Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Skala Prioritas dalam Beramal bagi Wanita Muslimah

Annisa Auraliansa oleh Annisa Auraliansa
16 Juli 2026
di Akhlak dan Nasihat
0
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Tiga peran utama wanita muslimah
    • Sebagai hamba Allah
    • Sebagai seorang istri
    • Sebagai seorang ibu

Seorang wanita memiliki banyak peran dalam kehidupan, yang menuntutnya untuk melakukan berbagai pekerjaan sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Tak jarang hal ini membuat para wanita terjebak dalam skala prioritas yang salah dan mengakibatkan burn-out berkepanjangan. Sehingga penting bagi seorang muslimah untuk mengetahui tugas yang paling utama di antara yang utama. Hal ini karena waktu setiap manusia terbatas, begitu pula tenaga dan materi yang dimiliki.

Dengan mengetahui skala prioritas dalam beramal, diharapkan seorang wanita muslimah dapat mengatur aktivitas dunia dan akhiratnya serta menggapai keberkahan dan kebaikan yang banyak.

Tiga peran utama wanita muslimah

Untuk mengetahui amalan prioritas bagi seorang muslimah, hendaklah seorang wanita menyadari tiga peran utamanya dalam kehidupan:

Sebagai hamba Allah

Allah Tabaraka wa Ta’ala tidaklah menciptakan manusia untuk kesia-siaan, akan tetapi untuk sebuah hikmah dan tujuan yang jelas. Yaitu, untuk mengesakan-Nya dan beribadah kepada-Nya semata. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

‎وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Donasi Muslimah.or.id

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Baik pria maupun wanita, berada dalam posisi yang sama dalam memikul tanggung jawab dan kewajiban untuk beribadah dengan baik kepada Allah, yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Begitu pula dalam mendapatkan ganjaran dan hukuman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ  وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

فَٱسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّى لَآ أُضِيعُ عَمَلَ عَٰمِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ بَعْضُكُم مِّنۢ بَعْضٍ

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.” (QS. Ali Imran: 95)

Hendaklah seorang wanita muslimah mengutamakan amalan-amalan yang telah Allah Ta’ala wajibkan dalam kesehariannya. Karena disebutkan dalam sebuah hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

وما تقرَّب إليَّ عبدي بشيءٍ أحَبَّ إليَّ ممَّا افترَضْتُ عليه

“Sesungguhnya seorang hamba tidaklah mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu pun yang lebih Aku cintai dibandingkan perkara yang Aku wajibkan untuknya.’” (HR. Ibnu Hibban no. 347)

Dan hendaklah ia berniat ketika mengerjakan aktivitas duniawinya sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Karena niat merupakan perdagangan seorang muslim. Sesuatu yang bersifat mubah dapat dihitung sebagai pahala jika diniatkan sebagai sarana yang membantu untuk beribadah kepada Allah. Seperti berolahraga dengan niat menjaga nikmat sehat yang Allah karuniakan, menjaga kekuatan fisik dalam melaksanakan ibadah kepada Allah, dst. Dengan ini, seseorang dapat meraup keuntungan pahala yang berlimpah.

Ketahuilah bahwa amal yang paling dicintai Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah amalan yang dikerjakan secara kontinu walaupun sedikit. Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ أدْومُها و إن قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Muslim no.783)

Berusahalah untuk menjaga keikhlasan dalam beramal dan meniti jalan yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, Allah Ta’ala berfirman,

فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam Beramal

Sebagai seorang istri

Seorang wanita, jika belum berumah tangga, surganya adalah dengan berbakti kepada kedua orang tuanya. Akan tetapi, jika telah memiliki suami, suaminya adalah pintu surganya. Hendaklah ia memprioritaskan tugasnya sebagai seorang istri dan maksimal melayani suaminya seusai menunaikan kewajibannya kepada Allah.

Diriwayatkan bahwa bibi dari sahabat Husain bin Muhshan radhiyallahu ‘anhu datang untuk bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk suatu hajat, maka Nabi bertanya,

‎أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوهُ إِلَّا مَا عَجَزْتُ عَنْهُ، قَالَ: فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Apakah kamu memiliki suami?’ Dia menjawab, ‘Ya’ Beliau bertanya, ‘Bagaimana sikapmu kepadanya?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak melalaikannya kecuali terhadap sesuatu yang tidak aku sanggupi.’ Nabi bersabda, ‘Lihatlah bagaimana posisimu di hadapannya. Karena sesungguhnya suami itu adalah surga atau nerakamu.” (HR. Ahmad no. 19003)

Begitu besarnya hak seorang suami, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Jikalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1159)

Saudariku muslimah, jadilah engkau sosok istri seperti yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‎خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ، وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ، وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ

