasan seperti mencari hiburan, istirahat dari kelelahan, atau pun mengisi waktu luang. Tanpa sadar, kita justru telah menghabiskan waktu ber jam-jam.
Begitu pun lisan kita, yang sebenarnya bisa menenangkan orang dengan nasihat-nasihat agama, tapi kadangkala justru bisa menyakiti orang lain. Baik dengan menyalahkannya, menghina, mencela, atau pun menggibahinya. Wal ‘iyadzu billah.
Sadarilah, saudaraku, bahwa waktu kita bisa jadi ladang pahala; tapi apabila kita tidak mampu mengelolanya, maka waktu itu akan habis tanpa makna.
Padahal, amal itu tidak harus besar. Tidak harus viral. Tidak harus dilihat orang.
Cukup dengan menahan satu kalimat buruk, mengirim atau posting satu nasihat baik, membantu satu orang, atau menjaga waktu salat. Hal itu semua bisa jadi penyelamat kita.
Maka renungkan sudah sejauh mana waktu yang telah kita sia-siakan. Berhentilah sejenak merenungi waktu yang belum kita isi. Karena di hari ketika semua amal ditampakkan, kita akan sadar bahwa yang kecil itu ternyata besar… dan yang kita anggap besar, bisa jadi kosong.
Wallahu a’lam.
Baca juga: Yang Terlupa dari Keikhlasan
***
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Muslimah.or.id
Catatan kaki:
[1] Dinukil dalam tafsir QS. Al-Mulk: 2. Lihat Ma‘alim at-Tanzil karya al-Baghawi, 8: 179; Jami‘ al-‘Ulum wal Hikam karya Ibnu Rajab, hal. 19.




