Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Menggapai Kebahagiaan dengan Berbaik Sangka kepada Allah

Annisa Auraliansa oleh Annisa Auraliansa
14 Juli 2026
di Akidah
0
Share on FacebookShare on Twitter

Kehidupan di dunia penuh dengan yang namanya ketidakpastian. Karena memang tidak ada satu pun manusia mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sebagian orang lantas terjebak dalam perasaan cemas dan takut; menghadapi realita yang seakan-akan gelap berkabut. Namun, kondisi ini tidak berlaku bagi seorang muslim, yang memiliki Rabb sebagai tempat sandaran dan bergantung.

Seorang mukmin didorong untuk melangkah melalui kehidupan dengan selalu berpikir positif dan berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai dengan apa yang disangkakan oleh hamba-Ku.” (HR. Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675)

Juga diriwayatkan dari sahabat Watsilah Ibn al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Donasi Muslimah.or.id

‎ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، فَلْيَظُنُّ بِيْ مَا شَاءَ

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Aku sesuai dengan apa yang disangkakan oleh hamba-Ku, maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku semaunya.” (HR. Ahmad no. 16016)

Bahkan, berbaik sangka kepada Allah merupakan salah satu ibadah yang agung dan tingkatan yang tinggi dalam agama Islam. Ia merupakan bagian dari ihsan, yang disebutkan definisinya di dalam hadis Jibril,

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.”

Berbaik sangka kepada Allah adalah buah dari pengenalan seorang hamba terhadap Allah Tabaraka wa Ta’ala. Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafizahullah berkata,

‎فَكُلَّمَا ازْدَادَ الْعَبْدُ مَعْرِفَة بِاللهِ زَادَ حَظُّهُ وَنَصِيْبُهُ مِنْ حُسْنِ ظَنِّهِ بِهِ؛ لِأَنَّ مَنْشَأَ حُسْنَ الظَّنِّ وَمَبْنَاهُ عَلَى حُسْنِ المعْرِفَةِ بِاللهِ جَلَّ وَعَلَا وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

“Setiap kali bertambah pengenalan seorang hamba terhadap Allah, bertambah pula bagian dan porsinya dalam berbaik sangka kepada Allah. Karena tempat tumbuh dan pondasi prasangka baik kepada Allah bergantung pada baiknya pengetahuan seorang hamba akan Allah Jalla wa ‘Ala, begitu pula nama-nama dan sifat-sifat-Nya.” (Ahadits Ishlahul Qulub, hal. 302)

Seorang muslim yang meyakini Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dia akan berbaik sangka bahwa Allah sangat menyayangi hamba-hamba-Nya melebihi kasih sayang sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, walaupun sangat besar rasa kasih sayang tersebut.

Seorang muslim yang meyakini nama Allah Al-Hayyu Al-Qayyum, dia akan berbaik sangka bahwa Allah akan mengabulkan permohonan yang ia mohonkan kepada-Nya dan Allah akan menghilangkan berbagai kesusahannya.

Seorang muslim yang meyakini nama Allah Ar-Razzaq, dia akan berbaik sangka bahwa Allah menjamin rezekinya dan Allah akan mencukupi semua kebutuhannya.

Seorang muslim yang meyakini nama Allah Al-Muhsin, dia akan berbaik sangka bahwa Allah akan memberikan kenikmatan dan karunia yang berlimpah kepada hamba-hamba-Nya yang berbuat baik. Allah akan melapangkan dadanya, menenangkan jiwanya, dan menentramkan hatinya. Karena Allah berfirman,

فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud: 115)

Alangkah bahagianya kehidupan seperti ini. Kehidupan seorang hamba yang senantiasa menyandarkan hatinya kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla dan berbaik sangka kepada-Nya. Sebagaimana perkataan Khalil Ar-Rahman, Nabi Ibrahim ‘alahissalam,

ٱلَّذِى خَلَقَنِى فَهُوَ يَهْدِينِ • وَٱلَّذِى هُوَ يُطْعِمُنِى وَيَسْقِينِ •وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ •وَٱلَّذِى يُمِيتُنِى ثُمَّ يُحْيِينِ • وَٱلَّذِىٓ أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِى خَطِيٓـَٔتِى يَوْمَ ٱلدِّينِ

“(yaitu Tuhan) yang telah menciptakanku, maka Dialah yang memberi hidayah kepadaku. Dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku. Dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan yang amat ku inginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu’ara: 78-82)

Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafizahullah berkata,

وَبِهذَا يُعلَمُ أَنَّ حُسْنَ الظَّنِّ بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُصَاحِبُ المؤْمِنَ فِيْ جَمِيْعِ شُؤُوْنِهِ وَأَحْوَالِهِ وَجَمِيْعَ عِبَادَاتِهِ وَأَعْمَالِهِ

“Dan dengan ini diketahui bahwa prasangka baik kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menemani seorang mukmin di dalam segala urusan dan keadaannya, serta semua ibadah dan amal perbuatannya.”