“Sebaik-baik wanita adalah yang apabila engkau memandangnya, ia menyenangkanmu. Apabila engkau memerintahnya, ia menaatimu. Dan apabila engkau tidak bersamanya, ia menjaga dirimu dan hartamu.” (HR. Hakim dalam Mustradak-nya no. 2697)

Dengarkanlah wasiat dari ibu Ummu Unas ketika ayahnya, ‘Auf bin Muhallim asy-Syaibanu akan menikahkannya kepada ‘Amr bin Hujr,

‏‎أَيْ بُنَيَّةِ، إِنَّكِ فَارَقْتِ بَيْتَكِ الَّذِي مِنْهُ خَرَجْتِ، وَعَشِّكِ الَّذِي فِيهِ دَرَجْتِ، إِلَى رَجُلٍ لَمْ تَعْرِفِيهِ، وَقَرِينٍ لَمْ تَأْلَفِيهِ، فَكُونِي لَهُ أَمَةً يَكُنْ لَكِ عَبْدًا، وَاحْفَظِي لَهُ خِصَالًا عَشْرًا يَكُنْ لَكِ ذُخْرا

“Wahai putriku, sesungguhnya engkau telah meninggalkan rumahmu – yang di situlah engkau dilahirkan dan sarangmu tempat engkau tumbuh – kepada seorang lelaki asing yang engkau tidak mengenalnya dan teman (hidup baru) yang engkau belum terbiasa dengannya. Maka jadilah engkau seorang budak wanita baginya, niscaya ia akan menjadi budak lelakimu. Hendaknya engkau memperhatikan dan menjaga sepuluh perkara untuknya, maka niscaya akan menjadi modal dan simpananmu kelak (di hari akhirat).”

‎أَمَّا الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ: فَالْخُشُوعُ لَهُ بِالْقَنَاعَةِ، وَحُسْنِ السَّمْعِ  لَهُ وَالطَّاعَةِ

“Adapun perkara pertama dan kedua adalah tunduk kepadanya dengan sifat qana’ah, serta mendengar dan taat dengan baik kepadanya.”

وَأَمَّا الثَّالِثَةُ وَالرَّابِعَةُ: فَالتَّفَقُّدُ لِمَوْضِعِ عَيْنِهِ وَأَنْفِهِ، فَلَا تَقَعُ عَيْنُهُ مِنْكِ عَلَى قَبِيحٍ، وَلَا يَشُمُّ مِنْكِ إِلَّا أَطْيَبَ رِيْحٍ

“Adapun perkara ketiga dan keempat yaitu engkau memperhatikan pandangan dan penciumannya, jangan sampai matanya melihat sesuatu yang buruk dari dirimu dan jangan sampai ia mencium darimu kecuali aroma yang terharum.”

وَأَمَّا الْخَامِسَةُ وَالسَّادِسَةُ: فَالتَّفَقُّدُ لِوَقْتِ مَنَامِهِ وَطَعَامِهِ، فَإِنَّ حَرَارَةُ الْجُوعِ مُلْهِبَةٌ، وَتَنْغِيصَ النَّوْمِ مُغْضِبَةٌ

“Adapun perkara kelima dan keenam adalah memperhatikan waktu tidurnya dan waktu makannya, karena panasnya lapar itu menyala-nyala dan kurangnya tidur menimbulkan kemarahan.”

وَأَمَّا السَّابِعَةُ وَالثَّامِنَةُ: فَالْاِحْتِفَاظُ بِمَالِهِ، وَالْإِرْعَاءُ عَلَى حَشْمِهِ وَعِيَالِهِ، وَمِلَاكُ الْأَمْرِ فِي الْمَالِ حُسْنُ التَّقْدِيرِ، وَفِي الْعِيَالِ حُسْنُ التَّدْبِيْرِ

“Adapun perkara ketujuh dan kedelapan: menjaga hartanya dan perhatian terhadap kerabat dan anak-anaknya. Dan kunci pengurusan harta adalah penempatan harta sesuai ukurannya dan kunci perhatian anak-anak adalah bagusnya pengaturan.”

وَأَمَّا التَّاسِعَةُ وَالْعَاشِرَةُ: فَلَا تَعْصِنَّ لَهُ أَمْرًا وَلَا تَفْشِنَّ لَهُ سِرًّا، فَإِنَّكِ إِنْ خَالَفْتِ أَمْرَهُ أَوْغَرْتِ صَدْرَهُ، وَإِنْ أَفْشَيْتِ سِرَّهُ لَمْ تَأْمَنِي غَدْرَهُ

“Adapun perkara kesembilan dan kesepuluh adalah janganlah sekali-kali engkau membantah perintahnya dan janganlah sekali-kali engkau menyebarkan rahasianya. Karena jika engkau menyelisihi perintahnya, maka engkau akan memanaskan dadanya. Dan jika engkau menyebarkan rahasianya, maka engkau tidak akan aman dari pengkhianatannya.”