‎وَمَبْنَاهُ عَلَى عَقِيْدَةٍ رَاسِخَةٍ وَإِيمَانٍ قَوِيٍّ فِيْ قَلْبِ الْمُؤْمِنِ وَثِقَةٍ بِاللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَلَا يحسن عبد الظن بِرَبِّهِ وَيَكُوْنُ صَادِقًا فِيْ حُسْنِ ظَنِّهِ بِهِ سُبْحَانَهُ إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ ظَنَّهُ، وَذلِكَ أَنَّ الخَيْرَ كُلَّهُ بِيَدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَكُلُّ مَا يَرْجُوْهُ المَرْءُ وَيُؤَمِّلُهُ وَيُرِيْدُهُ لِنَفْسِهِ أَوْ لِغَيْرِهِ بِيَدِهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Pondasinya (berprasangka baik kepada Allah) berdasarkan keyakinan yang tertancap dan keimanan yang kuat di hati seorang mukmin. Begitu pula kepercayaan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dan tidaklah seorang hamba berprasangka baik kepada Rabb-Nya dan tidaklah pula dia jujur dalam pengakuan hal tersebut kecuali Allah akan mengaruniakan kepadanya sesuatu yang ia sangkakan itu. Hal tersebut karena semua kebaikan berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka segala hal yang diharapkan dan diimpikan oleh seorang hamba untuk dirinya sendiri ataupun orang lain, semuanya berada di tangan-Nya ‘Azza wa Jalla.” (Ahadits Ishlahul Qulub, hal. 304)

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

‎وَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ مَا أُعْطِيَ عَبْدٌ مُؤْمِنٌ شَيْئًا خَيْرًا مِنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ لَا يُحْسِنُ عَبْدٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ الظَّنَّ إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ ظَنَّهُ؛ ذَلِكَ بِأَنَّ الْخَيْرَ فِي يَدِهِ

“Dan demi Dzat yang tiada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali diri-Nya, tidaklah seorang hamba yang beriman diberikan sesuatu yang lebih baik daripada berprasangka baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan demi Dzat yang tiada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali diri-Nya, tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla akan memberikan kepadanya apa yang dia sangkakan. Hal itu karena segala kebaikan berada di tangan-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Husnuzhan Billah, no. 83)

Namun, perlu untuk diingat, bahwa persangkaan baik kepada Allah hendaknya juga diikuti dengan baiknya amal ibadah. Karena seseorang yang berprasangka baik kepada Allah tanpa beramal dengan baik pula adalah seperti orang yang berdusta. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

‎إِنَّ المؤْمِنَ أَحْسَنَ الظَّنَّ بِرَبِّهِ فَأَحْسَنَ الْعَمَلَ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ أَسَاءَ الظَّنَّ بِرَبِّهِ فَأَسَاءَ الْعَمَلَ

“Sesungguhnya seorang mukmin berprasangka baik kepada Rabb-nya, maka ia pun membaguskan amalnya. Adapun seorang yang fajir, ia berprasangka buruk kepada Rabb-nya dan beramal dengan buruk pula.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf no. 37925)

Dalam setiap kondisi, seorang mukmin ditekankan untuk selalu berprasangka baik kepada Allah. Akan tetapi, terdapat kondisi-kondisi tertentu dimana persangkaan baik kepada Allah lebih ditekankan lagi.

Pertama, ketika berdoa. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُونَ بِالْإجَابَةِِ

“Berdoalah kepada Allah sedang engkau berada di dalam keyakinan bahwa doa itu akan dikabulkan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3479)

Kedua, ketika bertobat. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran,

‎قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ  إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

“Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ketiga, ketika berada dalam kondisi genting. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berprasangka baik kepada Allah dalam menenangkan hati sahabatnya, Abu Bakar ash-Shiddiq, ketika mereka hampir tertangkap oleh orang-orang kafir di gua Tsur. Allah Ta’ala mengabadikan peristiwa tersebut di dalam firman-Nya,

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِىَ ٱلْعُلْيَا ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah: 40)

Keempat, ketika menjelang wafat. Diriwayatkan dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tiga hari sebelum wafatnya beliau,

‏ لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ ‏

“Janganlah salah seorang dari kalian wafat kecuali dalam keadaan ia berprasangka baik kepada Allah.” (HR. Muslim no. 2877)

Demikian apa yang dapat penulis sampaikan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah dan senantiasa beribadah dengan baik kepada-Nya. Karena di antara sifat orang-orang munafik dan kafir lagi musyrik adalah mereka senantiasa berburuk sangka kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ وَٱلْمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلْمُشْرِكِينَ وَٱلْمُشْرِكَٰتِ ٱلظَّآنِّينَ بِٱللَّهِ ظَنَّ ٱلسَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَآئِرَةُ ٱلسَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

“Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.” (QS. Al-Fath: 6)

Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon taufik.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

 

Referensi:

  • Al-Badr, ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin. 2023. Ahadits Ishlahul Qulub’. Madinah Al-Munawwarah: Darul Imam Muslim.
  • Al-Badr, ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin. 2022. Fiqih Doa dan Zikir. (A. Djalil, edisi terjemahan). Jakarta: Penerbit Griya Ilmu.
  • Kajian Berbaik Sangka Kepada Allah – Hadist-Hadist Perbaikan Hati#4, Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Annisa Auraliansa

Annisa Auraliansa

Penulis di muslimah.or.id

Artikel Terkait

Fatwa Ulama: Makna “Maiyyah” dalam Surah At-Taubah

oleh dr. Ika Kartika
7 Maret 2015
0

Allah Ta'ala berfirman (ـ(لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا) ("Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita". QS At Taubah:40). Apakah maksud...

Perayaan tahun baru dalam islam

Hukum Perayaan Tahun Baru dan Natal dalam Islam

oleh Rizka Fajri Indra
22 Desember 2024
0

Hukum merayakan tahun baru Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 240949 menjelaskan bahwa berpartisipasi dalam perayaan...

Saudariku.. Kenalilah Tuhanmu, Nabimu, dan Agamamu (Bag. 1)

oleh Verawaty Lihawa
25 November 2011
0

Sebagian besar kaum muslimin mungkin tidak asing dengan pembahasan mengenai pertanyaan, ‘Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu? Apa Agamamu?’ Banyak kajian-kajian keislaman...

Artikel Selanjutnya

Skala Prioritas dalam Beramal bagi Wanita Muslimah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.