ثُمَّ إِيَّاكِ وَالْفَرَحَ بَيْنَ يَدَيْهِ إِذَا كَانَ مُهْتَمًّا، وَالْكآبَةَ بَيْنَ يَدَيْهِ إِذَا كَانَ فَرِحًا

“Kemudian hati-hatilah engkau, jangan sampai engkau gembira tatkala ia sedang bersedih dan janganlah bersedih tatkala ia sedang bergembira.”

Al-‘Abbas bin Khalid as-Sahmi berkata, “Maka Ummu Unas pun melahirkan bagi ‘Amr hin Hujr anaknya yang bernama Al-Harits bin ‘Amr, yang ia merupakan kakek dari Ummul Qais penyair dan pujangga yang tersohor.” (Diambil dari kitab Al-‘Iqd al-Farid karya al-Faqih Ahmad bin Muhammad bin Abdi Rabbih al-Andulsi, tahqiq: Dr. Mufid Muhammad, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Cetakan Pertama, tahun 1983, 7: 89-90)

Sebagai seorang ibu

Anak merupakan amanah dari Allah Jalla wa ‘Ala, dan setiap orang tua akan dimintai pertanggungjawaban akan anak-anak mereka kelak di hari kiamat.

Seorang ibu adalah sosok terdekat bagi anak. Sehingga agama Islam begitu memperhatikan dan memastikan kehadirannya dalam kehidupan sang anak. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ

“Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah yang paling sayang kepada anak-anak di masa kecilnya.” (HR. Muslim no. 2527)

Bahkan seorang ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya. Seorang penyair, Muhammad Hafizh bin Ibrahim pernah berkata,

الْأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا 

“Seorang ibu adalah sebuah madrasah; bila engkau menyiapkannya,

أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الْأَعْرَاقِ

“Maka engkau telah menyiapkan sebuah bangsa terbaik yang kokoh.” (Lihat Jawabir al-Adab fi Adabiyyat wa Insya’ Lughah al-‘Arab, 2: 247)

Berusahalah sebaik mungkin dalam merawat dan mendidik anak-anakmu, wahai saudariku muslimah. Prioritaskan hari-harimu untuk memenuhi kebutuhan mereka, karena bentuk pengasuhanmu terhadap mereka merupakan bentuk ketaatanmu kepada Allah Ta’ala dan kepatuhanmu kepada suami.

Berpeganglah kepada nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap putri beliau Fathimah radhiyallahu ‘anha,

اصْبِرِي يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ؛ فَإِنَّ خَيْرَ النِّسَاءِ الَّتِي نَفَعَتْ أَهْلَهَا

“Bersabarlah wahai putriku, Fathimah. Sesungguhnya sebaik-baik wanita adalah yang memberikan manfaat bagi keluarganya.” (HR. Ath-Thabrani no. 222 dalam kitabnya, Ad-Du’a, hal. 90)

Demikian tiga peran utama seorang wanita muslimah. Dan amal yang utama baginya adalah berkutat pada pemenuhan tugasnya dalam ketiga peran ini. Karena disebutkan dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita salat lima waktu, berpuasa Ramadan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah surga dari pintu mana saja yang dia suka.” (HR. Ahmad no. 1661)

Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

Baca juga: Menjadi Ibu, Profesi Terbaik Seorang Wanita

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

 

Referensi:

Andirja, Lc, MA, Dr. Firanda. 2025. Syarah Bait-Bait Khairunnisa. Jakarta: UFA Office.

ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Annisa Auraliansa

Annisa Auraliansa

Penulis di muslimah.or.id

Artikel Terkait

Kezaliman

Kezaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat

oleh Annisa Auraliansa
24 Agustus 2025
0

Maraknya kezaliman yang terjadi di seluruh negeri belakangan ini menyadarkan kita akan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa...

Tiga Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Beramal Saleh

oleh Muslimah.or.id
9 September 2014
2

Ada tiga hal yang di nasehatkan Ibnul Qayyim ketika kita sedang menimbang, memperhatikan dan merenungi amal-amal kita di dunia ini:...

Obat Bagi Penderita Kasmaran

oleh Muslimah.or.id
25 Oktober 2014
0

Ketahuilah Saudaraku, bahwasanya ada suatu penyakit yang apabila tidak diobati dapat merusak iman dan akal sehat penderitanya. Penyakit yang biasanya...

Artikel Selanjutnya

Menimbang Praktik Poligami Diam-Diam dan Nikah Siri (Bag. 1)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.